Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

PEDALAMAN

Posted by lembursingkur pada Mei 20, 2009

Sumber : Buku Pustaka Anak Nusantara

Judul : Nyumpi, Anak Suku Dalam

Pengarang : Tim Visi Anak Bangsa

Penerbit : P.T Dian Rakyat, tahun terbit 2001

Ringakasan :

Sebuah desa di propinsi Jambi, yang sering disebut dengan Desa Suku Dalam. Desa atau dusun ini adalah tempat yang sering disinggahi oleh penduduk untuk membuka ladang, desa ini terletak di tengah hutan belantara, karena itu orang-orang yang tinggal di desa tersebut sering disebut dengan Orang Rimbo, ini disebabkan karena orang-orang tersebut adalah penghuni rimba. Jumlah penduduk pada desa tersebut kurang lebih sekitar 800 orang, dan memiliki pemimpin adat mereka yang disebut dengan Tumenggung. Tumenggung ini bertugas untuk menjaga agar penduduk dapat menjalankan adat istiadat dengan baik. Tumenggung dibantu oleh Dipati dalam melaksanakan tugasnya. Tumenggung diangkat berdasarkan keturunan.

Hasil-hasil karya dari penduduk Suku dalam ini antara lain adalah anyaman keranjang rotan, membuat tikar dai Daun Pandan, dan anyaman pelepah daun kelapa menjadi atap rumah mereka. Karya-karya diatas dihasilkan oleh kaum perempuan. Di sana kaum pria ahli dalam membuat perahu dari batang pohon.

Mata pencaharian penduduk Suku Dalam tersebut antara lain, seperti berburu hewan, berburu hewan ini kebanyakan dilakukan oleh remaja-remaja yang ada di desa tersebut. Sedangkan para orang tua melakukan kegiatan berladang, dan hasil dari kegiatan berladang tersebut sebagian digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan sebagian dijual ke pasar.

Agama pada Desa Suku dalam tersebut mayoritas beragama Islam dan animisme. Tanda penduduk yang beragama Islam adalah mempunyai nama Islam dan berkhitan. Di desa tersebut ritual-ritual keagamaan belum dijalankan seperti, Sholat Lima Waktu. Tetapi di desa tersebut mempunyai larangan-larangan adat antara lain, Dilarang meludah di hutan yang sedang dihuni, dlarang berfoto-foto, dan anak gadis yang sudah akil balig akan dipingit dan dirahasiakan namanya sampai dinikahkan dengan pria pilihan orang tuanya, tujuannya untuk mencegah guna-guna, dan penculikan. Dan setiap anggota suku yang melanggar larangan tersebut, akan dikenakan denda dengan membayar 500 ikatan kain kepada Tumenggung.

Transportasi di daerah ini adalah salah satunya dengan menggunakan perahu atau getek. Untuk mencapai pasar yang terletak di kota seberang dengan jarak sekitar 165 km diperlukan waktu sekitar 3 jam. Di desa tersebut belum ada kendaraan bermotor.

Permainan-permainan khas desa tersebut adalah Adu Congkorano, Lempar Karet, dan Patah Tangan. Adu Congkorano adalah permainan dengan menggunakan Pucuk Pakis yang sudah diikat, kemudian kita akan bertarung dengan menggunakan Pucuk Pakis tersebut. Pucuk Pakis yang patah terlebih dahulu itu yang kalah.

Tanggapan :

Menurut saya cerita ini sangat menarik, karena saya bisa mengetahui bahwa masih ada tempat di Indonesia yang belum mengenal kendaraan bermotor. Dan juga di desa tersebut penggunaan Bahasa Indonesia sangat jarang, mungkin orang-orang di sana tidak bisa berbahasa Indonesia . Ini membuktikan bahwa pemerintah Indonesia belum melihat masih begitu banyak daerah-daerah yang belum maju di Indonesia . Seharusnya pemerintah Indonesia membantu daerah-daerah tersebut untuk maju jangan hanya memajukan kota-kota yang besar-besar saja. Menurutku kita juga harus bersyukur kepada Tuhan karena sudah diberikan kenyamanan hidup dibandingkan dengan orang-orang yang tinggal di Desa atau Dusun Suku Dalam. Sekian tanggapan saya berdasarkan cerita di atas.

Kevin Marco

8A/23

2 Tanggapan to “PEDALAMAN”

  1. ninuk said

    Halo, saya Ninuk Setya…
    Saat ini saya tengah googling mencari email pengarang buku ini, Hartadi, atau juga mas Garin Nugroho
    Kebetulan semalam saya membaca buku ini (yang hendak disalurkan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan pustaka).
    Membacanya, ada lebih 5 masukan untuk buku ini
    Dari istilah Suku Dalam sendiri… setahu saya yang pernah 2,5 tahun hidup bersama Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi, dan Taman Nasional Bukit 30, Suku Dalam tidak ada. Istilah Suku Anak Dalam sendiri menurut bbrp referensi dan teman-teman yang lebih dulu masuk (termasuk Oyvind Sandbukt, antropolog asal Norwegia yang lebih 30 tahun bersama Orang Rimba), menjadi ‘istilah resmi’ dari pemerintah, dalam hal ini DInas Sosial. Sedangkan Orang Rimba sendiri biasanya menyebut diri mereka ya Orang Rimba.

    Nyumpi, pernah belajar bersama saya hanya beberapa bulan. Waktu itu, Din (saya lupa nama rimbanya. Nama Din dari Udin, setelah dia diIslamkan walau masih kerap makan babi) belum mengangkat dirinya sendiri sebagai Tumenggung. DIn dan keluarganya masih tinggal di Sungai Kejasung Besar, di TNBD, dibawah kepemimpinan Tumenggung Meladang.

    Di halaman awal, Melangun tidak dipaparkan secara jelas. Bahwa melangun adalah tradisi Orang Rimba untuk menghilangkan kesedihan dengan cara pergi dari tempat semula karena ada anggota rombong yang meninggal. Dulu melangun dilakukan hingga bertahun-tahun karena hutan masih sangat luas. Tetapi kini hanya dilakukan beberapa bulan saja. Biasanya saat melangun, seluruh rombongan menangis (meratop) sampai mendapatkan lokasi baru yang baik.

    Pada halaman 19, yang menyebutkan ada pembelian rokok. Betul memang demikian, tetapi ini buku untuk anak-anak. Kiranya jangan sampai ada persepsi yang salah dari anak, bahwa anak-anak rimba juga ikutan merokok seperti orang tua mereka.

    Tentang pohon kelapa yang disebutkan sangat banyak pada halaman 25, setahu saya mereka mengenal kelapa justru ketika keluar dari rimba. Sebab, di dalam rimba tidak pernah ditemukan pohon kelapa. Sedangkan di desa-desa penyangga yang merupakan desa transmigrasi pada jaman Suharto, memang penduduknya mendapat jatah pohon kelapa. Orang Rimba tahu dari mereka.

    Sedangkan di halaman soal bahasa, masih ada yang perlu diralat. Misalnya
    rumah yang disebut umah (sudung), yang benar genah atau sesudungon.
    Jalan disebutkan jalon, yang benar jelon.
    Bapak adalah Bepak,
    Adik perempuan adala Kupek,
    Nenek ya nenek.
    Apa kabar? yang benar adalah Pamono kabaron? biasanya ditambahi mikay (kamu). Pamono kabaron mikay?
    Mau pergi kemana bukan Nak no gi, tapi “Ndok pogi kemono?”
    Mau ke sana adalah Ndok pogi kiyun
    Mari kita pergi adalah Maro pogi
    Tidur adalah tiduk
    Belajar menjadi belajo, dengan huruf r agak menggantung
    Menyapu tidak pernah ada karena tidak ada tradisi menyapu

    Daun menjadi doun
    Harimau adalah merego bukan natong. Sebab natong sendiri artinya hewan
    sedangkan penyebutan angka, hampir semua kecuali satu (sikuk) mirip pengucapannya dari bahasa melayu. Sebab memang sebelumnya mereka tidak mengenal huruf dan angka

    salam

  2. lembursingkur said

    Ytk. Mbak Ninuk,

    Terima kasih sudah berbagi untuk pembaca lembusingkur. Sungguh pengetahuan dan pengalaman yang menarik. Indonesia kita tercinta ini sungguh kaya.
    Selamat berkarya, Mbak!

    Salam

    lembursingkur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: