Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

Pulau Flores

Posted by lembursingkur pada Mei 18, 2009

Pulau Flores

Penduduk di Pulau Flores memiliki kepandaian menenun kain. Kepandaian menenun ini diwariskan secara turun-temurun, dan telah dipelajari sejak mereka masih kecil. Hal ini  masih berlaku hingg sekarang. Anak-anak putrid di Pulau Flores sampai saat ini masih mengmbangkan pembuatan tenun. Salah satu tradisi para wanita penenun yang menarik yaitu kebiasaan memakan sirih dilakukan wanita Flores , khususnya penenun, di sepanjang hari saat bekerja. Jenis-jenis kain tenun yang dihasilkan adalah selendang lebar yang berfungsi sebagai selimut bagi laki-laki dan sarung untuk wanita. Selimut atau selendang juga digunakan sebagai penutup jenazah. Selain sebagai selimut dan pakaian yang dijual bebas di pasaran, kain tenun ikat juga digunakan sebagai perlengkapan upacara adat sebagai pakaian adat, pakaian upacara, dan mas kawin.

Tapi di zaman sekarang tidak hanya kaum perempuan saja yang bisa menenun, laki-laki juga bisa. Hasilnya pun tidak kalah baik dibandingkan anak perempuan.

Beragamnya fungsi dan banyaknya permintaan kain tenun ikat, membawa banyak perubahan dalam proses pembuatannya. Selain digunakannya pewarna sintetis, kini benang rayon juga digunakan sebagai bahan baku kain tenun ikat. Meskipun demikian, kain tenun ikat yang dicelup dengan pewarna alami dan menggunakan bahan baku tradisional yaitu benang dari kapas, juga masih ada.

Banyak para wisatawan dari dalam maupun luar negri yang tertarik dengan kain tenun ini. Harganya memang tidak murah, tapi kualitasnya bisa dibilang baik dan memiliki khas.

Opini:

Menurut saya, kain tenun di Pulau Flores sangat perlu dilestarikan karena kain ini merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan luar untuk datang ke Indonesia . Selain itu, kain dari Flores merupakan bagian dari budaya Indonesia yang beragam. Agar budaya Indonesia tetap beragam dan memiliki khas, budaya kain tenun juga harus tetap dilestarikan serta dipertahankan. Walaupun cara pembuatannya sekarang sudah sedikit berubah karena bahan baku yang digunakan juga berubah, tapi di beberapa dusun di Flores, masih ada pembuatan kain tenun ikat dengan bahan baku yang alami. Hasil kain tenun ikat di Flores seperti pada gambar menurut saya cukup indah dan sangat pantas apabila dikatakan sebagai daya tarik para wisatawan.

Selain itu saya juga kagum dengan anak-anak putri maupun putra di Pulau Flores yang hingga saat ini masih memiliki keinginan belajar menenun. Mereka masih ingin melestarikan budaya mereka walaupun saat ini kemajuan akibat globalisasi sudah sangat mempengaruhi Indonesia , salah satunya mempengaruhi dari sisi kebudayaan. Di tengah situasi ini, penduduk Flores masih tetap bisa mempertahankan kekhasan budaya mereka, yaitu kin tenun yang dibuat dengan cara yang tradisional. Anak-anak di sana seharusnya bisa dijadikan contoh bagi kita para remaja.
-Felicia Tonadi 8a / 15-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: