Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

KARYA SISWA

Posted by lembursingkur pada Mei 15, 2009

Data Buku :
-Judul buku : Desaku di Ufuk Barat
-Pengarang : Diana Susiyanti
-Penerbit : PT.Dian Rakyat
-No.ISBN : 979-523-548-6
-Editor : Agus HK Soetomo
-Ilustrasi : Koes Priyadi

2. Artikel :

Budaya Aceh : Lestarikan atau Kita Akan Menghilangkannya

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki suku dan budaya yang beraneka ragam. Budaya yang beraneka ragam tersebut dapat dipengaruhi dari luar negara Indonesia ,karena Indonesia sendiri adalah negara yang cukup sering didatangi turis-turis mancanegara. Salah 1 budaya yang ada di Indonesia adalah budaya Aceh. Dilihat dari sisi kebudayaannya, Aceh memiliki budaya yang unik dan beraneka ragam. Kebudayaan Aceh ini banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya melayu, karena letak Aceh yang strategis karena merupakan jalur perdagangan maka masuklah kebudayaan Timur Tengah. Beberapa budaya yang ada sekarang adalah hasil dari akulturasi antara budaya melayu, Timur Tengah dan Aceh sendiri.

Dalam bidang agama,karena hampir semua penduduk beragama Islam,maka tersedia mesjid untuk keperluan beribadah. Namun,di samping untuk beribadah,mesjid juga digunakan untuk tempat belajar mengaji anak-anak. Hampir semua anak bisa membaca al-Quran. Kegiatan membaca al-Quran meningkat saat bulan puasa. Masyarakat Aceh menyebutnya Tadarus. Tadarus ini dapat dilakukan pada siang maupun malam hari. Yang mengajar anak-anak mengaji biasanya seorang ustadz.
Sedangkan tradisi-tradisi yang dijalankan masyarakat Aceh biasanya berkaitan dengan keagamaan. Misalnya,aqiqah,yaitu upacara pemberian nama pada bayi yang bru lahir. Pelaksanaan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi nama. Dan bila tidak bisa melaksanakannya pada hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan pada hari ke empat belas, dan bila tidak bisa, maka pada hari ke dua puluh satu.

Namun setelah tiga minggu masih tidak mampu maka kapan saja pelaksanaannya di kala sudah mampu, karena pelaksanaan pada hari-hari ke tujuh, ke empat belas dan ke dua puluh satu adalah sifatnya sunnah dan paling utama bukan wajib. Dan boleh juga melaksanakannya sebelum hari ke tujuh. Hewan yang disembelih untuk upacara ini adalah kambing,sapi,domba atau unta.

Tradisi lain yang terdapat di Aceh adalah perayaan hari lahir nabi Muhammad SAW. Perayaan ini diadakan cukup meriah. Untuk merayakannya diadakan berbagai aktivitas ritual dan sosial. Setiap rumah membawa makanan ke mesjid untuk dimakan bersama-sama setelah selesai acara ceramah dan pembacaan riwayat kelahiran nabi Muhammad SAW,baik dalam bahasa Arab maupun Aceh. Acara makan bersama ini disebut kandhuri. Biasanya setelah selesai acara makan bersama, ada pula pembagian makanan untuk orang-orang yang tidak mampu. Masyarakat Aceh menggunakan hari Maulid unuk berbagi dengan sesama mereka yang berkekurangan. Menurut penduduk Aceh,dalam perayaan Maulid Nabi,bukan hanya sekedar berfoya-foya dengan mengundang rekan-rekan ataupun keluarga lainnya untuk makan bersama.

Yang sangat menarik dalam perayaan kenduri maulid ini, adalah adanya “Idang Pang Ulee” (berisi segala jenis makanan khas Aceh yang dapat disajikan untuk +/- 100 orang dan ditaruh dalam tandu atau berbentuk rumah adat Aceh serta di arak berkeliling kampung sambil membaca shalawat nabi sebelum menuju mesjid).. Idang Pang Ulee ini biasanya disediakan oleh beberapa orang secara patungan, karena biayanya tergolong mahal.

Tradisi Idang Pang Ulee yang merupakan idang khas maulid ini nyaris punah akibat tidak adanya pelestarian adat oleh pemuka-pemuka adat di Aceh. Kondisi ini terjadi oleh pengikisan adat secara perlahan akibat arus modernisasi yang menghinggapi sebagian masyarakat Aceh.

Karya desa yang biasa dihasilkan masyarakat Aceh adalah Krawang. Kerajinan ini adalah bordiran khas Aceh yang dijahitkan di atas sprei,sajadah untuk alas shalat,kopiah atau peci,karpet,pakaian Melayu,tas,hingga pelaminan pengantin. Bentuk motifnya disesuaikan dengan selra khas daerah masing-masing. Wilayah pesisir biasanya menyukai warna-warna mencolok dan menggunakan benang keemasan. Sedangkan wilayah pegunungan atau dataran tinggi lebih suka warna-warna tanah. Kerajinan ini sekaraang sudah menjadi komoditas ekspor hingga ke negri Jiran,di samping pasar dalam negri. Sekarang,tas berkrawang banyak ditemukan di kota-kota seperti Jakarta , Medan , Bandung ,Batam,dan lain-lain.

Kerajinan khas Aceh yang lain adalah alat-alat nelayan. Sebagian besar penduduk Aceh bermatapencaharian sebagai nelayan,karena mereka tinggal di pinggir pantai. Karena itu,beberapa penduduk terlihat masih menguasai keterampilan membuat alat-alat nelayan seperti rumah panggung pinggir pantai,sampan,jala,kail dan bubu penangkap ikan. Namun sekarang,alat-alat tradisional tersebut mulai tergeser oleh alat-alat buatan pabrik yang semakin mudah ditemui di pasar.

Selain itu,ada pula rencong,senjata khas Aceh, kerajinan gerabah yang dalam bahasa Gayo disebut ‘Nepa’,yang mempunyai arti meratakan tanah liat,dank ain songket Aceh. Tenun Tradisional ini adalah kerajinan tangan yang dilakukan secara tradisional dan turun temurun dengan menggunakan alat-alat dari kayu dan benang yang berwarna-warni, dan menghasilkan kain tenun tradisional yang sangat indah.

3. Opini :

Menurut saya, Indonesia kaya sekali akan budayanya,seperti Aceh dalam artikel di atas. Budaya merupakan ciri khas atau keistimewaan suatu daerah,karena itu jangan sampai kita menghilangkannya. Apalagi jika ada negara lain yang mengaku-aku bahwa budaya tersebut miliknya atau mencuri budaya tersebut. Contohnya Malaysia yang konon memiliki latar belakang sosial kultural yang hampir sama dengan Indonesia sehingga banyak artefak budaya yang mirip seperti batik,kebaya dan sebagainya. Menurut saya,jika suatu budaya dihilangkan,maka daerah yang kehilangan budaya tersebut akan merasa ‘kosong’ karena tidak ada yang dapat diperlihatkan pada msyarakat luar baik kebiasaan-kebiasaan atau kegiatan maupun benda-benda khas daerah tersebut.

Setiap daerah yang mempunyai budaya akan mempunya ciri atau keunikan tersendiri di mata kita maupun wisatawan yang berkunjung. Keunikkan itulah yang membuat kita bangga memiliki budaya yang ada. Karena tidak setiap daerah punya budaya yang sama. Semua punya daya tariknya masing-masing. Memang,di masa sekarang ini kita bisa terjerumus arus globalisasi yang melaju cukup pesat. Jika kita lihat artikel di atas yang menyebutkan alat-alat tradisional nelayan sudah jarang digunakan karena tergolong kuno,kita bisa mengumpamakannya dengan “siapa yang mau menulis capek-capek dengan tangan,jika ada komputer yang tinggal kita pencet-pencet keyboardnya?”.

Untuk hal yang seperti ini menurut saya masih bisa dimaklumi,karena di jaman seperti ini siapa juga yang mau repot-repot? Semua tidak ingin waktunya terbuang. Jika kita tidak mengikuti perkembangan jaman,kita juga tidak bias berkembang,bukan? Menurut saya ada cara yang lebih baik untuk melestarikan budaya,misalnya memakai produk-produk daerah tersebut,atau memakai produk dalam negri. Selain meningkatkan pendapatan dalam negri,budaya dapat dilestarikan. Memang,hal-hal yang bersifat budaya umumnya keturunan dari nenek moyang kita. Dan kita patut menghargai hal tersebut dengan terus melestarikannya.

Tapi menurut saya,jika kita terus menoleh ke belakang,kapan negara ini bisa maju? Kita perlu melihat hal-hal positif yang ada dalam negara yang lebih maju apa yang mereka lakukan hingga negara tersebut bisa tetap eksis.

Bukan untuk dicontek,tapi kita dapat lakukan langkah demi langkah sesuai kondisi kita saat ini. Lalu potensi budaya-budaya lokal harus kita berdayakan, jangan sampai hilang. Semua orang bisa melakukan hal ini melalui kreativitas masing-masing. Kreativitas adalah awal munculnya budaya. Kita bisa saja memunculkan budaya baru yang positif.

Jadi intinya,budaya merupakan sesuatu yang harus kita lestarikan dan kita jaga baik-baik. Karena budaya adalah salah satu pembentuk kepribadian bangsa kita. Apa yang dilihat oleh orang-orang dalam budaya kita,itu pula lah yang dilihat pada bangsa kita. Tentu kita tidak ingin hasil karya budaya kita dicontek oleh budaya lain,terutama dengan adanya kemungkinan kita juga dituduh sebagai penconteknya. Tidak ada yang suka jika hasil karyanya dicontek. Tapi jika kita tidak menjaga budaya kita,siapa lagi yang akan melakukannya?

4. Sumber :
-Buku Pustaka Anak Indonesia ,Desaku di Ufuk Barat
-www.google.com

Alexandra Vanessa 8A/2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: