Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

CERPEN PERSAHABATAN

Posted by lembursingkur pada September 19, 2009

DUA BINTANG

Christina Enung Martina

Kau dan aku adalah dua bintang dari milyaran bintang yang ada di jagat raya ini. Aku Kartika dan kau Lintang mengembara menyusuri nasib, melintasi, menekuni takdir kita. Takdir yang menjadikan kita menjadi dua sahabat kental di masa remaja. takdir pula yang memisahkan kita sehingga kita tak tahu rimba masing-masing ketika kita tumbuh dewasa.

Hingga suatu waktu, pada detik yang sudah diatur-Nya, takdir mempertemukan kita lagi pada usia seperuh baya menjelang senja seperti ini. Ada banyak peristiwa yang sudah kau dan aku jalani selama kita menjadi sahabat kental di masa remaja dulu. Engkau tahu segala hal tentang diriku: kuat dan lemahku, hitam dan putihku. Kala itu orang sering menyangka bahwa kita sepasang kekasih yang tak terpisahkan satu sama lain.

Lelaki yang bernama Adityalah yang membuat kau menjaga  jarak denganku. Kau tahu bahwa Aditya memang pemuda idamanku? Tak perlu ditanya  dua kali ketika ia memintaku menjadi pacarnya: jelas aku SANGAT MAU. Mau dan mau sekali. Kau tahu, dia itu tipeku: tinggi, atletis, perhatian, berkumis tipis, dan jago gitar, serta pemain basket.

Waktu itu kau marah karena aku jatuh cinta pada Aditya. Kau bilang aku tidak setia kawan, tidak solider, egois, mau enak sendiri, menghianati persahabatan…, dan banyak lagi kata-katamu pada saat itu yang meluncur dari mulutmu karena kesakithatianmu. Akhirnya kau tak pernah datang lagi ke kosku. kau tak pernah datang lagi ke kampusku, padahal kampus kita bersebrangan.

Karena hal tertentu, aku lupa apa masalahnya, akhirnya aku dan Aditya putus. Kau mulai datang lagi ke kampus dan ke kos-kosanku dengan suara motor trailmu yang suaranya memekakan telinga itu. Tetapi, aku rasa aku  suka mendengar suara motormu yang berisik membuat polusi suara itu. Sejak saat itu kita bersahabat lagi, lebih dekat, lebih erat. Kita pergi bersama, belajar bersama, ke gereja bersama. Hingga banyak orang menyangka bahwa kita saat itu benar-benar pacaran. bahkan teman-temanku yang tahu persis hubungan kita itu menyarankan agar Kartika dan Lintang itu berpacaran saja. Mereka bilang pasti kita sangat cocok dan serasi.

Aku bilang pada mereka bahwa aku tidak ada rasa ser pada Lintang, tak ada rasa deg-degan saat Lintang bersamaku. Berbeda dengan saat berdekatan dengan Aditya. Kau mau tahu? Seluruh tubuhku panas dingin dan ada gelepar-gelepar aneh dalam rongga perut dan dadaku. Pokoknya sensasinya lain. Aku berdekatan denganmu biasa saja. Rasanya seperti ketika aku berdekatan dengan kakak laki-lakiku, teman-teman yang lain, dan juga ayahku. Ya seperti itu. Biasa saja.

Kita jadi sahabat lagi kala itu samapi dua tahun kita bersama-sama dalam suka dan duka. Akhirnya aku menyusun skripsi dan lulus. Kau masih mengulang satu mata kuliah: Kewiraan. Huh, dasar pemalas, masa Kewiraan saja tidak lulus.

Sebetulnya sejak aku menyusun skripsi aku sudah menyimpan hati pada seorang lelaki muda di kotaku, Semarang. Tapi, maaf, aku tak bercerita tentang hal ini padamu. Pasalnya kau suka marah kalau aku cerita tentang seorang laki-laki yang kuperhatikan. Kau tahu? Ia seorang lelaki yang baik, tidak setampan Aditya memang, tetapi lumayan untuk dijadikan pasangan, ia nyentrik, punya visi tentang hidup yang unik,ia memperkenalkanku pada dunia seni yang tak begitu kukenal.Pengetahannya luas. Dan yang jelas ia romantis serta dewasa. Karena itu, tiap minggu kala itu aku pulang Semarang untuk menemuinya.

Akhirnya aku menikah dengan Sang Senimanku hingga kini. Aku tak tahu perasaanmu kala mendengar bahwa aku sudah menikah. Aku juga tak tahu kau mendapat kabar dari siapa tentang pernikahanku. Aku tak mau memberitahumu karea aku tahu kamu pasti akan marah. kamu pasti akan bilang aku menghianati sahabat sendiri. Terus aku berpikir, hak kamu apa untuk menghalangi aku bergaul dan menikah dengan siapa. Jadi sudahlah aku putuskan sendiri, untuk apa memberitahumu. Paling kamu juga tak akan datang dalam pernikahanku. Begitu pikirku waktu itu.

Kabar terakhir yang kudengar tentang kamu: katanya kau lulus kuliah dan bekerja di Batam. sesudah itu tak ada kabar apa pun tentangmu. Hingga suatu senja di bulan Februari. Kala itu ada pameran tentan Go Green di Senayan City. Aku sedang melihat-lihat aneka benda yang dibuat  dari barang bekas dan bahkan sampah.

Tiba-tiba, seorang pria berdiri di sampingku. Tinggi, tidak gemuk juga tidak langsing. Berambut rapi dengan semburat putih uban mengintip di beberapa bagian kepala. Lelaki itu hanya berdiri dan menatap pada barang-barang yang sedang dipamerkan. Aku melirik karena aku merasa agak terganggu dengan orang yang datang tiba-tiba berdiri mematung saja.

Lintang! Itu Kau! Kau yang sudah ditelan perut bumi seolah dimuntahkan kemabli ke permukaannya. Kau tak nampak jauh berbeda hanya badanmu lebih tegap. Kita berpandangan dalam diam. Ada guratan kedewasaan karena pengalaman yang menorehkannya pada wajahmu. Matamu masih bening dan bercahaya seperti dulu. Penampilanmu seperti para pria mapan metropolitan. Rapi, trendy dan maskulin.

Kita berjabat tangan erat. Sebetulnya saat itu aku ingin memelukmu erat untuk perjumpaan kita lagi. Untuk persahabatan kita yang sudah terlewatkan sekian waktu. Untuk hari-hari yang dilalui tanpa kebersamaan. Aku masih ingat waktu kita bersahabat kau memelukku beberapa kali. Pertama waktu aku ulang tahun yang ke -20, Sekilas, tak berkesan, pelukan sahabat. Yang paling lama aku rasakan pelukanmu saat Aditya meninggalkanku. Kala itu aku menangis sampai tak ada lagi air mata yang keluar. Kau diam saja saat itu, tak berkata sepatah pun. Aku memelukmu untuk melampiaskan rasa sedihku, rasa benciku, dan rasa sepiku.

Sungguh sore itu aku ingin sekali memelukmu. memberikanku dalam pelukanmu. Namun, ada sesuatu yang melarangku melakukan itu. Jadi aku hanya menjabat tanganmu. Kita berpisah sesudah bertukar  kartu nama, no HP, dan alamat e-mail. Kau menghilang dalam kerumunan orang banyak dalam pameran itu.

Akhirnya kita jadi saling tahu keberadaan diri kita lagi melalui benda-benda ajaib yang ditemukan ilmu pengetahuan itu. Kau sudah berkeluraga dengan anak dua.Aku juga beranak dua. Bedanya anakku paling besar, perempuan,  sudah kuliah tahun ke-2. Anakku yang kedua, laki-laki, duduk di bangku kelas 2 SMA. Sedangkan kau, keduanya anak perempuan duduk di SMP kelas I dan kelas III SD. Istrimu wanita karir yang sukses dalam bidangnya: property. Kau juga lelaki sukses dalam bidangmu; arsitektur. Kalian berada di belahan bumi yang lain: Abudabi, Uni Emirat Arab. Negara kecil yang super kaya.

Semenjak pertemuan kita di pameran itu kontak kita nyambung lagi. Kau SMS aku atau kebalikannya. Aku mengirim e-mail dan kau membalasnya. Begitulah kita. Saling memberi kabar dan motivasi untuk kita satu sama lain. Meski kita berada di langit yang berbeda: Jakarta dan Abudabi, kita dua bintang tetap membawa terang kita. Kita bersinar dengan pesona kita. Kita terkait dalam jagat raya yang maha luas ini. Meski ribuan kilo memisahkan kita dan bentangan gurun serta samudra menghalangi kita, dua hati tetap menyatu dalam jalinan rasa yang sukar dijelaskan.

Sudah 20 tahu kita terpisahkan dengan berbagai peristiwa yang kita alami. Dua puluh tahun nasib memisahkan kita. Nasib membawa kita pada pilihan-pilihan hidup  yang sudah kita ambil. Akhirnya nasib juga yang kembali mempertemukan kita. Namun, ini yang ingin kuhindari dan kulepaskan: perasaan yang terlalu dekat karena kau dan aku sudah berbeda bukan lagi seperti dulu ketika kita remaja.

Aku merasakan semua sensasi itu hadir menggoyangkanku dan mengoyakkan seluruh perasaanku. Aku bisa merasakan seluruh molekul tubuhku bereaksi sedemikian rupa. Namun, sekaligus bahwa ada perasaan yang terkait antara kau dan aku. Tak perlu mengatakannya karena kita merasakannya. Bahwa ketika ku tahu kehadiranmu ada, aku merasa nyaman. Terkadang aku termangu dengan kenyataan ini. Apakah aku gila, tidak normal, atu tidak waras? Perasaan nyaman karena kehadiranmu di suatu sisi bagian bumi ini membuatku benar-benar bersyukur bahwa Tuhan menciptakanmu. Aku merasakan bahwa jantung kita sama-sama berdegup bahwa ada hidup yang melingkupi kita dengan misterinya.

Perasaan yang yang manis mengalir dan perasaan aman bersemayam dalam hatiku karena kutahu kau ada di satu belahan dari bumi ini. Kita beraktivitas dalam dunia kita. Kita mencintai keluarga kita dan menikmati setiap kebersamaan dengan mereka. Kita mengamini atas semua harapan kita. Kita berkibar bersama segala yang harus kita jalani. Semua terasa enteng dan perlahan meresap atas anugrah persahabatan kita.

Saat berat yang ku alami sedikit terangkat karena kutahu kau juga mengalami hari yang tak selalu mudah. Aku merasa ada pendukung meski kau tak mengatakannya. Aku merasa bahwa kau akan mengatakan : Ayo… Kartika kamu bisa melewati bagian terburuk dalam hidupmu, jalani saja. Nanti juga akan beralu. ” Dan aku melakukannya serta semuanya baik-baik saja.

Apakah hanya aku  sendiri saja yang merasakan ini. Apakah kau yang berada nun jauh di antara hamparan gurun tak merasakan sensasi ini? Terkadang aku benar-benar merasakan sensasi liar yang bobol keluar dari otak reptilku. Sementara itu otak neokortexku yang seharusnya bisa mengendalikannya dengan akal budi, akal sehat, dan pikiran luhur, benar-benar tak berguna saat itu. Rasanya aku ingin menenggalamkan diri menyatukan sukmamu dengan sukmaku.

Aku berharap perasaan yang kualami ini tidak menghanyutanku, menghanyutkan kita berdua. Karena kalau kita terhanyut, aku khawatir dua bintang akan memudar cahayanya dan akhirnya padam. Biarlah Kartika dan Lintang , dua bintang ini mampu memberikan warna dengan cahaya kita untuk dunia. Meski pada akhirnya suatu saat nanti kita akan memudar juga.

Lintang, di mana pun kau sekarang berada, kita akan tetap memlihara persahabatan kita yang murni yang pernah kita nikmati 20 tahun yang lalu. Aku menghargai apa yang sudah kauberikan dalam hidupku. Perhatianmu, rasa cintamu, atau apapun yang pernah kau berikan untukku. Ada banyak komitmen yang harus kita jalani dalam hidup kita. Komitmen itu kita yang memilihnya dan akan mengikat kita sampai kau dan aku bebas dari segalanya.

Kau dan aku, Lintang dan Kartika, adalah dua bintang kecil yang berada di jagat raya yang maha besar ini. Kita akan terus memancarkan sinar kita. Kita akan melakasanakan tugas kita menjalani hidup yang kita emban dari Sang Pemilik Kehidupan. Namun, kau dan aku sama-sama tahu bahwa kita adalah belahan jiwa yang sudah diciptakan Allah sejak kita tercipta.  Kerinduan kita hanyalah sebatas keinginan. Apa pun selebihnya adalah milik-Nya dan juga rahasia-Nya.

Aku bertanya pada angin

Apakah kita pernah berjumpa

Pada masa pertama semesta tercipta

Kupejamkan mata:kelam, biru dalam diam

Kita sampai pada sebuah titik

Hingga waktu mempertemukan

ruhku dan ruhmu

Kitab tua berkata

penciptaan tentang Adam dan Hawa

Debu, tanah, dan ruh

menjelma menjadi sempurna

Kau Adam aku Hawa

Kau Hawa aku Adam?

tak jauh beda

karena kita adalah semesta

Ciamis, 1 januari 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: