Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

CERPEN TENTANG CINTA PERTAMA

Posted by lembursingkur pada Juli 26, 2009

(ch enung martina)

PERJALANAN KE JOGYA

Senja ini kereta yang kunaiki adalah Argo Lawu, tiba di Stasiun Tugu-Yogyakarta. Aku sengaja naik kereta bukan pesawat yang cepat mendarat dan tentunya tak memakan energi dan waktu dalam perjalanan. Ini kulakukan demi sepotong kenangan di masa lalu. Sepertinya kenangan itu lebih berharga daripada waktu menempuh perjalanan dan juga energi yang pantas dikeluarkan.

Kuhirup dalam-dalam aroma Yogya yang telah kurindukan lima tahun belakangan ini. Sudah lama aku tak mengunjungi kota yang penuh kenangan ini. Kau tahu bahwa Yogya adalah  satu kota yang banyak mengubahku hingga aku menemukan mozaik-mozaik lainnya yang tersebar dari puzzle hidupku. Puzzle hidup ini ,berusaha kususun untuk melihat gambaran hidupku yang utuh dan sempurna.

Aku lelaki berusia 46 tahun dengan karir cukup mapan sebagai redaktur di sebuah surat kabar nasional ternama. Aku juga mempunyai keluarga yang aku rasa sesuai dengan iklan layanan masyarakat BKKBN: Keluarga Berencana, dengan gambar 2 anak :laki-laki dan perempuan, dan ayah ibu mengapit kedua putra-putrinya. Gambaran yang manis bukan?

Sebagai seorang redaktur, aku memang bukan orang lapangan tulen. Tidak seperti dahulu awal-awal aku bergabung dengan perusahaan media koran tempat bekerjaku kini. Aku mengawali karirku di tempat ini sebagai wartawan yang tentunya menguasai medan pertempuranku. Sekarang ini sekali-sekali saja aku dikirim  ke lapangan untuk urusan yang tentu saja bukan mencari berita atau mewawancarai narasumber seperti dulu.

Namun, kali ini aku pergi ke Yogya bukan karena tugas pekerjaanku. Percayakah kau bahwa perjalannanku kali ini murni karena dorongan hati. Tujuannya untuk apa? Mungkin begitu kau bertanya? Apakah libur dan pekerjaan sudah beres. Perlu aku beri tahu bahwa pekerjaan seorang redaktur tak akan pernah ada selesainya. Jadi tujuan perjalananku untuk apa? Jawabannya adalah untuk sejenak mengisi ruang dalam hatiku yang sepertinya sudah kehabisan oksigen.  Aku merindukan atmosfir masa lalu untuk menyeimbangkannya.

Kugendong ransel di punggung dan kujinjing tas lain yang berisi oleh-oleh untuk Budhe Maryati. Oleh-oleh ini disiapkan istriku, Rani, dengan sedikit tergesa karena aku memberitahunya mendadak. Kupanggil taxi untuk membawaku ke rumah Budhe di Pakem, jalan Kali Urang. Dahulu dekat rumah sakit Lali Jiwo. Dusun Palasari begitu nama kampung budheku. Budhe Maryati adalah kakak almarhum ayahku.Waktu kuliah dulu rumah Budhe adalah rumah pondokanku sekaligus juga tempat aku menghabiskan liburan kalau aku tak pulang ke Jakarta.

Taxi terus meluncur. Sepanjang perjalanan mataku tak henti memandang berbagai hal dan mengaitkannya dengan kenanganku pada masa 25 tahun yang lalau kala aku masih menjadi mahasiswa. Kali Code, tempat ini mengingatkanku pada sosok Romo Mangunwijaya yang membela kaum kecil dengan memperindah gubuk-gubuk di bantaran kali. Hal ini dilakukan beliau demi wong cilik agar pemda tidak meggusur mereka dari tempat tinggal mereka satu-satunya. Gubuk yang kumuh dan reyot diperindah dengan jiwa estetika yang tinggi dan rasa cinta yang dalam. Akhirnya terciptalah deretan pondok yan layak huni dan indah dipandang mata sehingga pemda DI Yogyakarta tak malu lagi dengan gubuk di banataan kali code yang kumuh itu. Malah sekarang jadi menambah estetia kota ini.

Sekarang taxi sedang berbelok ke arah Terban. Di Terminal Terban aku punya teman yang kukagumi. Namana Anto. Ia seorang preman di terminal. Mengapa aku mengagumi penodong ini? Ia punya sesuatu yan membuatku terpana. Ia penyandang tunanetra, tetapi sebagai preman dia disegani oleh anak buahnya dan juga pereman-preman lain yang lebih senior dari dia. Aku mengenalnya dalam kegiatan sosial yang membawaku untuk memberikan bacaan bagi kaum tunanetra. Tugasku hanya membaca dan penyandang tunanetra akan merekam suara kita untuk nanti didengarkan lagi saat mereka belajar.

Anto, Si Preman ternyata adalah seorang pemelajar yang tekun. Sore hari saat ia istiraat di pondoknya di bantaran Kali Code, Anto akan bergabung dengan anak-anak yang siap menerima pelajaran dari para sukarelawan. Meraka adalah anank-anak yang tak mendapat kesempatan untuk masuk sekolah formal karena mereka harus bekerja serabutan sebagaui pengamen, tukang semir, atau mungkin juga mencopet. Ada sebuah pondok yang berukuran 5mx6m yang digunakan untuk tempat belajar mereka. Nah, Anto yang bukan anak-anak lagi juga sering bergabung di pondok ini.

Aku mengagumi Anto karena semangat hidup dan semangat belajar yang luar biasa. Kekerasan lingkungan kesehariannya tidak membuat Anto menjadi menyeramkan. Tampangnya sungguh jauh dari bayangan. Anto, Sang Preman, Nampak lembut, berpenampilan bersih, muka cerah dan murah senyum, penampilannya benar-benar nyaris sempurna sebagai seoang pemuda yang terpelajar. Ditunjang juga dengan parasnya yang tampan. Semua orang akan terkecoh, tak akan ada ang menyangka bahwa dia seorang preman. Dia punya otoritas yang kuat di kalangan kawan-kawannya. Dia mempunyai etika yang tinggi sebagai preman. Dia mematuhi etika kepremanan itu dengan baik. Karena itulah dia disegani temannya. Rupanya kaum preman pun mempunyai rule untuk usaha mereka. Tidak sembarang melakukan tindak kekerasan. Mereka pantang untuk membunuh, melukai, atau untuk memperkosa. Hebat! Preman saja punya tatakrama. Sementara kita? Begitu pikirku kala berkenalan dengan Anto.

Sekarang taxi sudah meluncur di jalan Kali Urang dan sampai di dekat sebuah Gereja Katolik yang bernama Maria Asumpta atau masyarakat setempat menyebutnya dengan Gereja Kitiran Emas. Gereja ini bagiku menyimpan kenangan, tempat aku menumpahkan segala doa dan harapan. Di Gereja ini juga yang terdapat inkulturasi budaya Jawa dengan ajaran Katolik.

Di Gereja ini juga aku mengenangkan kebahagianku dan mabuk kepayangku pada gadis cinta pertamaku, Chatarina Sumampau. Chaty, begitu biasanya aku memanggilnya. Gadis yang mengisi hatiku dan hari-hariku terasa sangat manis sejak aku duduk di tingkat dua. Aku menjadi bersemnagt untuk melakukan hal yang paling membosankan sekali pun, termasuk  mengikuti Misa. Bersama Chaty, Misa yang membosankan jadi terasa sebentar. Ia gadis yang riang, lincah, bersemangat, berwawasan luas, jelas pasti cerdas, dan supel. Cantik? Sebetulnya cantik itu menurutku relatif. Menurutku ia cantik dan menarik,  juga sexy. Teman sekampusku, Aryo,  berkomentar bahwa Chaty agak bonghai dan semlohai… itu istilahnya untuk menyebut gadis yang termasuk kategori tidak terlalu langsing. Aku bilang pada Aryo, aku memang suka gadis bonghai.

Aku dan Chaty menjalani hubungan kami dengan penuh keriangan. Awalnya, hubungan kami tanpa status karena Chaty gadis yang lincah dan supel. Sepertinya banyak teman prianya yang diperlakukan sama dengan memeprlakukan aku pertama kali. Penuh perhatian. Banyak lelaki salah sangka dengan perlakuannya itu. Padahal, bagi Chaty memang begitulah ia memperlakukan semua temannya laki-laki atau perempuan.  Jadi aku tak berharap banyak dengan cewek yang satu ini. Aku berpikir sudah ajdi teman dekatnya saja sudah baik.  Kami satu kampus, tetapi berbeda fakultas.

Hari-hari kami dipenuhi denan petualanan, keceriaan, kadang perdebatan, bahkan pertengkaran, dan berakhir dengan sesuatu yang manis: memeluk dan menciumnya adalah satu hal yang membuatku serasa utuh menjadi lelaki. Ada banyak tempat kenangan kami untuk sekedar berjalan-jalan, menonton, melihat langit malam, atau makan nasi goreng. Kau jangan berpikiran bahwa gadis seterbuka Chaty mudah untuk dibujuk rayu mendapatkan lebih dari sekedar pelukan dan kecupan yang mampu menghanguskanku itu. Cewek ini unik. Sepertinya kaum lelaki bisa mudah mendapatkan apa yang dia mau dari sosok gadis semacam Chaty, tetapi ia bisa segalak macan betina untuk mempertahankan prinsipnya: menjaga keperawanannya.

Kau berpikir apa aku pernah merayu dia untuk berhubungan lebih jauh daripada kemesraan yang kami alami? Ya… secara implisit. Tidak secara eksplisit. Mengapa? Karena sebelum aku mengataannya, dia suah tahu. Dan dia berkata kepadaku: “Jangan bodoh, Dimas. Hanya gara-gara kamu tak bisa mngekang hasratmu, seluruh hidupmu jadi hancur berantakan.”  Dia terbuka, blak-blakan, bahkan kadang terkesan vulgar, dan celaknaya lagi yang dia katakana benar. Terkadang aku risih mendengar dia berkata begitu terbuka  tentang sexuallitas karena aku dibesarkan dalam keluarga yang bertardisi Jawa. Hubungaqn asmara kami benar-benar sepertri permen nano-nano. Asam, asin, manis, keset, pedas, pokoknya ramai rasanya. Awalnya aku tidak menyadari bahwa aku mencintainya. Aku pikir biasa laki-laki mencari petualangan. Tapi persaanku keliru. Ternyata aku mencintainya.

Hingga satu pagi, datang surat yang yang dibawa oleh Erika, teman sekostnya. Aku kira surat menitip pesan untuk tak bisa ketemu atau janjian di mana. Ternyata dugaanku salah. Surat itu isinya adalah ia mendadak harus pulang ke Menado karena ayahnya sakit. Tadi malam kami baru merayakan keberhasilannya karena mendapatkan nilai A untuk mata kuliah yang paling tak disukainya yaitu pembedahan! Seperti biasa kami makan sate, berboncengan dengan motor bututku, ia memelukku erat, aku mengantarkan ke tempat pondokannya, dan di bawah keremangan pohon tanjung yang rindang, aku menciumnya dengan hasrat dan gairah lelakiku yang hampir tak bisa aku kendalikan.

Seminggu, ia belum juga kembali, dua minggu juga belum kembali. Aku mulai gelisah karena tak ada kabar. Aku bertanya pada Erika. Ia hanya tahu ayahnya sakit, perusahaan keluarga tak ada yang menjalankan karena adik-adiknya masih kecil. Aku menelepon nomor yang aku tahu. Tak jelas jawaban yang aku peroleh. Aku mencari informasi ke sana-ke mari. Tak dapat apa-apa. Aku hampir gila. Sudah hampir satu bulan tak ada kabar yang pasti. Aku memutuskan akan menyusul dia ke Menado. Namun, besoknya surat datang dari Chaty. Ia bilang aku jangan kawatir karena ia baik-baik saja. Ayahnya ada di rumah sakit. Ia mungkin akan menyelesaikan studinya tahun depan  sesuah urusan keluarganya selesai. Ia akan mengambil cuti satu tahun. Ia biang bahwa aku tak usah mencari dia dulu. Belakangan aku tahu dari Erika bahwa Chaty sudah menikah dengan lelaki yang pantas untuk menyelamatkan keluarga dan juga perusahaannya.

Begitulah, cinta pertamaku yang menggebu tiba-tiba kandas di tengah-tengah. Gadisku, cinta pertamaku perlahan menjauh dan aku tak bisa meraihnya. Hari-hari yang kacau aku jalani, aku melewatinya bagai robot yang tak berperasaan, pelarianku pergi ke Gereja Kitiran Emas. Di sini aku mendapat ketenangan. Akhirnya, logikaku sebaga laki-laki normal pun kembali lagi. Aku mulai menjalani hari-hari dengan kesibukan menyelesaikan kuliahku. Tak ada dulu waktu untuk cinta. Sementara diam dan fokus pada cita-cita. Selama itu tak pernah sekali pun aku menyalahkan Chaty. Aku anggap semuanya wajar dalam hubungan percintaan.

Aku menyelesaikan studiku, mulai bekerja di ibu kota. Bertemu aneka macam manusia dan juga peristiwa. Bertemu banyak gadis cantik yang aku tertarik dan mereka juga tertarik padaku. Beberapa kali menjalani hubungan percintaan yang kebanyakan hanya petualangan. Ego lelaki merasa lebih pekasa dan menjadi lelaki sejati bila bisa menaklukkan. Dari banyak hubungan itu tak   satu pun yang bernuansa mirip dengan cinta pertamaku. Aku menjadi lelaki yang matang dalam pengalaman hubungan percintaan.

Hingga aku tak menyadari bahwa dalam petualanganku itu ada seseorang yang tak pernah sedetik pun aku perhatikan. Gadis cantik, sederhana, dan santun, dia dulu adik kelasku di SMA, berbeda dua angkatan. Kedua orang tua kami saling mengenal dengan baik. Sama-sama satu paroki di Cilandak. Aku sering bertemu dia dalam kegiatan di gerejaku. Sekali-sekali kami ketemu di rumahku karena ia mengantar baju yang selesai dijahit. Ibunya adalah penjahit yang menjahit baju-baju ibuku dan kakak perempuanku. Anggraeni, nama gdis itu. Aku tahu dia bekerja di sebuah bank swasta di kawasan Kuningan. Informasi itu sengaja disampaikan Mbak Lia, kakak perempuanku yang alergi melihat adik laki-laki satu-satunya tak pernah serius menjalin hubungan. Aku juga tahu dari daftar nama mudika di parokiku yang dilengkapi dengan pekerjaan dan alamat.

Begitulah, tahu-tahu aku sudah mengencaninya. Sebetulnya, jujur, bahwa perasaanku pada dia seperti pada adik kelas awalnya. Ya… karena memang dia adik kelasku. Rasanya aku punya adik perempuan karena aku anak bungsu dari dua bersaudara yang belum pernah merasakan mempunyai adik. Apalagi  merasakan mempunyai adik perempuan. Kebanyakan sepupuku laki-laki. Kaum perempuan dalam keluarga kami perempuan memang sangat jarang.

Namun, karena kami sering pergi bersama, ke gereja bersama, ke luar rumah bersama, bahkan ke kantor juga bersama, lama-lama semua orang melihat bahwa Agustinus Dimas Wicaksono ini berpacaran denan Maria Imaculata Anngraeni. Jadi kami dinobatkan teman dan keluarga bahwa kami berpacaran. Yang paling senang adalah kedua orang tuaku tentu saja karena mereka khawatir dengan anak laki-lakinya yang suka tak jelas ini nanti akan menjadi bujang lapuk. Orang kedua yang juga senang adalah Natalia Paramitha Nishita, atau Mbak Lia, kakaku tersayang, karena ia ingin punya saudara ipar yang bisa diajak bergosip dan juga menyiapkan perlengkapan bayinya.

Akhirnya kami resmi menjadi suami istri. Perkawinan kami berjalan sangat manis. Rani, istri yang nyaris sempurna. Kedua buah hati kami menjadi perekat perkawinan kami. Sekarang mereka sudah remaja. Namun, seperti sebuah pribahasa, first love never die . Sepertinya itu berlaku bagiku. Terkadang aku masih mengingat Chaty yang searang entah di mana. Hingga perasaan itu terkadang tak bisa aku tahankan, dan akhirnya aku terus berusaha menemukan informasi di mana dia berada. Pekerjaanku sebagai orang media masa seharusnya bisa membantu. Ternyata dugaanku salah. Aku tak pernah menemukan keberadaan gadis, dari masa laluku. Yang jelas dia sudah tak di Menado lagi. Hanya itu informasi yang kudapatkan.

Nah, kegilaanku kali ini demi sebuah perasaan dan sepotong kenangan di masa lalu. Apakah aku salah? Aku merasa aku harus lakukan ini untuk perasaanku dan juga seluruh perjalanan hidupku serta keutuhan hidupku juga orang-orang yang kucintai. Dan juga demi berbagai komitment dalam hidupku.

Taxi memasuki halaman rumah bergaya joglo dengan teras yang sangat luas. Nampak lampu sudah dinyalakan. Beberapa kamar kost di samping rumah utama agak lengang karena penghuninya sedang kuliah atau asyik dengan aktivitas di kamar masing-masing. Perlahan aku memasuki pintu  samping yang sudah sangat akrab denganku. Tanpa permisi aku langsung menuju ruang tengah. Lengang, hanya tv yang menyala tanpa penonton. Aku meletakkan bawaanku dan menuju dapur. Ya…. Budhe Maryati dengan Mbok Par sedang asyik memasak. Sontak kedua perempuan tua itu menoleh ke arah kedatanganku. Budhe melepaskan pisaunya, Mbok Par melepaskan parutnya. Keduanya menghapiriku dan antri untuk memelukku. Seluruh rongga dadaku terisi penuh dengan aliran emosi yang membuncah: keharuan dan rasa diterima dengan cinta yang besar. Betapa aku bersyukur atas cinta ini.

Suasana malam di Pakem, membawaku pada ketenangan yang aku rasakan puluhan tahun lalu. Semuanya menjadi tabungan emosi yang masuk dalam rekening jiwaku. Begitu nikmat aku rasakan. Besoknya tempat-tempat yang aku rasakan aku harus mengunjunginya, aku kunjungi dan kembali menggelar film lama yang sudah sekian waktu  tak diputar. Makanan, tempat, benda, suasana, semuanya berusaha aku nikmati, aku reguk untuk   memenuhi rekening emosiku. Aku measakan ketegangan, kekalutan, ketakberdayaan, rasa terkalahkan, secara perlahan mennipis tergantikan dengan penerimaan, dan rasa syukur. Aku mensyukuri tiap jengkal kenangan bersama Chaty gadisku yang kucintai yang menorehkan kenangan teramat manis dalam hidupku. Aku mensyukuri masa laluku bersama dia.  Juga aku mensyukuri masa kiniku yang aku alamai bersama dengan orang-orang yang aku sayangi. Aku bersyukur atas keluargaku, atas cinta istriku, atas anak-anak yang cerdas, atas karir, juga sahabat, teman, kolega, bahkam orang ang bersebrangan denganku.

Aku menyadai bahwa aku yang sekarang ada merupakan bentuan dari masa laluku bersama Chaty cinta pertamaku, juga aku ini merupakan bagian yang utuh pada  masa kiniku untuk menjalankan peranku dengan penuh komitment dan juga cinta, ini semua demi masa depanku yang akan kujalani dengan penuh harapan. Tak bisa kupungkiri bahwa rasa cintaku pada Chaty yang tak teragntikan oleh siapa pun, bahkan oleh Rani sekalipun. Aku mencintai mereka dengan caraku yang berbeda. Aku yakin Tuhan tahu perasaanku dan aku athu bahwa aku benar. Aku berharap Chaty, cinta pertamaku juga mengalami sukacita yang aku alamai. Aku berharap ia berbahagia dalam hidupnya dan perannya dalam keluarga juga masyarakat. Dan tentu saja aku sangat berhap dia tak melupakanku, meskipun aku tahu aku bukan cinta peratma dia.

Perjalananku kali ini meruakan ziarah batinku. Perjalananku merupakan penemuanku akan mozaik hidupku yang lain.

( Cerpen ini kutulis untuk semua orang  yang pasti mepunyai kenangan yang manis akan cinta pertamanya. Semoga cinta pertama kita menjadi salah satu bahan bakar kita untuk terus memberikan cinta kepada keluarga, sesama, negara, bangsa, semesta, dan akhirnya Sang Pencipta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: