Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

PALEMBANG

Posted by lembursingkur pada Mei 20, 2009

Menggali Kota “Pempek”

Kota ini selalu diselimuti oleh angin lembap nisibh dan terletak pada 2°59′27.99″LS 104°45′24.24″BT, kota ini tak lain adalah Palembang. Palembang merupakan salah satu kota besar di Indonesia sekaligus ibukota dari Provinsi Sumatera Selatan. Kota yang jarang terdengar namanya oleh turis dan wisatawan asing ini sebenarnya memiliki keindahan yang tak kalah dari Pulau Dewata. Kota ini memiliki kebudayaan unik yang merupakan perpaduan dari Eropa dan Melayu serta Tionghoa yang sangat kental. Komunitas Tionghoa di Palembang sangat besar sehingga makanan-makanan khas di daerah ini kebanyakan mengesankan “Chinese Taste”.

Palembang, dulunya juga merupakan pusat dari Kerajaan Sriwijaya dan dipercaya oleh masyarakat Melayu sebagai tanah leluhur mereka karena di kota inilah raja Melayu pertama yaitu Parameswara turun dari Bukit Siguntang.

Di sekeliling kota (terutama daerah perkampungan), diwarnai dengan rumah adat yang khas, yakni rumah limas/ panggung yang digunakan untuk menghindari binatang buas dan banjir. Modern namun tradisional merupakan ciri khas kota ini. Budaya kota ini telah banyak dipengaruhi oleh kaum Tionghoa, namun tetap mempertahankan budayanya sendiri. Percampuran antara kedua kebudayaan ini menghasilkan budaya yang sangat indah dan kebudayaan daerah yang telah mengalami percampuran justru makin memikat orang untuk melihat. Tak hanya kesenian, makanan khas kota ini pun sangat memikat wisatawan dan turis. Pempek, taekwon, rujak mi, kerupuk belida, dan model, adalah beberapa makanan yang sangat menarik turis.

Sebuah daerah tentunya tak akan lengkap bila tak ada tradisi dan budaya khas dari daerah tersebut. Di kota “Pempek” ini, warga setempat memiliki sebuah kebudayaan yang bernama Dul Muluk yang merupakan pentas teater tradisional. Menurut saya, Dul Muluk juga bisa dikatakan salah satu bentuk kritis warga setempat tentang lingkungannya karena cerita yang dimainkan pada Dul Muluk umunya bersumber dari Sahibul Hikayat yang telah diadaptasi dan disesuaikan dengan masalah sosial yang ada di masyarakat. Kesenian ini umumnya dipentaskan pada malam sampai pagi hari dengan iringan musik biola, gendang, gong, dll. Salah satu cirri khas pementasan Dul Muluk ini ialah pada bagian tengah panggung diletakkan sebuah meja. Setelah salah seorang tokoh seperti raja atau menteri/hulubalang melakukan dialog atau nyanyian, mereka akan memukul meja dengan menggunakan sebatang tongkat dengan mengikuti irama musik dan gerak-gerik seperti menari. Alunan musik dan gerak-gerik penari yang gemulai membuat penonton terbawa suasana dan akhirnya ikut melenggang mengikuti musik. Warga dan para turis berpendapat bahwa Dul Muluk dikatakan menarik karena menampilkan teater yang lengkap, mulai dari lakon, syair, lagu Melayu, dan lawakan atau khadam. Menurut saya khadam juga merupakan salah satu bentuk kritis masyarakat terhadapan kehidupan sehari-harinya karena khadam selalu diangkat dari ironi kehidupan sehari-hari masyarakat.

Satu lagi tradisi menarik kota Palembang pada bulan Agustus yaitu dengan diadakannya pasar malam di kawasan pinggiran Sungai Musi (sekarang menjadi Plaza BKB) dimana pasar malam terbentang dari daerah hulu ke hilir (Dari Bekangdam sampai ke Gedung pasar 16 sekarang) dan Telok Abang. Pada awalnya, Telok Abang hanya berbentuk pesawat terbang namun sekarang ini sudah banyak bermodifikasi menjadi  scooter, becak, bus, helikopter, tank, dll. Ada juga benda lain yang berkaitan dengan Agustusan di Palembang selain Telok Abang yaitu “Telok Ukan” dan “Ketan Sepit”, dua benda ini juga selalu mengiringi setiap adanya Telok Abang tetapi tidak “sepopuler” Telok Abang. Uniknya Telok Abang ini membuat minat yang tinggi sehingga pemasarannya kian meluas dan tak hanya di Palembang saja.

MARIA MONICA

8A/ 25

Daftar Pustaka:

Seri Pustaka Anak Nusantara.“Temanku Penari Japin”, Jakarta 2004

http://www.yahoo.com

palembangbari.blogdetik.com

id.wikipedia.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

»
 
%d blogger menyukai ini: