Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

Teks Narasi

Posted by lembursingkur pada Mei 23, 2017

Pengertian, Ciri, dan Jenis Teks Narasi

 (sumber gambar: http://karikatur-q.blogspot.co.id)

Teks narasi atau yang lebih dikenal dengan paragraf narasi adalah suatu karangan cerita yang menyajikan serangkaian peristiwa kejadian dan disusun secara kronologis sesuai dengan urutan waktunya. Umumnya karangan atau teks narasi diciptakan dengan tujuan untuk menghibur pembacanya dengan pengalaman estetis melalui kisah dan cerita baik cerita itu bersifat fiksi maupun nonfiksi.

Paragraf narasi dapat kita jumpai dalam berbagai karya tulis maupun teks umum seperti cerpen, novel, bahkan biografi sekalipun. Penggunaan narasi dalam sebuah paragraf dapat diidentifikasi dengan melihat beberapa faktor khususnya alur cerita. Paragraf narasi memiliki alur cerita yang terkesan seperti suatu kronologis kejadian yang disusun secara berurutan dengan gaya bahasa seperti bercerita.

Contoh teks narasi atau paragraf narasi sebenarnya dapat dengan mudah kita temukan di sekitar kita, Umumnya contoh paragraf narasi tersebut terdapat dalam cerita berupa perpen maupun kisah-kisah dalam novel, romansa dan lain sebagainya. Tidak hanya dalam bentuk cetak saja, contoh contoh ini juga dapat berbentuk digital yang bisa anda cari di internet.

Paragraf narasi pada dasarnya termasuk klasifikasi jenis teks narasi dan merupakan salah satu dari jenis-jenis teks dalam bahasa indonesia. Dalam kancah pendidikan paragraf narasi dijadikan materi pembelajaran dan kerap kali munul dalam soal ujian dengan kata kunci: Pengertian teks narasi, Contoh teks narasi, Contoh karangan narasi dan lain sebagainya. Maka dari itu materi belajar kali ini akan memberikan penjelasan singkat tentang paragraf narasi yang terdapat dalam karangan teks narasi.

 

Pengertian

Paragraf atau teks narasi merupakan sebuah teks yang tersusun dari beberapa paragraf yang menceritakan suatu peristiwa kejadian dan disusun secara kronologis sesuai dengan urutan waktu yang ditentukan. Umumnya paragraf narasi ini menceritakan kisah-kisah dan cerita karangan baik fiktif maupun non fiktif.

 

Ciri-Ciri Karangan Narasi

Sebuah teks dapat dikatakan sebagai suatu karangan narasi apabila memenuhi ciri-ciri dibawah ini: Isi teks atau karangan berisi tentang cerita, kisah dan peristiwa tertentu yang dibentuk dari beberapa susunan paragraf menggunakan gaya bahasa naratif.
Cerita yang disampaikan memiliki konologi atau urutan cerita yang jelas mulai dari awal cerita hingga akhir cerita. Terdapat suatu peristiwa maupun konflik.
Memiliki unsur-unsur pembentuk berupa tema, latar, setting, karakter, dan lain sebagainya.

Jenis Paragraf Narasi
Narasi Ekspositoris

Narasi ekspositoris merupakan jenis narasi dimana cerita disampaikan secara informatif dan jelas sehingga pembacanya dapat benar-benar memahami dan engerti tentang apa yang terjadi di dalam cerita.

Paragraf narasi ekspositoris bertujuan memperluas pengetahuan para pembacanya mengenai suatu cerita dan kisah yang ditulis berdasakan kejadian peristiwa yang sebenarnya. Umumnya narasi ini berkisah tentang kehidupan seseorang dari awal ia hidup hingga kematiannya. Narasi ekspositori sangat cocok untuk menyusun teks biografi.

Narasi Artistik
Pragraf narasi yang satu ini merupakan teks yang mengisahkan suatu rekaan cerita yang bersifat imajinatif kepada pembacanya dengan menggunakan bahasa yang figuratif. Umumnya teks narasi sugestif dapat ditemukan dalam karangan seperti novel, cerita rakyat, cerpen dan lain sebagainya. Teks ini diciptakan untuk memberikan pengalaman membaca secara estetis dan menghibur pembacanya.

Narasi Sugestif
Narasi ini menyuguhkan sebuah cerita dengan niat dan maksud tertentu yakni untuk meyakinkan pembaca atau memberikan sebuah sugesti tentang suatu hal.

(Sumber http://materi4belajar.blogspot.co.id)

Posted in Artikel, kurikulum | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Contoh Teks Eksemplum

Posted by lembursingkur pada April 25, 2017

KENA GENDAM

Pukul 02.00 dini hari, waktunya orang tertidur pulas. Ketika tiba-tiba ada dering telpon rumah atau HP, pasti orang akan terbangun dengan kekagetan yang tak alang kepalang. Pikiran seseorang kalau ada telpon waktu seperti itu otomatis tertuju pada berita yang buruk. Pasti ada apa-apa. Kalau mempunyai keluarga berada pada jarak jauh, apalagi orang tua yang memang sudah renta usia, akan berprasangka buru, yang pastinya membuat cemas.

Nah, saat seperti itu memang kerja otak bukan pada bagian neokorteks (otak berpikir), melainkan pada bagian otak reptilia, bagian otak yang berkaitan dengan insting dan naluri. Bagian otak yang dimiliki oleh setiap mahluk hidup yang punya otak ini memang berkaitan dengan survival. Bertahan hidup. Mempertahankan diri. Otak ini memang aktif ketika sedang panik, takut, sedih, dan emosi negatif lain. Pada saat bagian otak ini aktif, yang ada hanya bagaimana menyelamatkan diri dari bahya dan bertahan hidup.

Karakter otak manusia yang demikian, rupanya dimanfaatkan oleh orang tertentu untuk tujuan tidak baik. Tujuan tersebut mencari keuntungan materi dengan cara yang tentunya tidak terpuji. Cara mempengaruhi otak pada saat seperti itu dengan memakai gendan dan hipnotis. Orang kebanyakan  mengnggap kedua kata itu sama. Namun sebetulnya berbeda. Dlihat dari  katanya saja sudah berbeda.   Menurut Kamus Besar Bahsa Indonesia gendam artinya mantra atu guna-guna yang membuat orng terpesona. Kamus Besar Bahasa Indonesia membedakan antara kata hipnotis dengan hipnosis. Hipnosis adalah keadaan seperti tidur karena sugesti, yang pada taraf permulaan orang itu ada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya. Namun,  pada taraf  berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali. Hipnotis adalah membuat atau menyebabkan seseorng berada dalam keadaan hipnosis.

Nah, kejadian Pukul 02.00 dini hari tiba-tiba ada dering telpon dan terbangun dengan kekagetan yang tak alang kepalang itu terjadi pada keluarga saya. Hal ini terjadi pada hari Selasa, 9 September 2014. Kena gendam atau mungkin terkena hipnotis pun kami almi. Pada dini hari itu, kami dimintai uang,  tepatnya ditodong melalui telpon rumah dan dilanjutkan melalui HP. Seseorang meminta kami  mengirimkan uang ke rekening tertentu untuk menebus anak laki-laki kami yang kuliah di Bandung. Penelepon yang mengaku bernama Mangatas Samosir dan mengaku sebagai seorang polisi di Bandung mengatakan bahwa Aga, anak kami,  ditangkap polisi karena ketahuan membawa narkoba. Mereka minta tebusan 25 juta.

Bayangkan saja, bangun  karena kaget mendengar dering telpon. Kesadaran jelas belum pulih. Otak reptil langsung berfungsi. Penelepon menambah tingkat kepanikan dengan menimbulkan latar belakang suara hiruk pikuk: suara sirine yang keras dan monoton, serta orang membentak-bentak,  serta suara seorang yang menghiba-hiba  minta dikasihani agar tidak ditangkap. Lengkap sudah efek suara di sebrang sana itu mendramatisir suasana tegang.

Ketakutan, kecemasan, dan ketegangan merambat masuk. Situasi ini dimanfaatkan suara Polisi   Mangatas Samosir gadungan yang ada disebrang sana untuk menekan suami saya, Pak Bob, agar segera mengirimkan uang ke rekening  BRI. Gendam lewat suara itu rupnya sangat efektif. Karena buktinya suami saya tercinta itu mulai terdengar panik. Dan mulai melakukan apa yang diminta Mangatas Samosir di sebrang sana. Saya mulai menyadari bahwa ini sebenarnya penipuan. Peristwa ini sering saya degnar karena beberapa korbannya adalah orang tua murid saya. Namun, saya tetep gemetar meskipun itu adalah penipuan.

Otak neokorteks saya, saya  paksa untuk mulai berpikir bagaiman caranya untuk kelur dari situsi gawat ini. Akhirnya saya memutuskan menghubungi Aga di Bandung lewat HP. Ternyata HP-nya tidak diangkat. Lantas saya hubungi bapak kosnya. Juga tak diangkat. Kemudian dengan tergesa  saya langsung menghubungi Metta, anak pertama saya  yang berada di mess di tempat kerjanya, Serang. Telpon saya tersambung. Kaget pasti dia. Metta disebrang sana juga berpikir. Apakah yang  harus dilakukan. Terus ia membuat susu dulu sambil mencari cara. Sesudahnya,  baru menelepon saya lagi.  “ Bu, minta tolong Pak Joko supaya ada orang yang pikirannya seger dari pihak ke-3.”

Jadilah dini hari itu saya mengontak pak Joko, teman sejawat saya dan juga sekaligus tetangga saya  selang satu rumah dari rumah kami. Sekali tak diangkat. Baru kali kedua dia mengangkat HP-nya.

“Ada apa, Teh?” begitu dia menjawab. Sesudah saya jelaskan, segera dia keluar. Ia melihat kami panik. Pak Bob sudah menghidupkan motor untuk pergi ke ATM terdekat. Sementara itu HP Pak Bob menyala terus karena Mangatas Samosir mengatakan komunikasi dengannya  tak boleh terputus. HP Pak Bob dengan Mangatas Samosir dalam keadaan kontak. Pak Joko langsung tanggap situasi. Dia segera mematikan kontak di HP Pak Bob. Begitu kontak HP terputus, telpon rumah langsung berdering. Pak Joko yang mengangkat. Terdengar latar belakang hiruk pikuk: suara sirine yang keras monoton dan orang membentak-bentak serta seorang yang menghiba minta dikasihani agar tidak ditangkap. Terdengar suara bentakan: brogol saja dia! Disambung dengan orang yang minta dkasihani: Papa tolong! Papa tolong!

Pak Joko membentak, “ siapa di situ? “

“Saya Angga,” suara di sebrang sana menjawab.

“Ini bukan rumah Angga. Salah smbung,” Pak Joko membentak lagi.

Suara di sana meralat, ” Saya Aga.”

“ Bohong kamu. Jangan menipu!” suara Pak Joko makin garang.

Kontak putus. Kami selamat dari gendam.

Pagi itu kami tak melanjutkan tidur. Setelah perasaan kami reda, kami duduk di teras. Setelah melihat kembali peristiwa tadi jadi geli juga kami. Ada beberapa kejanggalan yang terjadi. Pak Bob baru sadar bahwa Aga itu  tak pernah memnggil dia dengan panggilan papa, tetapi babe. Bunyi sirine itu yng terus-terusan sebagai latar belakang, spertinya agak aneh juga. Bukannya sirine di ruangan tak mungkin dibunyikan? Tebusan untuk tahanan narkoba 25 juta itu terlalu kecil. Selain itu, Polisi tak mungkin terang-terangna minta tebusan. Bob baru sadar kalau nama anak yang ditangkap itu bukan Aga, tetapi Angga.

Begitulah pengalaman kena gendam. Ternyata kami mengalaminya. Dari pengalaman ini saya melihat bahwa terkena gendam dan terkena tipu, tak ada korelasinya dengan kebiasaan seseorang berdoa. Meskipun  seseorang rajin berdoa, ternyata bisa saja ia terkena gendam atau bisa juga tertipu orang. Mengapa hal ini saya katakan karena ada salah seorang teman yang menanyakan apakah saya tidak berdoa?  Pernyataan ini bukan berarti mengecilkan arti berdoa. Kasus lain bisa saja terjadi bahwa seseorang pendoa yang hidupnya kudus bisa saja menghindar dari hal ini. Yang saya alami bahwa terkena gendam atau tertipu orang tak ada kaitannya dengan kebiasaan berdoa.  Sekali lagi ini berlaku untuk kami, khususnya saya.  Mungkin perlu ada penelitian khusus tentang kebiasaan berdoa dengan terkena tipu. Penipu yang mengarahkan gendam atau hipnotis yang diserang adalah otak reptilia seseorang. Memanfaatkan otak tersebut bila keadaan panik, orang bisa kehilangan akal sehat. Saat seperti ini keadaan seseorang sedang lemah karena otak berpikirnya belum berjalan 100%. Terbangun karena kaget. Nah, ini merupakan sasaran yang empuk untuk dimanfaatkan. Saya memperhatikan para penipu ini tidak sendirian. Mereka berkelompok. Bisa jadi sindikat.

Namun, saya tetap percaya akan pertolongan Tuhan melalui orang-orang yang ada di sekitar saya. Misalnya melalui  Pak Joko, sebagai pihak ke-3 yang berotak jernih daripada kami yang mengalami. Terima kasih Pak Joko.

Saya berharap para pembaca tidak mengalami seperti saya. Namun, bila mengalami, saran saya, carilah orang ke-3 yang otaknya dalam keadaan segar sehingga tidak dikuasai kepanikan.

Ch. Enung Martina

Posted in Artikel, kurikulum | Dengan kaitkata: , , , , | 1 Comment »

Teks Eksemplum

Posted by lembursingkur pada April 25, 2017

Teks Eksemplum
1. Pengertian
Teks eksmplum adalah jenis teks rekaan yang berisi insiden yang menurut partisipannya tidak perlu terjadi.Secara pribadi, partisipan menginginkan insiden itu dapat diatasi, tatapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Teks Eksemplum merupakan jenis teks yang berisi insiden yang menurut partisipannya tidak perlu terjadi.
Dengan kata lain, teks eksemplu berbentuk naratif berisi pengalaman/kejadian yang tidak diinginkan oleh tokoh dalam cerita.
2. Struktur
 Abstrak → inti peristiwa sebagai pengantar yang menggambarkan peristiwa yang akan diceritakan.
 Orientasi → bagian pembuka cerita atau awalan cerita.
 Insiden → peristiwa yang tidak diinginkan.
 Interpretasi → makna atau pesan dari peristiwa yang tidak diinginkan.
 Koda → bagian penutup cerita.

1) Orientasi (Pengenalan)
Pada tahapan orientasi, pengarang menceritakan latar berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana yang terjadi dalam sebuah peristiwa. Latar digunakan penulis untuk menghidupkan sebuah cerita dan meyakinkan pembaca. Dengan kata lain, latar ini mengekspresikan watak, baik secara psikis maupun fisik.
Contoh Orientasi
Kejadian yang membuat saya sadar akan pentingnya menaati peraturan negara ini terjadi ketika saya sudah semester II. Biasanya, hampir setiap minggu saya pulang ke rumah pada Jumat sore dan akan kembali ke Semarang pada Minggu sore. Suatu ketika, saya dan kakak saya memutuskan untuk kembali ke Semarang pada Senin pagi supaya waktu lebih lama di rumah. Kami berangkat pukul 08.00 WIB, dengan menggunakan sepeda motor.

2) Insiden (Kejadian)
setiap kejadian-kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat. Peristiwa satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.

Contoh Insiden
Ketika akan berangkat, kakak menyuruh saya untuk di depan karena dia mengantuk. Saya-pun menuruti permintaannya meskipun pada saat itu saya belum mempunyai SIM. Kakak saya berpesan, “jika nanti ada operasi zebra, kamu berhenti saja. Jangan panik”. Satu jam menempuh perjalanan rasanya aman-aman saja, tidak ada operasi apapun. Kemudian kami sampai di perbatasan Kebumen-Purworejo, tidak ada operasi juga di sana.

Saya pun dengan percaya diri membawa motor dengan kecepatan tinggi. Ketika sampai di Kecamatan Kutoarjo, tiba-tiba dari jarak 500 meter, saya melihat banyak orang dengan rompi berwarna hijau menyala. Sontak saya langsung membanting setang ke kiri. Namun celakanya, di depan saya ada sebuah selokan kecil. Saya pun kembali membanting setang ke kiri, akan tetapi setang tak dapat dibelokkan karena tertahan oleh tas yang saya gendong di depan. Motor saya terjatuh dan kami terpelanting.

Kami mengalami luka-luka dan dibawa ke salah satu rumah warga. Ketika ada seorang polisi yang akan mendekati kami, kakak saya berpesan, “ketika nanti ditanya polisi, siapa yang mengemudi, bilang saja kakak. Kakak tadi jatuh karena mengantuk”. Saya hanya mengangguk mendengar permintaan kakak saya. Benar saja, polisi tersebut menanyakan hal serupa dan meminta kakak saya untuk memperlihatkan SIM beserta STNK-nya.

3) Interpretasi (Tafsiran)
Penafsiran yang dilakukan oleh tokoh dari kejadian atau insiden yang telah terjadi

Contoh Interpretasi
Dari kejadian tersebut, saya menjadi mengerti akan pentingnya menaati peraturan negara termasuk peraturan berlalu lintas dan membuat saya untuk lebih berhati-hati dalam berkendara.
3. Ciri – ciri
 Berisi peristiwa yang tidak diinginkan terjadi
 Menunjukkan urutan peristiwa yang jelas
 Menggunakan bahasa naratif
 Mempunyai struktur lengkap, yaitu abstrak, orientasi, insiden, interpretasi, dan koda.

1) Bernuansa naratif
Teks eksemplum bernuansa naratif namun bukan naratif murni
2) Isi teks umumnya bercerita mengenai pengalaman pribadi
Dalam tek eksemplum cerita yang diceritakan umumnya berupa pengalaman pribadi yang dirasakan atau dialami oleh tokoh
4. Karakteristik
 Berisi peristiwa yang tidak sering terjadi
 Peristiwa merupakan hal yang tidak diinginkan
 Menimbulkan penyesalan bagi partisipan
 Menghadirkan diri penulis dalam interpretasi dan koda
 Mengandung nilai – nilai yang disarankan oleh peristiwa
5. Fitur bahasa Exemplum adalah sebagai berikut :
 Menggunakan bahasa naratif
 Menunjukkan urutan peristiwa yang jelas
 Menghadirkan diri penulis (kita, aku) yang ada dalam interpretasi dan koda
 Ini biasanya menggunakan proses material dan tindakan untuk mengeksplorasi insiden .
 Menggunakan proses relasional untuk mengeksplorasi penilaian .
Menggunakan referensi teks dan hubungan leksikal untuk menunjuk ke nilai-nilai yang disarankan oleh peristiwa .
Isi teks bercerita tentang suatu insiden
Isi teks eksemplum berupa insiden yang tak tak diharapkan atau diinginkan oleh tokoh
4) Terdapat perubahan perilaku tokoh untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Di bagian akhir teks eksemplum menggambarkan perilaku tokoh menyesali kejadian yang telah terjadi. Tampak perubahan sikap tokoh untuk lebih hati-hati dalam melakukan sesuatu. Teks eksemplum berakhir dengan pesan moral dari kejadian yang dialami tokoh utama.

Contoh teks exemplum di bawah ini!

https://lembursingkur.wordpress.com/2017/04/25/contoh-teks-eksemplum/

Posted in Artikel, kurikulum, RPP | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

MATERI UJIAN NASIONAL TAHUN AJARAN 2016/2017

Posted by lembursingkur pada April 25, 2017

Teks pada Kurikulum 2013 dan Cakupan Materinya

JENIS TEKS DI KELAS IX

Teks Eksemplum                         Teks Laporan

Teks Tanggapan  Kritis               Teks Pidato

Teks Tantangan                            Teks Cerita Pendek

Teks Rekaman Percobaan          Teks Tanggapan

Teks Diskusi

JENIS TEKS DI KELAS VIII

Teks Cerita Fabel                      Teks Berita          Teks Ulasan

Teks Biografi                              Iklan                     Teks Persuasi

Teks Prosedur                            Teks Eksposisi    Teks Drama

Teks Diskusi                              Puisi

Teks Ulasan                               Teks Eksplanasi

JENIS TEKS DI KELAS VII

Teks Laporan Hasil Observasi     Teks Deskripsi

Teks Deskripsi                                 Cerita Inspirasi

Teks Eksposisi                                 Teks Prosedur

Teks Eksplanasi                              Teks Laporan Observasi

Teks Cerita Pendek                         Puisi Rakyat

Cerita Rakyat                                   Surat

 

Posted in Artikel, kurikulum | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

PUISI TENTANG ALAM

Posted by lembursingkur pada April 6, 2017

SI  POHON TANJUNG

Aku, Si Pohon Tanjung, Mimusops elengi

tumbuh di tanah tropis

semenjak berabad-abad yang silam

leluhurku datang dari India untuk menyuburkan Nusantara

Helaian daunku bundar telur hingga melonjong

seperti jangat, bertepi rata namun menggelombang

dengan daun subur rindang

dengan ranting menjulur teguh

juga dahan memanjang kuat

batang kokoh ditunjang akar

 

Bunga berkelamin dua menggantung di ketiak daunku

mahkotaku putih kekuningan

staminodia bergigi

berbilangan delapan, berbau enak semerbak

kugugurkan di pagi hari

siap disunting perempuan

yang menggenggam bungaku dijemari lentiknya

Buahku seperti melinjo

bulat telur panjang peluru

hijau, kuning, menuju jingga

biji pipih dikotil kecoklatan

Pepaganku sebagai obat demam hingga obat kuat

kulit akarku mengandung banyak tanin dan sedikit alkaloid

daun segar digerus halus sebagai tapal obat sakit kepala

kayuku padat, berat, dan keras

perahu,  tangkai tombak, dan furniture terbuat dari kayuku

Inilah aku Si Pohon Tanjung

penghasil oksigen yang terkadang disia-siakan

namun, tetap aku jalankan

tugas dari Sang Pencipta

menjadi pelengkap  semesta

(Ch. Enung Martina)

Posted in Puisi | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Teori Pendidikan : Konvergensi

Posted by lembursingkur pada Desember 23, 2016

img-20160611-wa0003

Konvergensi adalah salah satu teori aliran klasik. Teori ini erat kaitannya dengan teori belajar mengajar yang bersumber dari aliran-aliran klasik dan merupakan benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini, dan mungkin yang akan datang. Aliran-aliran itu mewakili berbagai variasi pendapat tentang pendidikan, mulai dari yang paling pesimis sampai dengan yang paling optimis. Aliran yang paling pesimis memandang bahwa pendidikan kurang bermanfaat, bahkan mungkin merusak bakat yang telah dimiliki anak. Sedang sebaliknya, aliran yang sangat optimis memandang anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati. Banyak pemikiran yang berada di antara kedua kutub tersebut, yang dipandang sebagai variasi gagasan dan pemikiran dalam pendidikan.

Aliran konvergensi berasal dari kata konvergen, artinya bersifat menuju satu titik pertemuan. Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan individu itu baik dasar (bakat, keturunan) maupun lingkungan, kedua-duanya memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan atau disposisi telah ada pada masing-masing individu, yang kemudian karena pengaruh lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan untuk perkembangannya, maka kemungkinan itu lalu menjadi kenyataan. Akan tetapi bakat saja tanpa pengaruh lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan tersebut, tidak cukup. Misalnya tiap anak manusia yang normal mempunyai bakal untuk berdiri di atas kedua kakinya, akan tetapi bakat sebagai kemungkinan ini tidak akan menjadi menjadi kenyataan, jika anak tersebut tidak hidup dalam lingkungan masyarakat manusia.

Perintis aliran konvergensi adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia  disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Bakat yang dibawa anak sejak kelahirannya tidak berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Jadi seorang anak yang memiliki otak yang cerdas, namun tidak didukung oleh pendidik yang mengarahkannya, maka kecerdasakan anak tersebut tidak berkembang. Ini berarti bahwa dalam proses belajar peserta didik tetap memerlukan bantuan seorang pendidik untuk mendapatkan keberhasilan dalam pembelajaran.

Konvergensi berasal dari kata Convergative yang berarti penyatuan hasil atau kerja sama untuk mencapai suatu hasil. William Stern mengatakan bahwa kemungkinan-kemungkinan yang dibawa sejak lahir itu merupakan petunjuk-petunjuk nasib manusia yang akan datang dengan ruang permainan. Dalam ruang permainan itulah terletak pendidikan dalam arti yang sangat luas. Tenaga-tenaga dari luar dapat menolong tetapi bukan yang menyebabkan perkembangan itu. Sebagai contoh; anak dalam tahun pertama belajar mengoceh, baru kemudian becakap-cakap, dorongan dan bakat itu telah ada, dia meniru suara-suara dari ibunya dan orang disekelilingnya. Ia mendengar  dan meniru kata-kata yang diucapkan kepadanya. Bakat dan dorongan itu tidak akan berkembang jika tidak ada bantuan dari luar yang merangsangnya. Dengan demikian jika tidak ada bantuan suara-suara dari luar atau kata-kata yang di dengarnya tidak mungkin anak tesebut bisa bercakap-cakap.

Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia.

Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Sebagai contoh, hakikat kemampuan anak manusia berbahasa dengan kata-kata, adalah hasil konvergensi.

Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia.  Meskipun demikian, terdapat variasi mengenai faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh kembang itu.  Seperti telah dikemukakan bahwa variasi-variasi itu tercermin  antara lain dalam perbedaan pandangan  tentang strategi yang tepat untuk memahami  perilaku manusia,  seperti strategi disposisional/konstitusional,  startegi phenomenologis/humanistic, startegi behavior, strategi psikodinamik/psikoanalitik, dan sebagainya.

Pendidikan menurut aliran konvergensi diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

Jadi menurut teori konvergensi :

1)      Pendidikan mungkin dilaksanakan.

2)      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah  berkembangnya potensi yang kurang baik.

3)      Yang membatasi hasil pendidikan  adalah pembawaan dan lingkungan.

Faham konvergensi bukanlah hal yang baru dalam sistem pendidikan formal di Indonesia. Pengaruh faham ini sudah terlihat sejak pertama kali dirumuskan sistem pendidikan nasional di Indonesia oleh Ki Hajar Dewantara. Secara eksplisit Ki Hajar Dewantara pernah menyatakan dalam tulisannya bahwa segala alat, usaha, dan cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan. Selain itu Ki Hajar Dewantara juga mengatakan, “Pendidikan itu hanya suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita”. Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa selain menyadari sangat pentingnya pendidikan bagi proses tumbuh kembangnya karakter dan kemampuan seseorang, beliau juga mengakui adanya peran yang cukup penting dari faktor dasar/pembawaan, yang disebutnya sebagai kekuasaan kodrati.

Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebenarnya secara prinsip merupakan implementasi dari paham konvergensi dalam pendidikan. Dalam CBSA pengakuan dan perhatian terhadap potensi dasar/pembawaan anak sangat penting. Disamping itu, perhatian juga diarahkan pada pengkondisian lingkungan tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Sehingga proses pembelajaran dan pendidikan secara keseluruhan dapat berlangsung lebih bermakna. Dengan kata lain melalui sistem CBSA belajar itu dipandang sebagai proses interaksi antara individu dengan lingkungannya.

Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebenarnya sudah mulai diterapkan oleh para pendidik di Indonesia pada akhir tahun 1970. Secara harfiah, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dapat diartikan sebagai suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual, dan emosional untuk memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra (domain) kognitif, afektif, dan psikomotorik. Metode ini dapat dikatakan sebagai ‘pendidikan yang berpusat pada anak’, karena dalam proses pembelajaran yang berperan sebagai pengolah bahan ajar adalah siswa sendiri, sedangkan guru hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah proses belajar-mengajar.

Dengan berkembangnya ilmu pendidikan di Indonesia muncul pula pendekatan-pendekatan dan metode-metode pembelajaran lain yang juga menerapkan teori belajar konvergensi ini.

(disarikan dari berbagai sumebr)

 

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Teori Pendidikan Empiris

Posted by lembursingkur pada Desember 23, 2016

img_20160528_162101

Aliran empirisme, bertentangan dengan paham aliran nativisme. Empirisme (empiri = pengalaman), tidak mengakui adanya pembawaan atau potensi yang dibawa lahir manusia. Dengan kata lain bahwa manusia itu lahir dalam keadaan suci, tidak membawa apa-apa. Karena itu, aliran ini berpandangan bahwa hasil belajar peserta didik besar pengaruhnya pada faktor lingkungan.

Aliran empirisme merupakan salah satu aliran dalam filosofi yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa Yunani empiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai doktrin,empirisme adalah lawan dari rasionalime. Filsafat empirisme tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran positivism logis (filsuf Ludwig Wittegenstein). Akan tetapi teori makna dan empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman. Oleh karena itu bagi orang empiris, jiwa dapat dipahami sebagai gelombang pengalaman kesadaran, materi sebagai pola jumlah yang dapat diindra, dan hubungan kausalitas sebagai urutan peristiwa yang sama.

Dalam teori belajar mengajar, maka aliran empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan peserta didik. Pengalaman belajar yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan.

Tokoh perintis aliran empirisme adalah seorang filosof Inggris bernama John Locke (1632-1704) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Dengan demikian, dipahami bahwa aliran empirisme ini, seorang pendidik memegang peranan penting terhadap keberhasilan peserta didiknya. Seluruh sisa pengetahuan  diperoleh menggunakan jalan serta membandingkan  ide-ide yang diperoleh dari pengindraan serta refleksi yang pertama dan sederhana.Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang sejati ,dan pengetahuan harus dicapai dengan induksi. Ilmu yang benar adalah ilmu yang telah terakumulasi antara pikiran dan kenyataan kemudian diperkuat juga oleh sentuha indrawi.

Menurut Redja Mudyahardjo bahwa aliran empiris ini berpandangan behavioral, karena menjadikan perilaku manusia yang tampak keluar sebagai sasaran kajiannya, dengan tetap menekankan bahwa perilaku itu terutama sebagai hasil belajar semata-mata. Dengan demikian dapat dipahami bahwa keberhasilan belajar peserta didik menurut aliran empirisme ini, adalah lingkungan sekitarnya. Keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan dari pihak pendidik dalam mengajar mereka.

 

Landasan Empiris untuk Pembelajaran

Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya,siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Misalnya siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual,seperti gambar,diagram,video,atau film.

Berdasarkan empiris berarti pengembangan anak  yang lebih optimal berdasarkan pengalaman. Untuk memperoleh pengalaman, banyak kegiatan yang dilakukan orang. Salah satu contoh kegiatan yang bersifat empiris ialah penelitian tentang kurikulum pendidikan.

Kurikulum sekolah pendidikan dasar dan menengah di Indonesia sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1997 telah mengalami tiga perubahan. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah tahun 1968 sering disebut kurikulum 1986 diubah menjadi kurikulum pendidikan dasar dan menengah,tahun 1975 sering disebut kurikulum 1975. Selama kurang lebih delapan tahun pemberlakuan kurikulum 1968, pada tahun 1975 diubah dan disempurnakan menjadi kurikulum 1975. Kemudian muncul lagi kurikulum 1984 yang memiliki  istilah tujuan yang ingin dicapai siswa tetap ada. Yang dikenal dengan tujuan kurikuler, tujuan instruksional dan pada tahun 1994 dikenal dengan tujuan pembelajaran khusus. Hingga sekarang kita mengenal Kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013 yang sedang dikembangkan. dari setiap kurikulum mempunyai tujuan dengan istilah yang berbeda, tetapi maksudnya sama.

Pada pembelajaran tersebut terdapat keterempilan yaitu menyimak, berbicara, menulis, serta membaca. Keempat kompetensi ini merupakan keterampilan dasar yang bisa diukur oleh guru. Beberapa ketrampilan lain juga dijadikan sebagai hal yang dipelajari oleh siswa, misalnya menari, berlari, membuat sesuatu, merangkai, menyusun, memasak, membandingkan, dll.  Kompetensi ini disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dari setiap pelajaran.

Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif.

Kelebihan dari startegi ini antara lain:

  1. Meningkatkan partisipasi peserta didik,
  2. Meningkatkan sifat kritis peserta didik,
  3. Meningkatkan analisis peserta didik, dapat menerapkan pembelajaran pada situasi yang lain.

Sedangkan kekurangan dari strategi ini adalah penekanan hanya pada proses bukan pada hasil, keamanan siswa yang harus dipantau, biaya yang mahal, dan memerlukan waktu yang panjang.

(disarikan dari berbagai sumber)

 

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Teori Pendidikan: Nativisme

Posted by lembursingkur pada Desember 23, 2016

img_20160528_162427

Teori nativisme berisi bahwa perkembangan individu itu ditentukan oleh pembawaan atau dasar kekuatan kodrat yang dibawa sejak lahir. Semua perkembangan itu hanya akan dipengaruhi oleh pembawaan sejak lahir dan pengaruh-pengaruh dari luar seperti lingkungan tidak bisa mempengaruhi perkembangan anak tersebut. Tentu sangat jelas teori nativisme ini berlatar belakang berbeda dengan teorinya empirisme yang mempunyai konsep bahwa perkembangan individu ditentukan oleh pengalaman, sedang dasar sama sekali tidak memainkan peranan.

Dalam teori ini dinyatakan bahwa perkembangan manusia merupakan pembawaan sejak lahir/bakat. Teori ini muncul dari filsafat nativisma (terlahir) sebagai suatu bentuk dari filsafat idealism dan menghasilkan suatu pandangan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh hereditas, pembawaan sejak lahir, dan faktor alam yang kodrati. Teori ini dipelopori oleh filosof Jerman Arthur Schopenhauer (1788-1860) yang beranggapan bahwa faktor pembawaan yang bersifat kodrati tidak dapat diubah oleh alam sekitar atau pendidikan.

Tokoh utama (pelopor) aliran nativisme adalah Arthur Schopenhaur (Jerman 1788-1860). Tokoh lain seperti J.J. Rousseau seorang ahli filsafat dan pendidikan dari Perancis. Kedua tokoh ini berpendapat betapa pentingnya inti privasi atau jati diri manusia. Meskipun dalam keadaan sehari-hari, sering ditemukan anak mirip orang tuanya (secara fisik) dan anak juga mewarisi bakat-bakat yang ada pada orang tuanya.

Dalam suatu proses pendidikan, anak akan mempunyai ketergantungan dengan pembawaannya itu sendiri. Dalam arti kata bahwa seseorang akan berhasil dalam pendidikan dari ketergantungan pembawaannya. Jika dalam pembawaannya tersebut memiliki bakat jahat maka anak akan menjadi jahat, begitu juga sebaliknya jika dari bawaannya ia memiliki bakat baik maka anak akan menjadi baik. Oleh karena itu dalam menyelenggarakan suatu pendidikan harus disesuaikan dengan bakat yang dibawanya agar mempunyai hasil baik dan tidak akan sia-sia.

Teori nativisme dikenal juga dengan teori naturalisme atau teori pesimisme. Teori ini berpendapat bahwa manusia itu mengalami pertumbuhkembangan bukan karena faktor pendidikan dan intervensi lain diluar manusia itu, melainkan ditentukan oleh bakat dan pembawaannya. Teori ini berpendapat bahwa upaya pendidikan itu tidak ada gunanya san tidak ada hasilnya. Bahkan menurut teori ini pendidikan it upaya itu justru akan merusak perkembangan anak. Pertumbuhkembangan anak tidak perlu diintervensi dengan upaya pendidikan, agar pertumbuhkembangan anak terjadi secara wajar, alamiah, sesuai dengan kodratnya.

Faktor bawaan sangat dominan dalam menentukan keberhasilan belajar atau pendidikan,. Faktor-faktor yang lainnya seperti lingkungan tidak berpengaruh sama sekali dan hal itu juga tidak bisa diubah oleh kekuatan pendidikan. Pendidikan yang diselenggarakan merupakan suatu usaha yang tidak berdaya menurut teori tersebut, karena anak akan menetukan keberhasilan dengan sendirinya bukan melalui sebuah usaha pendidikan. Walaupun dalam pendidikan tersebut diterapkan dengan keras maupun secara lembut, anak akan tetap kembali kesifat atau bakat dari bawaannya. Begitu juga dengan faktor lingkungan, sebab lingkungan itu tidak akan berdaya mempengaruhi perkembangan anak.

Dalam teori nativisme telah ditegaskan bahwa sifat-sifat yang dibawa dari lahir akan menentukan keadaannya. Hal ini dapat diklaim bahwa unsur yang paling mempengaruhi perkembangan anak adalah unsure genetic individu yang diturunkan dari orang tuanya. Dalam perkembangannya tersebut anak akan berkembang dalam cara yang terpola sebagai contoh anak akan tumbuh cepat pada masa bayi, berkurang pada masa anak, kemudian berkembang fisiknya dengan maksimum pada masa remaja dan seterusnya.

Menurut teori nativisme ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia yaitu :

  1. Faktor genetik

Orang tua sangat berperan penting dalam faktor tersebut dengan bertemunya atau menyatunya gen dari ayah dan ibu akan mewariskan keturunan yang akan memiliki bakat seperti orang tuanya. Banyak contoh yang kita jumpai seperti orang tunya seorang artis dan anaknya juga memiliki bakat seperti orang tuanya sebagai artis.

  1. Faktor kemampuan anak

Dalam faktor tersebut anak dituntut untuk menemukan bakat yang dimilikinya, dengan menemukannya itu anak dapat mengembangkan bakatnya tersebut serta lebih menggali kemampuannya. Jika anak tidak dituntut untuk menemukannya bakatnya, maka anak tersebut akan sulit untuk mengembangkan bakatnya dan bahkan sulit untuk mengetahui apa sebenarnya bakat yang dimilikinya.

  1. Faktor pertumbuhan anak

Faktor tersebut tidak jauh berbeda dengan faktor kemampuan anak, bedanya yaitu di setiap pertumbuhan dan perkembangannya anak selalu didorong untuk mengetahui bakat dan minatnya. Dengan begitu anak akan bersikap responsif atau bersikap positif terhadap kemampuannya.

Dengan ketiga faktor tersebut, memunculkan beberapa tujuan dalam teori nativisme, dimana dengan  faktor-faktor yang telah disampaikan dapat menjadikan seseorang yang mantap dan mempunyai kematangan yang bagus.

Adapun tujuannya adalah sebagai berikut :

  1. Dapat memunculkan bakat yang dimiliki.

Dengan faktor yang kedua tadi, diharapkan setelah menemukan bakat yang dimiliki, dapat dikembangkan dan akan menjadikan suatu kemajuan yang besar baginya.

  1. Menjadikan diri yang berkompetensi.

Hal ini berkaitan dengan faktor ketiga, dengan begitu dapat lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan bakatnya sehingga mempunyai potensi dan bisa berkompetensi dengan orang lain.

  1. Mendorong manusia dalam menetukan pilihan.

Berkaitan dengan faktor ketiga juga, diharpkan manusia bersikap bijaksana terhadap apa yang akan dipilih serta mempunyai suatu komitmen dan bertanggung jawab terhadap apa yang telah dipilihnya.

  1. Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang.

Artinya dalam mengembangkan bakat atau potensi yang dimiliki, diharapkan terus selalu dikembangkan dengan istilah lain terus berperan aktif dalam mengembangkannya, jangan sampai potensi yang dimiliki tidak dikembangkan secara aktif.

  1. Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki.

Banyak orang bisa memaksimalkan bakatnya, karena dari dirinya sudah mengetahui bakat-bakat yang ada pada dirinya dan dikembangkan dengan maksimal.

 

 Pandangan Pendidikan Terhadap Teori Nativisme

Melihat dari tujuan-tujuan itu memang bersifat positif. Tetapi dalam penerapan di praktek pendidikan, teori tersebut kurang mengenai atau kurang tepat tanpa adanya pengaruh dari luar seperti pendidikan. Dalam praktek pendidikan suatu kematangan atau keberhasilan tidak hanya dari bawaan sejak lahir. Akan tetapi banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya seperti lingkungan. Dapat diambil contoh lagi yaitu orang tua yang tidak mampu dan kurang cerdas melahirkan anak yang cerdas daripada orang tuanya. Hal tersebut tidak hanya terpaut masalah gen, tetapi ada dorongan-dorongan dari luar yang mempengaruhi anak tersebut.

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, sekarang ini yang ada dalam praktek pendididkan tidak lagi memperhatikan apakah manusia memiliki bakat dari lahir atau tidak, melainkan kemauan atau usaha yang dilakukan oleh manusia tersebut untuk kemajuan yang besar bagi dirinya. Memang secara teoritis pendidikan tidaklah berpengaruh atau tidak berdaya dalam membentuk atau mengubah sifat dan bakat yang dibawa sejak lahir. Kemudian potensi kodrat menjadi cirri khas pribadi anak dan bukan dari hasil pendidikan. Terlihat jelas bahwa anatara teori nativisme dan pendidikan tidak mempunyai hubungan serta tidak saling terkait antara yang satu dengan lainnya. Oleh sebab itulah aliran atau teori nativisme ini dianggap aliran pesimistis, karena menerima kepribadian anak sebagaimana adanya tanpa kepercayaan adanya nilai-nilai pendidikan yang dapat ditanamkan intuk merubah kepribadiannya.

Menurut nativisme pendidikan tidak bisa mengubah atau mempengaruhi perkembangan anak dan dengan adanya pendidikan akan merusak perkembangan anak tersebut. Melihat hal tersebut muncul pandangan dengan demikian dalam praktek atau aplikasi dari teori tersebut tidaklah memerlukan suatu pendidikan baik itu pendidikan yang bersifat keras maupun lembut, dan walaupun diberikan pendidikan maka  akan menjadikannya suatu hal yang sia-sia.

Pendidikan sangatlah diperlukan oleh setiap manusia, karena tanpa pendidikan tidak akan bisa berkembang walaupun dari bawaan sejak lahir sudah memiliki potensi.

Fungsi pendidikan yaitu memberikan dorongan  atau menggandeng manusia untuk menjadi lebih baik. Dengan adanya pendidikan dapat lebih lagi memaksimalkan, mengembangkan segala potensi, bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. Kata Dryakara pendidikan itu memanusiakan manusia muda. Selain dari itu juga pendidikan tidak hanya harus bidang akademik saja melainkan juga hendaknya memperhatikan kegiatan-kegiatan yang bisa untuk menjadi wadah dalam mengembangkan dan menyalurkan bakat anak di luar akademik.

 

 

 

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

HARI GURU: MENJAGA INTEGRITAS DIRI GURU SEBAGAI PENDIDIK

Posted by lembursingkur pada November 26, 2016

Guru diberikan kehormatan dengan cara  negara memberikan  setiap tanggal 25 November sebagai hari untuk menghormati profesi ini. Ini menunjukkan bahwa profesi guru dihargai dan dihormati sebagai sebuah profesi yang membawa dampak baik bagi bangsa ini. Anak bangsa akan menjadi cerdas dengan bimbingan para guru. Berkat pendampingan dan pengajaran mereka para anak bangsa mempunyai harkat yang baik karena mereka mempunyai pendidikan. Pendidikan yang mengngkat seseorang menjadi lebih berharkat.

Guru dengan pendidikan tak bisa dipisahkan. Ibarat cabai denagn pedasnya, gula dengan manisnya, dan garam dengan asinnya. Menjadi senyawa yang tak terpisahkan. Ketika garam tak lagi asin maka dia tak lagi disebut garam. Demikian juga guru. Bila guru tak lagi mendidik dia bukan lagi sebagai seorang guru yang layak digugu atau ditiru.

Guru bukan lagi sebagai sebuah profesi dengan ijasah dan pendidikan keguruan di belakangnya  belaka. Profesi guru bersenyawa dengan kepribadian guru tersebut. Profesi guru menuntut seseorang menghayati profesinya dan sekaligus menjadikan kepribadiannya juga layak disebut guru. Ada sejumlah persyaratan tak tertulis yang harus dipenuhi seseorang  ketika dia memutuskan untuk menjadi guru. Ada integritas yang harus dipenuhi ketika seseorang menjadi guru.

Dalam fase kehidupan manusia seorang pendidik mempunyai andil pada proses pembentukan karakter. Guru yang memiliki makna “digugu lan ditiru” (dipercaya dan dicontoh) secara tidak langsung juga memberikan pendidikan karakter pada peserta didiknya. Oleh karena itu, profil dan penampilan guru seharusnya memiliki sifat-sifat yang dapat membawa peseta didiknya ke arah pembentukan karakter yang kuat. (M.Furqon Hidayatullah, 2009).

Dari  pendapat diatas, kita dapat memberikan persepsi mengenai makna dari guru itu sendiri. Sebagai guru yang dituntut untuk profesional, memberikan makna bagi sarjana pendidikan yang akan menjadi penopang estafet mendidik anak bangsa untuk memberikan suatu realita contoh dari diri mereka. Sikap yang ditunjukkan didalam diri mereka kepada anak didik merupakan suatu bukti nyata dari hasil kombinasi etika dan moral yang dimiliki oleh seorang guru. Jika rusak etika dan moral mereka sebagai guru, maka rusaklah sikap mereka kepada anak didik dan tidak patut dijadikan sebagai contoh dan panutan. Namun pertanyaannya adalah bagaimana seharusnya yang dilakukan oleh seorang sarjana pendidikan sebagai guru dan penerus estafet didalam mendidik anak didik? Inilah yang perlu dikaji secara mendalam dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan saat ini dengan kesejahteraan guru yang semakin meningkat.

Moral dan Etika merupakan bentuk kontributif dari sikap yang ditunjukan oleh guru kepada anak didiknya. Jika Moral dan Etika buruk, maka buruk juga sikap guru dimata anak didiknya, dan terkadang anak didik menjadikan panutan didalam kehidupan sehari-hari mereka. Untuk mencapai moral dan etika yang baik kepada siswa, sudah selayaknya sebagai guru yang profesional, mampu mengkonstruksi kembali perencanaan pendidikan yang akan dilakukan kepada anak didik. Untuk mendapatkan apresiasi yang baik dari anak didik, maka terlebih dahulu guru membenahi moral dan etika mereka dihadapan anak didik dan bukan menjadikan moral sebagai topeng. Karena jika moral dan etika hanya dijadikan sebagai topeng, maka suatu saat moral buruk akan kembali dan merusak tatanan sebelumnya sehingga menjadikan topeng baik menjadi topeng buruk.

Sudah selayaknya moral dan etika guru sebagai wajah yang selalu tertanam didalam diri manusia. Bukan sebagai topeng yang sekali waktu bisa tergantikan denagn topeng yang lainnya.

Kurangnya respon guru terhadap anak didik didalam pembelajaran atau sebaliknya memberikan andil didalam menurunkan moral dan etika seorang guru. Terkadang ketika didalam proses belajar mengajar siswa kurang memberikan apresiatif terhadap guru yang sedang mengajar didepan kelas, misalnya ribut. Jika siswa ribut, terkadang guru sering lepas emosi, alhasil memberikan citra buruk kepada guru tersebut dihadapan peserta didik. Siswa menganggap guru killer, dan tidak mustahil dapat berimbas pada minat maupun motivasi siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. Oleh karena itu, selayaknya seorang guru mampu mengontrol emosinya pada saat keadaan yang tidak terkendali.

Sebagai seorang pengajar yang akan memberikan materi penlajaran kepada siswanya seharusnya seorang guu memberikan inovasi-inovasi didalam pengajarannya dengan model-model pembelajaran dan pemanfaatan teknologi yang menarik bagi siswa, tetapi tetap disesuaikan dengan kondisi sekolah dan permasalahan siswa. Selain itu, sudah selayaknya seorang guru memberikan apresiasi besar kepada siswa dengan apa yang dilakukan oleh mereka didalam proses belajar mengajar serta menjadikan anak didik sebagai mitra didalam proses pembelajaran bukan menjadikan anak didik sebagai pesuruh ataupun lainnya yang bersifat memberikan kesenjangan dengan siswa. Peserta didik sebagai subjek, bukan sebagai objek.

Menurunnya moral seorang guru juga dapat disebabkan oleh kurangnya komunikasi antar guru. Dengan kurangnya komunikasi antar guru, terkadang sesama guru tidak dapat mengembangkan inovasi pembelajaran yang efektif dan efisien. Kurangnya komunikasi antar guru juga dapat berakibat pada tidak terselesaikannya permasalahan yang terjadi pada anak didik, misalnya prestasi belajar, dan permasalahan administratif. Terkadang juga dengan kurangnya komunikasi antar guru memberikan sikap kaku didalam sekolah.

Dengan demikian, sangatlah penting seorang guru memberikan sikap saling pengertian dengan guru lainnya, saling komunikatif, dan menciptakan suasana yang kondusif didalam sekolah itu sendiri. Dengan semakin komunikatifnya guru didalam sekolah dapat menguntungkan satu sama lain, yaitu dapat melakukan penelitian terhadap permasalahan didalam pembelajaran kepada anak didik. Sesama guru dapat saling membantu untuk memecahkan permasalahan didalam pembelajaran.

Permasalahan internal dari guru itu sendiri juga memberikan andil didalam mempengaruhi moral seorang guru. Kita tidak dapat memungkiri, terkadang beberapa guru mencampuradukan permasalahan internal, baik itu permasalahan keluarga maupun lainnya ke dalam kewajibannya didalam mengajar. Sehingga terkadang membuat guru tersebut malas mengajar atau tidak respek dengan apa yang dilakukan siswa didalam proses belajar mengajar. Alhasil guru bersifat masa bodoh dan acuh tak acuh sehingga mengesampingkan makna pendidikan itu sendiri. Sudah seharusnya seorang guru bersifat profesional dan mampu memilah antara permasalahan internal dan proses belajar mengajar.

Kurangnya religiusitas yang berdampak pada kurangnya kecerdasan spiritual seorang guru  juga turut member andil didalam penurunan moral dan etika dari seorang guru. Dengan kurangnya kecerdasan spiritual, guru terkadang cepat emosi dan keluar dari koridor-koridor yang semestinya. Namun sebaliknya, dengan adanya pendidikan religi batasan-batasan yang perlu dilakukan oleh seorang guru dapat terwujud dan meningkatkan moral dan etika pendidik.

Oleh karenanya, pihak sekolah dan dinas kementrian pendidikan nasional perlu mengevaluasi tingkat moral dan etika dari seorang guru yang menjadi tanggung jawab mereka. Dengan adanya evaluasi, diharapkan dapat meminimalisir permasalahan yang mengakibatkan penurunan moral dan etika yang dapat berakibat pada permasalahan-permasalahan krusial, seperti tindak asusila, korupsi, dan tindak lainnya. Perlunya pemahaman moral-sosial dengan pelatihan-pelatihan dan menejemen konflik juga diharapkan dapat meminimalisir dekadensi moral dari para guru.

Guru  sebagai seorang pendidik yang memang lahir dan berkarya untuk pendidikan sudah selayaknya menjadi seseorang  yang memiliki integritas yang tinggi. Integritas artinya selarasnya   moral dan etika dengan tidakan nyata  yang dilakukannya dalam kehidupan kesehariannya.

Peningkatan kualitas prestasi anak didik merupakan tanggung jawab dari seorang pendidik. Pendidikan tidak hanya mencakup pada tersampainya materi pembelajaran, tetapi juga tercapainya pendidikan karakter pada siswa yang dapat dilihat dari kepribadian siswa keseharian. Moral peserta didik  menjadi bagian dari tanggung jawab guru sebagai pendidik. Jangan salahkan anak didik jika mereka sering mencontek, karena pendidiknya pun acuh tak acuh dan tidak respon dengan baik atau buruknya kegiatan yang mereka lakukan. Sudah selayaknya guru sebagai pendidik menjadi model bagi peserta didik.  Baik atau buruknya moral seorang pendidik berpengaruh besar kepada anak murid yang dididiknya. Pendidik adalah panutan untuk memunculkan potensi positif didalam diri anak didik bukan sebaliknya.

(Ch. Enung Martina)

Posted in Artikel | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

CERPEN SEPUTAR KEMATIAN

Posted by lembursingkur pada November 8, 2016

TABIR TIPIS KEMATIAN

Masih ingatkah akan cerpen saya tentang alam yang berjudul Cerita Sebuah Pohon Tanjung? https://lembursingkur.wordpress.com/2013/02/10/cerpen-tentang-alam/ Cerpen ini diunggah 10 Februari 2013 sehari sebelum saya ulang tahun ke-49. Cerpen itu berkisah tentang hati saya yang biru dan lebam karena 2 pohon tanjung besar di rumah saya ditebang karena lahan di dekatnya akan dibangun rumah, padahal pohon tanjung itu pohon peneduh di pinggir jalan.  Pohon tanjung itu sudah berusia sekitar 18 tahun kala ia ditebang. Hati saya merana sampai rasanya sakit saat saya bernafas. Kala itu saya benci terhadap orang yang akan jadi calon tetangga saya yang membangun rumahnya disamping rumah saya denagn mengorbankan pohon tanjung besar yang saya cintai.

Ini adalah lanjutan kisah sesudah 3 tahun lebih peristiwa itu berlalu.  Kami dengan penebang pohon tanjung ini menjadi tetangga. Ada asam dan manis menjadi tetangga. Awalnya saya agak canggung ketika bertegur sapa denagn keluarga ini. Apalagi saat saya mengingat dua pohon tanjung, hati saya teriris lagi. Namun, dengan bergeraknya waktu yang ajaib, kami menjadi tetangga yang baik. Anak-anaknya 3 orang anak laki-laki mulai bermain ke rumah kami. Main bersama si bungsu, Abhimanyu. Terutama anak nomor dua yang usianya selisih 1 tahun dengan bungsu saya.  Nonton yutube bersama, main game bersama, naik sepeda bersama, makan bareng, jatuh bareng, nakal bareng. Pokoknya menjadi sahabat baik. Alvin, nama anak kedua tetangga baru ini hampir setiap hari main ke rumah saya. Mungkin karena di rumah ada vasilitas internet dan laptop yang bisa dijadikan dua anak generasi Z ini bermain. Jadilah kedua anak ini menjadikan rumah saya jadi amrkas mereka.

Saya sendiri sudah jatuh cinta dengan Alvin. Anak laki-laki yang rambutnya selalu dipotong plontos itu sangat pandai membawakan diri saat bermain dengan Abhimanyu. Demikian pula kami orang tua, akhirnya mulai berperilaku layaknya tetangga,  saling mencicipi oleh-pleh bila habis bepergian, berbagi masakan yang kami masak. Hati saya sudah tidak biru lagi. Pohon tanjung masih ada dalam ingatan saya, tetapi sakit hati mulai terkikis. Itu keajaiban waktu.

Kebetulan pula bahwa saya orang Sunda dan keluarga ini suami istri dari kabupaten yang sama denagn saya. Bahkan, sang istri satu kecamatan dengan saya. Jadilah kami sering mengobrol dengan bahasa Sunda yang sangat langka saya gunakan di sini karena tak ada lawan.  Begitulah kami akhirnya menjadi tetangga yang baik.

Memang ada beberapa hal dari keluarga ini yang tak cocok denagn prinsip saya, contohnya  dalam hal lingkungan dan pola pengasuhan anak. Namun itu hal lumrah karena tidak tiap orang harus sama dengan apa yang saya mau. Dalam hal lingkungan keluarga ini saat membangun  rumah memindahkan batas jalan umum untuk memperlebar batas tanahnya. Waktu itu salah satu dari warga blok kami sudah ada yang mengingatkan, tetapi tetangga baru saya tak menggubriusnya.  Masih dalam hal lingkungan, keluarga ini tidak membuat bak sampah dekat rumahnya, melainkan menempatkan pot besar sebagai pengganti tempat sampah di samping bak sampah saya yang dibangun permanen. Dalam pola pengasuhan anak, tak ada batasan waktu anak bermain di luar atau ke rumah tetangga. Anak akan dibiarkan pulang sendiri. Terkadang saya harus mengusir Alvin pulang karena sudah kelamaan di rumah saya.

Hal-hal demikian bukan menjadi pengahalang dalam bertetangga itu pikir saya. Namun, untuk melebarkan batas tanah sempat menjadi bahan pemikiran saya. Itu karena saya dibesarkan dalam budaya pertanian yang sangat menghargai tanah, tanaman, dan air. Ayah saya almarhum pernah memberikan petuahnya bahwa jangan pernah kita melebihkan batas tanah kita dengan mengambil batas tanah orang lain. Itu pamali. Saya masih ingat karena saat itu tidak puas dengan pernyataan pamali. Lantas saya bertanya : Kenapa? Ayah saya bilang tanah itu menyangkut ‘hurip’ kehidupan. Semua mahluk bumi hidup dari tanah dan air. Karena itu kalau kamu memindahkan batas,  kamu sudah mencurangi kehidupan. begitu penjelasan ayah saya. Pasti ada akibatnya. Waktu saya bertanya apa akibatnya? Tapi Emak (ibu saya) bilang kalau pamali itu  tak usah dipertanyakan karena itu aturan leluhur yang juga diturunkan dari sononya. Mereka membuat aturan itu berdasarkan pengalaman mereka. Jadi saya tidak bertanya lagi.

Nah, kata-kata ayah saya jadi terngiang lagi ketika tetangga baru saya memindahkan batas itu. Tapi karena banyak perkara lain yang  menyita pikiran saya, hal tersebut tidak berkepanjangan, dengan sendirinya hilang begitu saja.

Hingga pada suatu hari Kamis tanggal 18 Agustus 2018, saya pulang dari tempat kerja melewati rumah tetangga baru saya sebelum masuk ke pintu pagar saya. Saya melihat di gang sudah dipasang tenda. Saya lewat saja karena pikir saya mungkin Papa Alvin mau menyelenggarakan pesta. Ketika saya masuk, Abhimanyu sedang menonton chanel yutube kesukaannya, tiba-tiba mengatakan, “Ibu, Alvin meninggal tadi pagi.”

Saya sontak melepaskan barang bawaannya saya dari tangan saya, seolah petir di siang bolong berita itu masuk ke kepala saya. “Kenapa Alvin, Abhi?”

“Alvin sudah dipanggil Tuhan. Tapi kamu gak usah sedih.”

Sudah pasti sedih dan kaget. Meskipun Abhimanyu berpesan begitu. Masih terlihat di sudut mata saya, Alvin duduk berdua dengan Abhimanyu di kursi yang sekarng diduduki Abhimanyu saat melihat chanel yutube atau bermain game bersama. Masih terbayang di pelupuk mata kaus – celana setelan hijau ada strip kuning di lengannya dengan gambar pahlawan power ranger di depannya. Di halaman rumah, tepatnya jalan gang blok kami, Alvin akan main bola atau main kayu bersama adiknya. Semuanya nyata di mata saya yang sekarang basah bersimabha air mata.

Tanpa mengganti seragam kerja berwarna biru ngejreng yang melekat di tubuh saya, saya langsung menyambangi tetangga baru saya. Keluarga inti Alvin tak ada di rumah. Mereka membawa jenazah Alvin ke kampung ibunya, berarti ke daerah saya, untuk memakamkannya di sana. Yang menyambut saya adalah paman dan bibinya yang dipercaya menjaga rumah.

Saya bertanya pada mereka penyebab Alvin meninggal. Mereka mengatakan Alvin panas 3 hari, ini hari keempat ia meninggal. Tubuh Alvin membiru saat meninggal, terutama di bagian kuku dan lidahnya. Saya kaget sekali. Saya penasaran apa yang menyebkan kematian bocah ini. Namun, mereka menjelaskan saat dibawa ke RS Medika, Alvin sudah meninggal sehingga tak bisa diketahui apa penyebabnya.

Saat saya berbincang dengan teman sekerja saya yang sekaligus tetangga saya selang satu rumah, topik kami  masih pertanyaan seputar penyebab kematian Alvin. Pak Jaka kawan saya akhirnya menelepon adiknya yang seorang dokter. Adik Pak Jaka menyatakan kalau dengan tanda seperti itu, kematian itu disebabkan kekurangan oksigen. Apakah Alvin mempunyai penyakit asma? Saya tak berani menanyakan pada orang tuanya hingga saat ini. Saya bertemu dengan mereka tak pernah menyinggung Alvin. Saya tahu hal itu akan melukai mereka.

Saya dan Abhimanyu khususnya mendoakan Alvin saat doa malam kami. Dua hari setelah kematian Alvin, berarti itu hari ketiganya Alvin tiada, Abhimanyu minta sendiri untuk mendoakan Alvin. Kami berdoa dimualai dengan doa Abhimanyu untu Alvin dan untuk supaya tidak mimpi buruk, melainkan mimpi indah. Lalu doa saya lanjutkan juga masih untuk Alvin. Selesai kami membuat tanda salib tanda doa berakhir, Abhimanyu tiba-tiba berkata, “Bu, kok kamar kita wangi sekali. Apa ada minyak wangi yang tumpah? Coba Ibu cium!” Tapi saya tak mencium apa pun. Sampai saya cari di seputar kamar bahkan ke luar dekat jendela, saya tak menemukan apa-apa. Namun, Abhimanyu tetap ‘keukeuh’ menyatakan bahwa kamarnya wangi sekali, wangi parfum dengan aroma manis, begitu ia mendeskripsikan.

Saya tidak diberi berkat untuk mencium wangi itu. Wangi itu hanya khusus UNTUK ABHIMANYU SAJA. Ketika ia bertanya itu wangi apa, saya agak sukar untuk menjawab pertanyaan itu. Saya ngarang bahwa mungkin itu wangi yang dibawa angin ke rumah kita lalu mampir di kamarmu. Begitu saya menjelaskan. Untung dia mengantuk sehingga pertanyaan tidak bersambung.

Setiap malam acara rutin saya bermeditasi (Zen Qi Sirkulasi) untuk tujuan kebugaran tubuh. Biasanya dilakukan sesudah doa malam atau sebelum rutinitas pagi. Pukul 3 .30 pagi saya bangun, lalu doa dilanjutkan meditasi. Lumayan kalau ada masalah tidak langsung nyamber ke titik emosi negatif saya, kepala jadi agak adem.

Penyebab kematian Alvin masih bersarang di otak saya. Karena itu akhirnya saya bawa dalam meditasi pernafasan saya. Apa yang didapat saudara? Ingatan kembali ke tahun 2013 saat tetangga baru saya membabat habis pohon tanjung dan membuat hati saya biru lebam. Otak saya menghubungkan pohon tanjung itu adalah sumber oksigen untuk tiap mahluk yang ada di sekitarnya. Pohon adalah pabrik oksigen. Pohon ditebang artinya kita menghancurkan pabrik oksigen. Artinya merampas oksigen dari mahluk  yang membutuhkannya. Alvin mati kekurangan oksigen. Bapaknya Alvin 3 tahun lalu menghilangkan sumber oksigen.  Bapak Alvin mengubah batas tanah yang merupakan jalan umum- hajat hidup orang banyak untuk memperluas tanahnya sendiri. Sekarang hidup Alvin terenggut?

Dalam meditasi itu air mata saya menetes deras. Saat itu saya sangat takut dengan hukum alam. Atau huku karma. Atau hukum sebab akibat. Atau hukum pamali yang ayah saya katakan. Saya sangat takut. Otak neokortek saya yang merupakan otak akal budi menepis hasil analisis otak reptilia dan otak mamalia saya. Saya bertanya apakah pamali yang Ayah saya ajarkan itu benar terjadi? Apakah benar ketika kita melakukan tindakan gegabah pada alam bisa berdampak langsung seperti itu? Tapi kenapa kalau itu  benar terjadi apda anak kecil yang tak mengerti apa-apa?

Itu semua analisis di otak reptilia dan otak mamalia saya saat meditasi.  Salah satu Suhu pernah menyatakan bermeditasi itu adalah proses otak untuk menganalisis, memilah, mengungakp, menimbang, membangun,  dan akhirnya memaparkan. Namun, benar atau tidaknya, Walallahu Alam.

(Ch. Enung Martina)

Posted in Cerpen, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 1 Comment »