Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

BUKU TENTANG HUKUM MURPHY

Posted by lembursingkur pada Juli 22, 2013

Judul        : Murphy’s Law (Hukum Murphy)
Pengarang    : Richard Robinson
Penerbit    : Rahat Books
Tahun terbit    : 2008

Bab 1 membahas bagaimana indera-indera kita dapat memungut
kepingan-kepingan jigsaw mental. Mata melakukannya dengan cara
membuang 99% informasi yang dia terima, dan selebihnya dikerjakan oleh
otak. Telinga melakukannya dengan cara memilih suara-suara yang ingin
kita dengarkan, dan berusaha mengabaikan selebihnya. Kulit, dalam
keadaan normal, membuang derau acak yang diterimanya sebagai sentuhan
kecil dan ringan serta informasi-informasi lain yang dianggapnya
kurang penting. Namun terkadang kita juga terlalu menyadari
derau-derau acak tersebut dan berfantasi bahwa ada seekor serangga
kecil yang merayap di tubuh kita. Lidah dan hidung memiliki saluran
tersendiri yang langsung terhubung dengan amigdala, pusat rasa takut
otak. Ada satu indra lagi yang sering terkucilkan dari Panca Indra,
yaitu Propriosepsi. Kemampuan berjalan, berlari dabn berdiri tegak
bergantung pada pengetahuan ini, dan pesan-pesan semacam itu
dikirimkan dari seluruh tubuh ke bagian otak bernama otak kecil.
Bab 2 membahas tentang pengukuran. Bagi manusia purba, ketepatan
bukanlah tujuan utama, tidak sama dengan kita sekarang, yang
menghitung sampai satuan millimeter. Sekedar tahu, istilah terbaru
untuk menghadapi dunia yang gila ketepatan ukuran ini adalah
attodetik, yaitu satuan sepersatumiliar detik. Namun, walau kita hidup
dan bertumbuh di dunia yang gila ketepatan ukuran ini, tetap saja,
pada kenyataannya, kita sering terkecoh oleh ilusi optik yang
merupakan pelanggan bandel dalam hidup kita.
Bab 3 berisi tentang ingatan. Kita manusia sangat tergantung pada
ingatan kita untuk menebak apa yang sedang kita lihat, atau dengar,
atau rasakan, atau alami, namun ingatan kita bisa saja salah, dan kita
akan celaka. Seperti pada cerita Roadrunner, yang mengira cahaya yang
ia lihat dalam sebuah terowongan panjang adalah ujung terowongan
tersebut, mati terlindas kereta yang lewat karena cahaya tersebut
sebenarnya adalah cahaya dari kereta api itu sendiri.
Bab 4 berbicara tentang membuat koneksi. Dalam membuat koneksi atau
menyusun gambar dari potongan-potongan jigsaw  mental kita, sering
sekali terjadi kesalahan. Namun, alih-alih kita mengoreksi kesalahan
itu, kita malah menjejalkannya dan memaksa potongan jigsaw itu masuk.
Kesalahan-kesalahan  tersebut sering berupa kesalahan yang naïf,
contohnya, jika kita melihat 2 hal bersamaan, kita akan menganggap
salah satunya sebagai penyebab dari yang lain. Dengan kata lain kita
sebagai manusia selalu menginginkan jawaban yang sederhana, kita
cenderung memaksa potongan jigsaw yang salah masuk ke tempat yang
salah.
Bab 5 berisi tentang emosi. Emosi sangatlah penting bagi kehidupan
kita, dan kehidupan tanpa emosi adalah mustahil, sama seperti
kehidupan tanpa aroma dan suara. Antonio Damasio bercerita tentang
seorang pasien tumor otak ganas yang menjalani operasi tumor. Pasien
itu bernama Elliot. Ia memang sembuh, dan ingatannya tetap utuh. Ia
bisa melakukan apa saja, namun operasi tadi menyebabkan kerusakan
hubungan antara amigdala dan  frontal lobes sehingga ia sulit sekali
memutuskan sesuatu, dan bisa menghabiskan sepanjang hari hanya untuk
berusaha memutuskan sesuatu yang amat sederhana.
Bab 6 berjudul ‘Pandangan Umum’. Bab ini dimulai dengan struktur otak
yang sederhana, yaitu saraf-saraf cermin. Saraf cermin membuat kita
mengernyit saat melihat orang lain disuntik, atau membuat kita
menangis saat menonton adegan sedih, atau membuat kita merasa sedih
saat teman kita sedang sedih. Dengan demikian, saraf cermin bisa juga
disebut sebagai empati. Saraf cermin nantinya akan menciptakan meme,
yang membuat kita mampu berbudaya. Meme sendiri artinya adalah
sifat-sifat yang dipelajari atau unit-unit kebudayaan. Contohnya, pada
kehidupan sekarang, istilah-istilah seperti ‘so what gitu lho…’ dan
‘apa banget’.
Bab 7 adalah ‘Serba Pintar’. Dalam dunia ini, banyak sekali kekusutan
yang sering terjadi. Dalam buku Hukum Murphy, terdapat penjelasan;
1. Kita tidak yakin dengan apa yang kita lihat
2. Keputusasaan dalam mengukur benda-benda yang kita lihat
3. Ingatan membingungkan yang kita miliki
4. Kita menggunakan ingatan membingungkan itu untuk mengambil kesimpulan
Bab 8, Sains Murni dan Matematika. Bab ini berisi tentang masih
banyaknya sisi gelap dalam dunia ini, dan masih banya pencerahan yang
harus dilakukan. Dulu, selama lebih dari 2000 tahun manusia
mempercayai hukum Aristoteles, yang mengatakan bahwa dunia ini terdiri
atas 4 unsur, api dari langit, tanah dari bumi, dan lain-lain. Tidak
ada yang percaya pada hokum Newton, Einstein dan Copernicus yang
seharusnya lebih benar. Makin banyak sains murni yang menjelaskan
keanehan dunia, makin berkurang kehidupan yang terasa.

Jassynda
VIIId/15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: