Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

DESAKU

Posted by lembursingkur pada Mei 20, 2009

Saguku di Woitombo

Nama desa ini adalah Woitombo,letaknya di Kecamatan Mauwewe,Kabupaten Kolaka,Sulawesi Tenggara.

Kira-kira 160 km dari sebelah Barat Kota Kendari,ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara.  Woitombo terletak

di dataran rendah yang dikelilingi oleh pegunungan dan banyak hutan sagu,karena jumlah sagu yang sangat melimpah,

masyarakat Desa Woitombo bergantung banyak sekali hal pada pohon sagu.Kegunaan pohon sagu juga tidak

hanya sebagai bahan makanan pokok penduduk Desa Woitombo,namun batang pohon sagu juga dapat dijadikan

berbagai macam perlengkapan rumah tangga dengan cara dianyam seperti rotan,mainan anak-anak seperti Tigo/Enggrang,

atau bisa juga dianyam untuk menjadi atap rumah tradisional yang disebut gaba-gaba.

Hutan sagu yang luas saja sudah dikenal masyarakat Desa Woitombo seperti pekarangan sendiri,

buktinya adalah orang dewasa yang setiap hari pergi ke hutan sagu untuk memanen sagu,anak-anak juga diizinkan untuk pergi

ke hutan sagu,baik untuk membantu dan menemani orangtua mereka yang sedang bekerja,atau sekedar bermain

Di Desa Woitombo,pemukiman tampak tertata rapi dan enak dilihat.Jarak antara rumah pun amat renggang

sehingga sangat cocok dimaanfatkan bagi anak-anak untuk bermain bersama dan juga bagi penduduk

untuk bercocok tanam. Dulu rumah penduduk masih merupakan rumah semipermanen.Atap rumah terbuat dari gaba-gaba,

lantai hanya tanah berupa tanah,berdinding kayu.Namun kini tampaknya rumah khas Desa Woitombo ini sudah

sulit untuk ditemui,rumah-rumah tradisional ini sudah terganti oleh rumah-rumah permanen yang terbentuk dari atap genting,

lantai yang sudah disemen dan kebanyakan memakai ubin,dan juga dinding yang terbuat dari batu bata .

Penduduk di sini rata-rata dapat berbicara Bahasa Indonesia,namun mereka lebih sering menggunakan

bahasa daerah mereka sendiri,yaitu Bahasa Tolaki.Bahasa Tolaki sendiri tidak terlalu jauh berbeda dari

Bahasa Indonesia. Penduduk di sini juga mayoritasnya islam dan di seluruh Woitombo hanya ada satu masjid.

Walaupun hanya ada satu masjid,warga Desa Woitombo bebas untuk beribadah di luar masjid.Saat hari raya

seperti  Idul Fitri biasanya akan sangat ramai di daerah sekitar masjid dan warga saling berkeliling dari rumah ke rumah

untuk saling memaafkan.

Menurut saya kebudayaan di Desa Woitombo ini amat menarik,bahkan dari mendengar letak

desanya saja sudah terbayang tentang Woitombo yang dikelilingi oleh pegunungan dan hutan sagu yang

terhampar luas.Bentuk kebudayaan di sini juga cukup menarik lengkap dengan bahasa daerahnya.

Namun sayangnya,seperti yang terjadi di daerah lainnya kebudayaan tradisional

yang menjadi ciri khas masyarakat Desa Woitombo ini sudah mulai pudar dan tergantikan

oleh budaya modern yang masuk perlahan-lahan ke Woitombo.

Kevin Adi Pratama /8A/21

Sumber:Pustaka Anak Nusantara,Saguku di Woitombo oleh Tim Visi Anak Bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: