Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

CERPEN REMAJA

Posted by lembursingkur pada Mei 9, 2015

kami tampilkan cerpen remaja yang merupakan salah satu karya siswa SMP Santa Ursula BSD.

(Ch. Enung Martina)

SARAH

By Anggi

          Sarah. Nama yang terlalu feminin untuk seseorang seperti… Sarah. Nama yang terlalu cantik dan kemayu untuk seseorang dengan kepribadian dan penampilan seperti Sarah. Buat gue, nama itu harusnya menjadi milik seorang wanita dengan jalan ala putri Solo, pelan dan butuh waktu seabad cuma buat jalan dari gerbang sekolah sampai kelasnya sendiri. Penampilannya menarik dengan make up yang tidak terlalu norak, hanya butuh sedikit polesan untuk menyempurnakan penampilan wajahnya. Senyumnya attractive dan auranya hangat, bukan aura kematian kayak Sarah yang gue kenal. Matanya bisa memperlihatkan inner beauty dan kecerdasannya. Itu nama ‘Sarah’ yang cocok buat gue.

            “Woy, Farrel! Ngelamun aja lo! Entar kesambet si Manis dari Jembatan Ancol, lho!” Seorang memukul pundak gue dengan horse power. Gue merasakan badan gue didorong sedikit ke samping dan tempat duduk yang harusnya menjadi singgasana gue yang cukup luas buat  bersantai, sekarang terisi dengan makhluk lain.

            Seorang Hawa seharusnya berperilaku seperti Hawa pada umumnya. Bukan mendorong-dorong orang seperti ini, lalu duduk satu kursi dengan seorang Adam. Kemanakah sopan santunnya ? Mungkin itu pemikiran sesepuh-sesepuh gue dua ratus tahun yang lalu. Buat anak muda sekarang, cewek atau cowok, yang penting lo berteman dan legal aja kalau duduk satu bangku berdua, asal bukan pangku-pangkuan. Ideologi yang melahirkan pencabul-pencabul ulung diusia sekolah menengah atas.

            Gue pun sebenernya ga masalah karena dia melakukan ini bukan buat modus, like everyone say. Karena gue nggak merasakan sama sekali tanda-tanda dia suka sama gue. Malahan, kayaknya dia pengen gue jadi cewek juga dengan banyak bergaul dengan gue.

            “Sar, si Manis lagi makan rujak di pojokan Museum Fatahilah! Gausah takut si Farrel bakal kesambet! Hahaha…” Aldi berkelakar. Tawanya mampu mencapai ruang guru di lantai dua, gue yakin.

            “Lagian si Farrel diem-diem aja dari tadi. Ketawa kek, apa kek.” Hawa di sampingku ini membela diri.

            “Lo tau sendiri orang kayak Farrel cuma bisa senyum-senyum doang. Nggak bisa ketawa ngakak guling-guling kayak lo.”

            “Hahahaha iya waktu itu si Sarah ngakak sampe hyperventilating gitu. Trus guling-guling di tanah kerajaan anak-anak SD.” Trixie menambahkan.

            Ya, gue inget banget di hari kedua gue sebagai anak baru, gue harus melihat pemandangan menakutkan. Sarah, ketawa guling-guling di depan gedung SD. Dan ada banyak orang disitu termasuk temen-temennya, Trixie, Bernadeth, Aldi, dan Danny. Anehnya, mereka ikut ketawa-ketawa gajelas disitu. Gue langsung menyelamatkan pride gue dengan mencopot name tag gue dan gue sembunyikan di antara buku-buku Fisika dan Matematika kelas 11 IPA.            Gue berjalan ke arah lain, berharap nggak ada satupun dari mereka yang notice keberadaan gue.

            Sayang, angin tak mampu sembunyikan wajah penuh penyesalan dengan semburat merah di pipi dari mereka. Aldi melihat gue berjalan menjauh dan langsung memanggil tanpa tedeng aling-aling.

            “Farrel!” Langkah gue langsung terhenti begitu mendengar nama gue dipanggil oleh Aldi. Pelarian ini gagal sudah. Gue berbalik dan menyambut mereka dengan senyuman yang gue buat semanis dan sesopan mungkin. Tak lupa gue melambaikan tangan. Maksud hati mengusir, tapi orang menganggap itu bentuk sopan santun. Beberapa adik kelas terlihat senyum-senyum, beberapa langsung berbisik-bisik ala fangirl. Emang gue boyband ? Oh iya ngomong boyband, Sarah sama Dedeth hobi boyband. Maksud gue, suka sama boyband.

            “Farrel sini aja bareng kita. Lo belom mau pulang kan?” Aldi dan Danny merangkulkan tangannya di pundak gue. Gue cuma bisa tersenyum, nggak tahu mau merespon apa.

            “Iya.” Standard acting anak baru. Patuh sama anak lama.

            “Yaudah bareng kita aja. Nggak enak kalo sendirian. Ya nggak, Dan ?”

            “Yoi.” Dan mereka menarik anak baru itu ke basecamp mereka. Kantin SD.

            Makanan dan snack kantin di SD nggak seberat di SMP/SMA. Snacknya ya disesuaikan sama umur anak-anak SD itu. Biskuit lah, sus, permen.. Biskuit juga macem-macem kan. Ada yang bentuknya sandwich, ada yang banyak susunya, ada yang rasa these and those.

            “Rel, mau apa? Gue jajanin deh.” Danny, temen pertama gue di kelas menawarkan jajanan di kantin. Gue bersikap gentle, menolak tawaran Danny dengan alibi perut udah kenyang.

            “Eyyyy, mana mungkin. Orang kayak lo mesti banyak makan! Lo nyelesaiin hampir semua soalnya Bu Itta!” Ujar Dedeth atau dulu gue masih memanggilnya Bernadeth, sambil mengunyah biskuit susu. Tinggi meja kantin cuma setengah dari badan kita. Rasanya kayak duduk di meja buat para dwarfs yang kuntet.

            “Bener semua lagi.” Tambah Trixie.

            “Wah, Bu Itta bakal tambah pilih kasih nih. Entar lo dijadiin angsa emasnya dia.” Gue agak mencelos mendengarnya. Gue seorang anak baru dan temen-temen gue bukan anak yang terbilang genius (kecuali Sarah sama Trixie. Mereka pinter banget). Sementara mereka memanggil gue megamind sejak hari pertama gue belajar di sekolah itu. Waktu pelajaran pertama bareng Bu Itta. Bu Itta masih terbilang muda buat seorang guru Fisika SMA. Maka dari itu, dia masih suka pilih-pilih sama anak muridnya. Di hari pertama, dia langsung ‘mendewakan’ gue dan bangga banget sama gue karena gue bisa jawab semua pertanyaan yang dia lontarkan. Sejak saat itu, nickname gue nambah jadi ‘Anak Emas Bu Itta’.

            Bu Itta suka sama anak-anak genius. Mungkin dia menganggap anak genius bisa merubah dunia ke arah yang lebih baik. Padahal koruptor itu jenius. Gue pernah SMP dan belajar pajak. Ngitung yang nggak dikorup aja cukup sulit. Apalagi koruptor mesti ngitung yang di korupsi berapa banyak plus harus bohong sana-sini biar ngga ketahuan kalau jumlah uangnya meroket.

            Sarah langsung menangkap perasaan uneasy yang terpancar dari muka gue. Dia berdehem sambil kemudian menyeruput teh kotaknya.

            “Udahlah nggak usah ngomongin Bu Itta. Bikin stress tau nggak ?!”

            “Alah, lo juga jago Fisika. Bullshit lo ngomong kayak gitu.” Dedeth menoyor bahu Sarah. Sarah merasa nggak terima ditoyor Dedeth.

            “Jijik lo Deth, lo juga! Tapi, sepinter-pinternya gue tetep aja otak gue jenuh! Gue yakin Farrel juga jenuh dengerin Bu Itta ngomong dua jam pelajaran. Terus akhir-akhirnya muji-muji Pak Robert!” Sarah menggebrak meja, wajahnya ditekuk. Gue tersenyum melihat tingkah Sarah yang blak-blakan.

            “Iyadeh, Sarah jenuh, Sarah jenuh.” Aldi melahap potongan pisang terakhirnya sambil senyum-senyum.

            “Makanya ulangan terakhir gue dapet 72 hahahaha.” Sarah tertawa. Namun sebelum dia mempersilahkan tawa khasnya itu keluar, matanya melirik ke arah gue dan ia melemparkan senyuman playful-nya. Agak menjengkelkan, tapi di lain sisi, melegakan.

            “Udah gue bilang si Farrel kesambet ! Elo semua sih ngatain si Manis makan rujak padahal kan favoritnya gado-gado! Dasar lo! Tuh kan si Farrel jadi kayak gitu deh!” Apalagi nih menyangkutpautkan gue pada pembicaraan mereka?

            “Lo semua kalo ngomong pelan-pelan aja. Kuping gue hampir congekan tau nggak? Kalo ngomong toa banget.” Gue menempeleng kepala Danny dan Aldi tanpa alasan yang jelas.

            “Eh rel! Kok gitu? Sarah yang tadi ngomong di kuping lo persis! Kita lagi makan choki-choki, lo tempeleng!” Danny nggak terima, gue tempeleng. Gue menoleh dan melihat seringai di wajah Sarah.

            “Kan dari tadi lo berdua yang asik nge-date sebangku berdua.” Sahut Trixie dengan senyum khasnya.

            “Hahahaha Farrel, Farrel. I think you haven’t adapted to your surroundings.” Sang Hawa tertawa sambil merebut choki-choki Aldi dan melayang ke tempat duduknya, dua meja ke kanan dari meja gue.

            Jam pelajaran Lucas, si native gimbal dari Skotlandia yang umurya terpaut hanya tiga tahun dari kita, rasanya lama banget, padahal dia cuma ngajak kita main scattegories, mainan anak SD buat nambah vocabulary. Pak Bertrand juga nggak peduli sama anak-anak dan si gimbal lagi. Dia lagi asik bikin komik kayaknya. Jangan salah, guru bahasa Inggris gue merangkep guru seni rupa. Sayangnya, nggak beneran digaji double atas kompetensinya dalam seni rupa.

            “So, guys. Let’s move on to another game. What do you think?” Lucas bertanya. Gue males dengerin pelajaran dia dan memilih untuk asik mainan ballpoint. Buka tutupnya, rombak ballpoint-nya terus rakit lagi.

            “You, the one who want to be an engineer.” Gue masih asik mainan ballpoint.

            “Em, Sarah, can you nudge him or pinch him so he…”

            “Rel. Farrel.” Gue merasakan jari-jari panjang serta kuku-kuku panjang menusuk lengan gue dan suara seseorang membangunkan gue dari angan-angan tentang ballpoint. Pasti Mark disuruh ‘membangunkan’ gue lagi sama si Lucas.

            “Apaan sih, To ?” Gue udah biasa dengan perlakuan Mark langsung melotot ke arahnya sambil menyebutkan nama belakangnya, Haryanto. Tapi bukan Mark Haryanto yang gue temukan tapi Sarah, si cewek psycho.

            “Sarah? Sejak kapan?” Gue mengerutkan dahi, merasa aneh dengan kehadiran Sarah. Harusnya tempat duduk Sarah jauh di ujung mata, tapi kenapa tiba-tiba di samping gue ?

            “Lo ngapain Sar?”

            “Lo kenapa demen ngelamun sih? Sekarang lo ngajak ballpoint ngelamun. Besok lo ngajak siapa lagi? Oh, gelas Erlenmeyer karena besok ada percobaan Kimia?”

            “Lo ngomong apa sih Sar?”

            “Rel, bangun dong! Lo nggak ikutin pelajaran daritadi! Lucas udah miscall lo berapa kali!” Gue menoleh ke depan, disambut oleh raut bingung si Lucas yang nggak ngerti obrolan gue sama Sarah.

            “Apakah ada masalah, Sarah?” Tanya nya dengan logat Skotlandia. Cuma itu kayaknya kalimat yang bisa dia ucapkan.

            “No, sir! No!” Sarah menunjukan gigi gingsul nya kepada sang native.

            “Okay. So, Fa… Ferrel.” Lucas berusaha melihat name tag gue. Gue nggak bereaksi apapun. Hanya menatap ballpoint yang setengah selesai.

            “Hey, why are you ignoring me?” ujar si native Skotlandia agak kesal.

            “Because you called Ferrel, not me.” Gue menaikkan bahu. Nggak ada satu pun yang mengerti ‘candaan’ gue, kecuali-

            “Bahahaha! Farrel, Farrel!” Cewek yang tadi mengganggu acara gue siang-siang sekarang ketawa ngakak di kelas. Beberapa anak terinfeksi tawa Sarah padahal mereka nggak mengerti apa yang Sarah tertawakan. Belum tentu mereka mengerti. Lucas tambah bingung dengan tawa yang menggelegar itu. Pak Bertrand yang tadi nggak peduli dengan kelas, mengangkat kepalanya untuk melihat si cewek.

            “Sarah, what’s wrong with you?”

            “No, sir. Sorry. But… You really don’t understand his very lame joke???” Dia baru saja mengejek ‘candaan’ gue.

            “No. I don’t really understand.”

            “His name pronounced as Fa-rrel, not Fe-rrel. Just pronounced it in Indonesian. That’s why he said you are calling Ferrel, not him.” Nggak salah gue berteman sama Sarah yang bisa mengerti candaan gue yang unik. Mungkin gue punya nickname baru buat Sarah. The translator.

            “Aaah… Hahaha finally! Thanks Sarah. Well, Farrel, I am sorry.” Lucas mengangkat tangannya kepada Sarah sebagai ucapan terima kasih sekaligus permintaan maaf untuk gue.

            “No problem.” Gue menunjukkan senyum manis gue lagi. Gue yakin, Aldi dan Danny lagi acting muntah di kursinya.

            “Okay then. Farrel, can you choose the next game for us ? Seems like you have a good entertaining soul.” Sial. Gue nggak pernah suka main game buat belajar bahasa Inggris kecuali gue anak lima tahun. Terakhir gue main games buat belajar bahasa Inggris adalah waktu umur gue delapan tahun alias masih kelas dua SD.

            “I…”

KRING !!!

            ‘Thanks God. You saved my life.” Gue membuat tanda salib.

            “Okay guys, see you next week! Thank you! And Farrel…” Gue merasa nama gue dipanggil oleh si native muda.

            “You have to treat her, a lot of snacks because she translated your lame joke to me and to your classmates.” Dia melemparkan senyumannya sebelum digiring keluar oleh Pak Bertrand ke ruang guru. Sekarang, dia ikut-ikutan mengejek gue, secara tidak langsung. Tiba-tiba, seseorang merangkul pundak gue.

            “I like his idea about treating me snacks.” Gue menatap Sarah yang lebih pendek dari gue dengan malas-malasan. Dia hobi banget gelayutan deket gue.

            “Nggak bawa duit.”

            “Nggak bawa apaan ? Nih, dompet lo merah semua.” Dompet gue berhasil direbut Danny dan dia berhasil melihat isi di dalam dompet itu.

            Kalau budaya seperti ini sudah ada sejak kakek gue masih di SMA, gue yakin Danny udah dilaporin ke guru sama kakek gue. Dia pasti udah dipukulin pake rotan. Sayangnya, budaya ini muncul di era gue, dan anehnya, gue biasa-biasa aja. Lebih aneh lagi kalo gue bawa-bawa rotan dan teriak-teriak ke Danny sambil mengayunkan rotan di genggaman gue: “KAMU MAU MENGULANG ITU LAGI?!?! JAWAB?!?!” Gue bahkan membiarkan dia memperlihatkan isi dompet ke Aldi.

            Kakek, sebenarnya aku ini cucu-mu atau bukan ??? Tanya gue pada jarum jam yang berputar.

            Waktu berlalu begitu cepat. Jam pelajaran terakhir telah usai dan waktu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh murid telah tiba. Pulang. Begitu pula anak-anak 11-A 2. Bel pulang sekolah terdengar seperti bel dari surga, bagaikan suara malaikat-malaikat yang memanggil mereka untuk keluar dari ‘neraka’ yang mereka ciptakan sendiri.

            Kecuali satu penunggu ‘neraka’ yang menyamar jadi setan padahal adalah seorang malaikat bernama Farrel. Dia masih duduk di kursinya, menghitung rumus. Bahkan usai berdoa, dia kembali berkutat dengan rangkaian angka dan variabel serta simbol-simbol yang ‘menghiasi’ buku latihannya. Matanya melahap setiap rumus yang tercantum di buku cetak lalu memindahkannya ke buku latihan. Jika pada umumnya selesai mata melahap, rumus kembali keluar lewat telinga kanan, otak Farrel cepat menangkap rumus-rumus itu sebelum keluar lewat telinga kanan. Bibirnya komat-kamit mengulang rumus-rumus tersebut dan tangannya dengan cepat menuliskannya ke buku latihan. Otaknya berubah fungsi jadi kalkulator super yang menghitung ekstra cepat.

            Mata sang jenius terlalu tertarik pada soal yang diberikan Bu Julie sampai tidak menyadari kehadiran Sarah di dekatnya. Sarah bersandar di meja Kenny, arah sorong-kanan dari meja Farrel. Kepalanya menggeleng-geleng melihat kecepatan tangan sang jenius. Dalam hati, dia mengagumi wajah Farrel yang terlihat serius dengan buku dihadapannya.

            ‘Kok dia bisa bikin muka se freak itu ya?’ Ya, kagum karena bisa bikin muka ala orang idiot.

            Butuh waktu tiga menit buat si megamind untuk menyadari bahwa ada makhluk yang memperhatikannya dari samping. Ia mengangkat wajahnya dari bukunya dan menatap makhluk itu.

            “Lo ngapain?” Sarah memutar matanya dan wajahnya yang sudah malas-malasan nungguin Farrel yang nggak sadar dengan kehadirannya makin menjadi-jadi.

            “Lagi buang air besar. Ya, lagi ngliatin lo lah! Nungguin lo!” Tanda tanya di wajah Farrel membesar. Tapi, dengan tenang dia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sarah duduk menyamping di kursi tepat di depan meja Farrel, badannya menghadap Farrel.

            “Kok muka lo bisa gitu, Rel?” Kegiatan Farrel terhenti ketika ia mendengar pertanyaan aneh bin ajaib itu.

            “Muka gue kenapa?” Sang jenius melepas kacamatanya dan memasukkannya di tempatnya.

            “Freak.” Sarah mengedipkan matanya seperti tidak ada apapun yang terjadi.

            “Sorry?” Tanda tanya di wajah Farrel meledak sudah, dibom oleh pernyataan Sarah yang blak-blakan dan tidak liat kiri-kanan.

            “Iya, muka lo freak.” Sarah memutar-mutar ballpoint Farrel sambil melihat ke jendela. Butuh lima menit buat sang jenius untuk menyerap baik-baik pernyataan abstrak dan tiba-tiba dari Sarah. Pada akhirnya, Farrel hanya mendesah dalam keputusasaan dan melanjutkan beres-beresnya yang terpotong. Mereka berdua tenggelam dalam diam dan asik dengan pekerjaan masing-masing.

            “Lo kalem banget ya.” Kalimat aneh bin ajaib Sarah muncul lagi. Farrel selesai beres-beres dan sekarang menggantungkan tasnya di bahu kanan.

            “Lo mabok Sar. Gue beliin susu kotak di SD, yuk.” Farrel berjalan mendahuluinya. Senyum puas mengembang di wajah Sarah.

            “Took you long enough, friend.” Dan si cewek funky membuntuti Farrel sampai ke kantin SD.

            “Dan, si Sarah mana ya?” Bernadeth menjulurkan kepalanya.

            “Paling ke perpus.” Danny menggoreskan garis-garis acak yang membentuk pemandangan sekolah. Dua pensil diselipkan di telinga kiri dan kanannya. Bernadeth menyeruput jus mangga sambil menopang kepalanya dengan tangan kanan.

            “Deth, mendingan pohonnya warna hijau atau orange?” Orang yang ditanya malah keselek dan batuk-batuk.

            “Kok tiba-tiba nanya itu sih?”

            “Emang nggak boleh?” Danny mengangkat wajahnya untuk menatap Bernadeth.

            “Pertanyaan lo nggak mutu, Dan.” Bernadeth membanting pelan gelas plastik jusnya. Dia memang sudah lelah berhadapan dengan orang seperti Danny. Tapi pertemanan yang terjalin sejak SD membuat Bernadeth merasa biasa dengan tingkah Danny. Bernadeth selalu bertanya-tanya bagaimana dia bisa berakhir dengan mereka-mereka yang extraordinary ini. Nggak ada satupun dari temen-temennya yang nggak unik. Sarah murah senyum, gila dan easy going, tapi punya konflik dan sebenarnya tertutup serta anti sosial. Trixie anak yang emosional, gampang marah,  juga gampang nangis dan tertawa, tapi perhatian dan suka jahit.

            Farrel, The Thinker berjalan dengan otak jenius, tapi kadang ceplosannya bikin ketawa lebar-lebar. Orangnya juga bisa jadi misterius. Jangan-jangan entar dia bawa pistol dan ngebunuh Fiona kalau cewek itu sok pemimpin pas lagi kerja kelompok.

            Aldi orangnya gila Iron Man, bahkan namanya ditambahin Stark di belakangnya. Ignatius Rheynaldi Juwanto Stark. Absurd banget. Kalau ngamuk juga mengerikan, tipe-tipe Sarah. Tapi anaknya baik dan respect sama semua orang. Dia nggak akan membenci orang tanpa alasan. Katanya kayak cewek yang suka backstab.  Kalau nggak punya kesalahan ngapaian dibenci? Dia juga orang yang loyal. Sekalipun klan-nya kalah dalam peperangan dan ia ditangkap dan dipaksa membeberkan susunan pertahanan klan-nya, sampai mati pun dia nggak akan membuka mulutnya.

            Lain dengan Danny yang pintar akuntansi. Dari luar dia terlihat cool, dan tipe orang yang terpercaya, tapi jika ada balasan yang sesuai, hmmm… Bisa diatur sesuai dengan perhitungan akuntansinya yang njelimet itu. Tapi di lain sisi, Danny orang yang cheerful dan mudah dibaca. Ekspresinya akan berubah-ubah sesuai dengan perasaannya. Makanya, orang tau kapan harus stay away dari dia dan kapan harus, eh bisa seenaknya.

            “Deth? Dedeth? Dedeth sayang?” Bernadeth ikutan nglamun kayak Farrel, terbangun karena suara Danny yang kayak banci Taman Lawang keselek mic. Bernadeth memasang muka jijik karena Danny menyebut kata ‘sayang’ untuk memanggilnya.

            “Apa sih lo Dan? Sayang, sayang…” Danny hanya terkekeh  mendengar protes Bernadeth. Temannya ini sensitif banget.

            “Abis gue panggil Dedeth, Dedeth! Lo nggak jawab. Yaudah gue panggil sayang, biar kayak Sleeping Beauty. Bedanya Sleeping Beauty dicium, lo diteriakin.” Jemari Danny kembali berdansa di atas kertas.

            “Ih jijik lo Dan.”

            “Kok jijik? Lo gue katain kayak Sleeping Beauty nggak mau, kayak mbok jamu depan komplek juga nggak mau. Gue panggil ‘sayang’ pun gamau. Dasar lo cewek aneh.” Bernadeth mendecakkan lidahnya kemudian meneguk jus mangganya lagi. Danny memperhatikan Bernadeth yang meminum jusnya dengan kecepatan 100km/jam dengan senyum terkulum.

            “Ahhh…”

            “Heh, cewek kok gitu?”

            “Emang kenapa?”

            “Bikin suara kayak gitu. Nggak sopan tau.” Bernadeth mencibir.

            “Lo ngalahin nyokap gue… Ck..” Danny hanya menanggapi dengan senyuman kebapakan sambil melanjutkan kegiatannya.

            Kantin sejenak sepi tanpa sungut dan perdebatan dua insan muda yang sedang menikmati angin sore. Minuman yang tadinya masih setengah gelas, perlahan habis. Goresan-goresan yang tadinya acak dan hitam-putih, sekarang telah berbentuk dan berwarna. Jam terus berputar, namun mata sang dewi telah terikat dengan mahakarya ciptaan sang dewa di hadapannya. Dalam hati, ia mengagumi keahliannya dalam memainkan batangan kayu warna warni di atas kertas. Keheningan berlangsung lama ditemani daun-daun pohon yang bergemerisik.

            “Dan…”

            “ARGH SARAH ! LO CEWEK PSYCHO!”

            “CEPET BELIIN GUE SUSU KOTAK! YANG COKLAT! JANGAN SALAH LAGI!”

            “TAPI JANGAN GINI DONG, LO BERAT SAR !”

            “HEHEHE~ LUMAYAN DIGENDONG ANAK KUCING TAPI DALEMNYA HARIMAU. KAYAK LO HAHAHAHA.”

            “Aduh…. SAR!”

            “EH BERAT GUE CUMA 60 KG OKE??? MAU DITARO DI MANA NAMA BAIK OTOT LO YANG KEKAR INI KALO LO NGANGKAT GUE AJA GABISA?!” Sarah memukul lengan Farrel.

            “Nih ya Sar. Sekarang gimana gue beli susu kalo tangan gue dua-duanya dipake buat nggendong elu??? Turun dulu dong!” Sarah hanya terkekeh dan perlahan turun dari punggung Farrel. Yang menggendong langsung memijat tangannya berulang-ulang. Beban yang dia angkat bukan hanya beban benda saja tapi beban mental akibat suara Sarah.

            “Bagus, bagus…. Lumayan. Buat olahraga, bang.” Sarah menepuk punggung Farrel beberapa kali. Kemudian, dia hendak berjalan ke arah kantin ketika melihat dua sahabatnya duduk termangu melihat dia dan Farrel bertengkar hanya karena masalah sepele.

            “Oh…” Farrel juga melihat dua sahabatnya itu dan memberi senyum garing nan renyah.

            “Hai.”

#kumpulancerpen@SanurBSD#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: