Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

BUDAYA SUKU KANUN (Merauke-Papua)

Posted by lembursingkur pada Mei 18, 2009

papua

Kawan di Rawa Biru

Data Buku

  1. Judul buku                         : Kawan di Rawa Biru
  2. Penulis                                 : Sari Pusparini
  3. Penerbit                              : PT. Dian Rakyat
  4. Disain simpul                    : Budi Riyanto Karung
  5. Editor                                   : Agus HK Soetomo
  6. Pencetak                             : PT. Dian Rakyat
  7. Tahun terbit                      : 2001
  8. No. ISBN                            : 979-523-504-4

Artikel

Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya bahwa Papua adalah pulau terluas di Indonesia yang terletak di ujung timur. Di Papua terdapat banyak sekali suku bangsa dengan berbagai macam adat dan tradisi yang berbeda-beda. Namun, kali ini saya akan sedikit menjelaskan salah satu suku yang ada di Papua, yaitu Suku Kanum. Suku Kanum tinggal di pelosok tenggara Merauke, tepatnya di sebuah desa yang bernama Rawa Biru.

Desa Rawa Biru tidak dihuni oleh penduduk dalam jumlah yang banyak, yaitu hanya 40 keluarga  dan terdiri dari 200 orang. Para penduduk yang tinggal disana kebanyakan bergantung dari Sumber Daya Alam dan hasil hutan yang sudah tersedia. Hal itu terbukti dengan cara mereka mencari nafkah. Ada yang berburu, menangkap ikan, ataupun menyadap sagu dengan alat-alat tradisional, seperti panah, kalawai (tombak), dan jubi (bubu).

Penduduk desa Rawa Biru sebagian besar menganut agama Katolik. Setiap hari Minggu mereka biasanya pergi ke Gereja dan merayakan hari Paskah bersama-sama. Tradisi nenek moyang mereka tidak lupa untuk mereka jalankan juga. Tradisi itu antara lain upacara ketika seorang anak genap berusia setahun dan ada pula upacara tanda kedewasaan bagi anak yang beranjak dewasa. Selain kedua tradisi di atas, ada juga tradisi yang tidak kalah pentingnya, yaitu sasi. Sasi adalah tradisi berkabung karena wafatnya seorang anggota keluarga.

  1. Selain tradisi yang mereka miliki, ada juga alat musik tradisional yang tidak kalah menariknya. Salah satu alat musik itu adalah kendara. Bentuknya seperti perkusi berselaput dan dibunyikan dengan cara ditabuh. Alat musik yang lainnya adalah keroncong. Keroncong adalah sejenis gitar kecil yang bisa dimainkan kapan saja.

Yang tidak kalah menariknya lagi adalah di daerah tersebut terdapat Taman Nasional Wasur. Kawasan Taman Nasional Wasur memiliki iklim musiman (monsoon). Iklim tersebut dicirikan oleh dua musim utama, yaitu musim kering yang terjadi pada bulan Juni sampai November/Desember dan musim basah yang terjadi pada bulan Desember sampai Mei. Sekitar 70 persen dari luas kawasan taman nasional berupa vegetasi savana, sedang sisanya berupa vegetasi hutan rawa, hutan musim, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan rawa sagu yang cukup luas. Jenis tumbuhan yang mendominasi hutan di kawasan taman nasional ini antara lain api-api ( Avicennia  sp.), tancang ( Bruguiera  sp.), ketapang ( Terminalia  sp.), dan kayu putih ( Melaleuca sp.). Taman Nasional Wasur memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah. Diperkirakan terdapat sekitar 80 jenis mamalia dan 399 jenis burung, sehingga merupakan wilayah yang paling kaya akan jenis burung di Irian Jaya.



Sumber

  1. Buku Kawan di Rawa Biru
  2. http://anakalas.org/index.php?/en/Taman-Nasional/taman-nasional-wasur.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: