Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

NASKAH DRAMA/TEATER

Posted by lembursingkur pada Juni 19, 2009

Saraswati

Adegan  1 :

Pengawal  :

Tuanku…..

Narator /nenek  :

Pada suatu masa yang tidak begitu lama, di saat kami tinggal di dunia yang membimbangkan, di istana dan persatuan yang besar, pada tahun 1916, saat itu anak saya Prabu Narada adalah raja Panjalu.

Nenek  :

Hallo sayang.

Narator /nenek :

Kami menyambut tradisi keluarga tahunan yang ke 300. dan malam itu, tiada bintang lain yang sinarnya berkelip secantik Saraswati, puteri bungsu Prabu Narada, cucu muda saya. Saraswati membujuk saya untuk tidak pulang  ke Batavia, jadi saya berikan satu hadiah  yang istimewa kepadnya untuk hubungan kami.

Saraswati  :

Kotak kemasan ini untuk saya ? Oh, indahnya.

Pelayan  :

I. Made Nuarta, kamu sepatutnya di dapur.

Nenek  :

Bacalah yang tertulis. (MEMBERIKAN KALUNG)

Saraswati kecil :

Ia memainkan lagu untuk tidur

Nenek  :

Kamu boleh mainkan pada waktu malam sebelum kamu tidur, dan anggaplah itu nenek yang menyanyikannya.

Nenek & Saraswati (bernyanyi)  :

Bersama angin melalui lautan dengarlah lagu ini dan ingatlah setelah ini kamu akan kembali ke rumah dengan saya, satu hari di bulan desember.

Nenek  :

Ingatlah apa yang saya katakan

Saraswati  :

Kita akan tinggal bersama di Batavia, betulkah ? Oh, Nenek.

Narator/nenek  :

Tapi kami  tak akan pernah bersama lagi di Batavia, karena satu hal, adSri dayang gelap  yang dijumpai di rumah Natarajasa, yang bernama Mpu Pangukur, kami ingat dia orang rongga, tapi dia sangat licik, berkuasa dan berbahaya.

Prabu Narada  :

Mpu Pangukur ! Betapa beraninya kamu kembali ke istana

Mpu Pangukur  :

Bukankah, saya adalah kawan karib Tuan.

Prabu Narada :

Kawan karib ? Kamu adalah penghianat. Keluar !

Mpu Pangukur  :

Ingatlah Prabu Narada. Boleh saja kamu menyingkirkan saya. Tapi, saya Mpu Pangukur, dengan kekuasaan dan kekuatan yang kekal dalam diri saya, saya bisa saja kalahkan kamu dengan mudah. Dengarlah. Kamu dan keluarga kamu akan mati dalam waktu dua minggu ini. Saya akan berusaha sehingga saya menyaksikan kehancuran Natarajasa untuk selamnya.

Narator /Nenek  :

Disebabkan dendamnya kepada Prabu Narada dan keluargnya, Mpu Pangukur menjual rohnya untuk berkuasa dan menghapuskan  mereka.

_______________________________________________________________________

Mpu Pangukur  :

Pergi ! Mencapai kehidupan gelap kamu dan terimalah nasib yang pernah dialami Raja dan keluargnyai, sekali dan selamnyai.

________________________________________________________________________

Narator /Nenek  :

Dari sini mulailah, kehidupan yang tidak menggembirakan. Negeri kami menjadi api yang menghapus kehidupan keluarga kami untuk selamnya.

Pasukan  :

Dimana mereka budak ?

Saraswati  :

Nenek, peluk saya,

Saraswati  :

Jangan, biarkan dia pergi.

Nenek  :

Saraswati ! Saraswati !

Narator /Nenek  :

Terlalu banyak nyawa terbunuh pada malam itu. Yang tersisa adalah kehidupanku sekarang dan kenangan bersama Saraswati, cucu saya yang sangat saya cintai. Sayangnya sekarang saya tak dapat menjumpai dia lagi.

SARASWATI

SEPULUH TAHUN KEMUDIAN

NYANYI BERSAMA (Koor Masyarakat)  :

Panjalu yang suram, Panjalu sedang dingin dan suram. Pakaian saya sangat lembab karena berdiri selama seminggu. Ketika revolusi dimulai kehidupan kami menjadi kelabu. Terima kasih Hyang Widi untuk kabar burung yang membawa kami sepanjang hari. Dapatkah kamu dengar apakah yang mereka katakan di jalan itu ?  Walaupun Raja sudah tidak berwujud. Satu anak perempuannya mungkin masih hidup. Puteri Saraswati. Tapi biarlah jangan terulang lagi. Ini adalah kisah satu legenda. Satu misteri. Sedang diperbincangkankan dimana-mana, tiada terbukti. Ini adalah kisah satu sejarah.

Mereka bilang dia orang kerajaan, seorang nenek akan memberikan sejumlah uang kepada siapa saja yang dapat membawa puterinya kembali.

I. Made Nuarta  :

Bli…!

I Wayan Pangukir  :

I. Made Nuarta.

I. Made Nuarta  :

Bagus, bagus, sangat bagus…

Peserta audisi I  :

Dan saya nampak sebagai puteri.

Nyanyi bersama  :

Ini adalah jalan, dan puteri Saraswati, yang akan menolong kita terbang. Kamu dan saya, kawan, akan dicatat dalam sejarah. Kita akan  mencari gadis yang memainkan peranan itu dan mengajarkan dia apa yang selayaknya diucapkan sebagai seorang puteri bangsawan. Mendandani dia dan membawSri ke Batavia. Pikirkanlah tentang imbalan yang akan dibayar oleh nenek itu.  Siapapun bisa mendapatkannya. Tapi kamu dia saya dan kita akan menjadi kaya. Kita akan menjadi kaya. Kita akan keluar. Kita akan keluar. Dan di Panjalu terdapat sesuatu jawaban. Dapatkah kamu dengar ini adalah arahan daripada Panjalu ? Dapatkah kamu dengar apa yang mereka katakan dalam jalan itu ? Adakah kamu dengar ini adalah arahan  dari pada Panjalu ? Adakah kamu dengar ? Ni Luh Karti, apa kamu pikirkan ?

Satu misteri yang suci. Satu penipuan yang besar dalam sejarah. Puteri Saraswati. Hidup atau mati ?

Siapa tahu ? Ssssst….!

PANTI ASUHAN

Ibu Pengasuh  :

Sri ada satu pekerjaan untuk kamu di dalam kilang ikan. Kamu hendaknya turun kebawah sini sehingga kamu bisa mendapatkan kendaraan menuju jalan itu lalu pergi kekiri.

Saraswati  :

Selamat tinggal.

Ibu Pengasuh  :

Apakah kamu dengar apa yang aku katakan ?

Saraswati  :

Selamat tinggal semua. Saya telah mendengar berita surat kabar.

Ibu Pengasuh  :

Sejak kamu berada disini, kamu seperti  duri dalam daging saya, Nak. Tindakanmu seperti puteri Sheba, Sri kamu adalah gadis yang tak bernama .

Saraswati /Sri  :

Sepuluh tahun sudah saya kesal, saya selalu mengikuti perkataanmu, sekarang ada satu harapan dalam kepala saya.

Ibu Penghasuh  :

Kalau kamu tak punya petunjuk, percuma saja. Kamu akan datang lagi kemari pada kami, tapi kamu boleh saja mengingat-ingat semua itu.

Saraswati  :

Saya punya petunjuk untuk mengingat…

Ibu Pengasuh  :

Saya tahu ! Bersama di Batavia kan ?. Jadi, kamu mau pergi ke Batavia untuk mencari keluarga kamu, Nona Sri ? Ini adalah kenyataan untuk kamu bisa menjalani hidupmu. Dalam hidup kita harus bersyukur atas takdir. Demikian pula bersama di Batavia, kalau sudah takdir bisa saja.

Saraswati  :

Bersyukur Sri. Saya bersyukur. Bersyukur untuk keluar. Pergi ke kiri dia bilang ?. Baik. Saya tahu apa yang ke kiri, untuk pergi selamanya, Sri. Tapi jika saya pergi ke kanan, mungkin   saya menemukan seseorang untuk memberi saya petunjuk. Demi cinta saya. Bisa saja ini merupakan tindakan yang bodoh. Saya ?  Pergi ke Batavia ?

Beri saya petunjuk. Satu petunjuk saja. Sesuatu. Saya tak ada waktu untuk main-main sekarang. Ok ? Saya tengah menunggu untuk satu petunjuk.

Bisakah kamu membiarkan saya sendirian ? Biarkan saya kembali. Baik. Seekor anjing menginginkan saya pergi ke Panjalu. Ok. Siapa tahu benar.

Sayang, jangan kecewakan saya.

Keberanian, jangan tinggalkan saya. Jangan bikin saya ragu. Sekarang kita disini. Orang selalu bilang, hidup penuh dengan pilihan. Tiada seorang pun akan takut. Tetapi, dunia ini nampak sangat  luas. Saya berada dalam perjalanan saya menuju masa lalu.

Ke suatu tempat di ujung  jalan ini.

Saya yakin, seseorang sedang menunggu.

Mimpi yang selalu muncul bertahun-tahun.  Tak boleh sampai salah alamat. Saya akan selamat di tempat yang seharusnya. Di sebuah lingkungan keluargaku sendiri. Baiklah mulai sekarang saya harus belajar dengan cepat, pada perjalanan ini, menuju masa laluku. Rumah, orang-orang yang saya cintai, keluarga. Pada suatu waktu nanti, saya harus berjumpa dengan mereka. Rumahku, cintaku, keluargaku.

Saya memang tak dipersiapkan sehingga dapat dengan mudah bisa mencari mereka. Satu cara pada satu masa. Satu harapan, ke harapan yang lain. Siapa yang tahu kalau arah jalan saya tidak sesat ? Kembali ke siapa saya ? Untuk mencari masa depan saya. Perkara yang tersimpan dalam hati saya dan tak perlu diketahui oleh siapa pun. Ya, biar ini yang bisa dijadikan petunjuk. Biar jalan ini jadi kepunyaan saya. Biar ini mengarah saya ke masa lepas. Dan membawa saya kembali ke rumah.

Huh, Akhirnya….!

_______________________________________________________________________

Perempuan tua  :

Carilah sesorang yang bernama I. Made Nuarta, dia bisa menolong kamu..

Saraswati  :

Dimana saya dapat menemui dia ?

Perempuan tua  :

Di istana lama, tapi kamu jangan katakan bahwa kamu mendengar dari saya. Pergi…pergi…, pergi.

Saraswati  :

I. Made Nuarta….

________________________________________________________________________

ISTANA LAMA – PENCARIAN PUTRI SARASWATI

I. Made Nuarta  :

Bagus, bagus, sangat bagus…

Peserta audisi I  :

Dan saya nampak sebagai puteri.

I. Made Nuarta  :

Oke.

Peserta audisi I  :

Saya menari seperti bidadari.

I. Made Nuarta  :

Terima kasih. Berikutnya. Tolong.

Peserta audisi II  :

Nenek, saya ini Saraswati.

I. Made Nuarta  :

Brur….!

I Wayan Pangukir  :

Nah, I. Made Nuarta. Permainan kita sudahi dulu. Biaya yang kita keluarkan sudah banyak untuk para pemeran yang tak berbakat ini, dan masih banyak lagi perempuan yang berpura-pura sebagai Saraswati nanti.

I. Made Nuarta  :

Kita akan terus cari dia, Bli. Pasti dia berada di suatu tempat sekitar sini. Dan akan menghampiri kita.. Pertama-tama lihat adakah peti kemasan, yang hanya dimiliki putri bangsawan Saraswati yang sesungguhnya.

Saraswati  :

Saya terus mencari…..

Seseorang laki-laki  :

Sebelum dia mengejar.

I. Made Nuarta  :

Kita akan menghabiskan 1 juta gulden.

Saraswati  :

Buntel, Buntel, Buntel, dimana kamu ?

I. Made Nuarta  :

Kamu mendengar seseorang ?

I Wayan Pangukir  :

Tidak.

Saraswati  :

Hallo, ada siapakah di sini ?

Tempat ini, ini…, sepertinya aku ingat tentang sesuatu, mungkin mimpi.

Beruang menari. Sayap yang dicatkan. Peristiwa yang masih saya ingat. Dan sebuah lagu. Ada orang yang menyanyikan tembang di kala rembulan. Seseorang menjaga keselamatan dan menolong jiwa saya. Kuda bergerak melalui keributan taufan. Menari dengan cantik. Dengan ingatan saya. Yang sangat jauh. Pada masa dahulu. Perkara dalam hati saya yang diketahui. Perkara yang pastinya akan diingat. Dan sebuah lagu. Ada orang yang menyanyi, suatu ketika pada saat rembulan bersinar.

I. Made Nuarta  :

Apa yang kau perbuat disini ?….Hei !

Berhenti. Berhenti. Berhenti. !

Tunggu sebentar. Tunggu.

Sekarang. Bagaimana kamu bisa berada disini ?

I Wayan Pangukir  :

Maaf, Nak.

I. Made Nuarta  :

Bli. Kamu melihat apa yang saya lihat ?

I Wayan Pangukir  :

Tidak. Ya, ya.

Saraswati  :

Kamu kah orang yang bernama I. Made Nuarta ?

I. Made Nuarta  :

Mungkin. Semua ini tergantung kepada siapa yang nampak di depanku.

Saraswati  :

Nama saya Sri. Saya bermaksud melakukan perjalanan ke Batavia. Mereka bilang kamu adalah salah seorang yang dapat membantu.

I. Made Nuarta  :

Siapa yang bilang begitu ?

Saraswati  :

Dan apa. Hey ! Kenapa kamu mengerjai saya ? Apa, di mana kamu sembunyi ?

I. Made Nuarta  :

Saya minta maaf, Sari.

Saraswati  :

Sri. Namaku Sri.

I. Made Nuarta  :

Sri. Ia seperti… Oh, Tak apa-apa. Sekarang, kamu bilang kamu punya masalah tentang karcis perjalanan ?

Saraswati  :

Ya, saya bermaksud pergi ke Batavia.

I. Made Nuarta  :

Kamu hendak ke Batavia ?

I. Made Nuarta  :

Sekarang, saya bertanya kepadamu. Sri. Itukah namamu ? Apakah kamu tahu nama lengkap kamu ?

Saraswati  :

Baik. Sebenarnya ini sangat aneh. Saya tidak tahu lagi nama lengkap saya.

Saya sudah mencari tahu ke mana-mana sejak saya berumur delapan tahun.

I. Made Nuarta :

Dan, ah, sebelum itu. Sebelum delapan tahun.

Saraswati  :

Yang saya tahu tentang saya hanya sejak saya berusia delapan tahun lalu dan benda aneh ini. Tapi bagi saya ini hanya kenangan lama.

I. Made Nuarta  :

Itu sangat bagus.

Saraswati  :

Saya hanya ada satu kata kunci untuk mengingat. Walaupun ini masih samar, yaitu kota Batavia.

I. Made Nuarta  :

Kota Batavia ?

Saraswati  :

Betul. Bisakah kamu berdua menolong saya ?

I. Made Nuarta  :

Bli Wayan , Bli Wayan, tiket. Tentu kamu akan suka ini. Pastinya kami akan pergi ke Batavia. Tapi saya hanya punya tiga karcis di sini. Sayangnya, karcis yang ketiga adalah diperuntukan kepada seseorang yang bernama Saraswati.

I Wayan Pangukir  :

Kami bermaksud menyatukan kembali keluarga Natarajasa yang ada ini. Yakni antara  Putri Saraswati dengan ibu suri.

I. Made Nuarta  :

Kamu berniat tidak perdulikan dia.

I Wayan Pangukir  :

Mata yang biru

I. Made Nuarta  :

Mata Natarajasa.

I Wayan Pangukir  :

Senyum Prabu Narada.

I. Made Nuarta  :

Gusti Ayu Larasati, lihat.

I Wayan Pangukir  :

Dia memegang tangan neneknya.

I. Made Nuarta  :

Perkiraanku umurnya memang sama. Dan kelakuannya juga sama.

Saraswati  :

Apakah kamu mencoba memberitahu saya, bahwa, wajah dan kelakuan saya mengingatkan kamu pada seseorang yang bernama… Saraswati ?

I. Made Nuarta  :

Sebenarnya saya akan memberitahu, bahwa, kamu kelihatannya seperti kebanyakan  gadis di seluruh negri. Dan tak sedikitpun yang nampak mirip antara kamu dengan orang putri itu. Lihat potret itu.

Saraswati  :

Sejak awal saya sudah menduga kamu berdua memang gila. Ternyata tidak salah.

I. Made Nuarta  :

Kenapa ? Kamu tak ingat apa yang pernah terjadi pada kamu kan ?

I Wayan Pangukir  :

Terjadi pada dia.

I. Made Nuarta  :

Kamu bermaksud menjumpai keluarga kamu di Batavia.

I Wayan Pangukir  :

Dan dia hanya memiliki keluarga di Batavia.

I. Made Nuarta  :

Kamu tahu tentang itu.

Saraswati  :

Artinya saya akan menjadi keluarga kerajaan ? Baik. Saya tak tahu, ini sangat susah untuk mengingat apalagi saya sudah sering tidur di atas lantai.. Tapi tentu yeah, saya kira setiap gadis akan berharap dirinya adalah seorang puteri.

I Wayan Pangukir  :

Dan di manapun adanya, seorang gadis kecil, yang bernama Saraswatilah yang dimaksudkan dan yang akan dicari.

I. Made Nuarta  :

Sebetulnya kami ingin menolong, tapi tiket ini hanya untuk Putri Saraswati, semoga kamu bernasib baik.

I Wayan Pangukir  :

Kenapa kamu tidak beritahu dia tentang peranan itu ?

I. Made Nuarta  :

Pastinya dia akan pergi ke Batavia, dan kita akan mendapatkan uang ?

I Wayan Pangukir  :

Saya memberitahu kamu, kita berjalan terlalu cepat.

I. Made Nuarta  :

Tak perlu risau, saya akan menyelesaikannya dengan baik. Nah, sekarang jalan diperlambat sedikit. Tiga, dua, satu….

Saraswati  :

I. Made Nuarta.

I Wayan Pangukir  :

Sekarang ,  peluang ada dalam genggamanmu.

Saraswati  :

I. Made Nuarta. Tunggu sebentar!

I. Made Nuarta  :

Apakah kamu memanggil saya ?

Saraswati  :

Kalau saya tak ingat siapa saya, apakah saya sebenarnya Duke atau bukan siapa-siapa. Begitu ?

I. Made Nuarta  :

Ayolah!

Saraswati  :

Kalau ternyata saya bukan Saraswati, tentunya Maharani yang sesungguhnya itu akan tahu. Dan bukankah ini adalah kesalahan besar.

I Wayan Pangukir  :

Sangat jujur. Tapi kalau kamu adalah puteri yang sesungguhnya kemudian akhirnya kamu akan tahu siapa diri kamu dan kamu akan berkumpul bersama keluargamu, keluarga Natarajasa, bagaimana ?

I. Made Nuarta  :

Kamu tahu, …..kamu tahu betul. Walau bagaimanapun, dia akan bawa kamu ke Batavia.

Saraswati :

Betul…!

I. Made Nuarta  :

Bolehkah saya menghadirkan Gusti Ayu Putri Saraswati ?

Saraswati  :

Buntel, Kita akan pergi ke Batavia.

Saraswati  :

Apa kamu bilang ?

I. Made Nuarta  :

Anjing itu sudah pergi.

Saraswati  :

Anjing itu tak akan pergi.

I. Made Nuarta  :

Saya bilang dia telah pergi.

Kacung  :

Saraswati ? Yeah. Hanya satu masalah di sana. Saraswati telah meninggal dunia. Semua keluarga Natarajasa telah meninggal dunia. Mereka sudah mati. Mati, mati, mati… Apakah saya benar, kawan ? Maksud saya, bagaimana kalau tenyata Saras…., Oh, marilah, adakah saya perlu percaya bahwa sesuatu yang mati hidup kembali selepas tahun ini. Hanya karena beberapa orang mengaku dirinya adalah keluarga Natarajasa ?

Baik, baik. Saya sudah dapat berita itu,. Dan anak bekas pelayan dapur itu. Kalau sesuatu yang mati bisa hidup kembali, maka ia menghendaki Saraswati masih hidup.

________________________________________________________________________

I. Made Nuarta  :

Tinggalkan anjing itu.

Saraswati  :

Saya tak akan tinggalkan anjing itu.

Kacung  :

Dan itulah orangnya.

I. Made Nuarta  :

Kami mesti latihan untuk menangkapnya.

__________________________________________________________________

Mpu Pangukur  :

Siapa yang telah berani mengganggu semadi saya ? Keluar ! Keluar !

Kacung, kamukah itu ?!

Kacung  :

Tuan, kamu masih hidup kan ?

Mpu Pangukur  :

Yah ! Sopanlah dalam bercakap.

Kacung  :

Whoa ! Perasaan itu di sana, tuan.

Mpu Pangukur  :

Sesuatu terjadi !

Kacung  :

Yah !

Mpu Pangukur  :

Saya tahu itu. Saya bisa merasakan getaran memaksa dalam kegelapan.

Kacung  :

Saya sangat terkejut karena saya melihat dia betul-betul Saraswati.

Mpu Pangukur :

Saraswati ? Masih hidup ?

Mpu Pangukur  :

Betulkah ?

Kacung  :

Tuan, apakah simuka kelelawar ini mau menipu kamu ? Berilah waktu untuk satu menit saja. Tuan akan dapatkan api yang tua itu kembali.

Mpu Pangukur  :

Sebelum hilang hadiah saya dari paksaan dalam kegelapan itu. Adalah kunci untuk kekuasaan saya.

Kacung  :

Apa ? Maksud Tuan kubur ini ?

Mpu Pangukur  :

Dari mana kamu dapat itu ?

Kacung  :

Saya dapat ini….

Mpu Pangukur  :

Berikan kepada saya !

Kawan lama kembali lagi. Ha ha ha. Sekarang untuk semua perkara gelap akan menjadi lengkap. Dan untuk keturunan Natarajasa yang terakhir ini akan mati. Dalam malam yang gelap saya telah melambung dan berputar. Dan mimpi yang ngeri itu yang saya dapat adalah sangat buruk. Ia telah menakutkan saya keluar dari akal. Mayat telah jatuh sebentar.

Seterusnya saya buka mata saya dan mimpi yang ngeri itu adalah saya. Saya adalah lelaki yang bermistik di Bali. Semasa raja menghianati saya. Mereka akan melakukan kesalahan. Sumpah saya telah membuat satu orang dari mereka harus membayar. Tapi seorang perempuan yang kecil akan pergi. Sri kecil, berhati_hatilah. Mpu Pangukur  telah terbangun dalam malam yang gelap. Dengan ganas. Akan mencari dia dalam kegelapan, sebelum waktu senja balasan akan sempurna. Ketika sumpah telah selesai. Dia akan pergi !

Hai, gadis, dengar. Saya kini merasakan kekuatan saya  perlahan-lahan pulih kembali. Ikat bengkung saya dan satu terkaman dari minyak wangi untuk bau itu. Seperti kepingan jatuh di tempat itu. Saya akan memperlihatkan, dia merangkak ke dalam tempat penderitaan, Sri !!.Kamu diberkati !. Selamat tinggal. Dalam malam yang gelap, orang ganas. Saya akan lakukan. Dalam malam yang gelap, jahat dan seram, dia dapat merasakannya. Mimpi buruk yang nyata, dalam malam yang gelap.  Dia akan dihmusnahkan. Dalam malam gelap. Kejahatan akan mencari dia. Mencari. Dalam malam yamg gelap. Kejahatan datang menghampiri dia. Di sini adalah tanda akhir dalam kehidupan. Malam yang gelap. Malam yang gelap. Mari, hamba saya. Datanglah kepada saya. Biar dalam kejahatan kamu bercahaya. Dalam malam yang gelap. Cari dia sekarang. Ya, terbang dengan lebih cepat lagi. Dalam malam yang gelap. Dia akan menjadi milik saya

_______________________________________________________________________

I Wayan Pangukir  :

Sukarti, sayangku, Bli dalam perjalanan.

Saraswati  :

Siapa  Sukarti ?

I. Made Nuarta  :

Siapa  Sukarti ?

I Wayan Pangukir  :

Dia adalah sesuatu yang lembut, secangkir the panas selepas perjalanan yang panjang.

I. Made Nuarta  :

Bli,.

I Wayan Pangukir  :

Dia adalah kueh tepung yang dipenuhi dengan krim sapu dan ketawa.

Saraswati  :

Sebetulnya ini orang atau kue?

I Wayan Pangukir  :

Saudarnya Maharani.

Saraswati   :

Tetapi, bukankah kita akan pergi untuk menemui Maharani sendiri. Mengapa kamu bilang kita akan menemui saudarnya ?

I. Made Nuarta  :

Baik, tidak ada orang yang bisa secara langsung menemui dia, kecuali  melalui   Sukarti.

Saraswati  :

Tidak, pasti bukan saya. Tidak ada orang yang pernah meyakinkan saya kalau saya  adalah seorang putri.

I. Made Nuarta  :

Lihat…

Saraswati  :

Tunjukkan, ya. Nampak cantik, bagus. Tapi penipuan ? kamu  tahu ini satu penipuan.

I. Made Nuarta  :

Bagaimana jika ternyata benar ?

Oke, jadi tidak ada penjelasan dari siapapun di dalam hidupmu untuk mengetahui  siapakah kamu sebenarnya. Saya hanya ingatkan ini adalah kesempatan yang kamu hendak lihat pada akhirnya.

Saraswati  :

Perhatikan saya, I. Made Nuarta. Saya sebenarnya bukan seorang putri.

I Wayan Pangukir  :

Beritahu saya, nak. Apakah yang kamu lihat ?

Saraswati  :

Saya tak pernah melihat seseorang seperti saya yang tidak punya masa lalu dan masa depan.

I Wayan Pangukir  :

Saya melihat wanita muda yang menawan dan bersemangat, yang di saat ini, telah menampakkan kemuliaannya dalam duninya. Dan saya yakin itu. Kamu lihat, yang mulia. Saya adalah ahli melihat seseorang.

I. Made Nuarta  :

Jadi, apakah kamu bersedia untuk menjadi yang mulia Gusti Ayu Putri Saraswati ?

I Wayan Pangukir  :

Hemmm…

I. Made Nuarta  :

Apa ?

I Wayan Pangukir   :

Tidak ada alasan apapun untuk kamu kembali ke sana. Semunya tersedia di Batavia.

Saraswati  :

Tuan-tuan, mulailah dengan pelajaran kalian.

I Wayan Pangukir   :

(lagu) Camkan dengan baik. Kamu adalah yang dilahirkan didalam istana dekat laut.

Saraswati  :

Istana dekat laut. Apakah itu ada ?

I Wayan Pangukir  :

Ya, itu betul. Kamu sudah menunggang kuda ketika kamu berumur 3 tahun.

Saraswati  :

Menunggang kuda ? saya ?

I Wayan Pangukir  :

Dan kuda itu….

I. Made Nuarta  :

Kuda putih.

I Wayan Pangukir  :

Kamu memperlihatkan muka yang ganas kalau sedang marah.

I. Made Nuarta  :

Hapus itu air matamu.

Saraswati  :

Apakah saya ganas ?

I. Made Nuarta  :

Tulis di buku.

I Wayan Pangukir  :

Tetapi kamu bersopan santun selama ayahmu memberi perhatian.

I. Made Nuarta  :

Coba bayangkanlah.

I Wayan Pangukir  :

Kamu lupa semua kejadian yang dulu.

I. Made Nuarta / I Wayan Pangukir   :

Kami akan mengajarkan kamu banyak hal dalam waktu yang singkat ini.

Saraswati  :

Baik, saya bersedia.

I Wayan Pangukir   :

Sekarang, tanganmu ke belakang dan berdiri tegap dan anggun.

Saraswati   :

Saya merasa sedikit bodoh, adakah saya sudah anggun ?

I Wayan Pangukir   :

Seperti kapal yang kecil.

I Wayan Pangukir  :

Kamu beri hormat.

I. Made Nuarta  :

Apakah yang terjadi sekarang ? Tangan kamu terima satu penghormatan.

I Wayan Pangukir   :

Ini saja dulu.

Saraswati  :

Apakah saya boleh belajar untuk bertata-krama.

I Wayan Pangukir  :

Kamu boleh belajar untuk bertata-krama.

I. Made Nuarta  :

Sesuatu yang pernah kamu ketahui.

I Wayan Pangukir   :

Ikuti pelajaran saya., cara duduk yang baik, tangan dilipat, siku kedalam dan duduk dengan lurus.

I. Made Nuarta  :

Dan  jangan menghirup dengan kuat.

Saraswati   :

Saya tidak perduli dengan kekuatan.

I Wayan Pangukir  :

Dia berkata seperti Natarajasa.

Saraswati   :

Kapan saya mendapatkan Makanan manis dan seterusnya, dan mengucapkan selamat malam ?

I Wayan Pangukir / I. Made Nuarta  :

Belum.  Kamu harus mendapat pelajaran yang benar.

I Wayan Pangukir  :

Kalau saya belajar untuk bertata-krama, kamu juga boleh belajar untuk bertata-krama.

I Wayan Pangukir / I. Made Nuarta  :

Kamu pelajari semua dan kamu tarik kesimpulan daripadnya.

I. Made Nuarta  :

Saya beritahu kamu bahwa ini sangat mudah dan ini adalah yang sebenarnya.

I Wayan Pangukir  :

Kamu boleh belajar untuk melakukannya juga, Made.

……………….

I Wayan Pangukir  :

Selanjutnya, kita mencoba ingatkan semua nama tentang keluarga raja. Sekarang, kami mempunyai nama Bali.

I. Made Nuarta  :

I. Gusti Ngurah Raka

I Wayan Pangukir  :

Dan paman Sugiri yang tua dan ia sangat menyukai kopi kental

I. Made Nuarta  :

Apakah kamu ingat akan dia, Sri ?

Saraswati   :

Tidak.

I Wayan Pangukir  :

Yang Mulia I Gusti Suwardhana.

Saraswati   :

Dia  pendek.

I Wayan Pangukir  :

Pangeran Anom.

Saraswati  :

Punya tahi lalat.

I Wayan Pangukir   :

I Gusti Rakai Turangga .

I. Made Nuarta  :

Sering memakai topi yang berbulu.

I Wayan Pangukir   :

Saya dengar dia sangat gemuk.

Saraswati   :

Dan saya sering menjahili kucing kesayangannya yang berbulu kuning itu.

I Wayan Pangukir  :

Saya yakin kita tidak pernah beritahu dia tentang hal itu.

Saraswati  :

Kalau kamu bisa belajar untuk mengingat semua itu. Saya juga bisa untuk melakukan itu.

I Wayan Pangukir  :

Saya tidak tahu bagaimana kamu bisa tahu itu.

Saraswati  :

Saya tahu itu seperti sudah biasa. Tiba- tiba saya merasa seperti seseorang yang baru.

I. Made Nuarta  :

Sri, mimpimu menjadi kenyataan.

Saraswati  :

Kalau saya boleh belajar untuk melakukannya.

I. Made Nuarta   :

Kamu boleh belajar untuk melakukannya.

Saraswati  :

Berkat kalian berdua.

I Wayan Pangukir / I. Made Nuarta  :

Dan kamu akan tertarik untuk mempelajarinya.

I Wayan Pangukir  :

Kuberitahukan bahwa ini sangat mudah.

I. Made Nuarta   :

Dan ini memang yang sebenarnya.

Saraswati  :

Aku tidak tertarik.

I Wayan Pangukir / I. Made Nuarta  :

Kamu masih bisa belajar untuk melakukannya.

TOKO PAKAIAN.

I. Made Nuarta   :

Mari, saya belikan kamu pakaian.

Saraswati  :

Kamu belikan saja saya rumah.

I. Made Nuarta  :

Pakaian apa yang kamu inginkan  ?

I. Made Nuarta  :

Mari kita ke dalam.

I Wayan Pangukir  :

Hebat. Bagus sekali.

Sekarang kamu berpakaian untuk acara perjamuan makan. Dan kamu akan belajar untuk menari. Dengan satu tarian yang bagus. I. Made Nuarta…!

I. Made Nuarta   :

Saya…., saya tidak tidak bisa menari.

I Wayan Pangukir  :

Dan…

Satu – dua –tiga. Satu – dua – tiga. Tidak, Sri. Kamu jangan mendahuluinya. Biarkan saja dia membimbingmu.

I. Made Nuarta   :

Pakaian ini sesungguhnya memang cantik.

Saraswati   :

Apakah kamu terkesan juga ?

I. Made Nuarta  :

Ya.  Baju yang cantik dalam gantungan, tetapi kelihatan lebih cantik ketika kamu yang memakainya. Kamu membutuhkannya.

Saraswati   :

Saya sedang memakainya.

I. Made Nuarta  :

Betul, tentunya, saya hanya mencoba untuk memberi perhatian kepada kamu, mm….

Saraswati  :

Pujian ?

I. Made Nuarta   :

Tentunya, ya.

I Wayan Pangukir   :

Ia adalah….satu – dua – tiga, seterusnya. Tiba-tiba saya melihat cahaya, dia bersinar dan saya yakin  dia dilahirkan untuk ambil peluang ini.

Saya mengajarinya dengan baik, saya rancang ini semunya. Saya hanya lupa akan hal yang romantis.

Pangukir, bagaimana kamu bisa melakukannya ? Bagaimana pun kamu ambil bagian dalam hal ini ? Saya tidak pernah membayangkan bahwa  mereka menari begitu serasi.

Saraswati  :

Saya merasa agak pusing.

I. Made Nuarta  :

Apakah seperti hendak pingsan ?

Saraswati   :

Ya.

I. Made Nuarta  :

Saya juga. Sebenarnya juga pusing mungkin sebaiknya kita berhenti.

Saraswati   :

Kita hentikan.

I. Made Nuarta   :

Sri, saya…

Saraswati   :

Ya.

I. Made Nuarta   :

Kamu telah melakukannya dengan baik.

________________________________________________________________________

Kacung    :

Dia di sana, tuan. Tertidur dalam ranjang yang kecil.

Mpu Pangukur   :

Dan mimpi yang damai untuk kamu, Puteri.

Saya akan masuk kedalam pikiran  kamu. Di mana kamu tidak bisa melarikan diri dari saya.

Mimpi Saraswati

Anak lelaki   :

Marilah !

Buntel membangunkan I. Made Nuarta.

I. Made Nuarta   :

Apa ? Apa ? Apa ?  Buntel. Buntel. Apa ?

Sri ! Sri ! Sri.

Saraswati melihat bayangan ayahnya.

(Gambar dari LCD)

Natarajasa (bayangan)   :

Cahaya matahariku.

Saraswati  :

Hello !

Natarajasa (bayangan) :

Terjunlah. Ayo terjun !

I. Made Nuarta   :

Sri !!! Sri, Hentikan ! Sri, tidak !

Natarajasa (bayangan)  :

Ya, terjun ! Sumpah dan janji keluarga Natarajasa ! Terjunlah !

Saraswati   :

Tidak.

I. Made Nuarta   :

Sri, Sri, bangun ! Bangun !

Saraswati   :

Sumpah dan janji keluarga Natarajasa.

I. Made Nuarta   :

Apa yang kamu katakan ?

Saraswati    :

Saya melihat muka.  Muka yang banyak sekali.

I. Made Nuarta    :

Mimpi yang mengerikan. Ini adalah yang sesungguhnya. Kamu telah selamat sekarang.

______________________________________________________________________

Mpu Pangukur   :

Tidak  !

Kacung   :

Tenang, Tuan. Wow. Ini bukan waktunya untuk menjadi kalah.

Mpu Pangukur   :

Saya yang tenang.

Saya yang kejam.

Saya tidak punya perasaan.

Untuk selama-lamSri.

Kacung    :

Tuan.

Mpu Pangukur   :

Sekarang saya merasa jalas, Kacung.

Saya harus bunuh dia langsung dengan tangan saya sendiri.

Kacung   :

Apa ? maksud Tuan secara fisik ?

Mpu Pangukur   :

Kamu tahu apa yang mereka katakan. Kalau kamu inginkan sesuatu lakukan dengan betul.

Kacung   :

Tetapi maksud itu akan sia-sia.

Mpu Pangukur   :

Tentunya, saya sangat ingat tentang orang yang menyayanginya di Batavia. Dan membunuh keluarga Natarajasa yang terakhir dengan tangan saya sendiri akan sangat nikmat. Sudah waktunya untuk pergi.

Kacung   :

Tetapi kamu telah mati. Kamu telah terpisah dengan tubuhmu, tuan. Bagaimana kamu berusaha untuk dapat pergi ke Batavia dalam satu keping ?

Mpu Pangukur   :

Saya ingat mereka akan naik kapal menyebrang lautan.

BATAVIA

Perempuan  (Saraswati palsu)  :

Ah, Ya. Saya ingat dengan baik. Paman Barada adalah dari Karambitan. Paman Panuluh dari  Tabanan. Dan setiap musim panen…..sesajen pada hari Minggu di Pura Agung.

Nenek    :

Yakinkah kamu mengingatnya dengan baik ?

Pelayan    :

Oh, nona.  Sebaiknya kamu pergi sekarang.

Saraswati palsu    :

Selamat tinggal.

Nenek    :

Cukup. Cukup !

Pelayan    :

Maafkan saya, saya kira dia tadi adalah yang sebenarnya.

Nenek   :

Baik, dia memang yang sebenarnya menurut dia, tetapi bukan yang sebenarnya menurut aku

Pelayan   :

Lain kali kami tidak akan bertindak bodoh lagi. Persoalan ini sesungguhnya memang sulit.

Nenek   :

Tidak. Saya tidak mau memikirkannya lagi. Saya tidak akan menjadi seorang nenek  yang mengharapkan cucunya kembali.

………………………

I Wayan Pangukir   :

Paman Barada datang dari ?

Saraswati   :

Apakah  Sukarti sudah tidak mengenali saya ?

I Wayan Pangukir  :

Dia akan…..

I. Made Nuarta   :

Kamu adalah Saraswati.

Saraswati    :

Ya, hanya tiga hari berlalu saya sudah mendapatkan kembali sesuatu yang pernah hilang, dan sekarang saya ingat diri saya.

I. Made Nuarta   :

Untungnya kamu bertemu dengan saya, Sekarang, dari manakah Paman Barada datang ?

Saraswati   :

Den Pasar.

Pelayan   :

Oi, Tuan ?

I Wayan Pangukir  :

Sukarti ! Om Swastiatsu!

Sukarti   :

I Wayan Pangukir ! Om Swastiatsu !

Baik, sesuatu yang tidak disangka-sangka !

Tetapi lihat saya. Manakah sikap saya ?

Masuklah, kalian! Ada kejutan apa !

I Wayan Pangukir   :

Bolehkah saya menghadirkan Yang Mulia Gusti Ayu Putri Saraswati Natarajasa. ?

Saraswati   :

Oh, Nirwana.

Sukarti   :

Dia tentunya seperti Saraswati.

Buntel   :

Tetapi memang dia Saraswati.

Sukarti   :

Dimanakah kamu dilahirkan ?

Saraswati    :

Dalam istana Panjalu

Buntel  :

Betul.

Sukarti   :

Dan seberapa suka Saraswati dengan teh ?

Saraswati   :

Saya tidak suka teh. Hanya air yang panas dan jeruk nipis.

Sukarti   :

Akhirnya, kamu sepertinya tidak ada persoalan lagi, ini menyenangkan saya. Bagaimana kamu bisa melepaskan diri ketika dalam pengepungan oleh tentara dalam istana ?

Saraswati   :

Seorang lelaki, yang bekerja dalam istana. Dia membukakan dinding. Maafkan saya, itu memang gila. Dinding sedang buka.

I. Made Nuarta   :

Jadi, adakah dia Natarajasa yang sesungguhnya  ?

Sukarti  :

Betul, dia telah menjawab setiap persoalan.

I Wayan Pangukir   :

Kamu dengar itu, Nak ? Kamu beruntung kamu sudah lulus tes. Jadi kapankah kita akan pergi dan…

Sukarti   :

Saya khawatir kamu tidak boleh menemui Maharani

I Wayan Pangukir   :

Jangan begitu, sayang.

Sukarti   :

Maharani tidak akan setuju.

I Wayan Pangukir   :

Sekarang,  Sukarti, permataku. Pikirkan suatu cara untuk mengatur pertemuan dengan Ibu Suri ? Saya tidak akan beranjak sampai kamu memberikan jawabannya. Tolong.

Sukarti  :

Apakah kamu suka pada Tari “  “ ? Dipersembahkan di Batavia malam ini. Ibu Suri dan saya suka pada tarian ini. Kami tidak akan melewatkan ini.

I Wayan Pangukir   :

Kami sangat senang melakukannya ! kami akan pergi melihat Yang Mula Ibu Suri malam ini !

Kami akan pergi untuk mendapatkan seribu  Gulden !

Kami akan pergi……Ha ha ha ha !

I. Made Nuarta   :

Bli. Bli. Dia adalah puteri yang sesungguhnya.

I Wayan Pangukir   :

Sri, kau sungguh luar biasa !

Saya hampir mempercayai dia, dan  Sukarti……

Saraswati   :

Sukarti ingin  mengajak kita pergi membeli pakaian untuk menonton acara nanti malam. Kalian harus mempercayai nya ?

…………………….

I. Made Nuarta   :

Tidak ada yang perlu diragukan lagi, dialah Puteri yang sesungguhnya.

I Wayan Pangukir   :

Saya tahu, saya tahu, tapi…

I. Made Nuarta  :

Tidak. Tidak. Kamu tidak tahu.

Sayalah anak yang berada dalam istana yang telah membuka dinding itu. Dia benar, Bli.

I Wayan Pangukir  :

Artinya, Sri kita telah menemui keluargnya

Kita telah menemukan jalan untuk keluarga Bali. Dan kamu…..akan menjauhi hidup nya selama-lamnya. Tapi…….

I. Made Nuarta   :
Puteri tidak mungkin kawin dengan anak pelayan dapur.

I Wayan Pangukir  :

Saya tahu, tapi…..

I. Made Nuarta  :

Kita akan tetap pada rencana kita dan tidak ada yang  berubah.

I Wayan Pangukir   :

Kamu harus beritahu dia.

Saraswati   :

Beritahu  apa  ?

I. Made Nuarta   :

Alangkah…., alangkah……, cantiknya dia.

Saraswati   :

Baik. Terimakasih.

I. Made Nuarta   :

Lihat itu dia.

Saraswati   :

Tolong. Biar Ibu Suri ingat saya.

I. Made Nuarta   :

Semunya akan berjalan lancar.

Yakinlah, saatnya akan tiba.

Rileks, kamu akan baik-baik saja.

Tarik nafas. Semunya pasti akan berjalan lancar.

Tunggu disini sebentar. Saya masuk dan memberitahukan tentang kamu dulu.

Saraswati   :

I. Made Nuarta ……

I. Made Nuarta   :

Ya……?

Saraswati   :

Dengarlah, kita telah melewati semua ini bersama-sama.

Dan saya hanya mau……..

I. Made Nuarta    :

Ya……..?

Saraswati    :

Baik….., terima kasih, saya rasa…….

Ya, saya berterima kasih kepadamu. Untuk semunya.

I. Made Nuarta   :

Sri, saya……..

Saraswati   :

Ya ?

I. Made Nuarta   :

Saya, saya……

Saraswati   :

Ya ?

I. Made Nuarta    :

Saya pasti mendoakan kamu, saya rasa…….,

Semoga berhasil.

Baik, ini dia.

………………………….

I. Made Nuarta    :

Tolong beritahu kepada Yang Mulya, Ibu Suri. Saya telah menemukan cucunya, Yang Mulia Putri Saraswati.

Dia menunggu beliau untuk berjumpa. Ia ada di luar.

Pelayan    :

Maafkan saya, anak muda. Ibu Suri sudah banyak berjumpa dengan orang-orang yang seperti itu.

Nenek     :

Beritahu dia. Saya tidak mungkin bisa menemui Putri Saraswati lagi hingga akhir hayat saya.

Pelayan    :

Lebih baik kamu pergi.

I. Made Nuarta    :

Tolong, ijinkan saya……..

Nenek    :

Sekarang, jika kamu ijinkan saya, saya akan melupakannya seumur hidup.

Pelayan   :

Saya akan mengantar kamu hingga ke pintu. Ayo, mari sekarang, kuantar.

I. Made Nuarta   :

Yang Mulia. Saya tidak bermaksud mengganggu yang Mulia. Nama saya I. Made Nuarta. Saya dulu bekerja didalam istana.

Nenek   :

Jadi, itu saya tidak pernah dengar, saya mesti berkata apa?

I. Made Nuarta   :

Tunggu. Jangan pergi, tolong.

Jika Yang Mulia dengar saya…….

Nenek   :

Saya tahu apa yang kamu mau. Saya pernah jumpa kamu sebelum ini. Lelaki yang melatih perempuan-perempuan muda dalam istiadat bangsawan untuk mengaku sebagai cucuku.

I. Made Nuarta   :

Tapi jika Yang Mulia akan dengar……

Nenek   :

Tidakkah kamu mengerti. Cukup. Saya sudah tahu berapa banyak usaha kamu pada dia untuk menyerupai Saraswati. Bersuara seperti dia. Dan berkelakuan macam dia. Akhirnya, ia bukan dia juga.

I. Made Nuarta   :

Kali ini dia adalah dia yang sesungguhnya.

Nenek    :

I. Made Nuarta, saya dengar itu. Kamu adalah penipu dari Panjalu. Yang tak henti-hentinya mencari seseorang yang mirip dengan Saraswati.

I. Made Nuarta   :

Tapi, kami datang dari Bali.

Nenek   :

Dan yang lain datang dari berbagai penjuru

I. Made Nuarta   :

Tidak. Itu bukan yang kamu pikirkan.

Nenek   :

Berapa kerugian biaya yang telah kamu keluarkan untuk dia sekarang.

I. Made Nuarta   :

Tapi dia adalah Saraswati, saya beritahu dia. Coba lihat.

________________________________________________________________________

Saraswati    :

Ini semua penipuan, bukan ?

I. Made Nuarta   :

Bukan. Bukan.

Saraswati   :

Kamu mempergunakan saya ? saya hanya sebagai alat dalam penipuan kamu untuk mendapatkan uang ?

I. Made Nuarta   :

Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Sebelumnya……, semunya sudah berubah sekarang. Karena kamu memang Saraswati yang sesungguhnya. Kamu ialah……….

Saraswati   :

Hentikan ! dari semula kamu memang penipu ! dan saya bukan saja percaya kamu.

Saya sebenarnya………

I. Made Nuarta   :

Sri, tolong. Apabila kamu ingat pintu dan dinding yang dibuka, dan anak laki-laki  itu……

Dengar sebentar, itu ialah……..

Saraswati   :

Tidak  !

Saya tidak mau lagi mendengar apa apa dari kamu.

Biarkan saya !

I. Made Nuarta   :

Sri, tolong. Kamu perlu tahu yang sebenarannya.

………………………..

Sopir    :

Yang Mulia……..

Nenek    :

Ilya , perlahan sedikit.

I. Made Nuarta   :

Saya bukan Ilya. Dan saya tidak akan perlahankan, sebelum anda dengar.

Nenek   :

Kamu….!

Beraninya kamu ? Hentikan mobilnya. Hentikan !

I. Made Nuarta   :

Anda perlu bicara dengannya.

Temui dia, tolong.

Nenek   :

Saya tidak akan mengganggu kamu lagi.

I. Made Nuarta   :

Apakah anda ingat benda ini  ?

Nenek   :

Darimana kamu dapat ini  ?

I. Made Nuarta   :

Saya tahu anda bersedih, tapi dia juga telah merasa kehilangan seperti Yang Mulia.

Nenek   :

Kamu tidak akan berhenti bukan  ?

I. Made Nuarta   :

Saya sebenarnya gundah seperti anda.

……..;……………………..

Saraswati    :

Pergi dari sini, I. Made Nuarta.

Maafkan saya, saya rasa kamu ……..

Nenek    :

Saya tahu dengan jelas siapa kamu. Siapa kamu sebenarnya ?

Saraswati   :

Saya berharap kamu yang memberitahukan saya.

Nenek   :

Sayang, saya sudah tua dan saya letih untuk ditipu dan dibohongi.

Saraswati    :

Saya tidak mau membohongi kamu.

Nenek    :

Dan saya sepatutnya tahu bahwa uang tidak penting bagi kamu, bukan  ?

Saraswati   :

Saya hanya hendak tahu siapa saya. Apakah saya masih punya keluarga. Apakah saya keluarga Nenek.

Nenek   :

Kamu adalah seorang aktris yang baik. Yang terbaik, sebenarnya. Tapi saya ada yang dicari….

Saraswati    :

Peppermint ?

Nenek   :

Minyak untuk tangan saya.

Saraswati    :

Ya.Saya pernah menumpahkannya sebotol di karpet itu dan setelah meresap karpet berbau mint selamnya. Seperti Nenek. Saya juga lelah dan saya sungguh rindu pada orang-orang tercinta yang tiada. Hingga akhirnya saya datang ke sini. Batavia.

Nenek    :

Apa itu ?

Saraswati   :

Ini ? jadi, saya selalu membawa ini, sejak saya tidak boleh memikirkannya.

Nenek    :

Boleh saya lihat ? ini adalah rahasia kita. Saraswatiku. Milikku yang paling berharga.

Saraswati   :

Kotak musik itu, membuat saya tidur, semasa Nenek di Batavia.

(menyanyi)

Dengar lagu ini  dan ingat

Kamu akan tidak lama lagi

Baik dengan saya

Nenek    :

Saraswati  ! Saraswati cucuku!

…………………….

Mpu Pangukur     :

Kacung, berikan saya sikat

Cari sedikit minyak wangi. Saya mau lihat yang terbaik.

Kacung   :

Itu mungkin karena kerja lebih, tuan.

Kita akan berpesta.

Mpu Pangukur   :

Berpesta di Batavia.

Kacung    :

Betul itu. Saya bisa mengajarkan kamu menari. Ia memulai dengan…..dan kamu betul-betul bergembira, tuan. Ia sangat menarik.

Mpu Pangukur   :

Kita akan biarkan Tuan Putri Saraswati menikmatinya.

Kacung    :

Siapa ambil resiko ?

Mpu Pangukur   :

Dan setelah itu kita bunuh dia.

Kacung   :

Betul, dan lepas….. bunuh dia ? Tuan, apa terjadi pada pesta itu ?

Mpu Pangukur   :

Di siitulah kita akan bunuh dia. Hancurkan dia pada saat masa kemenangannya.

Kacung   :

Dan kita akan kembali menghancurkannya. Tuan, saya merayu kamu. Tolong, tolong. Lupakan anak itu dan mulailah hidup baru.

Mpu Pangukur   :

Saya akan dapat hidup itu, Kacung. Dia !

……………………

Saraswati :

Saya ingat sekarang, betapa saya menyayangi mereka.

Nenek    :

Mereka tidak mau kita hidup seperti masa lampau, bukan ? Sekarang kita berjumpa kembali. Lihat kemari. Lukisan yang kamu berikan pada saya, ingat ?

Saraswati   :

Ya, Asoka membuat saya marah. Dia bilang saya kelihatan seperti babi sedang menunggang keledai.

Nenek    :

Betul kata dia.

Saraswati    :

Dalam senyummu. Sekali lagi saya mendengar nama ejekan di masa kecil saya,

Nenek  `:

Kamu sangat mirip dengan  ayahandamu.

Tapi kamu memiliki kecantikan ibumu, Gusti Ayu Larasati ibu negara Panjalu.

……………………….

I. Made Nuarta   :

Yang Mulia, memanggil saya ?

Nenek    :

Satu juta gulden, seperti yang sudah dijanjikan, dengan tulus.

I. Made Nuarta    :

Saya melakukannya dengan ketulusan, Yang Mulia. Saya tidak mau menerima uang ini.

Nenek    :

Jadi, apa yang kamu inginkan ?

I. Made Nuarta   :

Sayangnya, tidak ada apapun yang saya ingikan sekarang.

Nenek   :

Anak muda, dari mana kamu dapatkan kotak musik itu ? Kamulah anak itu, bukan ? pegawai  istana yang pernah membebaskan kami. Kamu telah menyelamatkan Saraswati dan saya, lalu kamu mempertemukan kami kembali. Apakah betul kamu tidak mau menerima hadiah ?

I. Made Nuarta   :

Tidak lagi.

Nenek   :

Kenapa berubah pikiran ?

I. Made Nuarta   :

Ini lebih kepada perubahan hati. Saya harus pergi.

Saraswati    :

Hei. I. Made Nuarta.

I. Made Nuarta    :

Hello.

Saraswati   :

Sudah kamu ambil hadiah kamu ?

I. Made Nuarta   :

Saya sudah menyelesaikan urusan saya.

Pelayan istana   :

Anak muda. Seharusnya kamu menunduk dan mengucapkan “Puteri” dengan “Yang Mulia”

Saraswati   :

Tidak. Itu tidak perlu.

I. Made Nuarta :

Yang Mulia, saya gembira karena  apa yang kamu cari selama ini sudah ditemukan.

Saraswati   :

Ya, mudah-mudahan kamu juga gembira dengan apa yang kamu cari selama ini..

I. Made Nuarta   :

Baiklah, selamat tinggal Yang Mulia.

Saraswati    :

Selamat tinggal.

……………………..

I Wayan Pangukir   :

Kamu sangat hebat. Kamu sudah mengambil hatinya ? Tidak, pastinya tidak. Kamu adalah pengecut yang hebat.

I. Made Nuarta    :

Baiklah, jika kamu ke Panjalu lagi, carilah saya. Selamat tinggal, Bli.

I Wayan Pangukir    :

Ah, anak muda. Kamu telah salah mengambil.……

I. Made Nuarta    :

Percayalah. Ini adalah keputusan yang paling betul. Selamat tinggal. Saya memang tidak boleh tinggal disini. Saya bukan kepunyaan negeri ini.

………………………

Nenek      :

Dia telah pergi.

Saraswati    :

Saya tahu dia telah pergi. Maksud nenek ?

Nenek    :

Anak muda yang hebat. Yang telah menemukan kotak musik itu.

Saraswati   :

Baiklah, mungkin sekarang dia sedang sibuk. Tadi kelihatannya sangat tergesa-gesa.

Nenek    :

Lihat mereka menari. Kamu telah dilahirkan dalam dunia yang dipenuhi oleh permata dan kehidupan yang mewah. Tapi saya pikir inilah yang kamu harapkan.

Saraswati    :

Tentu, tentu. Saya dapat menemukan apa yang selama ini saya cari. Saya dapat mengetahui siapa diri saya. Dan saya dapat berjumpa dengan Nenek..

Nenek    :

Ya, memang. Dan  kamu dapat memilki saya selamanya. Tapi apakah  cukup ? Sayangku……dia tidak mengambil uang itu.

Saraswati    :

Dia tidak mengambilnya  ?

Nenek    :

Mengetahui kamu masih hidup, melihat kamu menjadi seorang perempuan yang dewasa, saya merasa gembira. Saya rasa kamu harus menemui ia lagi.. apa yang kamu pilih.

Saraswati    :

Kita sudah bersama-sama serkarang. Menjadi sebuah keluarga. Nenek, tidak bolehkah kamu memberitahu saya…..  Buntel….., Buntel…..Buntel.

……………………..

I. Made Nuarta     :

Selamat tinggal untuk selamnya.

……………………………

Saraswati    :

Buntel ? Mari kesini. Itu dia.

Mpu Pangukur   :

Saraswati. Saraswati. Saraswati.

Tuanku yang agung. Lihat apa yang telah terjadi dalam masa sepuluh tahun ini. Kamu bunga yang cantik. Dan saya……..

Mayat yang tengah mati.

Saraswati    :

Wajah  itu.

Mpu Pangukur     :

Pada pesta yang akan berlangsung malam ini.

Saraswati    :

Satu kutukan

Mpu Pangukur      :

Saya  adalah satu malam tragedi  diatas tanah Bali. Ingat ?

Saraswati    :

Mpu Pangukur ?

Mpu Pangukur      :

Mpu Pangukur.

Menghancurkan keluarga kamu yang bahagia.. tapi apa yang sudah mati hidup kembali lagi. Dan kembali, dan kembali.

Saraswati     :

Berhenti ! Tidak !

Kacung     :

Kamu sendirian,  sekarang. Ini akan berakhir dengan air mata.

Saraswati    :

Saya tak takut pada kamu.

Mpu Pangukur    :

Saya akan selesaikan  ini. Mau berjalan dibawah kegelapan ? berdoalah, Saraswati. Tiada orang dapat menyelamatkan kamu ! Mau bertaruh ?

Saraswati   :

I. Made Nuarta !

………………………………………………………

Jika kita selamat, ingatkan saya untuk berterima kasih.

Mpu Pangukur   :

Bukan main. Bersama lagi. waktu dulu, kamu akan    dikeluarkan.

Saraswati     :

Tidak. I. Made Nuarta !

I. Made Nuarta      :

Awas.

Mpu Pangukur     :

Jimat Svidaniya.

I. Made Nuarta       :

Tunggu.

Mpu Pangukur     :

Saatnya,  Natarajasa terakhir meninggal.

I. Made Nuarta     :

Tidak……..!

Sri !

Mpu Pangukur     :

Natarajasa hidup lama. Ha ha ha….

Saraswati      :

Betul. Saya tak boleh berkata ini lebih baik.

Ini untuk I. Made Nuarta.

Mpu Pangukur     :

Kembalikan

Saraswati    :

Ini untuk keluarga saya !

Mpu Pangukur    :

Rasakan kamu nanti.

Saraswati    :

Dan  ini untuk    kamu, Svidaniya.

Saraswati    :

I. Made Nuarta.

I. Made Nuarta ! Tidak, tidak. Biar ia pergi. Biar ia pergi. Maafkan saya.

I. Made Nuarta     :

Ya., saya tahu. Saya tahu. Semua lelaki adalah bayi.

Saraswati       :

Saya dengar kamu mau pergi ke Panjalu…….

I. Made Nuarta   :

Betul

Saraswati    :

Kamu tak ambil hadiahnya….

I. Made Nuarta   :

Saya tak berhak.

Saraswati    :

Kenapa ?

I. Made Nuarta     :

Sebab, saya………

Mereka tengah menunggu kamu.

…………………

Nenek    :

(baca surat)

Nenek tersayang, semoga saja berbahagia

Kita akan bersama lagi di Batavia.

Sukarti    :

Satu kejutan.

Mereka telah menempuh jalan sendiri

Sangat  romantis.

Ini adalah akhiran yang sempurna.

Nenek    :

Tidak. Ini adalah permulaan yang sempurna.

Di atas kapal laut.

Saraswati dan I. Made Nuarta kembali bersama.

T A M A T.

Saraswati DRAMA MUSIKAL

Mohon maaf bila ada kesamaan nama orang dan nama tempat. Cerita adaptasi ini hanyalah rekaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: