Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

CONTOH CARA MENGAJAR TEKS DESKRIPSI

Posted by lembursingkur pada Oktober 21, 2017

Teks deskripsi yaitu sebuahteks yang menjabarkan atau memaparkan sebuah objek tertentu melalui kata-kata yang dapat merangsang panca indera sehingga pembaca seolah-olah menyaksikan atau merasakan sendiri objek yang dideskripsi.kan oleh penulis.

Teks deskripsi memiliki tujuan, yakni memberi penjelasan yang utuh kepada pembacanya supaya mereka dapat memahami apa yang sedang dibicarakan dengan jelas, entah dalam hal bentuk fisik ataupun wujud yang abstrak seperti sikap, rasa dan lain sebagainya.

Teks deskripsi merupakan  hasil pengamatan atau observasi, oleh sebab itu informasi yang digunakan untuk menjabarkan suatu benda atau objek harus jelas, sesuai dengan data dan fakta yang ada pada objek tersebut.

Teks deskripsi mempunyai ciri-ciri yang dapat mempermudah kita dalam mengenal jenis dari sebuah teks deskripsi. Berikut di bawah ini adalah diantara ciri-ciri dari paragraf deskripsi, yaitu :

  1. Menjabarkan atau menggambarkan suatu objek seperti benda, tempat atau suasana tertentu.
  2. Melibatkan panca indera (penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman dan
    perabaan).
  3. Memaparkan ciri-ciri fisik dan sifat objek tertentu seperti ukuran, bentuk, warna dan kepribadian secara jelas dan terperinci.
  4. Banyak ditemukan kata-kata atau frasa yang bermakna kata sifat atau keadaan.

Teks deskripsi memliki 3 unsur sebagai struktur pembangunnya. Struktur-struktur tersebut antara lain sebagai berikut :

  • Identifikasi, pada bagian ini berisikan penentuan dari identitas seseorang, benda, atau objek lainnya.
  • Klasifikasi, merupakan unsur penyusun yang bersistem dalam suatu kelompok menurut kaidah atau standar yang sebelumnya sudah ditetapkan.
  • Bagian Deskripsi, berisikan gambaran atau pemaparan tentang suatu objek atau topik yang ada dalam paragraf tersebut.

Langkah Pengajaran

  1. Siswa diberi contoh teks deskripsi
  2. Siswa disuruh membacanya
  3. Siswa disuruh membuat 5-10 pertanyaan dari teks
  4. Siswa diminta membaca pertanyaannya dan siswa lain menjawabnya
  5. Siswa diminta mencari kata sukar
  6. Siswa diminta menjelaskan tentang sisi teks
  7. Siswa  diminta mengidentifikasi struktur teks
  8. Siswa diminta mempresentasikan pekerjaannya
Iklan

Posted in Artikel, kurikulum | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

ARTIKEL MOTIVASI HIDUP

Posted by lembursingkur pada Oktober 20, 2017

MENCAPAI TUJUAN


Setiap orang mempunyai tujuan dalam hidupnya. Tujuan itu ada yang benar-benar disadari dan diperjuangkan. Namun, ada juga yang tak disadari karena seseorang mersa hidup itu mengalir begitu saja: mempunyai keluarga, mempunyai teman dan jaringan sosial, mempunyai pekerjaan, mempunyai pendidikan, mempunyai harta yang mungkin didapat sendiri atau warisan. Dengan demikian orang ini tak pernah berpikir apa itu tujuan hidupnya. Tak pernah terpikirkan, tak ingin memikirkannya, dan tak mempunyai kesempatan untuk memikirkan. Semuanya hidup terasa ada begitu saja, sudah wajar, sudah biasa.

Begitu kita melihat bahwa hidup itu tidak hanya sekedar ada dan berlalu begitu saja, melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda, tentunya baru menyadari bahwa hidup ada tujuannya. Untuk mencapai tujuan itu seseorang harus berjuang dan harus berlajar. Dalam proses belajar ini seyogyanya seseorang mempertahankan sikap dan akal budi seorang pemula. Artinya hendaknya kita selalu siap menerima pelajaran yang baru. Selalu dengan rendah hati menerima kritik dan saran. Siap menerima pelajaran baru. Selalu siap dan bersemangat untuk mendapatkan hal-hal baru. Setiap saat kita melihat dan merasakan hal-hal baru, meskipun dari pengamatan luar sepertinya yang dilakukan dan dipandang masih sama saja dengan hari yang lalu. Sanubari dan mata batin dilatih untuk menatap sesuatu dengan perasaan dan intuisi, segar, dan baru. Dengan cara demikian orang dapat menghindari kejenuhan dalam belajar, berlatih, atau bekerja.

Dalam mencapai tujuan itu orang juga bekerja. Dalam bekerja apa pun pekerjaannya dikehendaki rasa syukur menyambut momen-momen yang dijalani. Tak ada kebosanan, tak ada rutinitas, sebab yang dihadapi adalah aliran waktu dengan sekelilingnya yang terus berubah. Disiplin dalam berlatih adalah suatu keharusan yang baik. Dalam hidup, baiklah kalau kita bisa mengedepankan yang konkret dan menekankan pada berbuat kini dan di sini. Namun, tak berarti kita mengabaikan hal yang rohani.

Kembali kita pada belajar untuk meraih tujuan dalam hidup. Seseorang belajar agar mempunyai kecerdasan dan trampil pada bidang tertentu. Berbagai upaya untuk mencapai keahlian dalam bidang tertentu, bagaimanakah prosesnya? Mula-mula orang tidak menyadari akan ketidakmampuannya dan tidak kompeten dalam bidang tertentu. Kedua, dia mulai menyadari ketidakmampuannya dalam bidang tertentu. Ketiga orang mulai belajar dan berpraktik. Pada tahap ini kesadaran perlu disiagakan penuh. Keempat orang tersebut sudah trampil dalam bidang tertentu. Bawah sadar telah merekam kemampuan tersebut. Sesudah tahap empat senantiasa yang ditekankan adalah bukan sekedar ketrampilan dalam laku fisik, tetapi kekuatan antara tubuh, jiwa, dan roh. Proses belajar itu tidak sama pada setiap orang tentunya.

Menurut Robert Collier dalam The Amazing Secrets of Masters of the Far East (1985), orang yang berhasil mencapai tujuan hidupnya, bahkan menonjol atau unggul di dunia, rupanya tidak semuanya adalah orang-orang jenius. Bahkan sebagian di antaranya adalah orang-orang medicore (orang-orang biasa saja-kepalang tanggung, ya seperti kita ini, orang yang rata-rata). Kesuksesan mereka disebabkan perilaku, sikap, dan pandangan hidup. Kemampuan seseorang untuk memusatkan segenap daya, baik yang kelihatan atau yang tak kelihatan, merupakan bagian dari kunci sukses seseorang mencapai tujuan dalam hidupnya. Segala sesuatu ada di bawah kontrolnya dengan sesadar-sadarnya. Semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran. Hal ini sering pula disebut dengan istilah DHARANA.

Dengan dharana ini, orang yang sedang-sedang saja akan mempunyai daya yang luar biasa sehingga menjadi orang yang menonjol. Menjadi orang yang unggul. Untuk memancing keluarnya kekuatan tersembunyi yang diperlukan adalah dengan konsentrasi tanpa ketegangan, kemauan yang tak dipaksakan, kedisiplinan, dan kepasrahan total berdasarkan keyakinan yang kuat.

Ilusi dan Motivasi

Manusia tak pernah merasa puas dengan berkah yang diterimanya, sekalipun orang itu sudah berkelimpahan. Orang akan terus berilusi menjadai lebih dan lebih. Dia selalu beranggapan masih kurang. Kalau direntang terus tanpa henti, tanpa perhitungan, di luar batas kemampuan, dan dengan kecepatan tinggi, maka orang akan melingkar kembali ke titik awal. Ingat kembali akan dongeng tukang batu yang menjadi orang kaya, kemudian jadi pejabat, jadi raja, jadi matahari, jadi awan, jadi angin, jadi gunung batu, dan kembali menjadi pemecah batu. Apa yang dia raih tak pernah memuaskan dirinya sehingga orang itu kembali ke titik awal. Rupanya titik awal bagi tukang batu dalam dongeng ini bila disadari dengan penuh syukur itulah yang menjadi sempurna. Sepertinya hidup tak selalu dianggap berhasil dengan memuaskan keinginan untuk mencapai semua yang dikehendaki.

Dalam belajar untuk mencapai tujuan, betapa banyak pilihan dalam hidup ini. Karena itu, kita jangan terpaku pada pola-pola yang sama. Semangat atau kepercayaan diri adalah hal yang utama, tetapi belum lengkap tanpa daya juang dan keterbukaan hati untuk menerima apa yang terjadi dalam hidup. Ada orang yang mudah untuk mengepakkan sayapnya berjuang mengarungi angkasa kehidupan. Namun, ada juga orang yang mudah kehilangan kemauan kuat dan daya juangnya. Determinasi begitu lebih tepatnya, adalah kemauan kuat yang tidak mengenal kata menyerah, rupa-rupanya sangat diperlukan untuk mengarungi samudra kehidupan yang penuh tantangan ini. Agar determinasi itu tetap ada, rupanya diperlukan suatu dorongan yang terus mendorong tanpa henti. Motivasi memang diperlukan untuk itu.

Mengenal diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mengenali musuh dengan segala kekuatan dan kelemahannya, adalah salah satu strategi untuk meraih tujuan. Mengenal medan tempat kita berjuang, mengenali iklim di sekitar lingkungan kita, maka kemenangan akan datang perlahan kepada kita. Mengenal diri sendiri, bukan hanya semata mengetahui kelemahan dan kelebihan kita, tetapi juga mengetahui juga hal-hal yang tak nyata dan tak disadari selama ini. Musuh diartikan juga sebagai lawan atau partner dalam bidang kerja kita. Iklim yang dimaksud bukan hanya sekedar alam saja, tetapi juga menyangkut pada perubahan zaman dengan segala kemajuannya.
Sebelum bertindak perlu juga waspada. Pikirkan yang terburuk. Setiap peristiwa, setiap masalah, hendaknya dihadapi dengan sikap menghadapi sesuatu yang baru: serius, antusias, dan tidak menganggap remeh.

Strategi Meraih Tujuan
Selain motivasi, seseorang juga perlu memikirkan strategi, teknik, taktik, informasi, dan skenario keluar dari kejatuhan jika segala sesuatunya tak berjalan mulus dan lancar sesuai yang diharapkan. Strategi itu bisa saja kita meniru, mencontek, mengadopsi dari orang yang pernah mengalami masalah serupa. Namun, baik juga jika kita mempunyai kekhasan yang keluar dari diri kita. Yang asli, yang orisinil. Keaslian ini sangat baik karena menunjukkan jati diri seseorang. Pengalaman langsung, kewajaran, dan spontantanitas merupakan ciri-ciri utama yang menjiwai keaslian.

Bila kita mengalami kejatuhan dalam meraih tujuan, orang perlu kembali melihat semua yang sudah terjadi. Merunutnya dan memandangnya dengan lebih objektif. Dalam keheningan total, kesadaran murni akan membimbing orang ke arah kebenaran sejati yang tanpa amarah, tanpa rasa dengki, dan tanpa dendam.
Perlu pula diperhatikan dalam strategi untuk bertahan adalah jangan tergoyahkan oleh kritikan atau pujian. Sampai batas mana perlu sikap teguh hati, tidak ambil pusing, dan di mana batas untuk bersikap terbuka, mau menerima penilaian orang? Itu semua diperlukan kebeningan pikiran dan hati untuk memilahnya. Bolehlah menjadi satu acuan bagi kita bahwa sekali pun pengalaman pribadi dan pencerapan langsung mendapat tempat utama, tetapi masukan dari luar senantiasa boleh diterima untuk disaring. Pendapat dan pengalaman orang lain juga bisa menjadi bahan pelajaran untuk memperkaya diri kita dan menambah wawasan. Dengan talenta, kemampuan, , kepercayaan diri, daya juang, motivasi dari orang-orang kepercayaan, keterbukaan hati pada inspirasi dari orang lain, dan keyakinan akan rahmat Ilahi, kita semua berharap segala asa dan tujuan hidup kita bisa tercapai dengan baik.

(Ch. Enung Martina

 

Posted in Artikel, Lain-Lain, Tentang Guru | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL TENTANG HARI PANGAN

Posted by lembursingkur pada Oktober 10, 2017

Menghargai Pangan Sumber Kehidupan

(hand made ‘bob hariyadi’)

Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober merupakan bagian terintegrasi dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa Bangsa (Food and Agriculture Organization, FAO) yang didirikan tahun 1945. Karena itu FAO adalah forum netral yang beranggotakan baik negara berkembang maupun negara sedang berkembang, dimana semua anggota adalah setara ketika duduk bersama merundingkan persetujuan dan memperdebatkan kebijakan tentang pangan dan pertanian.

 

FAO berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Organisasi yang bermarkas di Roma, Italia, ini bertujuan untuk menaikkan tingkat nutrisi dan taraf hidup; meningkatkan produksi, proses, pemasaran dan penyaluran produk pangan dan pertanian; mempromosikan pembangunan di pedesaan; dan melenyapkan kelaparan.
Tujuan utama pendirian FAO dan peringatan Hari Pangan Sedunia adalah untuk mencapai kondisi Ketahanan Pangan diseluruh permukaan bumi, yang berarti ketersediaan/kecukupan dan keterjangkauan pangan (dengan nutrisi yang baik) oleh semua lapisan masyarakat. Untuk itu ada tiga hal penting yang harus diperhatikan baik oleh pemerintah maupun masyarakat suatu negara, yaitu; Ketersediaan, Distribusi dan Pola Konsumsi.

Krisis Pangan dan krisis energi tak dapat dipungkiri bahwa itu terjadi akibat perubahan iklim. Masalah lingkungan terutama isu yang terkait perubahan iklim semakin mendapatkan perhatian besar baik di tingkat global maupun nasional. Indonesia sebagai salah satu negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim mengalami kerugian besar karena semakin seringnya terjadi bencana yang merupakan dampak dari perubahan iklim seperti banjir, perubahan pola curah hujan, dan kekeringan.

Dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan. Beberapa kejadian seperti kerusakan (degradasi) dan penurunan kualitas sumber daya lahan dan air, penurunan produksi dan produktivitas tanaman pangan. Semua itu akan mengancam ketahanan pangan dan akan berimplikasi kepada peningkatan jumlah kemiskinan. Perubahan musim kemarau dan penghujan mepengaruhi pada produksi pertanian yang terus menurun. Dampak tersebut terus bertambah parah seiring dengan terus meningkatnya ketergantungan kita pada pemanfaatan sumber energi.
Pangan merupakan kebutuhan dasar yang permintaannya terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan kualitas hidup. Pada saat ini situasi pangan di Indonesia cukup kritis. Lemahnya kemampuan Indonesia dalam memproduksi aneka bahan pangan menyebabkan besarnya ketergantungan terhadap pangan impor. Lemahnya produksi pangan nasional salah satunya. Namun, gerakan untuk memperkuat produksi pangan nasional belum terdengar gaungnya.

Keanekaragaman pangan perlu ditingkatkan. Beras adalah makanan pokok di Indonesia, tetapi masih banyak pangan lain selain beras. Mengembangkan aneka ragam pangan termasuk non beras (umbi-umbian) dan tanaman palawija yang lain akan mendorong pemenuhan kebutuhan pangan dan bisa menjadi alternatif “selingan” beras dalam konsumsi pangan sehari-hari.

Kebiasaan menghormati dan hargai pangan merupakan kesadaran yang harus terus dipupuk dan dipelihara. Menjadi hal yang ironis ketika di sebagian negri ini surplus makanan, sementara di bagian lain minus pangan. Banyak orang di tempat surplus pangan terkesan kurang menghargai makanan dengan cara menghamburkannya atau bahkan membuangnya. Lembaga pendidikan formal (seperti sekolah) dapat menjadi tempat pendidikan pangan yang berkeadilan dan cinta kasih sehingga kebiasaan buruk tidak menghargai pangam seperti kebiasaan menyisahkan makanan (membuang-buang makanan) bisa dihilangkan.

Gereja katolik pun tak mau ketinggalan untuk menunjukkan perhatiannya pada masalah pangan. Setiap keuskupan memiliki agenda kegiatan berkaitan dengan HPS ini. Hari Pangan Sedunia (HPS) 2017 ini Keuskupan Agung Jakarta mengambil tema : ” MAKIN BERGIZI, HIDUP MAKIN BERKUALITAS ”. Tema ini mengharapkan umat Katolik memahami dan peduli akan pentingnya mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang dan memiliki solidaritas terhadap sesama yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan yang bergizi.

Karena itu sekolah-sekolah Katolik yang mendidik generasi penerus bangsa, tak luput dari sasaran agenda HPS ini. Setiap tahun sekolah menyelenggarakan kegiatan yang menunjukkan kepedulian akan masalaah pangan. Aneka kegiatan yang biasanya dilakuakn sekolah-sekolah adalah mewajibkan peserta didik untuk memakan makanan sehat seperti buah dan sayuran, meminta siswanya membawa bekal panganan tradisional, meminta siswanya membawa bekal nonnasi dan nonterigu. Ada banyak kegiatan yang dilakukan oleh berbagai sekolah untuk memperingati hari pangan. Selain itu mereka biasanya juga mengadakan aksi peduli dengan mengumpulkan sembako yang akan disumbangkan kepada orang yang memerlukannya.

Tema Hari Pangan Sedunia XXXVI 2017 di Indonesia adalah Keanekaragaman Hayati Manifestasi Untuk Mencapai Kedaulatan Pangan. Penyelenggara peringatan Hari Pangan Sedunia di Indonesia pada tahun ini jatuh pada Provinsi Kalimantan Barat. Dengan terpilihnya Kalbar sebagai tuan rumah untuk kali pertama penyelenggaraan HPS ke-37 HPS di Indonesia, diharapkan dapat dijadikan momentum dalam meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat serta para pemangku kepentingan terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup berkualitas, bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Kita semua berharap kita selalu diberkati dengan damai dan sejahtera yang salah satunya adalah dengan berlimpahnya pangan. Kelimpahan pangan di satu bagian negri ini akan menjadi berkat juga bagi bagian lain di negri ini yang masih kekurangan. Hal ini bisa terwujud jika setiap pribadi mulai tumbuh kesadaran untuk menghargai makanan dengan makan makanan yang sehat, makan seperlunya, tidak menyisakan makanan saat kita makan, mengambil jatah makan semampu perut menampung, dan mau berbagi dengan orang lain yang memerlukannya.
(Ch. Enung Martina)

 

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL KEGURUAN: STRAWBERRY GENERATION

Posted by lembursingkur pada Oktober 4, 2017

Setiap hari Selasa saya bertugas piket. Biasanya saya akan mengambil tempat pagi hari untuk berpiket di tempat favorit saya, yaitu di bawah pohon nangka. Spot itu paling saya sukai karena  berdekatan dengan tempat penyebrangan dari lapangan parkir yang berlokasi di unit SD. Jadi setiap orang yang akan pergi ke SMP dan SMA atau TK akan melewati tempat saya berdiri. Biasanya saya berdiri di situ sambil mengawasi anak-anak berlalu lalang menuju kelasnya masing-masing. Saya senang karena bisa menyapa mereka dan melihat bagaimana mereka dengan berbagai ekspresi menuju kelasnya.

Aneka ekspresi yang biasanya saya lihat. Ada yang tersenyum manis siap menyongsong hari. Ada yang cemberut bermuka bete. Ada yang nampak berbeban berat. Ada yang kalem melangkah dengan pasti. Ada juga yang tak peduli melangkah dengan serampangan. Berbagai ekspresi tersebut menunjukkan isi hati yang tak bisa saya ketahui.

Suatu pagi di hari Selasa yang cerah, tepatnya 3 Oktober 2017, saya terkagetkan karena di sebrang jalan dari parkiran SD ada seorang ibu dengan  Pak Rio, kawan saya guru SD yang sedang piket dekat pos satpam, mereka menggandeng seorang anak SMP. Lha itu berarti murid saya anak SMP karena saya guru SMP.

Lantas atas seijin satpam saya menerobos kendaraan yang berseliweran untuk menyebrang mendekati anak tadi. Lalu saya menyebrang dan memastikan anak tersebut. Rupanya salah seorang anak perempuan dari kelas VIII-C. anak itu sudah dibawa masuk ke pos satpam. Ketika saya jenguk dia sedang dalam keadaan kejang.

Lalu ibu yang menggandengnya tadi (ternyata itu mamanya) menyatakan bahwa  anak ini kena serangan kejang dan sesak nafas  takut diejek temannya karena salah seragam. Anak ini akan mengalami serangan seperti itu kalau dia merasa takut dan tak  bisa mengatasai sesuatu.

Agak lama saya menenangkan dia. Namun, usaha saya tak ada hasil. Karena dia masih kejang. Akhirnya dia dibawa pulang. Hari itu dia tidak masuk sekolah.

Lantas saya berkomentar dalam hati. Walah, kalau hanya gara-gara salah seragam saja dia sudah mendapat serangan kejang. Apalagi kalau mendapat tekanan permasalahan yang berat. Apa yang akan terjadi. Betapa rapuhnya mental anak ini. Lantas saya mengingat masa SMP saya pada akhir tahun 70-an yang penuh dengan banyak tantangan. Termasuk saya di-bully oleh teman dan guru saya karena saya beragama katolik.

Jadinya pagi itu saya melihat perbedaan antara generasi saya dan generasi anak sekarang. Zaman saya dulu berjalan kaki ke sekolah dengan jarak 5 km sudah biasa. Kepanasan dan kehujanan bukan masalah. Bahkan, perlakuan dari guru yang mendidik pun lebih keras daripada saya yang jadi guru sekarang pun kami alami. Itu pun tak menjadi masalah, malah menjadikan mental kami sekuat baja.

Sementara anak sekarang mendapat tantangan dan kesusahan sedikit saja sudah mengeluh panjang pendek. Inilah yang membaut para pengamat dan para ahli pendidikan melihat anak sekarang sebagai generasi stoberi. Generasi yang manis tetapi lembek di dalam. Rapuh dan mudah terlukai.

Dari bentuk dan warnanya, strawberry itu menawan. Namun, di balik keindahannya, ia ternyata begitu rapuh. Itu adalah ilustrasi dari strawberry generation. Sebuah bagian dari suatu generasi yang rapuh meski terlihat indah. Demikian Rhenald Kasali menggambarkan anak-anak di generasi ini.

Strawberry Generation didefinisikan Rhenald sebagai generasi yang penuh dengan gagasan kreatif, tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati. Generasi yang menginginkan perubahan besar, tetapi menuntut jalan pintas dan berbagai kemudahan.

Apa akibatnya jika mereka tidak dapat memeroleh semua hal dalam waktu singkat? Mereka—strawberry generation—akan mudah marah, cenderung berputus asa, lantas menyerah sebelum mencapai apa yang dinginkan. Sayang sekali, bukan?

Perlu diketahui bahwa kesuksesan bukanlah sesuatu yang instan, yang diperoleh dengan jalan-jalan pintas. Kesuksesan membutuhkan waktu, ketekunan, dan kesabaran. Seperti yang Rhenald selalu katakan, untuk menjadi seorang yang sukses, mental “passanger” harus diubah menjadi “driver”; “fixed mindset” harus diganti dengan “growth mindset”.

Menurut Rhenald, kesuksesan tidak bisa diraih melalui jalan pintas. Maka, mentalitas rapuh itu harus diubah. “Passenger” harus menjadi “driver”. Fixed mindset digantikan growth mindset. Itulah tugas orang tua, guru, Gereja, lembaga keagamaan lain, organisasi, dan masyarakat  untuk mendidik mereka ini siap menghadapi tantangan. Siap mengarungi lautan kehidupan yang tidak mudah. Siap bila suatu saat harus terluka. Siap bila suatu saat harus gagal. Karena kita tahu bahwa hidup terbentuk juga karena adanya kesalahan dan kegagalan. Kesempurnaan  manusia itu karena adanya carut marut yang membaut semuanya menjadi indah pada saatnya.(Ch. Enung martina)

Posted in Artikel, Lain-Lain, Tentang Guru | Dengan kaitkata: , , , | 2 Comments »

ARTIKEL TENTANG BELAJAR KRITIS

Posted by lembursingkur pada Oktober 3, 2017

PENERAPAN POLA BELAJAR KRITIS UNTUK SISWA TINGKAT SMP

(latihan fisik&mental bersama Rindam Jaya)

Belajar kritis terhadap fakta jauh lebih baik daripada menghafalkan fakta. Mengapa? Jawabannya adalah karena fakta akan terus bertambah pada setiap saat. Namun kenyataannya banyak orang tidak kritis. Hal ini juga terjadi dalam dunia pendidikan kita. Beberapa indikasi ketidakkritisan antara lain:
– Anak tidak berani bertanya
– Ketika belajar hafalan hasil tesnya baik, tetapi ketika pertanyaan sampai pada taraf analisis daya pikir rendah
– Banyak anak dalam melakukan suatu tindakan hanya ikut-ikutan orang lain, tanpa berpikir lebih jauh
– Ketika ada pertanyaan yang memerlukan alasan, anak akan diam total tak mampu memberikan jawaban.
– Mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang

Bila kita kritis terhadap keadaan sekarang, kita akan melihat bahwa pengaruh zaman ke depan akan semakin berkembang tak terkendali. Globalitas nampak dari meluapnya informasi lewat internet, baik itu informasi yang baik atau pun yang tidak baik. Jika anak tidak diajari kritis terhadap globalisasi, maka dia akan terbawa arus perkembangan yang bisa menyesatkannya. Kita tahu bahwa pengaruh buruk dari globalisasi antara lain narkoba yang mudah untuk didapat, pornografi yang mudah diakses, konsumerisme yang makin digemborkan, hedonisme, memuja kenikmatan, budaya cari enak-instan, pemahaman anti-Tuhan yang makin marak, sekterian, ekstrimis, dan banyak lainnya.

(upacara Hari Pahlawan, St. Ursula BSD)

Untuk memiliki hidup yang lebih baik dibutuhkan berpikir kritis. Apakah itu berpikir kritis? Berpikir secara masuk akal dan reflektif yang difokuskan untuk menemukan apa yang dapat dipercaya dan akan dilakukan kemudian (Robert H. Enn ). Pendapat yang kedua adalah berpikir kritis merupakan kemampuan menyelesaikan persoalan melalui penalaran dan untuk mengidentifikasi cacatnya sebuah argumentasi (Carnes, David). Intinya berpikir kritis itu mempertimbangkan semua kemungkuinan, bukan berpikir kompromis, atau bukan sesuai dengan pesanan.
Berpikir kritis itu mengikuti pola metode ilmiah yaitu dimulai dengan adanya persoalan, kemudian persoalan dihipotesis, lalu data dikumpulkan, berikutnya hipotesa dites, sesudah itu baru diambil kesimpulan. Dengan demikian berpikir kritis itu mempunyai unsur-unsurnya, yaitu problem solving, desision making, analysing, removing, dan evaluating. Hal yang juga patut diperhatikan dalam berpikir kritis adalah urutan berikut ini: bertanya, alasan rational/penalaran, kredibilitas/bukti, analisis (5w-h), jalan logika benar, penyimpulan benar, dan definisi/premis yang benar.

Namun, kenyataannya dalam kehidupan, kita tidak berpikir kritis. Ada banyak sebab mengapa kita terbiasa tidak berpikir kritis. Beberapa penyebabnya adalah: pendidikan yang tidak membolehkan anak bertanya, latihan yang membuat anak berpikir salah/tidak logis, membatasi pikiran anak dengan jalan keluar yang hanya satu-satunya, soal yang diberikan guru dirancang dengan persepsi yang sempit. Pendidikan dengan pola seperti itu menyebabkan matinya kreativitas seseorang sehingga akhirnya orang tidak kritis.

Akibat dari ketidakkritisan adalah dapat menyebabkan terus salah pengertian terhadap suatu hal. Selain itu dapat juga menyebabkan sulit untuk membangun pengertian yang benar dan lengkap, Akhirnya menimbulkan seseorang tidak kritis terhadap situasi yang tidak sempurna. Alangkah lebih baik bila seseorang menjadi pembelajar yang baik dengan dapat menjelaskan BAGAIMANA seseorang dapat memecahkan persoalan. Dengan demikian diperlukan pelatihan yang eksplisit dalam berpikir kritis sehingga akan membuat seseorang lebih cerdas, lebih independen, dan lebih kreatif. Itu berarti dapat membantu seseorang untuk menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi melatih seseorang (anak) berpikir kritis adalah bisa memalui pelajaran yang diampu oleh masing-masing guru. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah: melatih bertanya dengan menyemanagati anak untuk terus bertanya, memacu rasa ingin tahu anak, dan guru tentunya harus menjawab dengan penuh empati. Yang berikutnya anak dilatih untuk menalar, menjawab dengan alasan. Untuk mengembangkan berpikir kritis hendaknya kita mengurangi dogmatisasi, pokoknya apa yang dikatakan lakukan, tak usah bertanya alasan di balik hal yang dilakukan.

Untuk merangsang anak agar bisa berpikir kritis berikan cara berpikir alternatif, yaitu dengan membiasakan anak berpikir lebih dari satu kemungkinan, melihat sesuatu hal dari berbagai segi, diberikan kebebasan untuk menjawab yang berbeda, untuk itu diperlukan pertanyaan terbuka.

Selain itu juga anak bisa diberikan permainan berpikir, misalnya memberikan permainan yang menantang pikiran, selalu ditanyakan alasan mengapa mengambil langkah tertentu, tekankan pula untuk mencari bukti yang mendukung, dan biasakanlah anak menceritakan proses. Hal lain yang bisa kita lakukan adalah melatih anak untuk menuliskan gagasan karena dengan menulis membantu anak mengklarifikasi penjelasan dan mempertajam argumentasi.

Latihan diskusi dan debat dengan topik yang relevan juga akan membantu anak untuk berpikir kritis. Dalam berdiskusi anak dilatih untuk terlibat dalam pembicaraan dan mampu memberikan pendapat, gagasan, serta argumentasinya tentang masalah yang dibahas.

Demikian belajar kritis bisa diberikan kepada anak sesuai dengan fase perkembangan dan tuntutan lingkungan. Dengan menerapkan pola belajar kritis membuat pendidikan tidak hanya sekedar menerima begitu saja apa yang diberikan oleh guru, melainkan kritis terhadap apa yang diterimanya. Dengan begitu inisiatif dan kreativitas anak akan berkembang sehingga membentuk pribadi yang cerdas dalam segala aspek dan pribadi yang utuh .

(Ch. Enung Martina)

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Artikel, kurikulum | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL KEGURUAN

Posted by lembursingkur pada September 26, 2017

GURU ADALAH MURID YANG TAK PERNAH SELESAI BELAJAR

 

Guru hingga sekarang masih dianggap masyarakat sebagai orang yang berpengaruh dalam kehidupan seorang murid. Salah satu contohnya adalah: seorang anak TK akan lebih mempercayai apa yang dikatakan oleh ibu gurunya di sekolah daripada yang dikatakan kedua orang tuanya yang notabene kedua orang tuanya pendidikannya lebih tinggi daripada gurunya. Guru menjadi idola bagi anak pada usia dini. Saat anak- anak saya sekolah TK mereka mempunyai idola masing-masing. Metta mengidolakan Ibu Maria Gozal dan Ibu Yanti (TK St. Ursula BSD), Aga mengidolakan Ibu Bernadeth (TK. St. Ursula BSD), Abhimanyu mengidolakan Ibu Ella (TK. Strada Bhakti Nusa, Vila Melati Mas, Serpong).

Begitulah seorang guru menjadi panutan bagi seorang murid. Karena itulah beberapa kebijakan moyang kita pun terungkap berkaitan dengan guru melalui sebuah peribahasa yang berbunyi: guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Peribahasa ini mengingatkan kepada kita, khususnya para guru, agar berhati-hati dalam berkata-kata, bersikap, dan bertindak, karena yang dikatakan atau pun yang dilakukan bisa menjadi ukuran moral bagi murid-murid.

Sebuah sumber yang pernah saya baca mengatakan bahwa tugas seorang guru memberi petunjuk, sementara kewajiban seorang murid adalah mencari jawabannya sendiri. Menjadi seorang guru pada zaman globalisasi sekarang ini berbeda dengan guru pada zaman mbah saya dulu. Pada zaman itu masyarakat yang dihadapi adalah masyarakat yang masih dikuasai penjajah (Belanda, kemudian beralih ke Jepang) pada era tahun 30-50-an. Tentunya berbeda dengan ketika saya menjadi guru sekarang.

Menjadi guru di masa sekarang adalah sebuah tantangan. Guru sekarang berhadapan dengan zaman yang canggih dengan aneka dampak positif dan juga negatif. Tentunya hal ini menuntut seorang guru untuk menjadi lebih kreatif menghadapi tantangannya. Untuk menjadi kreatif seorang guru harus bersedia menjadi murid. Artinya guru harus terus menerus belajar. Seyogyanya seseorang, terutama seorang guru, mempertahankan sikap dan akal budi sebagai seorang murid pemula. Setiap saat kita melihat dan merasakan hal-hal baru meskipun dari pengamatan luar, sepertinya yang dilakukan dan yang dipandang masih sama saja.

Dalam proses pembelajaran seorang guru harus mempunyai pengalaman langsung, kewajaran, dan spontanitas yang dilamai bersama dengan muridnya. Mempunyai pengalaman langsung artinya bersedia mengalami dunia mereka. Contohnya kalau mereka syik dengan dunia maya, maka sang guru juga belajar mengetahui dunia tersebut agar bisa menyusun strategi ketika muridnya tersesat di dunia tersebut. Orang tua dan guru harus bisa meraih anak-nakanya dan berkomunikasi dengan mereka agar mereka tidak tersesat terlalu jauh. Kemajuan zaman tak bisa dihindari karena itu bagian dari peradaban. Namun, ketiak anak-anak berada di dunia itu, meraka tetap bisa hidup secara wajar di dunia nyata.

Seorang guru harus mempunyai kewajaran dalam mengajar di kelas atau pun di luar kelas. Dengan bergaul dengan muridnya, seorang guru bisa diterima dengan oleh muridnya dengan tulus dan wajar. Menjadi guru tidak usah mengada-ada. Ada kasus yang pernah saya alami ketiak saya sebagai seorang guru salah menyampaikan materi pelajaran, tetapi anak lebih tahu dari saya, gurunya. Saya tidak perlu panik karena muridnya lebih pandai daripada saya, tetapi justru harus bangga karena siswa saya cerdas. Saya tidak usah malu juga ketika saya berbuat salah meminta maaf kepada merka. Permintaan maaf tak akan menjatuhkan harga diri saya sebagai seorang guru atau seorang manusia, justru malah menaikannya karena saya rendah hati. Justru kebalikannya kalau saya keukeuh dengan pendapat saya yang salah malah saya mendapat malu. Si anak akan bercerita ke mana-mana tentang karakter saya yang sombong itu. Bukannya bisa mempertahankan harga diri, ini malah menjatuhkannya, bukan? Sudahlah, jadi guru itu yang wajar – wajar saja sebagai manusia biasa yang juga bisa salah. Salah itu manusiawi kok.

Tidak minder dan juga tidak sombong. Kalau seorang guru minder, bagaimana dia bisa berdiri di depan muridnya untuk mempresentasikan dirinya. Menjadi guru, wajib hukumnya mempunyai rasa percaya diri yang besar. Namun, bila kelewat besar rasa percaya diri bisa-bisa jatuh pada tekabur yang berakhir dengan kesombongan. Seorang guru yang sombong juga tak akan disukai anakn didiknya.

Spontanitas adalah ciri guru yang berikutnmya. Spontanitas melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan dalam situasi yang diperlukan sesuai dengan kebutuhannya pada saatnya. Spontanitas termasuk juga dalam menambah wawasan. Seorang guru harus mempunyai kebutuhan untuk mengembangkan diri: pengetahuan, wawasan, ketrampilan. Spontanitas juga termasuk dalam hal mencintai anak-anak. Mencintai para murid dengan tulus dan wajar adalah bagian dari spontanitas. Mengasihi mereka berarti kita juga bertanggung jawab atas pertumbuhan pribadi mereka.

Untuk mencapai menjadi guru yang baik tentunya tak segampang membalikkan telapak tangan. Ada proses di dalamnya, ada kesediaan untuk melakukannya, dan ada usaha untuk mewujudkannya. Agar kita terus bisa menjadi guru, kita juga harus bersedia menjadi murid yang baik. Untuk menjadi pelajar yang baik hendaknya sanubari dan mata batin dilatih untuk menatap sesuatu dengan perasaan dan intuisi segar, baru. Dengan cara ini, orang dapat terhindar dari kejenuhan dalam bekerja, berlatih, dan belajar. Dalam bekerja, apa pun pekerjaannya, dikehendaki rasa syukur menyambut momen-momen yang dijalani. Tak ada kebosanan, tak ada rutinitas, sebab yang dihadapi adalah aliran waktu dengan sekelilingnya yang terus berubah. Disiplin dalam berlatih atau belajar adalah suatu keharusan yang baik. Dalam hidup, baik kalau kita mengedepankan yang konkrit dan menekankan pada berbuat, kini dan di sini. Jangan mengawang-awang.

Untuk menjadi seseorang yang cerdas, mampu, dan ahli perlu melalui proses dalam dirinya. Proses seseorang mencapai keahlian, termasuk menjadi guru yang ahli, adalah:
1. Tidak sadar dan tidak mampu. Seseorang pada tahap pembelajaran dia belum mempunyai kesadaran bahwa dirinya tidak mampu.
2. Sadar mengenai ketidakmampuan dalam bidang tertentu: Ketika sudah memulai belajar, seseorang akan menyadari ketidakmampuannya / keterbatasannya dalam bidang tertentu. Karena itu guru harus terus mengasah diri untuk mengembangkan wawasan dan ilmunya.
3. Mulai belajar dan praktik, tetapi kesadaran perlu disiagakan penuh: dalam proses belajar berikutnya mulai mempelajari beberpa hal dan mempraktikkan ilmunya. Dalam proses belajar ini seorang pelajar (guru pun seorang pembelajara) harus tetap menjaga agar dirinya tetap menjaga kesadara belajarnya.
4. Trampil untuk bidang tertentu, bawah sadar telah merekam kemampuannya: pada tahap keempat seseorang mulai mahir akan ketrampilan/ilmu yang dipelajarinya. Karena itu kemampuan itu sudah menjadi bagian dirinya, sudah menjadi miliknya.

Proses belajar pada setiap orang itu berbeda. Sesudah tahap keempat dalam belajar, yang senantiasa ditekankan adalah bukan sekedar ketrampilan dalam laku fisik, tetapi kekuatan antara tubuh,jiwa, dan roh. Semuanya menyatu sehingga akhirnya seorang guru makin hari makin menghayati panggilannya dan mensyukurinya sebagai berkat dari Tuhan dalam hidupnya.
(CH. Enung martina)

 

Posted in Artikel, Tentang Guru | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Contoh Teks Hasil Observasi

Posted by lembursingkur pada September 5, 2017

BELIMBING WULUH


Nama latin: Averrhoa bilimbi L
Nama simplesia: Bilimbi Folium

Nama daerah: belimbing wuluh, belimbing buloh, belimbing asam, calincing, balimbeng

Deskripsi tanaman: Tumbuhan berbatang keras, tinggi mencapi 11 meter, daun bersirip genap. Batang tidak bercabang. Bunga berbentuk bintang, berwarna merah muda sampai ungu. Buah beruang 5, bergantung pada batang atau dahan. Buah berair dan berasa asam. Belimbing wuluh yang buahnya kecil-kecil berwarna hijau muda.

Habitat: Tumbuh liar atau dibudidayakan di pekarangan yang cukup memperoleh sinar matahari.
Belimbing wuluh termasuk suku atau familia Oxalidaceae. Tumbuhan yang berasal dari Malaysia ini mudah ditemui di daerah dengan ketinggian hingga 500 meter di atas permukaan laut. Daya tahannya yang tinggi untuk hidup membuat belimbing wuluh sering dijadikan tanaman pelindung. Cukup mendapatkan paparan sinar matahari merupakan tempat tumbuh kembangnya yang ideal

Bagian tanaman yang digunakan: bunga , buah , daun

Pembudidayaan:
Belimbing wuluh tidak terlalu banyak membutuhkan banyak air untuk merawatnya. Dapat berkembang di tempat yang lembab seperti di pekarangan belakang rumah dekat kamar mandi sehingga sering dipilih sebagai tanaman pelindung di atas kolam ikan.

Untuk membudidayakannya, dapat dengan menyemai biji atau menggunakan teknik pencangkokan. Secara umum memang tidak susah membudidayakan belimbing wuluh, apalagi di daerah tropis seperti Indonesia. Jika Anda ingin menjadikannya sebagai salah satu koleksi tanaman apotek hidup, belimbing wuluh bisa ditanam di taman, di kebun halaman rumah, atau di pot yang berukuran agak besar.

Kandungan kimia: Kalium oksalat, Flavonoid, Pektin, Tanin, Asam galat, Asam ferulat

Khasiat: antipiretik, ekspektoran
Belimbing yang terkenal dengan rasa asam ini biasanya sebagai bumbu sekaligus penyedap masakan, selain sebagai bumbu belimbing ini juga bisa dijadikan ramuan obat tradisional salah satunya yaitu sebagai herbal penurun darah tinggi.

 

Apa yang membuat belimbing wuluh memiliki manfaat sebagai obat alami atau fitofarmaka? Seperti dijelaskan ahli tanaman obat Dr Setiawan Dalimarta, sifat kimiawi dan efek farmakologis belimbing wuluh di antaranya adalah rasa asam dan sejuk. Sifat bawaan ini berkhasiat menghilangkan rasa sakit, memperbanyak pengeluaran empedu, antiradang, dan peluruh kencing.
Batang belimbing wuluh mengandung saponin, tanin, glucoside, kalsium oksalat, sulfur, asam format. Daunnya mengandung tanin, sulfur, asam format, dan perokside, sedangkan buahnya secara khusus dimanfaatkan untuk obat darah tinggi.

Satu lagi yang menarik, selain untuk obat karena mempuyai kandungan kimia berupa kalium oksalat, belimbing wuluh bermanfaat mengusir karat pada besi, baja, dan lain lain. Jangan heran, para punggawa dan kerabat keraton di Cirebon, Solo, maupun Yogyakarta memanfaatkan belimbing wuluh untuk mencuci gaman (senjata tajam), baik berupa cundrik, keris, tombak, pedang, dan lain-lain agar tidak mudah berkarat.

Resep tradisional:
Batuk, Sakit tenggorokan, Sariawan:
Bunga belimbing wuluh segar 1 genggam, Buah adas manis secukupnya, Air 1/4 cangkir, Gula batu secukupnya, Dipipis, Diminum sehari 2 kali, pagi dan sore, tiap kali diminum 1 sampai 2 sendok makan
Kencing manis: Daun belimbing wuluh segar 20 g, Air secukupnya, Dipipis, Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, tiap kali minum 1/4 cangkir

Meramu belimbing wuluh
Secara umum, belimbing wuluh dapat dimanfaatkan untuk berbagai ramuan pengobatan alami. Belimbing wuluh memang telanjur dikenal sebagai tanaman obat yang berguna untuk obat darah tinggi.

Seseorang dikatakan menderita penyakit tekanan darah tinggi bila nilai tekanan darah sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastoliknya di atas 90 mmHG. Dalam kamus kedokteran, tekanan darah tinggi sering juga disebut hipertensi.
Gejalan umum yang ditimbulkan akibat tekanan darah tinggi memang tidak sama pada setiap orang. Gejala yang sering dikeluhkan penderita tekanan darah tinggi antara lain sakit kepala berlebihan, rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk, pusing, berdebar atau detak jantung terasa cepat, serta telinga berdenging.

Berikut adalah beberapa ramuan herbal belimbing wuluh sebagai obat :
• Sebagai obat Darah Tinggi :

I. Ambil 3 buah belimbing wuluh ukuran sedang, cuci bersih dan potong-potong, lalu rebus dengan 3 gelas air hingga airnya tinggal 1 gelas, dinginkan dan saring. Minum 1 x sehari setelah sarapan pagi.

II. Ambillah belimbing wuluh, cuci, parut lalu peras dan minum airnya.
Catatan: Penderita hipertensi yang air kencingnya mengandung kristal oksalat disarankan tidak menggunakan resep ini karena bahannya mengandung asam oksalat. Penderita hipertensi dengan gangguan lambung seperti maag juga tidak dianjurkan menggunakan resep ini karena rasanya yang asam. Anda dapat menganti belimbing wuluh dengan belimbing manis.
• Sebagai obat gusi Berdarah : Konsumsi buah belimbing wuluh segar ataupun bisa juga dibuat manisan. Lakukan secara rutin setiap hari.
• Sebagai obat pengurang Jerawat : Ambil 3 buah belimbing wuluh, cuci, lalu parut dan tambah sedikit garam. Tempelkan pada kulit yang kena jerawat. Lakukan 2 x sehari.

• Sebagai obat Kompres Sakit Gondongan : Ambil 1/2 genggam daun belimbing dan 3 siung bawang putih , tumbuk, kemudian kompreskan pada bagian yang gondongan.

• Sebagai obat Batuk : Ambil 1 genggam daun belimbing wuluh, 1 genggam bunganya, 2 buah belimbing wuluh, gula batu, rebus dengan 2 gelas air hingga tinggal setengah, saring. Minum 2 x sehari.

• Sebagi obat diabetes : Ambil 6 buah belimbing wuluh dan lumatkan belimbing tersebut, kemudian rebus dengan 1 gelas air hingga airnya tinggal 1/2 nya. Saring. Minum 2 x sehari.

• Sebagi obat pegal Linu : Ambil 1 genggam daun belimbing yang masih muda, 10 biji cengkeh, 15 biji lada, dan cuka secukupnya. Lumatkan semua bahan dengan cuka hingga rata. Borehkan pada tempat yang sakit.

 

Posted in Artikel, kurikulum, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Teks Laporan Hasil Observasi

Posted by lembursingkur pada September 5, 2017

(Taman Kota  Ho Chi Minh City – doc.pribadi)

PENGERTIAN :
Teks laporan adalah teks yang berisi penjabaran umum / melaporkan sesuatu berupa hasil dari pengamatan (observasi). Teks laporan (report) ini juga disebut teks klasifikasi karena memuat klasifikasi mengenai jenis-jenis sesuatu berdasarkan kriteria tertentu. Jenis teks ini mendeskripsikan atau menggambarkan bentuk, ciri, atau sifat umum (general) seperti benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau peristiwa yang terjadi di alam semesta kita.

CIRI-CIRI TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI :
1) Harus mengandung fakta
2) bersifat objektif
3) harus ditulis sempurna dan lengkap
4) tidak memasukkan hal-hal yang menyimpang, mengandung prasangka, atau pemihakan
5) disajikan secara menarik, baik dalam hal tata bahasa yang jelas, isinya berbobot, maupun susunan logis.

Pada umumnya teks laporan hasil observasi memiliki bentuk yang hampir sama dengan teks deskripsi, tetapi sebenarnya sifat kedua teks tersebut berbeda. Teks laporan menggambarkan sesuatu secara umum dan sesuai fakta apa adanya tanpa ada opini/pendapat penulis. Sedangkan teks deskripsi menggambarkan secara khusus (unik dan individual) dan menggambarkan sesuai dengan sudut pandang penulis.

STRUKTUR TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI :
Strukturnya terdiri dari tiga bagian: Pen I Pu

1. Pendahuluan
Di dalam pendahuluan, teks laporan hasil obesrvasi berisikan tentang penjelasan umum atau klarifikasi umum/definisi umum.
2. Isi
Di dalam isi teks laporan hasil observasi terdapat deskripsi bagian dan deskripsi manfaat
3. Penutup
Di bagian penutup terdapat kesimpulan

 

LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI:
1) Membuat judul laporan yang benar sesuai dengan pengamatan yang dilakukan.
2) Menyusun kalimat pembukaan.
3) Menyusun isi laporan yang berisi gagasan-gagasan pokok dan saran yang disertai alasan terhadap laporan hasil  pengamatan.
4) Menulis kalimat penutup.

KAIDAH TEKS OBSERVASI:
1. Bersifat global dan universal
2. Merupakan hasil penelitian terkini
3. Menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar
4. Objek yang dibicarakan atau yang menjadi pembahasan adalah objek tunggal
5. Tidak ada penutup dari pengarang

FUNGSI TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI
1) Memberitahukan atau menjelaskan tanggung jawab tugas dan kegiatan pengamatan
2) Memberitahukan atau menjelaskan dasar penyusunan kebijaksanaan, keputusan atau pemecahan masalah dalam pengamatan.
3) Merupakan sumber informasi dan
4) Merupakan bahan untuk pendokumentasian.

TUJUAN PEMBUATAN TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI:
1) Mengatasi suatu masalah,
2) Mengambil suatu keputusan yang lebih efektif.
3) Mengetahui kemajuan dan perkembangan suatu masalah.
4) Mengadakan pengawasan dan perbaikan.
5) Menemukan teknik–teknik baru.

SIFAT-SIFAT TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI:
1) Bersifat objektif
Teks laporan hasil observasi sesuai dengan kenyataan
2) Bersifat informatif
Teks laporan hasil observasi dapat dijadikan sebagai sumber pengalaman orang lain jika melakukan hal serupa
3) Bersifat komunikatif

SYARAT PENYUSUNAN TEKS HASIL OBSERVASI:
1. Lengkap
2. Informatif
3. tidak berisikan kesimpulan

HAL-HAL YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA OBSERVASI :
1. Mencatat data yang diperlukan dan menyesuaikan dengan tujuan dan fungsinya
2. Melakukan survey tempat dan melakukan observasi
3. Menemui narasumber untuk wawancara sebagai bukti penguat dan referensi
4. Mencatat hasil observasi

Posted in Artikel, kurikulum, Lain-Lain, RPP | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

GERAKAN LITERASI SEKOLAH (2)

Posted by lembursingkur pada Agustus 29, 2017

TAHAP-TAHAP GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI SMP

Di bawah ini dengan lengkap ditampilkan panduan Gerakan Literasi Sekolah, khususnya untuk Sekolah Menengah Ppertama. Namun, bisa dijadikan bahan refrensi untuk tingkat sekolah yang lain.

Silakan selamat mempelajari dan tentunya menerapkannya. Itu jauh lebih penting.

 

Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMP

Posted in Artikel, kurikulum, Lain-Lain, Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (1)

Posted by lembursingkur pada Agustus 8, 2017

Latar Belakang

Pada abad ke-21 ini, kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan mema- hami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Akan tetapi, pembelajaran di sekolah saat ini belum mampu mewujudkan hal tersebut. Pada tingkat sekolah menengah (usia 15 tahun) pemahaman membaca peserta didik Indonesia (selain matematika dan sains) diuji oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD— Organization for Economic Cooperation and Development ) dalam Programme for International Student Assessment (PISA).

PISA 2009  menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496) (OECD, 2013). Sebanyak 65 negara berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012. Dari kedua hasil ini dapat dikatakan bahwa praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah belum memperlihatkan fungsi sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang berupaya menjadikan semua warganya menjadi terampil membaca untuk mendukung mereka sebagai  pembelajar sepanjang hayat.

Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  mengembangkan gerakan literasi sekolah (GLS) yang melibatkan  semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Selain itu, pelibatan unsur eksternal dan unsur publik, yakni orang tua peserta didik,  alumni, masyarakat, dunia usaha dan industri  juga menjadi komponen penting dalam GLS.

GLS dikembangkan berdasarkan sembilan agenda prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud, khususnya Nawacita nomor 5, 6, 8, dan 9. Butir Nawacita yang dimaksudkan adalah (5) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia;  (6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga  bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya;  (8) melakukan revolusi karakter bangsa;  (9) memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Empat butir Nawacita tersebut terkait erat dengan komponen literasi sebagai modal pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif dan berdaya saing, berkarakter, serta nasionalis.

Untuk melaksanakan kegiatan GLS, diperlukan suatu panduan yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah (2016). Buku Panduan GLS ini berisi penjelasan pelaksanaan kegiatan literasi yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran beserta langkah-langkah operasional pelaksanaan dan beberapa contoh praktis instrumen penyertanya. Panduan ini ditujukan bagi kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan untuk membantu mereka melaksanakan kegiatan literasi di SMP.

Pengertian

  1. Pengertian Literasi Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara.
  2. Gerakan Literasi Sekolah GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.
  3. Tujuan
  4. Tujuan Umum: Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembuda- yaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. 2. Tujuan Khusus: a. Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah. b. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat. c. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan

3Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Pertama

ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan. d. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

Ruang Lingkup

Panuan GLS di SMP ini berisi penjelasan pelaksanaan kegiatan literasi di SMP yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Ruang lingkup GLS di SMP meliputi:

  1. lingkungan fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana prasarana literasi);
  2. lingkungan sosial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif semua warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi SMP; dan
  3. lingkungan akademik (adanya program literasi yang nyata dan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah).

Sasaran

Panduan ini ditujukan bagi guru sebagai pendidik dan pustakawan sebagai tenaga kependidikanuntuk membantu mereka melaksanakan kegiatan literasi di SMP. Selain itu, kepala sekolah perlu mengetahui isi panduan ini guna memfasilitasi guru dan pustakawan untuk menjalankan peran mereka dalam kegiatan literasi sekolah

(sumber:  Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Pertama, DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2016)

 

Posted in Artikel | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »