Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

CERPEN TENTANG PELAUT

Posted by lembursingkur pada Juni 18, 2017

LELAKI BAJO

Sial! Kenapa justru wajahnu yang memenuhi otakku malam hingga pagi tiba. Diammu yang datar mengingatkanku pada laut biru yang tenang, laut yang tiap hari engkau arungi. Matamu tajam memandang datar searah dengan luasnya lautan  seolah tanpa perasaan, tetapi penuh hasrat ingin tahu. Pandanganmu seperti mau mengatakan “ Aku ada karena laut ada. Laut adalah hidupku.” Gerakanmu gesit seperti angin yang lincah berpindah, berhembus dari pulau ke pulau.

Aku tak mengenalmu karena tak ada percakapan intens antara kita. Aku tahu namamu: Samudra, seperti tempat kumpulan air dari setiap madhab yang berkumpul menyatu di situ. Layaknya lautan, engkau seperti misteri yang tak pernah terselami. Kau tidak mengenal namaku karena tak ada acara perkenalan resmi antara kau dan aku. Aku tahu namamu karena semua orang memanggilmu begitu.

Keahlianmu mengenderai speedboat, perahu kecil bermotor,  untuk memindahkan  kami dari kapal ke destinasi wisata, mampu membuatku tercekat karena kagum.

Badanmu tegap, dadamu bidang, bahumu kekar,  dengan kedua tangan yang kauukir dengan tato jangkar di lengan kanan,  dan gambar hati di lengan kirimu. Kaki-kakimu kokoh untuk menahan goyangan boat ketika kami berpindah dari kapal ke daratan atau kebalikannya.

Samudra, engkau tak banyak berkata-kata. Namun, seluruh gerakmu berbicara bahwa engkau adalah lelaki Suku Bajo yang tangguh dan perkasa.

Dengan kulit gelapmu kau tantang sinar matahari tanpa takut membuatmu terpanggang. Seluruh tindakanmu menyatakan bahwa laut, angin, matahari, adalah sahabatmu. Sementara, aku menghindari semua yang kaucintai itu dengan alasan takut kulitku rusak dan hitam.

Kala kami asyik bergoyang dengan irama dangdut yang disetel di kapalmu, kau pun ikut larut dalam irama musik milik rakyat negri ini. Dan kami sontak bersorak menyerukan namamu ketika kau tunjukkan ekspresi emosimu dalam liukan tubuhmu mengikuti irama.
“ Samudra,….! Huuuuu! Mantap, Bro!”

Begitulah suara kelima belas  penumpang yang sedang asyik bergoyang menyorakimu. Kulihat sekejap cahaya bintang di matamu yang bening kala kami meneriakkan namamu.
Lelaki bajo, barangkali usiamu antara 30-an tahun. Lelaki matang yang mengenali seluruh hasratmu akan laut.

Aku memutuskan dengan imajinasiku bahwa engkau lelaki Bajo  bebas,  yang belum mengikatkan diri pada seorang perempuan. Aku melihat bahwa engkau lelaki bebas yang lebih mencintai lautan daripada seorang perempuan. Laut bagimu adalah perempuan yang bebas engkau gauli kapan pun kau mau.

Wajahmu, biasa saja, standar, tidak tampan. Ada banyak lelaki tampan yang kujumpai dalam perjalananku di Labuan Bajo ini. Namun, ada hal yang menarik darimu untuk kuamati. Mungkin matamu yang tegas dan datar. Mungkin tubuhmu yang kekar dan kokoh. Mungkin gerakanmu yang lincah dan cekatan. Atau mungkin karena kita tanpa sengaja sering bersibobrok bertatapan mata.   Aku menoleh ke satu arah di sudut kapalmu, sementara itu engkau juga menoleh ke arahku pada detik yang sama. Aku tahu itu hanya sebuah ketidaksengajaan yang bagiku justru menimbulkan pertanyaan, kenapa?

Lelaki Bajo, barangkali aku jatuh cinta padamu lewat mata tegasmu, atau misteri diammu, atau pada lautan yang tercermin pada seluruh gerak-gerikmu.

Lelaki Bajo, di sini aku bergaul dekat dengan  alammu. Aku melihat perbukitan tandus yang indah di sepanjang pelayaranku. Pulau-pulau berwarna kuning kecoklatan diselingi perbukitan hijau di kejauahan. Aku melihat sesekali camar menukik mengambil mangsanya aneka ikan di lautan lepas sana yang berenang bebas tanpa curiga. Aku menyaksikan beningnya dan birunya lautan yang dalam tanpa gelombang. Aku mendaki curamnya Bukit Padar dengan karang-karang terjalnya. Aku merasakan teriknya matahari langitmu. Aku menyaksikan langitmu yang biru tanpa cela. Aku merasakan sepoi angimnu yang memantul antara lautan dan perbukitan.

Aku merasakan hasrat penaklukanku menggelegak seperti gelora arus lautan di bawah sana. Aku bernafsu untuk menaklukkan puncak Bukit Padar yang menjulang di hadapanku.  Aku mencium aroma petualangan begitu manis di udara tanahmu ini.

Lelaki Bajo, semua bukit, pulau, karang, pasir, bebatuan, kerikil, pasir, matahari, sepoi angin, biota lautan, juga rinai hujan ini adalah milikmu. Pelangi yang melengkung sempurna di ujung cakrawala adalah janji Pencipta untukmu bahwa keindahan ini akan tetap menjadi milikmu.

Lelaki Bajo, Samudra adalah namamu. barangkali orang tuamu tahu bahwa hidupmu adalah lautan. Seluruh nafasmu adalah asinnya udara laut, seluruh penciumanmu adalah amisnya biota laut, seluruh aliran darhmu adalah arus Laut Flores yang nampak tenang di permukaan dan di dalam tak ada yang tahu persis.  Pendengaranmu adalah suara angin laut dan angin darat yang berhembus di antara laut dan tebing terjal perbukitan, juga suara camar yang memekik riang dimanjakan alam lautan. Tempatmu berlabuh adalah pantai dengan pasir putih dan merah muda yang yang di atasnya terserak fosil hewan karang aneka bentuk. Birahimu kau puaskan di pantaimu bersama perempuan pulau yang dengan seluruh hasratnya merindukanmu. Cita-citamu adalah mewartakan keindahan alammu ke seluruh dunia dan membawa wisatawan datang untuk menikmatinya. Kebahagiaanmu adalah memberikan pelayanan terbaik pada tamu-tamumu yang datang memburu keindahan yang mengabadikannya pada ponsel dan kamera mereka.

Lelaki Bajo, pandangan matamu, diammu, dan kegesitanmu menyatakan takaran rasa cintamu atas tanahmu. Laut biru nan bening adalah gambaran birunya hatimu yang penuh harapan akan hari esok di lautmu yang kaucintai.

Aku tahu para wisatawan itu tak ada yang terlalu hirau denganmu. Mereka asyik dengan dirinya, temannya, kameranya, media sosialnya, sunblocknya, atau urusan lain yang mereka anggap perlu. Tak ada yang mengenang sosokmu dalam hati atau dalam kepala mereka.

Barangkali aku adalah wisatawan langka yang memotret sosokmu lewat imajiku. Barangkali aku adalah seorang perempuan yang jatuh cinta pada sosokmu, pada lautmu, bukit, langit, angin, matahari, dan semua unsur alam yang mengelilingimu. Aku rasa sebenarnya aku jatuh cinta pada seluruh misteri keindahan ini.

Lelaki Bajo, kini kapal kita merapat ke daratan. Pelabuhan Labuan Bajo siap menantikanku untuk mengantarkanku pada petualanganku berikutnya. Sepotong hati rasanya tertinggal di lautan dan perbukitan.

Terima kasih, Lelaki Bajo. Engkau dan seluruh keelokan alammu menginspirasiku untuk selalu menghargai dan mencintai yang kumiliki. Selamat berjuang, Saudara! Semoga hidupmu dan perjalanan cintamu berhasil.

Terima kasih karena Sang Pencipta mempertemukan aku dan kau di lautan biru berlatar belakang pulau dan perbukitan yang tak kukenal namanya. Aku bersyukur akan setiap misteri perasaan cintaku pada misteri-Nya yang agung.

Ch. Enung Martina, Jelupang, 1 Juni 2017, Hari Pancasila
cerita imajinatif terinspirasi oleh  pelaut Suku Bajo

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: