Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

NOVEL SASTRA 2

Posted by lembursingkur pada Maret 2, 2012

MOCHTAR LUBIS (82) hari Jumat (2/7), tepatnya pukul 19.15, meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Beberapa bulan yang lalu saat dirawat di Rumah Sakit Cikini, saya kunjungi Mochtar. Mochtar Lubis lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922. Tahun 1944 dia menikah dengan Halimah, gadis Sunda yang bekerja di sekretariat redaksi harian Asia Raja.

Pada tahun 1945 dia bergabung dengan kantor berita Antara. Yang paling militan di antara empat sekawan tadi ialah Mochtar Lubis. Tahun 1957 dia dikenai tahanan rumah, kemudian dipenjarakan. SEBAGAI wartawan, dia bikin berita gempar pada berbagai afair. Tahun 1968 Indonesia Raya terbit kembali. Mochtar melancarkan investigasi mengenai korupsi di Pertamina yang dipimpin Letjen Dr Ibnu Sutowo. Ia diberhentikan oleh Presiden Soeharto.

Di dalam negeri dia mendirikan majalah sastra Horison. Selain sebagai wartawan, Mochtar juga dikenal sebagai sastrawan. Kemudian dia menulis novel, seperti Harimau Harimau, Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung, dan Berkelana dalam Rimba. Dia memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusastraan.

Sebagai orang yang memiliki banyak bakat, tidak heran bila Mochtar pandai melukis. Ketika ditahan di penjara Madiun, dia menjadi perupa. Sebagai budayawan, dia aktif dalam berbagai kegiatan di Taman Ismail Marzuki. Adapun Raja Pandapotan itu gelar Mochtar. Sibarani dan Sojuangan adalah orang yang berani dan berjuang.

Ketika Mochtar merayakan hari ulang tahun ke-80, seorang pembicara, yaitu Mochtar Pabottingi, menamakan Mochtar Lubis person of character, insan yang berwatak. Kini Mochtar Lubis sudah tiada. Semoga Tuhan menerima arwah Mochtar di sisi-Nya. * (Ch. Enung Martina )


Judul                : Jalan Tak Ada Ujung

Pengarang        : Mochtar Lubis

Penerbit            : Yayasan Obor Indonesia

Cetakan           : ke – 3

Ringkasan         :

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia , Jakarta adalah kota yang sangat mencekam. Banyak terdengar suara “siap-siap” yang menandakan bahwa tentara sekutu datang. Banyak orang yang tidak bersalah meninggal sia-sia saja. Banyak juga pemuda yang membantu memperjuangkan kemerdekaan yang sudah didapatkan. Mereka mengumpulkan senjata untuk melawan sekutu NICA (No Indonesian Cares About). Walaupun hati mereka dilanda rasa takut, mereka terus berjuang. Tapi mereka tahu, bahwa sekali memilih sesuatu, maka mereka pasti akan mendapat banyak rintangan dan dan tidak dapat lari dari rintangan itu. Habis satu rintangan, maka muncul rintangan yang lainnya. Jalan yang tak ada ujungnya.

Itu juga yang dirasakan Isa dan Hazil. Isa adalah seorang guru yang mempunyai hati yang lembut dan tidak suka pada kekerasan. Sayang, ia tidak merasakan cinta dari sang istri. Kelurga mereka kekurangan. Guru Isa harus mencuri buku baru di kelas hanya untuk memberi keluarganya makan. Guru Isa paling tidak bisa melihat orang yang bersimbah darah atau mati, dan semua itu akan memunculkan mimpi buruk pada malam hari. Sedangkan Hazil adalah pemuda yang penuh semangat dan ia sangat pandai bermain musik. Awalnya, ayah Hazil, Kamaruddin, tidak mengizinkan Hazil untuk ikut berjuang. Tapi, melihat semangat Hazil, akhirnya sang ayah mengizinkan juga. Guru Isa dan Hazil dekat karena sangat suka bermain musik, terutama biola. Hazil sering datang ke rumah Guru Isa untuk bermain biola.

Suatu ketika, Hazil dan Guru Isa masuk dalam sebuah kelompok di daerahnya untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah ada. Sebenarnya Guru Isa tidak mau ikut kelompok itu, tapi jika dia tidak ikut, warga akan mengira bahwa ia adalah mata-mata sekutu. Pada suatu hari, Hazil dan Guru Isa harus menyelundupkan senjata ke Karawang. Mereka dibantu oleh Rachmat, salah satu pemuda yang ikut berjuang. Rencana mereka berhasil. Senjata itu berhasil diselundupkan dengan aman tanpa ketahuan sekutu. Walaupun begitu, muncul suatu ide bahwa Guru Isa mau mengungsi. Tapi, akhirnya ia mengurungkan niatnya karena ia harus terus membantu warga, walaupun dalam hati ia sangat takut.

Sampai akhirnya, sebuah rencana muncul. Rachmat dan Hazil akan melemparkan masing-masing satu granat ke tentara sekutu. Guru Isa diminta untuk melihat situasi setelah granat dilemparkan, memastikan bahwa mereka selamat. Rencana memang berhasil dengan sukses.. Ada beberapa sekutu yang meninggal. Tapi, suatu hari, salah satu diantara mereka ditangkap sekutu karena terbukti melakukan pelemparan granat tersebut. Hazil yang tertangkap. Ia dipukuli untuk memaksanya mengaku dan mengorek keterangan tentang pelaku lainnya. Akhirnya Guru Isa pun ditangkap. Walaupun dipukuli, Guru Isa tidak mau mengaku. Maka, ia dimasukkan ke sebuah ruangan, tempat di mana Hazil dikurung. Guru Isa melihat bahwa Hazil tidak lagi seperti dulu. Mukanya pucat, matanya merah, dan penuh luka-luka. Di matanya, tidak ada semangat yang membara seperti dulu. Ia merasa menjadi penghianat. Beberapa waktu kemudian, Guru Isa dibebaskan, tetapi Hazil tidak bebas. Hazil bukanlah Hazil yang dulu lagi.

Opini                :

Menurut saya, cerita ini bagus karena menceritakan perjuangan yang tangguh dan saling bahu-mebahu. Mereka pantang menyerah dalam memperjuangkan sesuatu. Alur yang ditampilkan jelas dan menegangkan. Tapi, bahasa yang digunakan lumayan susah karena berbeda dengan yang sekarang. Walupun begitu, cerita ini mempunyai banyak pelajaran moral yang dapat diambil sehingga cocok untuk dibaca oleh remaja agar penuh semangat.

Pelajaran moral:

– Pantang menyerah dalam menghadapi masalah.

– Selalu semangat dan berani menghadapi sesuatu.

– Harus membantu satu sama lain.

(Zenia Arif / IX B / 35)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: