Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

MELINTAS WILAYAH

Posted by lembursingkur pada Mei 18, 2009

Sumber                :Pustaka Anak Nusantara: Telur-Telur Penyuku

Penerbit               : PT. Dian Rakyat

Penulis naskah  : K. B. Ono

id.wikipedia.org

PENYUKU = SAHABATKU

Ketika kita mendengar kata ‘Papua’, sebagian besar orang akan berpikir tentang tarian yang heboh, pakaian daerahnya yang lain dari yang lain yaitu koteka, bahasanya yang asing, dll. Jarang sekali orang akan mengaitkan Papua dengan perburuan telur penyu untuk dimakan, atau lebih tepatnya banyak yang belum tahu. Bahkan tidak jarang orang yang berkata, “Lho, telur penyu bisa dimakan ya?”

Nah, saudara kita yang tinggal di pantai utara Kepala Burung Papua mempunyai kebiasaan unik setiap bulan Mei-Agustus. Kebiasaan ini sebenarnya lebih menarik daripada kebudayaannya yang lain karena jarang sekali ada kegiatan ini. Saat itu, para penduduk bergadang hingga subuh untuk menunggu penyu belimbing betina datang dari laut. Jamursba Medi merupakan tempat yang paling cocok untuk melakukan kegiatan ini. Mereka rela menunggu penyu hingga bermalam-malam hanya untuk telurnya. Tentunya mereka tidak menunggu terus-terusan, pada siang hari mereka beristirahat.

Mereka menunggu dengan bersenjatakan tombak atau panah. Senjata itu bukanlah untuk mempertahankan diri dari penyu, melainkan dari serangan binatang liar seperti babi hutan. Untuk apa takut dengan penyu? Penyu tidak berbahaya kok. Mereka hanya mengambil sedikit telur, sisanya akan dibiarkan dan dijaga agar dapat menetas dan kelak akan kembali untuk memberi mereka telur lagi.

Penyu belimbing adalah jenis penyu terbesar dengan panjang mencapai 2,75 meter dengan bobot 600-900 kg. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia, sumber bising dan cahaya sebagai tempat bertelur, dalam lubang yang digali dengan sepasang tungkai belakangnya.

Namun, sayangnya tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan telur, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung, tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik menyentuh perairan dalam.

Penduduk setempat percaya bahwa penyu belimbing adalah jelmaan putri yang baik hati dan lemah lembut, namun dikutuk menjadi penyubelimbing. Putri itu diyakini selalu membantu rakyat, dalam bentuk penyu pun ia masih memberi berkah dengan memberi sebagian telurnya. Sebagai gantinya, penduduk akan menjaga populasi penyu. Mereka percaya bahwa putri itu harus disayang-sayang agar mau datang bertelur. Maka pada siang hari bulan Mei sampai Agustus mereka mengadakan upacara adat dan tarian Serera dan Senawon untuk memanggil penyu.

Kesannya masyarakat ini masih kolot, masa zaman sekarang percaya dongeng seperti itu? Tetapi jangan salah… Mungkin mereka memang kolot, tetapi karena kepercayaan itu mereka memiliki kesadaran untuk melestarikan penyu. Mereka bukanlah sembarang pemburu telur yang hanya memikirkan diri sendiri. Lagipula, mereka mengambil hanya sedikit, itu pun hanya untuk tambahan asupan gizi mereka yang kurang. Mereka sebenarnya tidak perlu disalahkan dalam penurunan populasi penyu, masih banyak orang yang tidak bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan laut yang patut disalahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: