Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

ARTIKEL PENDIDIKAN

Posted by lembursingkur pada Juni 3, 2009

PENERAPAN IPTEK

DALAM MENYIASATI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

UNTUK PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA TINGKAT SMP

OLEH

ENUNG MARTINA

SMP SANTA URSULA BUMI SERPONG DAMAI

TANGERANG-BANTEN

2007

ABSTAK

Kita hidup di dunia teknologi mulai dari yang sederhana sampai teknologi mutakhir. Salah satu hasil teknologi adalah alat-alat komunikasi yang kita sebut dengan media. Alat-alat komunikasi canggih hasil penemuan teknologi sekarang ini jauh dari apa yang mungkin dibayangkan oleh Alexander Graham Bell.

Berbagai media yaitu media cetak (seperti buku, koran, majalah, tabloid ) dan media elektonika (seperti radio,televisi, VCD, video games, komputer) merupakan benda yang tidak asing lagi bagi anak-anak, terutama di kota-kota.

Melalui berbagai media inilah berbagai informasi baik yang bermanfaat sampai yang menyesatkan bisa tersampaikan. Perlu kebijaksanaan dan kreativitas untuk memilih dan memilah media mana yang sesuai mana yang tidak untuk konsumsi anak dan remaja.

Tak perlu diperdebatkan lagi bahwa dalam dunia pendidikan pun media mempunyai peranan.  Ilmu pengetahuan dan juga berbagai keterampilan bisa dipelajari melalui media. Pembelajaran di sekolah pada saat ini berbeda jauh dengan sekian waktu yang lalu. Bila masa lalu ilmu tersampaikan melalui satu sumber utama yaitu guru yang mengajar di dalam kelas, kini selain guru yang mengajar masih ada alat Bantu lain yaitu media sebagai penyempurna apa yang diberikan guru.

Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi pun terus berkembang. Hal ini tentu membawa dampak perubahan pada perkembangan kurikulum di sekolah. Kurikulum yang disusun itu pun seyogyanya mampu menjawab kebutuhan masayarakat di tengah zaman yang terus berubah.

Demikian pula Kurikulum Tingkat Satuan  Pendidikan (KTSP) disusun dengan harapan mampu menjawab kebutuhan tersebut. Khusus dalam bidang pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, KTSP menampilkan standar kompetensi kebahasaan yang harus dimiliki oleh setiap siswa dalam setiap jenjang  sekolah.           Seperti yang sudah kita ketahui bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan anak(peserta didik), baik perkembangan intelektual, sosial, maupun emosional. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan

untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi  dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi  terhadap hasil karya sastra yang merupakan bagian dari seni dan budaya.

* Nung*

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi pada           pelajaran dan pemebelajaran di sekolah serta pada kebutuhan masyarakat        terhadap lulusan yang dihasilkan sekolah. Kurikulum yang dianggap sesuai pun disusun untuk menjawab kebutuhan ini.

Namun, seperti yang sudah kita ketahui bahwa setiap kurikulum berubah atau berganti, biasanya akan membawa kehebohan dan keribetan kepada para pelaksana kurikulum di lapangan. Seperti halnya yang sedang terjadi sekarang ini, terjadi kehebohan berkaitan dengan dicanangkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Di lapangan banyak ditemukan kebingungan dalam menghadapinya sehingga bermunculan singkatan kreatif pada KTSP seperti ‘kurikulum kate sape’, ‘kurikulum tidak siap pakai’, dll.

Berlatar dari  perkembangan IPTEK yang bisa menciptakan aneka   media penunjang pendidikan dan munculnya KTSP yang membawa kehebohan di lapangan dalam hal ini guru sebagai ujung tombak, maka        tulisan ini dibuat.Tulisan ini mengkhusus kan pada bidang pengajaran bahasa dan sasatra Indonesia di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

  1. Rumusan Masalah

Bagaimana menyiasati Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan  dalam pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di tingkat SMP dengan mengaitkannya dengan perkembangan IPTEK?

2. Tujuan Penulisan

Tulisan ini dibuat untuk menemukan cara yang tepat guna menyiasati KTSP     dengan memanfaatkan media sebagai salah satu hasil kemajuan IPTEK di          tingkat   SMP, khususnya dalam bidang pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Tujuan tersebut dapat dirinci menjadi:

a.  mengetahui sekilas tentang KTSP dengan keunikannya

b.   mengetahui  sekilas tentang karakteristik pelajaran bahasa dan sastra

Indonesia

c.   mengetahui secara garis besar tentang bagaimana pengaruh media

terhadap kehidupan remaja (anak SMP)

d.   mengetahui bagaimana implementasi KTSP dalam pelajaran bahasa dan

sastra Indonesia dengan memanfaatkan media.

3. Manfaat Penulisan

    1. Bisa mengetahui sekilas tentang KTSP dengan keunikannya
    2. Bisa mengetahui  sekilas tentang karakteristik pelajaran bahasa dan sastra Indonesia
    3. Dapat mengetahui secara garis besar tentang bagaimana pengaruh media terhadap kehidupan remaja (anak SMP
    4. Dapat mengetahui bagaimana implementasi KTSP dalam pelajaran bahasa dan sastra Indonesia dengan memanfaatkan media.
    5. Bisa menemukan cara yang tepat  untuk menyiasati KTSP dalam bidang pelajaran bahasa dan sastra Indonesia tingkat SMP.
    6. Bisa menemukan metode yang menarik dalam mengajar bahasa dan sastra Indonesia tingkat SMP.
    7. Dapat memanfaatkan media yang ada di sekitar sekolah (sesuai muatan lokal) untuk mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia.

4. Metodologi

Karya tulis ini disusun berdasarkan :

    1. Studi pustaka, yaitu dengan membaca buku-buku dan artikel yang terkait dengan permasalahan yang dibahas
    2. Studi empirik, yaitu didasarkan pada pengalaman yang dialami penulis selama mengajar bahasa dan sastra Indonesia di tingkat SMP

5. Landasan Teori

    1. Penerapan

Proses menerapkan suatu konsep atau teori terhadap kondisi dan situasi yang nyata

    1. IPTEK :

Ilmu pengetahuan dan teknologi

Ilmu     :

Pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang  (pengetahuan) itu.

Ilmu pngetahuan:

Gabungan beberapa pengetahuan yang disusun secara logis dan       bersisitem dengan memperhitungkan sebab dan akibat.

Teknologi:

Kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta yang       berdasarkan proses teknis.

    1. Menyiasati       :

1)      memeriksa, pemeriksaan yang teliti, penyelidikan

2)      meneliti dengan seksama

    1. Kurikulum       :

1)      Perangkat mata pelajaran  yang diajarkan pada lembaga pendidikan

2)      Perangkat mata kuliah mengenai bidang keahlian khusus

    1. Pelajaran bahasa dan sastra Indonesia

Pelajaran resmi di sekolah-sekolah yang berisi tentang kaidah kebahasaan, penggunaan kaidah dalam kegiatan berbahasa, keterampilan berbahasa, dan juga memperkenalkan hasil karya kesustraan Indonesia sebagai salah satu hasil kreativitas bangsa Indonesia yang bisa diapresiasi.

    1. Tingkat SMP

Tingakatan sekolah sesudah sekolah dasar. Peserta didik pada tingkat ini berkisar antara usia 12 sampai dengan 15 tahun.

PEMBAHASAN ISI

1. Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP)

Permasalahan pendidikan selalu menjadi bahan perhatian masyarakat,         baik pelaku pendidikan maupun pemerhati pendidikan.  Namun, khusus masalah           yang berkaitan denagn kurikulun, tentunya yang akan banyak          memperbincangkan,    mendiskusikan, sampai  memperdebatkannya adalah pelaku       pendidikan dan yang terkait.

Harapan masyarakat tentang pendidikan adalah agar sekolah menghasilkan             lulusan yang       berkualitas yang mampu beradaptasi sesuai    dengan jenjang usia,    jenjang pendidikan,dan perkembangan zaman saat itu. Mewujudkan harapan itu             nampaknya bukan       pekerjaan yang mudah. Karena itu, salah satu cara untuk      memenuhi harapan masyarakat tadi yaitu dengan selalu meninjau ulang       kurikulum       pendidikan nasional yang dipakai di sekolah-sekolah.

Dari peninjauan tersebut kita mengenal ada beberapa nama kurikulum         yang digunakan di sekolah yang berbasis nasional, entah negri atau swasta. Kurikulum tersebut antara lain Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum   Berbasis Kompetensi (KBK), dan yang paling baru adalah Kurikulum Tingkat        Satuan Pendidikan(KTSP).

KTSP adalah kurikulum oprasional yang disusun, dikembangkan, dan         dilaksanakan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk mengembang        kan program pendidikan yang sesuai dengan:

  1. kondisi lingkungan sekolah
  2. kemampuan peserta didik
  3. sumber belajar yang tersedia
  4. kekhasan daerah (muatan lokal)

Bila dicermati dengan baik, KTSP sebetulnya mempunyai keunggulan        tersendiri, antara lain:

  1. meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah
  2. memberikan kelonggaran dan kebebasan pada sekolah untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum
  3. meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembang an kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama

Namun, di samping hal-hal baik di atas, ada beberapa konsekwensi dari      KTSP, antara lain:

  1. seperti kurikulum baru umumnya,  pada awal pelaksanaannya memerlukanwaktu untuk penyesuaian
  2. menuntut perubahan cara berpikir:

* dahulu sekolah tinggal menerima kurikulum jadi dan langsung            melaksanakannya, sekarang sekolah harus menentukan dan menyusun      sendiri sesuai kondisi sekolahnya berdasarkan kurikulum dasar (KTSP) yang   ada.

*    kepala sekolah dan guru dituntut untuk lebih gesit dalam     menyiasatinya

*    guru dituntut lebih kreatif untuk mencari bahan dan metode dalam pelaksanaannya

3. menuntut sekolah untuk menyediakan fasilitas  yang memadai untuk menunjang pelaksanaanya

Dari uraian sekilas tentang KTSP di atas,  hal yang perlu kita ingat adalah semua kurikulum dengan kelemahan dan kelebihannya menuntut sekolah, khususnya guru untuk melaksanakannya dengan  baik dan bertanggung jawab. Kurikulum bukan hanya untuk dibicarakan, didiskusikan, atau diperdebatkan, tetapi  yang penting untuk dilaksanakan.

2. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP

Bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua bagi sebagian besar anak di      Indonesia. Ada anak Indonesia yang bahasa pertamanya bahasa daerah (Sunda, Madura,  Jawa, Batak, Padang, dll) dan ada juga yang bahasa pertamanya bahasa asing  (Inggris, Jerman, Mandarin, dll). Di masyarakat tertentu ada  bahasa Indonesia nonstandar yang digunakan dengan dialek tertentu, contohnya  seperti bahasa Indonesia Jakarta (Betawi).

Situasi seperti ini bukanlah sesuatu yang aneh bagi anak-anak Indonesia. Pada umumnya anak Indonesia memperoleh bahasa nonstandar sebagai bahasa pertama, kemudian baru belajar bahasa standar di sekolah.

Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk             meningkatkan kemampuan mereka untuk berkomunikasi dalam bahasa          Indonesia dengan baik dan benar, secara lisan dan tulis, dan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hasil kesustraan Indonesia.

Bagi guru pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi juga sebagai     sarana untuk membantu peserta didik mengemukakan gagasan, pendapat, dan     perasaan. Selain itu,  bahasa Indonesia digunakan juga agar peserta didik mampu beradaptasi dalam masyarakat pengguna bahasa Indonesia dan mampu untuk menemukan  serta menggunakan kemampuan analisis dan imajinasinya.

Guru menghadapi tantangan dalam mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia di sekolah karena guru  menghadapi peserta didik  dari     berbagai latar   belakang  sosial-budaya yang berbeda.  Tantangan itu tidak hanya pada mengajarkan materi bahasa dan sastra Indonesia saja, tetapi juga    membentuk sikap peserta didik terhadap bahasa dan sastra Indonesia.      Pekerjaan yang tidak mudah tentunya.

Bila kita menmbaca  KTSP bahasa Indonesia dengan cermat, standar kompetensi  pelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk SMP merupakan kualifikasi kemampuan minimal  peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional,             dan global.

Tujuan  pelajaran bahasa dan sastra Indonesia seperti yang tercantun           dalam KTSP adalah:

  1. Berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
  2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahaas negara
  3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
  4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
  5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
  6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Dari tujuan di atas menunjukkan kepada kita bahawa sasaran pelajaran bahasa dan sastra Indonesia bukan hanya pada ranah kognitif saja, tetapi psikomotorik dan afektif pun menjadi bagian dari pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Untuk mencapai tujuan di atas, jelas dierlukan kretivitas dan tanggung jawab yang besar dari guru. Seorang guru tidak hanya cukup menguasai materi saja, tetapi banyak tuntutan lain yang harus dipenuhi agar menjadi guru yang berkualitas.

3. Remaja di Belantara Media

Media dan remaja dewasa ini adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagi para remaja MTV, American Idol, film, internet, game on line, dan jinggle iklan adalah hidup mereka. Mereka bepergian menemui berbagai hal dan melanglang buana  melalui dunia maya, merupakan keseharian mereka. Pokoknya, media gue banget! Begitulah ungkapan yang tepat menurut bahasa mereka.

Remaja berada dalam budaya semacam ini. Ketika jati diri dapat dipungut dan komunikasi antar orang tua dan remaja lemah, media memainkan peran penting dalam kehidupan mereka. Remaja memandang tokoh media  untuk gaya hidup mereka  (berpakaian, tingkah laku yang ‘gaul’, bahkan nilai-nilai kepercayaan untuk memandu hidup mereka).

Remaja belajar keteladanan orang dewasa (orang tua, guru, pemimpin agama, dll) dengan mengonsumsi media massa. Mereka melihat tokoh orang dewasa  dari film dan sinetron yang dilihatnya. Seorang guru dalam sinetron Indonesia identik dengan tokoh yang ndeso, pandir, dan tentu saja jauh dari gambaran tokoh yang bisa menjadi teladan. Hal ini bisa menanamkan persepsi pada remaja bahawa orang dewasa, contohnya guru merupakan sumber masalah, bukanlah orang yang bisa membantu remaja menjadi berkembang ke arah yang positif.

Namun, di samping kasus di atas , bagi banyak remaja, media merupakan sebuah jendela pengetahuan yang mamapu memberikan pengetahuan yang tidak bisa semuanya didapatkan di bangku sekolah. Dua sisi media (positif-negatif) akan selalu ada, tetapi hendaknya kita mampu memanfaatkan ini dengan bijaksana untuk mendapatkan pengetahuan dengan tepat.

Semua ini seyogyanya  menjadi bahan pertimbangan untuk para guru dalam memanfaatkan media sebagai sumber belajar yang menarik. Ketertarikan  remaja terhadap media kita gunakan sebagai access untuk meraih tujuan mencerdaskan mereka lewat media.  Dengan demikian, guru bisa membawa peserta didik  untuk belajar dengan lebih optimal. Dengan begitu, media bukan lagi sesuatu yang bisa menyeret mereka ke arah  yang negatif.

Karena itu, pendidikan nilai yang diselipkan dalam pelajaran sangat berarti bagi siswa untuk menjadi pedoman bagi mereka. Siswa sudah mempunyai nilai yang ia dapatkan dalam keluarga dan lingkungan masyarakatnya. Mereka membawa nilai dalam diri mereka. Permasalahannya, ada nilai dalam masyarakat yang bertentangan dengan nilai yang dipelajarinya di sekolah. Misalnya, masyarakat mengenal nilai ‘budaya instan’, kalau ingin kaya bisa cepat dengan korupsi. Namun, di sisi lain ada nilai daya juang dan kejujuran yang diusahakan oleh sekolah untuk bisa berkembang dalam diri mereka.

Perbenturan nilai seperti ini akan sering terjadi. Tentu saja dalam hal ini media salah satu yang bisa menyampaikan nilai-nilai dunia yang selalu berbenturan dengan nilai-nilai kemanusiaan atai keilahian. Dalam hal ini dibutuhkan kejelian seorang pendidik untuk memanfaatkan media. Media yang tadinya banyak menawarkan nilai-nilai dunia, bisa dikendalikan untuk menyampaikan nilai kemanusissn atau keilahian.

4. Penerapan dalam Pembelajaran

Dalam subjudul ini akan dibahas beberapa contoh cara guru memanfaatkan media dalam pelajaran bahasa dan sasatra Indonesia yang sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk tingkatan SMP. Akan ditampilkan beberapa contoh rencana pembelajaran yang sudah memperhatikan pemanfaatan media.

Dalam contoh program ini, ditampilkan pula pendidikan nilai apa yang ingin diraih. Pada setiap akhir pelajaran guru akan mengadakan semacam refleksi atau peneguhan akan materi yang didapatkan dengan relevansinya pada kehidupan mereka.

Contoh 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Sekolah SMP Santa Ursula BSD
Mata Pelajaran Bahasa Indonbesia
Kelas   /Semester VII/2
Standar Kompetensi Mengungkapkan  pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan menanggapi cerita.
Kompetensi Dasar Menceritakan tokoh idola dengan mengemukakan  identitas dan keunggulan tokoh, serta alasan mengidolakannya dengan pilihan kata yang sesuai
Indikator
  1. Mampu menyarikan riwayat hidup tokoh
    1. Mampu menyimpulkan keistimewaan tokoh
    2. mampu memperoleh pendidikan moral/keteladanan dari tokoh
Alokasi Waktu 2×45 menit

1. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat mengambil keteledanan dari tokoh yang dibacanya

2.  Materi Pembelajaran

a. Cara-cara membuat ikhtisar bacaan

b. Riwayat hidup tokoh

c. Kesimpulan dari biografi tokoh

d. Keteladanan dari tokoh

3. Metode Pembelajaran

a. Tanya jawab

b. Pemodelan

c. Diskusi

d. Penugasan

4. Langkah Kegiatan Pembelajaran

a. Kegiatan awal

1)  Siswa diajak melihat contoh teks tentang salah satu riwayat hidup tokoh

2)  Siswa dan guru bertanya jawab tentang isi wacana

3)  Siswa berkelompok lima-lima

b. Kegiatan inti

1) Siswa menjawab pertanyaan tentang tokoh dalam wacana dalam kelompok

2) Siswa menyusun kesimpulan tentang tokoh dalam bacaan

3) Siswa membaca buku riwayat hidup di perpustakaan

4) Siswa membuat ikhtisar dari biografi tokoh yang dipilihnya

5) Siswa membuat kesimpulan dari riwayat tokoh yang dipilihnya

6) Siswa mencari keteladanan dari tokoh yang dipilihnya

7) Siswa menceritakan kembali ringkasan tentang tokoh idolanya

c.  Kegiatan akhir

1) Siswa dan guru membuat kesimpulan dari hasil membaca

2) Siswa mencari nilai/ pesan moral dari tokoh idola

3) Siswa memberikan pendapatnya

5. Sumber Belajar

  1. Koran
  2. Buku biografi
  3. Buku Pelajaran Bahasa Indonesia

6. Penilaian

a.   Teknik                         : Penugasan.

b.   Bentuk            instrumen        : Tugas proyek

Soal/Instrumen

  1. Buatlah karangan tentang tokoh idolamu dalam lima paragraf dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta komunikatif!
  2. Sebutkan keistimewaan dari tokoh idolamu yang kamu tuliskan di atas!
  3. Keteladanan apa yang bisa kamu petik dari tokoh idolamu itu?

Pedoman penyekoran:

No

Aspek

Deskrpisi

Skor

1 Karangan

  • Diksi
  • Kelengkapan isi
  • Ejaan
  • Diksi menarik dan tepat
  • Diksi cukup menarik
  • Diksi kurang menarik

* Karangan lengkap

* Karangan cukup lengkap

* Karangan kurang lengkap

* Tanpa kesalahan ejaan

* Kesalahan ejaan tiga

* Kesalahan 4-8

3

2

1

3

2

1

3

2

1

2 Keistimewaan tokoh
  • menyebutkan 5 keistimewaan atau lebih
  • menyebutkan 4 keistimewaan
  • menyebutkan 3 keistimewaan
  • menyebutkan 2 keistimewaan
  • menyebutkan 1 keistimewaan

5

4

3

2

1

3 Keteledanan
  • menyebutkan lebih dari 2 keteladanan
  • menyebutkan 2 keteladanan
  • menyebutkan 1 keteladanan

3

2

1

Jumlah skor

17

Skor Maksimal  17 X100% =  10

Pendidikan nilai yang ditekankan : Nilai daya juang

Contoh 2

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Sekolah : SMP
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas   /Semester : VIII/1
Standar Kompetensi Mengungkap berbagai informasi melalui wawancara dan presentasi laporan
Kompetensi Dasar Berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara
Indikator
  1. mampu memnyusun pertanyaan wawancara
  2. Mampu mengajukan pertanyaan tentang data pribadi narasumber
  3. Mampu menuliskan data pribadi narasumber
  4. Mampu menuliskan keteladanan dari narasumber
Alokasi Waktu 2 x 45 menit

1. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menulis kembali hasil wawancara menjadi sebuah narasi

2.  Materi Pembelajaran

a. Langkah-langkah berwawancara

b. Pertanyaan wawancara

c. Data pribadi tokoh yang diwawancara

d. Karangan narasi dari hasil wawancara

3. Metode Pembelajaran

a. Tanya jawab

b. Pemodelan

c. Demonstrasi

d. Penugasan

4. Langkah Kegiatan Pembelajaran

a. Kegiatan awal

1)  Siswa diajak melihat contoh teks percakapan wawancara

2)  Siswa melihat contoh orang mewawancarai dari acara televisi/rekaman

3)  Siswa dan guru bertanya jawab tentang langkah-langkah wawancara

4)  Siswa berkelompok lima-lima

b. Kegiatan inti

1) Siswa menentukan topik dan tokoh yang akan diwawancarai dalam

kelompok

2) Siswa menyusun pertanyaan wawancara dalam kelompok

3) Siswa membagi tugas untuk berwawancara dalam kelompok

4) Siswa melakukan wawancara dengan memperhatikan etika

5) Siswa menyusun narasi berdasarkan hasil wawancara

6) Siswa membacakan hasil wawancara di depan kelas

7) Siswa dari kelompok lain  menanggapi hasil wawancara yang dibacakan di

depan

c.  Kegiatan akhir

1) Siswa dan guru membuat kesimpulan dari hasil wawancara

2) Siswa mencari nilai/ pesan moral dari berwawancara

3) Siswa memberikan pendapatnya tentang kegiatan tersebut

5. Sumber Belajar

a.   Rekaman wawancara

b.  Buku Pelajaran Bahasa

6. Penilaian

a.   Teknik                         : Penugasan.

b.   Bentuk            instrumen        : Tugas proyek

c.   Soal/Instrumen               :

1)      Buatlah lima pertanyaan untuk mewawancarai seorang ketua panitia Pentas Seni di sekolahmu!

2)      Buatlah lima pertanyaan berkaitan dengan data pribadi tokoh yang akan   kamu wawancarai!

3)      Buatlah narasi dari hasil wawancara dengan salah satu tokoh yang diwawancara!

Pedoman pensekoran:

1)        Tiap satu pertanyaan berbobot satu

2)        Tiap pertanyaan berbobot satu

3)        Narasi  yang dibuat

No

Aspek

Deskrisi

Skor

1 Kelengkapan isi
  • Isi narasi lengkap (terdapat 5 W + 1 H)
  • Isi narasi mendekati lengkap (ada 4 atau lebih  unsur)
  • Isi narasi tidak lengkap (kurang dari 4 unsur berita)

4

2

1

2 Kesesuaian isi
  • Semua tulisan sesuai dengan data hasil wawancara
  • Sebagian kecil narasi tidak sesuai dengan hasil wawancara
  • Sebagian besar narasi tidak sesuai dengan hasil wawancara
  • Sama sekali tidak sesuai narasi dengan hasil wawancara

4

3

2

1

3 Sistematika
  • Urut-urutan sesuai
  • Urut-urutan tidak sesuai

2

0

4

5.

Penggunaan ejaan dan tanda baca

Bahasa dan pilihan kata

  • Tidak ada kesalahan penggunaan ejaan dan tanda baca
  • Terdapat sedikit kesalahan penggunaan ejaan dan tanda baca
  • Sebagian besar penulisan ejaan dan tanda baca salah
  • Penggunaan ejaan dan tanda baca salah semua
  • Memakai bahasa yang sesuai dan pilihan kata yang tepat
  • Memakai bahasa dan pilihan kata kurang tepat.
  • Memakai bahasa dan pilihan kata tidak tepat

5

3

1

0

5

3

1

Jumlah Skor Maksimum

20

Skor Maksimal  soal no. 1 :   5

no. 2 :   5

no. 3 : 20

30

30 = 10

3

Pendidikan nila : Tanggung jawab

Contoh 3

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Sekolah : SMP
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas   /Semester : IX /1
Standar Kompetensi 6. Mengungkap kembali puisi dalam bentuk lain.
Kompetensi Dasar 6.2 Menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan pedoman pada kesesuaian isi puisi
Indikator
  1. Mampu mencari kata sukar dari puisi
  2. Mampu menemukan majas yang digunakan dalam puisi
  3. Mampu menemukan rima /sajak dalam puisi
  4. Mampu mengubah puisi menjadi bentuk prosa
  5. Mampu menggubah puisi menjadi sebuah lagu
  6. Mampu menyanyikan puisi yang sudah digubahnya menjadi lagu
Alokasi Waktu 4 x 45 menit

1. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasikan

2.  Materi Pembelajaran

a. kata sukar/pilihan kata

b. majas dalam puisi

c. rima

d. parafarse puisi

e. musikalisasi

f. pementasan musikalisasi

3. Metode Pembelajaran

a. Tanya jawab

b. Demonstrasi

c. Penugasan

4. Langkah Kegiatan Pembelajaran

a. Kegiatan awal

1)  Siswa diajak menyimak contoh musikalisasi puisi dari CD/kaset yang

didengarkan (contoh lagu Ebit atau Bimbo)

2)  Siswa mencatat hal yang menarik dari lagu yang didengarkannya

3)  Siswa dan guru bertanya jawab tentang musikalisasi puisi

4)  Siswa berkelompok lima-lima

b. Kegiatan inti

1) Siswa menentukan puisi yang akan dimusikalisasi  dalam kelompok

2) Siswa menganalisis puisi yang dipilihnya dalam kelompok

3) Siswa menggubah puisi menjadi lagu dalam kelompok

4) Siswa menyanyikan puisi yang sudah digubahnya

7) Siswa dari kelompok lain  menanggapi penampilan musikalisasi puisi

c.  Kegiatan akhir

1) Siswa dan guru membuat kesimpulan dari kegiatan musikalisasi puisi

2) Siswa mencari nilai/ pesan moral dari puisi yang dipilih masing-masing

5. Sumber Belajar

a.   Rekaman lagu puitis

  1. Buku Pelajaran Bahasa
  2. Buku kumpulan puisi
  3. Majalah/koran yang berisi puisi

6. Penilaian

a.   Teknik                         : Unjuk kerja.

b.   Bentuk            instrumen        : Uji petik prosedur dan hasil

c.    Soal/Instrumen                       :

Kerjakan dalam kelompok!

  1. Pilihlah salah satu puisi yang menurutmu menarik!
  2. Sesudah itu analisislah puisi tersebut berdasarkan pada ketentuan:
    1. kata sukar dengan artinya
    2. majas yang digunakan
    3. rimanya
    4. Ubahlah puisi tersebut menjadi bentuk prosa!
    5. Gubahlah puisi tersebut menjadi sebuah lagu yang sesuai dengan memperhatikan keutuhan isinya!
    6. Nyanyikanlah puisi yang sudah digubah tersebut di depan kelas, boleh menggunakan instrumen pengiring!

Pedoman pensekoran:

No

Aspek

Deskrisi

Skor

1 Pemilihan puisi
  • Puisi menarik dan cocok untuk anak SMP
  • Puisi yang menarik , kurang cocok untuk anak SMPatau kurang menarik, tetapi cocok
  • Puisi yang kurang cocok dan kurang menarik
  • Puisi tidak menarik dan tidak cocok

4

3

2

1

2 Analisis Puisi
  • Analisis ketiga unsur benar semua
  • Dua unsur yang dianalis benar
  • Satu unsur yang dianalisis benar
  • Analisis tidak sesuai

4

3

2

1

3 Penggubahan puisi menjadi lagu
  • Puisi digubah dengan lagu ciptaan sendiri
  • Puisi digubah dengan  lagu ciptaan sendiri, tetapi masih mengambil sebagian dari lagu yang sudah ada
  • Puisi digubah dengan cara mengadaptasi lagu yang sudah ada

3

2

1

4. Menyanyikan puisi

  1. Kelancaran
  1. Kekompakan
  1. Pilihan lagu/kesesuaian
  1. Kreativitas
  • Dinyanyikan dengan lancar
  • Dinyanyikan cukup lancar
  • Dinyanyikan kurang lancar
  • Dinyanyikan tidak lancar
  • Dinyanyikan dengan kompak
  • Dinyanyikan cukup kompak
  • Dinyanyikan kurang kompak
  • Dinyanyikan tidak kompak
  • Lagu sesuai dengan puisi
  • Lagu kurang sesuai dengan puisi, ada tambahan kata-kata
  • Lagu banyak mengubah puisi aslinya
  • Lagu benar-benar diubah dari puisi aslinya
  • Menambahkan instrumen musik dan gerakan yang sesuai
  • Menambahkan instrumen, tetapi tidak ada gerakan
  • Menambahkan gerakan, tetapi tidak ada instrumen
  • Tidak menambahkan gerakan instrumen dan gerakan

4

3

2

1

4

3

2

1

4

3

2

1

4

3

2

1

Jumlah skor maksimum

27

27 = 10 X 100%

Pendidikan Nilai : penghargaan terhadap karya

PENUTUP

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah, sosial budaya masayarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Penyususnan dan pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing tingkat satuan pendidikan. Melihat KTSP yang seperti ini, Guru dan sekolah di berbagai daerah diberi peluang untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan kondisi yang dimilikinya (sekolah, siswa, daerah).

Mengingat bahwa masayarakat yang ada di sekitar sekolah membutuhkan dan menuntut dari sekolah lulusan yang mampu dan siap untuk terjun dalam kancah bermasyarakat sesuai dengan usia peserta didik, maka guru dituntut mampu untuk membawa peserta didik mendapatkan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian  diharapkan guru bisa mengembangkan potensi para siswanya dengan memperhatikan kondisi siswanya. Siswa SMP sedang menginjak masa pubertas tahap kedua atau remaja menengah, yang dalam keseharian mereka sangat tertarik dengan hal-hal yang ditawarkan oleh media. Guru diharapkan untuk melihat hal ini dan mengangkatnya menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan pelajaran.

Jika kita melihat kembali pada latar belakang keadaan masayarakat Indonesia yang beraneka, hal ini menciptakan pula pengalaman mendapatkan bahasa Indonesia berbeda-beda. Karena itu, pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah Indonesia mempunyai keunikan tersendidri. Selain itu,  standar kompetensi dalam KTSP untuk pelajaraan bahasa dan sastra Indonesia menuntut peserta didik terampil berbahasa dengan baik secara lisan atau tulis, maka guru hendaknya mempunyai strategi untuk menyiasati ini semua.

Dengan demikian tujuan untuk mencapai pendidikan Indonesia menjadi lebih baik bukan hanya sekedar wacana. Tujuan itu akan tercapai bila dari setiap tingkat satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran dengan bertanggung jawab. Keberhasilan ini tidak akan tercapai bila tidak ada kerja sama dengan pihak lain dalam hal ini pemerintah, masarakat, guru, peserta didik, dan pendukung yang lain. Media adalah salah satu yang bisa dijadikan fasilitas dan sarana untuk meraih tujuan tersebut.

Kita semua berharap bahwa semua anak Indonesia mempunyai kesempatan untuk belajar karena belajar juga adalah hak mereka. Dengan adanya kerjasama yang baik antar berbagai pihak maka tujuan pendidikan mencerdaskan bangsa ini bisa terwujud. Semoga.

*NUNG*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: