Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

ARTIKEL PENDIDIKAN

Posted by lembursingkur pada Juni 24, 2009

PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN KEMISKINAN

Membaca artikel pendidikan yang pernah dimuat pada harian KOMPAS yang berjudul: Sekolah Hidup Susah karya Handrawan Nadesul membuat penulis merenung. Dalam artileknya Bapak Handrawan Nadesul berbicara bagaimana seharusnya  sekolah membuat sesorang mampu menghadapi kesukaran hidup yang tidak semua orang siap menghadapinya. Sesudah membaca artikel itu, penulis menjadi tergelitik dan sedikit merenungkan hubungan antara pendidikan dengan kemiskinan. Mengapa demikian? Karena kemiskin sejak dulu tak berkurang, malah semakin bertambah dengan adanya krisis ekonomi global seperti sekarang ini. Kemiskinan menjadi bahan perbincangan dan kajian bahkan penelitian. Tentu saja dengan tujuan untuk mengetahui bagaiamana mengatasinya, mengentaskannya, dan memeranginya. Lantas orang mulai menghubungkan bagaimana hubungan antara pendidikan dengan kemiskinan. Pada umumnya orang berpendapat bahwa kemiskinan bisa dientaskan dengan pendidikan. Itu kebanyakan orang setuju. Dengan pendidikan orang mendapatkan wawasan baru, ilmu pengetahuan, penyadaran diri, memperoleh pencerahan, dan juga mendapatkan ketrampilan. Pendidikan seharusnya mampu menjawab kebutuhan hidup masyarakat. Apakah pendidikan yang tersesdia di Indonesia ini mampu menjawab keresahan itu? Jawabannya pembaca silakan direnungkan.

Kemiskinan yang seharusnya bisa terangkat dengan pendidikan dalam kenyataannya tidak demikian. Malah terkadang pendidikan menciptakan neokolonialisme yang memperburuk kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Apa yang membuktikan itu semua? Yang akan penulis sorot pada kesempatan ini adalah kesenjangan antara berbagai sekolah yang terjadi di negri kita tersayang ini. Kesenjangan dalam dunia pendidikan antara sekolah favorit, sekolah unggulan, sekolah nasional plus, sekolah internasional dan banyak lagi sekolah sejenis itu, dan membandingkannya dengan sekolah biasa, sekolah kampung, sekolah Indonesia banget . Perbedaan dan kesenjangan memang semakin terasa. Novel Laskar Pelangi yang mengisahkan kisah nyata penulisnya Andea Hirata bisa menjadi salah satu bukti yang terdokumentasikan tentang bagaimana SD ‘kelas kambing’-nya Ikal dkk dengan SD PN Timah tetangganya yang membedakan kelas kedua sekolah itu.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah bahwa sekolah yang menamakan dirinya sekolah yang mengibarkan keagamaan dan bervisi misi cinta kasih pun terkadang melupakan visi misinya pada saat tahun ajaran baru dengan penerimaan siswa baru yang  identik dengan pembayaran uang pangkal, uang gedung, uang sumbangan, atau entah apalah namanya. Komitmen sebelumnya yang mengutamakan kemanusiaan: berpihak pada orang lemah, ternyata dalam kenyataannya tidak menunjukkan tanda-tandanya. Dan kita boleh bertanya: Di manakah visi misi itu?

Kita semua tahu ahwa pendidikan bagus itu tentu tidak murah. Di Jakarta dan sekitarnya  ( Tangerang, Bogor, Karawang, Bekasi, Depok) banyak terdapat sekolah yang dianggap sekolah elite, bagus (gedungnya, mungkin juga mutunya) yang tentu saja bukan sekolah murah. Banyak sekolah dikaitkan dengan bisnis  dalam dunia pendidikan yang sekarang ini merajalela. Mulai dari sekolah Taman Bermain, Taman Kanak-Kanak, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi bertebaran di mana-mana. Bisnis ini semakin marak dengan bertebarannya perumahan-perumahan elite di sekitar Jakarta. Apakah ini salah? Tentu saja tidak karena memang hal itu dibutuhkan untuk tuntutan masa sekarang. Lantas yang salah apa? Kesalahannya seperti tadi yang diungkapkan dalam tulisan ini, bahwa pendidikan tak pernah berpihak pada orang lemah, orang miskin, kaum marginal, kaum terpinggirkan. Semua sekolah diperuntukkan bagi orang yang berduit, yang mampu bayar. Tidak mampu bayar, ya jangan harap bisa menikmati pendidikan bermutu, menginjakkan kaki di halaman sekolahnya pun sudah diusir satpam.

Lantas nasib orang lemah, kaum tepinggirkan, kaum marginal bagaimana? Dalam artikel ini, penulis tidak membatasi pengertian miskin dari sisi ekonomi saja, juga dari sisi kemampuan lain seperti akademis. Hakikat pendidikan seperti yang dikemukakan oleh Dryakara yaitu sebagai pendewasaan manusia muda. Itu tercakup didalamnya pengertian pengembangan diri dan konstruksi kompetensi. Pendidikan seharusnya mampu membebaskan manusia dari kemiskinan ilmu, harga diri, pribadi, materi, bahkan spiritual. Dengan pendidikan diharapkan mampu membawa manusia pada perkembangan yang holistik, utuh menyeluruh.

Sisi lain yang tak boleh dilupakan bahwa  pendidikan tidak  boleh mengasingkan dunia akademis dengan realitas sejarah yang ada dalam masyarakat. Dengan kata lain pendidikan harus berpijak pada realitas kehidupan. Pendidikan jangan menjadi menara gading yang terasing dari masayarakatnya. Pendidikan harus berurat berakar dengan masyarakat tempat ia berada. Pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat ada zamannya. Sekolah yang berada di Bumi Sepong Damai (BSD), misalnya,  harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat BSD City yang sedang melesat maju, juga harus mampu menerima tantangan zaman yang kian maju dan mendunia. Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan harus bisa berpikir global dan beraksi baik lokal maupun global.

Berbicara tentang pendidikan/sekolah yang tidak hanya menjadi menara gading, tapi harus bisa berpikir global dan beraksi baik lokal maupun global, maka sekolah seagai lembaga pendidikan hendaknya bisa saling mendukung untuk mencapai tujuan pendidikan Indonesia yaitu mencerdaskan kehiduan bangsa. Sekolah yang dianggap sekolah unggulan, plus, internasional, atau sebutan lain yang membanggakan, harus mampu bekerjasama dan membantu sekolah di sekitarnya yang dianggap masih sekolah kampung, ndeso, atau Indonesia banget itu. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk saling berbagi, sebagai contoh adanya program ‘adik asuh’, sumbangan alat tulis dan sarana pendidikan lain, atau sebuah kunjungan persahabatan, atau kegiatan lain yang kreatif yang memungkinkan adanya kerjasama dan saling bantu antara sekolah yang surflus dengan yang minus. Sebuah kerjasama yang sangat manis terdengarnya.

Tak lupa juga para pengusaha, lembaga, atau instansi yang tersebar di negri ini juga harus mulai memberikan perhatian pada pendidikan dan masa depan anak bangsa ini. Daripada uang hanya dihabiskan untuk pesta tahunan di perusahaan, akan lebih bermanfaat bila digunakan untuk peduli pendidikan. Bantuan pemerintah dan anggaran belanja negara untuk pendidikan juga ada, bukan? Begitu pertanyaan kita. Memang ada, tetapi kenyataannya itu tak bisa diharapkan untuk membuat pembebasan kemiskinan negri ini. Pendidikan yang Membebaskan Kemiskinan akan tetap menjadi semboyan atau sebuah judul artikel saja kalau kita tidak merealisasikannya. Siapa yang merelaisasikan itu? Ya… jawabannya kita semua tahu, ya kitalah, masa bangsa lain dong!

Apakah akan berhasil? Keberhasilan dari pendidikan itu tidak bisa kita petik secara instan. Hal itu akan melalui perjalanan panjang, proses yang lama tentunya. Yang terpenting bagi kita, kita  sudah mencobanya. Bagaimana kita tahu bahwa itu berhasil atau tidak kalau kia tidak mencoba. Bila kita saling peduli pada bidang pendidikan, semua itu akan menjadi peneguhan bahwa pendidikan harus memperhitungkan anak yang kurang/lemah (marginal) dalam berbagai bidang. Semoga tulisan ini menyadarkan kembali bahwa pendidikan itu adalah jalan menuju pembebasan. Selain itu muncul harapan bahwa diskriminasi sekolah dengan berbagai sebutan, predikat, dan embel-embel di belakangnya itu tidak menjadi pemisah antara realitas pendidikan di negri kita tercinta ini, melainkan memberikan warna dan memperkaya dunia pendidikan kita dengan saling peduli satu sama lain. Semoga!

Christina Enung Martina

SMP Santa Ursula BSD

_ _________________________________________________________________________-

Refrensi:

–           Sekolah Hidup Susah  (Handrawan Nadesul)

–          Mungkinkah Peradaban Kemiskinan Menggantikan Peradaban Kekayaan dalam Dunia Pendidikan? ( Abdon Bisei:Limen –  Jurnal Agama dan Kebudayaan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: