Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

PUISI KAHLIL GIBRAN

Posted by lembursingkur pada November 1, 2011

CINTA MUSIM HUJAN

Ketika engkau menyanyikan lagu indah,

Meski sendiri dalam sunyi hati musim hujan

Engkau mesti akan mendapatkan seorang pendengar.

Ini musim hujan,

Kemarilah belahan jiwaku!

Marilah kita berjalan di bukit-bukit kecil,

Karena hujan telah luruh dan kehidupan terjaga dari tidurnya,

Mengembara melintasi bebukitan dan sawah ngarai. Kemarilah! Ayo kita ikuti langkah kaki

Musim ini

Ke padang rumput yang amat jauh.

Kemarilah!

Ayo mendaki lereng terjal dan melihat

Kehijauan berombak

Di hamparan sawah menghijau.

 Fajar musim hujan telah menanggalkan busana

Yang disembunyikan rapi oleh malam musim dingin.

Pohon kelapa dan pandan berdandan bagai

pengantin di malam pertama.

Bebijian anggur terbangun, sulurnya jalin-menjalin mesra

Bak sepasang kekasih yang berdekapan.

Arus sungai berlari dan beriak

Di antara batu karang hitam yang menyanyikan lagu gembira.

Kembang-kembang tiba-tiba pergi dari relung semesta

Bagai buih-buih di atap ombak samudra.

Kemarilah, belahan jiwaku!

Biarlah diriku meminum air mata hujan

penghabisan dari cawan kembang melati dan

mengisi hatiku dengan music kicauan burung yang semerdu buluh perindu.

Marilah kita peluk angin sepoi dengan harum wewangian

Dan duduk dekat batu karang nan jauh di sana

Tempat bersembunyi kembang ungu,

Saling mempersembahkan ciuman cinta.

Ayo, kita pergi ke kebun anggur, belahan jiwaku!

Memeras buah anggur dan menyimpnnya dalam tabung bejana kita,

Bagai jiwa menyimpan kebijaksanaan di usia yang hamper lanjut.

Ayolah kita kumpulkan bebijian

Dan menyunting harum wangi kembang.

Marilah kita pulang ke rumah

Karena daun kekayuan telah menguning dan

Angin menghempaskannya ke mana ia suka,

Demi membuatkan mereka putihnya selembar kain kafan,

Penguburan bagi kembang yang luruh secara haru di samping musim kemarau.

Kemarilah!

Karena sekawan burung telah terbang ke tepi laut

Membawa makanan dari kebun di mulut kecilnya,

Meninggalkan duka cita melati dan wewangian kembang.

Tetesan air mata penghabisan telah menitik di atas lempeng rerumputan.

Kemarilah! Ayo kita pergi,

Karena arus air telah menghentikan

Alirannya dan musim hujan tak berlangsung lama.

Karena air mata kebahagiaan mereka telah mengering,

Dan bukit kecil telah menyisihkan busana kabutnya.

Kemarilah, belahan jiwaku!

Karena semesta telah dikuasai oleh sang embun

Dan mengucapkan selamat tinggal kesadaran,

Duka cita

Dan melodi ilusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: