Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

RINGKASAN NOVEL 2

Posted by lembursingkur pada September 25, 2009

NOVEL 3

Judul                     : Misteri Gaun Merah

Pengarang          : V. Lestari

Penerbit              : Penerbit Gramedia

Tahun Terbit      : 1990, 1993, 2001

Ringkasan            :

Norma bekerja di Pasar Swalayan Rembulan sebagai kasir. Suatu hari, ia diajak oleh sahabatnya, Maryati, untuk mengunjungi bursa baju bekas. Pada awalnya, Norma menolak tetapi, setelah dibujuk oleh Maryati, Normapun setuju untuk menemani Maryati ke bursa baju bekas.

Di bursa itu, Norma melihat sepotong gaun berwarna merah yang sangat menarik hatinya. Ketika mencoba gaun itu, Maryati merasa melihat Norma yang lain. Normapun akhirnya membeli gaun itu. Gaun itu kemudian mempertemukan Norma dengan Benny, seorang mantan narapidana yang dituduh membunuh Sofia dan juga kekasih gelap Sofia, dan Hendra, suami dari Sofia.

Sofia adalah istri dari Hendra yang meninggal lima tahun lalu karena tertusuk oleh pisau di dadanya saat sedang mengenakan gaun merah yang dibeli oleh Norma. Hal itu menyebabkan Benny dan Hendra ingin memiliki gaun tersebut, sebagai peninggalan paling berkesan dari Sofia.

Dari hubungan pertemanan Benny dan Norma, Norma mulai mengetahui berbagai hal mengenai Sofia dan orang-orang di sekelilingnya. Norma awalnya merasa kasihan dengan Benny yang dituduh membunuh Sofia tanpa adanya bukti yang jelas. Normapun berminat untuk membuktikan bahwa Benny bukanlah pembunuh Sofia. Berawal dari sana, Benny pun menjalin cinta dengan Norma meskipun tetap dibayangi oleh keraguan dari keduanya.

Berbeda dengan Hendra. Ia tetap menginginkan gaun merah yang dulunya milik Sofia itu. Pada awalnya ia bersikap keras pada Norma untuk mendapatkan gaun tersebut tetapi perlahan, sikapnya muali melunak. Akhirnya, meskipun Norma tidak mengembalikan gaun tersebut pada Hendra, ia berjanji bahwa Hendra boleh melihatnya menggunakan gaun tersebut.

Saat ia sudah sampai di rumah Hendra untuk memperlihatkan gaun merah milik Sofia, Hendra sedang tidak di rumah sehingga ia disapa oleh bibi Hendra, Nyonya Rohani. Ketika itu, Norma belum mengenakan gaun merah milik Sofia yang sangat dibenci oleh Nyonya Rohani. Ia membawa gaun itu dengan dibungkus oleh kertas koran. Saat itu, Norma mengatakan bahwa ia datang karena ingin memberikan sesuatu pada Hendra. Nyonya Rohanipun penasaran dengan benda yang ingin diberikan pada Hendra. Iapun membuka bungkusan yang dibawa oleh Norma yang merupakan gaun merah milik Sofia. Nyonya Rohanipun marah dan hendak membuang gaun tersebut. Kemudian terjadi sedikit keributan antara Nyonya Rohani dan Norma. Normapun berlari ke sebuah ruangan tempat Sofia meninggal sambil mendekap gaun itu.

Ketika itu, Hendra telah kembali ke rumah. Hendra, Nyonya Rohani, dan kedua pembantunyapun mendobrak pintu ruangan yang dimasuki oleh Norma. Merekapun menemukan Norma dengan posisi yang sama dengan posisi Sofia ketika meninggal. Nyonya Rohani kemudian mengambil pisau dan hendak menikam Norma tetapi Norma dapat terselamtkan oleh Hendra yang menghentikan tindakan bibinya. Setelah itu, terkuaklah pembunuh sebenarnya dari Sofia yaitu Nyonya Rohani. Benny dan Wirya, pengacara Benny, memanggil polisi untuk menangkap Nyonya Rohani. Nyonya Rohanipun masuk ke kamarnya dan ketika polisi datang, ia telah tewas gantung diri.

Setelah terkuaknya pembunuh Sofia sebenarnya, reputasi Benny yang semula hancur mulai kembali. Mantan istri dan anaknya yang semula membencinya pun menerimanya kembali. Malah, istrinya ingin agar Benny kembali menjadi suaminya. Iapun ingin merebut Benny dari Norma. Begitu pula dengan Hendra. Ia ingin menjadikan Norma kekasihnya. Sayangnya, cinta antara Norma dan Hendra sangat kuat sehingga mereka tetap saling setia.

Beberapa bulan kemudian, anak dari Bennypun mulai menerima Norma. Hidup Hendra yang tadinya seperti orang gila telah normal kembali. Sayangnya, Hendra masih menganggap gaun merah yang tertinggal di rumahnya tersebut adalah Sofia.

Opini                     :

Novel ini sangat bagus karena menceritakan tentang seseorang yang berjuang untuk menguak kebenaran. Selain itu, novel ini juga menginspirasi saya agar tidak menutupi kebenaran.

Novel ini juga disajikan dengan menarik dari segi ceritanya sehingga tidak membosankan. Bahasa yang cukup sederhana juga memudahkan pembaca untuk memahami alur cerita novel ini.

Nilai Hidup          :

  • Berjuanglah untuk mencari kebenaran
  • Jangan memfitnah orang lain karena akan merugikan diri sendiri pada akhirnya
  • Janganlah berbohong karena kebohongan pasti akan terungkap

Antoni H

9c/2

NOVEL 4

Diringkas oleh: Theodora Retno Astrini (IX-C / 31)

SEIKAT MAWAR PUTIH

Maria A. Sardjono

Astuti adalah seorang wanita berumur 28 tahun yang bertubuh mungil. Ia dulunya adalah seorang pekerja kantoran dengan gaji yang cukup lumayan. Sayangnya, Astuti kurang menyukai gaya hidup kantoran yang menurutnya munafik sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kantornya dan mengajar sebagai seorang dosen filsafat di sebuah universitas. Pada awalnya orangtuanya kurang setuju dengan keputusan Astuti dan malah menyuruh Astuti untuk tetap menjadi pegawai kantoran supaya bisa cepat mendapat jodoh dan bisa mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan, namun akhirnya mereka mengerti setelah mendengar alasan yang diutarakan oleh gadis itu.

Kendala lain yang menghadang Astuti saat mengajar sebagai dosen adalah mukanya yang mirip anak – anak, ditambah tubuhnya yang mungil, yang membuat dirinya sering dianggap sebagai anak SMA. Supaya murid – muridnya tidak bersikap kurang ajar dan supaya proses belajar – mengajar berjalan lancar, maka Astuti berusaha untuk terlihat dewasa dengan memasang topeng berupa sikap berwibawa yang sedikit angkuh. Mukanya pun dipoles make-up supaya terlihat lebih dewasa, dan bajunya selalu terlihat resmi. Sejauh ini siasat Astuti cukup sukses. Ia berhasil mendapat pengakuan dari mahasiswanya.

Tapi bagaimanapun, topeng tersebut hanya bertahan hingga Astuti selesai mengajar. Sesampainya di rumahnya, Astuti selalu tampil apa adanya. Suatu hari, saat Astuti sedang menggunting mawar putih di halaman rumahnya dengan mengenakan celana santai dan baju yang agak pendek, sebuah mobil berwarna merah berhenti di depan rumahnya dan seorang pria berusia sekitar 30 tahunan keluar dari dalamnya.

Pria tersebut menghampiri Astuti, memanggilnya dengan sebutan ‘Dik’, dan menggodanya sembari menanyakan keberadaan ‘Bu Dosen’ Astuti.  Sepertinya walaupun sudah berkepala tiga, orang tersebut adalah salah satu mahasiswanya yang agaknya tidak pernah mengikuti kuliahnya, karena rupanya ia tidak mengenali Astuti sebagai dosennya. Astuti pun berniat untuk sedikit memberi pelajaran pada orang tersebut. Ia tidak langsung menyebutkan bahwa dia adalah sang dosen yang dicari – cari, melainkan bertanya – tanya terlebih dahulu mengenai identitas pria tersebut dan tujuannya datang kesitu. Pria yang mengaku bernama Tommy tersebut ternyata memang salah seorang mahasiswanya yang datang meminta tanda tangannya supaya bisa mengikuti ujian, karena jumlah kedatangannya tidak mencukupi. Pantas saja ia tidak mengenali Astuti! Absensinya kosong melompong. Astuti pun permisi sebentar, mengganti bajunya dan memoles sedikit make-up ke mukanya. Saat ia keluar dan mengaku bahwa ialah Dosen Astuti, tak bisa dibayangkan betapa pucat dan kagetnya raut muka Tommy! Apalagi mengingat bahwa tadi ia sudah menggoda dosennya tersebut.

Tommy pun meminta maaf dan berjanji bahwa ia akan mengulang lagi mata kuliah yang diajarkan Bu Astuti. Benar saja, ia selalu hadir pada kuliah semester berikutnya. Ia juga selalu memperhatikan pelajaran, selalu bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bu Astuti, bahkan selalu aktif bertanya, terlalu aktif malahan. Akibatnya, rumor menyebar dan meluas hingga sebagian besar warga kampus mengetahui bahwa Tommy menaruh hati pada Astuti. Tak hanya mahasiswa, para dosen pun sudah mengetahui rumor tersebut. Hal ini menbuat Astuti merasa gerah dan tidak nyaman.

Salah seorang yang terganggu dengan rumor tersebut selain Astuti adalah Pak Eko, seorang dosen yang diam – diam juga menyukai Astuti. Walaupun Pak Eko sudah mapan dan dewasa, Astuti merasa kurang cocok dengannya, sehingga ia menjauhi Pak Eko dan menolaknya secara halus, karena takut menyakiti hati Pak Eko jika ia berbicara blak – blakan. Lain halnya dengan sikap Astuti pada Tommy. Walaupun Astuti selalu berusaha tidak menghiraukan godaan Tommy dan bersikap masa bodoh di depan mahasiswanya tersebut, namun dalam hati Astuti tidak bisa mengingkari bahwa ia tidak bisa menjauhi Tommy seperti halnya ia menjauhi karena diam – diam, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia menyukai Tommy. Terlebih karena Tommy mengirimkan satu ikat bunga mawar putih, bunga favorit Astuti, saat Astuti berulang tahun. Perasaan itu semakin jelas terlihat ketika Tommy mencuri sebuah ciuman dari Astuti. Astuti sadar bahwa ia ada rasa untuk Tommy, namun pertimbangan Astuti sangat banyak. Menurutnya Tommy adalah anak manja yang hanya memanfaatkan kekayaan orang tuanya untu membeli mobil mahal dan ia menganggap Tommy sebagai orang yang malas, saking malasnya sampai menyia – nyiakan biaya kuliah yang sudah dikeluarkan oleh orangtuanya untuk kuliahnya semester lalu, dimana ia sama sekali tidak menghadiri kuliah. Karena itulah perlahan – lahan ia juga mulai menjaga jarak dengan Tommy.

Tapi ternyata sebulan berikutnya Tommy terpaksa harus pergi keluar kota untuk urusan pribadi yang tidak ia jelaskan, sehingga mau tidak mau Astuti harus membantu Tommy supaya ia tetap bisa mengikuti ujian semester walaupun dalam kurun waktu sebulan ia tidak bisa mengikuti kuliah. Karena sampai saat ini nilai Tommy dari awal kuliah hingga mid semester patut diacungi jempol, maka Astuti bersedia membantu Tommy. Astuti memberi Tommy tugas membuat laporan sebanyak 40 halaman tentang mata kuliah filsafat dan jika Tommy mendapat nilai yang baik, maka ia akan diperbolehkan mengikuti ujian semester. Sebulan berikutnya, setelah berbelas kali berkonsultasi dengan Astuti, Tommy akhirnya pergi ke luar kota. Setelah Tommy pergi, Astuti merasakan kekosongan saat mengajar, kekosongan saat berada di kampus. Ia merindukan Tommy yang hobi membuatnya tidak tenang dan selalu menggodanya di kampus, namun ia mencoba untuk menepis bayangan itu.

Suatu hari, untuk kesekian kalinya Pak Eko mengajak Astuti untuk berkencan. Astuti yang tidak ingin menolak secara langsung karena takut membuat Pak Eko tersinggung akhirnya menghindar dan menghindar, tapi karena Pak Eko bersikeras dan terus mendesaknya, Astuti terpaksa harus berbohong. Ia mengatakan bahwa ia akan pergi ke Jogja untuk menemui nenek – kakeknya, padahal dia sama sekali tidak punya rencana seperti itu. Akibatnya, untuk menyesuaikan dengan cerita, Astuti akhirnya membeli tiket pesawat secara mendadak untuk pergi ke Jogja, sekalian untuk menengok nenek – kakeknya dan saudara – saudaranya.

Sesampainya di Jogja Astuti pergi ke rumah kakek – neneknya dan memutuskan untuk menetap disitu selama beberapa hari. Pada hari kesekian, Astuti memutuskan untuk pergi ke rumah saudaranya. Di tengah jalan, ia mengalami kecelakaan lalu lintas dan terpaksa harus dibawa ke rumah sakit karena kakinya patah. Di rumah sakit ia bertemu dengan Tommy. Ternyata Tommy bekerja sebagai dokter di Jakarta dan sedang dinas ke Jogja. Astuti yang telah menganggap Tommy malas dan manja, bahkan sempat mengkonfrontasikannya di depan Tommy, merasa sangat malu dan menuduh Tommy menyembunyikan kenyataan. Selama di rumah sakit, Astuti tidak mau berbicara kepada Tommy.

Karena keadaan Astuti tidak terlalu parah, dalam beberapa hari dia sudah bisa pulang. Karena pada saat pulang ia masih kesal dengan Tommy, ia tidak memberitahukan kepulangannya pada Tommy. Keesokan harinya Tommy malah datang ke rumah kakek dan nenek Astuti demi mencari Astuti. Astuti pun dibawa jalan – jalan ke pantai. Di situ mereka berdua berbincang dan setelah dijelaskan secara panjang lebar, ternyata selama ini yang terjadi di antara mereka hanya kesalahpahaman belaka. Mereka pun seling memaafkan dan berciuman di pantai tersebut. Sepanjang perjalanan pulang, mereka berdua pun bungkam. Tommy mengantar Astuti sampai ke rumah kakek – neneknya dan Astuti pun pamit pada Tommy karena, walaupun masih harus memakai gips dan kruk, lusanya Astuti harus sudah kembali berada di Jakarta untuk mengajar di universitas. Tommy pun dengan berat hati membiarkan Astuti pergi.

Setelah beberapa minggu kembali di Jakarta, Astuti mendapat surat dari Tommy. Surat tersebut bukan surat resmi, melainkan surat cinta. Hati Astuti pun berbunga – bunga. Astuti pun membalas surat Tommy dengan surat yang tidak kalah romantis.

Beberapa waktu kemudian, Tommy kembali ke Jakarta dan mendatangi rumah Astuti. Disana, dua sejoli yang cintanya telah bersatu itu berpelukan karena akhirnya bersua setelah sekian lama. Sementara dari dalam rumah, ayah, ibu, dan adik Astuti mengapati dengan heran, kaget, namun bercampur bahagia. Mereka tidak lagi kuatir akan Astuti yang dulu bersikap masa bodoh tentang percintaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: