Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

Resensi Buku

Posted by lembursingkur pada Februari 6, 2012

Bukittinggi

( Yohana Anita Kelas/no: 8A/35 )

Bukittinggi, Sumatera Barat, terletak sekitar 210 meter di sebelah utara kota Padang. Letaknya berada di sekitar pegunungan sehingga udaranya sejuk. Lembah dan bukit yang curam berada di kiri dan kanan jalan. Namun keindahan alamnya sangat mempesona. Keadaan disana cukup maju. Fasilitas pendidikan, telekomunikasi, kesehatan, dan transportasinya pun lengkap. Secara geografis Bukittinggi terletak antara 100,210 derajat 100,250 BT dan antara 00,76 derajat 00,190 LS dengan ketinggian 909 sampai 941 m diatas permukaan laut, udara sejuk dengan suhu berkisar antara 16,10 o sampai 24,90 o C. Luas wilayahnya 25,239 km2 yang terdiri dari 27 bukit.
Pada zaman dahulu, ada satu tradisi yang cukup terkenal, yaitu anak laki-laki Minang sejak berusia 6 tahun tidak lagi tinggal bersama orang tuanya. Mereka bermalam di surau dan pagi-pagi kembali ke rumah. Namun, budaya ini hampir luntur. Jarang sekali anak laki-laki disana hidup sendiri tanpa dinafkahi oleh orang tuanya. Menurut saya, semua kebudayaan yang ada dimanapun baik adanya. Budaya yang ada di Kota Bukittinggi ini cukup menarik. Menurut saya, seorang anak berumur 6 tahun pasti belum bisa hidup sendiri tanpa orang tuanya. Namun saying, budaya tersebut sudah luntur. Meskipun demikian, itu tetap menjadi budaya Bukittinggi. Budaya harusnya tetap dijaga. Karena budaya dapat menjadi cirri khas suatu tempat.
Mayoritas mereka beragama islam. Penduduk-penduduk disana sangat rajin pergi ke masjid. Mereka sangat patuh pada peraturan-peraturan agamanya. Anak-anak disana sudah diajarkan membaca Al-Quran sejak kecil. Itulah sebebnya anak-anak disana sudah dapat membaca Al-Quran sejak usia dini.
Beberapa bulan yang lalu, menjelang tanggal 14 Pebruari 2008, Walikota Bukittinggi Drs. H. Djufri mengeluarkan larangan perayaan Valentine di tempat-tempat umum seperti hotel dan restoran. Alasannya, tradisi Valentine adalah budaya Barat, tidak sesuai dengan budaya Timur. Banyak warga disana yang menentang keputusan ini. Menurut mereka, justru sebaiknya pemerintah kota Bukittinggi atau kota-kota lain, mendorong agar hotel-hotel, restoran, event organizer, menyelenggarakan perayaan Valentine yang sehat, positif. Saya pun pun juga setuju dengan pendapat warga. Meskipun itu budaya Timur, namun tidak ada larangan bagi kita untuk merayakannya. Tapi, kita juga tidak boleh menghilangkan budaya yang sudah ada di tempat kita tinggal. Jangan sampai karena kita lebih menyukai budaya lain, budaya kita malah menjadi luntur.
Beberapa benda cagar budaya antara lain Jam Gadang dan Istana Bung Hatta. Menurut penduduk disana, bangunan itu harus dijaga dan dirawat, karena bangunan itu merupakan tempat yang sangat bersejarah.
Mayoritas penduduk disana asli Minangkabau. Umumnya penduduk disana bermata pencaharian sebagai pedagang, pegawai, petani, pengusaha industri kecil dan kerajinan serta jasa-jasa lainnya.

Sumber:

Internet: http://www.wikimu.com
http://id.wikipedia.org/
http://www.cimbuak.net/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: