Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

FABEL

Posted by lembursingkur pada Oktober 20, 2014

Di bawah ini kami sajikan karya siswa SMP Santa Ursula BSD. Ini merupakan dongeng fabel yang dibuat oleh beberapa peserta didik. 

Yodi yang Keras Kepala

oleh  Natalia Tonadi / VIII B

Pada zaman dahulu kala di suatu padang rumput yang luas, hiduplah segerombolan sapi. Di antara mereka terdapat seekor anak sapi yang keras kepala, suka memerintah, licik, serakah, dan sering menjahili teman-temannya. Anak sapi itu bernama Yodi. Ia suka menjahili teman-temannya dengan mengata-ngatai mereka. Hampir semua anak-anak sapi membeci Yodi. Ketika para anak sapi lain sedang bermain atau berlari-larian, Yodi hanya duduk di bawah pohon sambil memakani rumput yang ada di sekelilingnya karena sifatnya yang sangat malas.

Suatu pagi,Yodi mengajak Simi, seekor anak sapi yang tidak pernah terkena jebakan Yodi untuk pergi menyusuri sebuah hutan dekat dengan tempat tinggal mereka. Yodi bermaksud untuk menjahili Simi saat mereka berada di tengah hutan. Tidak terpikir sama sekali oleh Simi bahwa dirinya akan dijahili. Dari awal perjalanan, Yodi sudah memerintahkan Simi untuk membawa barang bawaannya yang berisi kebutuhan pribadinya. Ia juga memerintahkan Simi untuk berjalan di depannya karena ketakutan akan binatang buas dapat menerkam mereka. Simi yang sama sekali tidak mengetahui pikiran jahat yang ada di kepala Yodi dengan senang menjalani keinginan dan perintah Yodi.

Ketika matahari bersinar terik di atas kepala Yodi dan Simi, Yodi mengusulkan untuk beristirahat dan makan siang. Mereka berdua mulai makan dengan lahap untuk mengisi ulang energi mereka yang telah terkuras. Yodi yang tidak berpikir panjang langsung menghabiskan semua makanannya sedangkan Simi menyisakan sedikit dari makanannya untuk nanti jika ia merasa lapar dan agar ia tidak merasa terlalu kekenyangan. Setelah selesai mengisi perut, mereka pun memulai kembali perjalanan mereka.

Di tengah perjalanan, Yodi mulai merasa lapar lagi karena kebiasaannya yang suka makan. Ia mengetahui Simi masih memiliki sisa bekal dan ingin memintanya. “Sim, bolehkah aku meminta sisa makananmu dari siang tadi? Aku merasa lapar lagi nih,” tanya Yodi. “Oh, baiklah. Ini, ambil saja sisa makananku,” jawab Simi yang baik hati. Yodi pun langsung mengambil makanan Simi tanpa berterimakasih dan melahapnya dengan cepat. Tetapi sayangnya, rumput Simi yang dimakan oleh Yodi ternyata sudah tidak segar lagi karena terlalu lama dibiarkan di tas Simi. Yodi pun merasa kesakitan di perutnya. Mau tidak mau, Yodi harus melanjutkan perjalanan. Dengan menahan rasa sakit di perutnya, Yodi merintih kesakitan pada setiap langkah yang diambilnya.

Saat sedang berjalan, Simi menemukan sebuah sungai yang bening. Mereka harus menyeberangi sungai itu sebagai jalan pintas untuk kembali ke rumah mereka. Simi tidak berani untuk melewati sungai itu karena takut akan ada buaya. Tetapi, mengetahui sifat Yodi yang malas dan jahil, Yodi memilih untuk menyeberangi sungai tersebut agar dapat cepat pulang sekaligus melakukan rencana usilnya kepada Simi. Ia mengetahui bahwa ada banyak buaya di sungai tersebut. Jika tidak berhati-hati, kaki mereka bisa tergigit. Simi sudah melarang dan meperingatkan Yodi agar tidak nekat menyeberangi sungai itu. Yodi menghiraukan kata-kata Simi dan pergi menyeberangi sungai dengan harapan Simi akan mengikuti dirinya.

Tidak mau mengambil resiko, Simi berputar balik dan mencari jalan lain untuk bisa pulang tanpa melewati sungai yang penuh dengan sungai itu. Simi sadar bahwa ia akan dijahili Yodi ketika Yodi mengajak dirinya untuk menyeberangi sungai bersama. Harapan Yodi untuk menjahili Simi pun tak akan bisa tersampaikan.

Di tengah sungai, Yodi mulai merasa takut akan adanya buaya. Ketakutannya menjadi nyata. Terdapat buaya yang sedang menuju ke arah Yodi sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Yodi pun mulai berlarian di dalam air. Tetapi, ia kalah cepat dengan buaya tersebut sehingga kakinya tergigit oleh buaya. Ia merintih kesakitan saat melihat kakinya yang berdarah. Yodi pun berjalan pulang dengan kakinya yang pincang. Betapa menyesal dirinya karena tidak mendengarkan kata-kata Simi.

Di dalam cerita tersebut, kita dapat belajar bahwa penyesalan selalu datang terakhir. Kita tidak boleh menjahili teman-teman kita karena pasti kita akan mendapatkan balasannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: