Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

ARTIKEL TENTANG KOMUNIKASI

Posted by lembursingkur pada Mei 10, 2018

KOMUNIKASI DIADIK DALAM PENDIDIKAN

                                                                                                      (doc.pribadi-Anyer)
Saat ini penulis sedang menyusun PTK (Penelitian Tindakan Kelas) sebagai bentuk kewajiban yang dituntut dari tenaga pendidik di yayasan tempat penulis berkarya. Dalam penyususnan tersebut, penulis membaca beberapa landasan teori untuk mendukung PTK yang sedang penulis lakukan. Ada beberapa penemuan istilah pendidikan yang dahulu tak pernah penulis dapatka di bangku kuliah. Salah satunya adalah istilah komunikasi diadik. Karena itu konsepini menjadi bahan yang penulis harus pelajari tentang konsep diadik ini.

Komunikasi diadik disebut juga (two way communication) adalah proses komunikasi yang terjadi secara dua arah antara satu orang dengan satu atau dua orang lainnya yang saling berhadapan langsung (face to face). Dengan kata lain komunikasi diadik merupakan bentuk khusus komunikasi antarpribadi antau intapersonal.

Komunikasi diadik (dyadic communication) yang hanya melibatkan dua individu, misalnya suami- istri, dua sejawat, guru-murid. Perlu diingat komunikasi diadik hanya dilakukan oleh dua orang yang saling bergantian menjadi komunikator (penyampai pesan) ataupun komunikan (penerima pesan). Kita sering melakukan komunikasi ini, baik sebagai pendidik, sebagai orang tua, pasangan, teman, dan aneka peran kita dalam keluarga, komunitas, atau masyarakat.

Ciri-ciri komunikasi diadik termasuk adalah sebagai berikut ini :
a)Komunikasi dilakukan antara dua orang
b)Komunikasi dilakukan langsung (face to face) atau kadang menggukan media seperti telefon dan video-telfon.
c) Pembicara (komunikator) dapat berubah statusnya menjadi pendengar, begitu juga sebaliknya pendengar (penerima pesan) dapat berubah menjadi pembicara, dan seterusnya berputar berganti-ganti selama proses komunikasi interpersonal berlangsung. Tetapi komunikator utama adalah si pembawa pesan atau yang pertama-tama menyampaikan pesan (message) sebab dialah yang memulai komunikasi dan mempunyai tujuan.
d Efek komunikasi dapat terlihat langsung , baik secara verbal (dengan ucapan mengiyakan/menjawab) maupun secara non-verbal ( dengan bahasa tubuh/kinesik dan isyarat)

Menariknya selain verbal (kata-kata) juga sangat dominan dengan nonverbal, bahasa tubuh (body language) yang justru lebih jujur maknanya daripada yang diungkapkan secara verbal.
Mari kita lihat beberapa contoh bahasa tubuh di bawah ini:
 Gestures (gerak-gerik), missal gerak sering membetulkan posisi duduk tanda dari gelisah
 Postures (sikap tubuh), missal di Indonesia dikenal :
 Membusungkan dada tandanya sombong
 Menundukan kepala tandanya merendah
 Berdiri tegak tandanya berani
 Bertopang dagu tandanya bersedih
 Menadahkan tangan tandanya bermohon,
 Symbolic cloting (pakaian simbolik), misalnya warna pakaian serba hitam tandanya berkabung duka
 Facial expressions (ekspresi muka), misalnya :
o Muka kaku disertai mata terbelalak tanda dari takut
o Muka ditekan disertai mata dikerutkan ke depan tanda dari muak
o Muka rileks disertai senyum tanda sedang bahagia
o Muka kencang disertai mata melotot tanda seseorang marah

Ada tiga bentuk dalam komunikasi diadik ini, yaitu percakapan, dialog dan wawancara. Ketiganya memiliki karakteristik masing-masing.
a. Percakapan berlangsung dalam suasana yang bersahabat dan informal.
b. Dialog berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam dan lebih personal.
c. Sedangkan wawancara sifatnya lebih serius, yakni ada pihak yang dominan pada posisi bertanya dan yang lainnya pada posisi menjawab.

Sebagai seorang pendidik, guru sering memerlukan dan melakukan komunikasi diadik ini. Ada beberapa hal yang kita tidak bisa sampaikan secara umum (kalsikal) di dalam kelas karena menyangkut hal yang sifatnya pribadi. Seorang guru dengan sengaja akan melakukan komunikasi dua arah agar cara lebih mengena sehingga tujuan pun tercapai.

Komunkasi diadik yang merupakan komunikasi antarpribadi dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Antara lain untuk menyampaikan informasi, menggali informasi, berbagi pengalaman, mengembangkan simpati, melakukan kerja sama, mengembangkan motivasi, dan mengungkapkan isi hati, ide, dst.

Karena komunikasi diadik ini merupakan komunikasi interpersonal, maka keberhasilannya tergantung dari beberapa faktor saat komunikasi itu berlangsung. Dalam komunikasi interpersonal dipengaruhi oleh persepsi interpersonal, konsep diri, atraksi interpersonal, dan hubungan interpersonal.

Persepsi interpersonal adalah memberikan makna pada stimulus (rangsangan) inderawi, atau menafsirkan informasi secara inderawi. Persepi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seseorang (komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal. Kecermatan dalam persepsi interpersonal akan berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi. Seorang peserta komunikasi yang salah memberi makna terhadap pesan akan mengakibat kegagalan komunikasi.

Sedangkan Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi antar pribadi.
Konsep diri yang positif, ditandai dengan lima hal, yaitu:
 Yakin akan kemampuan mengatasi masalah
 Merasa setara dengan orang lain
 Menerima pujian tanpa rasa malu
 Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya    disetujui oleh masyarakat
 Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubah.

Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi antar pribadi.
Hal yang ketiga adalah atraksi interpersonal. Menurut buku yang penulis baca kata atraksi interpersonal itu terdiri dari atraksi yang dari bahasa latin attrahere— ad yang berarti menuju; trahere; menarik. Dan interpersonal yang artinya hubungan antar individu. Dean C Barlund, ahli komunikasi interpersonal, yang menuliskan “mengetahui garis-garis atraksi dan penghindaran dalam sistem sosial artinya mampu meramalkan dari mana pesan akan muncul, kepada siapa pesan itu akan mengalir, dan lebih-bagaimana pesan itu akan diterima” (barlund, 1968:71).
Maksudnya secara sederhana seperti ini: mengetahui siapa tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa.

Dengan begitu kita dapat mengetahui arus komunikasi antardua orang tersebut. Contohnya seorang remaja laki-laki yang lagi melakukan pendekatan (pedekate) dengan salah satu remaja putri akan cenderung lebih sering komunikasi dengan remaja putri ini, entah itu hanya menyapa atau malah menggodanya. Namun, bisa sebaliknya kalau dia lewat depannya malah malu-malu atau seolah-olah menghindar.

Apabila dibandingkan dengan komunikasi lain, maka komunikasi diadik lebih efektif mengenai sasaran karena komunikator memusatkan perhatiannya kepada seorang komunikan, sehingga ia dapat menguasai frame of reference (kerangka acuan) komunikan sepenuhnya. Selain itu, umpan balik yang berlangsung anatara komunikator dan komunikan sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya proses komunikasi. Efektifitas komunikasi diadik lebih daripada kumunikasi yang lain.

Sebagai pendidik yang melayanai peserta didik yang dipercayakan kepada kita, tentunya patutlah kita meningkatkan komunikasi agar tujuan pendidikan tercapai.

(Disarikan dari berbagai sumber oleh Ch. Enung martina)

Iklan

Posted in Artikel, Lain-Lain, pendidikan | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Posted by lembursingkur pada Mei 1, 2018

PILAR PENDIDIKAN ERA DIGITAL

(pic.doc. pibadi-Italia)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “pilar” diartikan sebagai “tiang penyangga” (terbuat dari besi atau beton). Pilar diartikan sebagai suatu penyangga yang kuat. Tanpa penyangga itu maka sebuah bangunan akan runtuh. Bangunan atau rumah berangkat dari pondasi yang dilengkapi dengan pilar agar atap bisa berdiri kokoh dan tidak mudah roboh sehingga tampak menjadi lengkap dan melengkapi.

Demikian pula kalau kita mendenagr kata pilar pendidikan. Menyatakan bahwa pendidikan tanpa pilar itu pun tak akan kuat. Eksistensi pilar dalam pendidikan hal bisa dikatakan sangat penting peranannya sebagai penopang agar menjadi suatu yang utuh (unity). Adapun pilar-pilar pendidikan adalah bahwa sendi pendidikan ditopang oleh semangat belajar yang kuat melalui pola belajar yang bervisi ke depan dengan melihat perubahan-perubahan kehidupan.Dalam pendidikan, belajar merupakan bagian yang tak terpisahkan karena pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran (belajar-mengajar). Belajar juga dikatakan sebagai key term (kata kunci) paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan.

Hal ini melihat dari kondisi zaman yang cepat berubah terutama di bidang teknologi dan informasi sehingga visi paradigma pendidikan harus relevan. Visi pendidikan ini kemudian diturunkan ke dalam metode pembelajaran. Metode yang mengubah paradigma teaching (mengajar) menjadi learning (belajar). Dengan perubahan ini proses pendidikan menjadi proses bagaimana“belajar bersama antar guru dan anak didik”. Guru dalam konteks ini juga termasuk bagian dalam proses belajar. Dalam proses learning itu guru juga belajar. Dengan demikian lingkungan sekolah menjadi learning society (masyarakat belajar). Dalam paradigma ini, peserta didik tidak lagi disebut pupil (siswa-murid) tapi learner (yang belajar/pembelajar).

Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan bagi suatu bangsa, bagaimanapun mesti diprioritaskan. Sebab kualitas pendidikan sangat penting artinya, karena hanya manusia yang berkualitas saja yang bisa bertahan hidup di masa depan. Manusia yang dapat bergumul dalam masa saat dunia semakin sengit tingkat kompetensinya adalah manusia yang berkualitas. Manusia demikianlah yang diharapkan dapat bersama-sama manusia yang lain turut bepartisipasi dalam percaturan dunia yang senantiasa berubah dan penuh teka-teki (Isjoni, 2008:vii).

Sebagai objek sekaligus subjek pendidikan manusia menjadi titik sentral dalam proses belajar yang mengarah pada tujuan pendidikan. Manusia belajar dari apa saja di sekitarnya untuk survive sekaligus pengembangan potensi diri, lahir dari ketidaktahuan dari rahim seorang ibu dan dibekali pengelihatan, pendengaran dan akal untuk digunakan dalam tugasnya sebagai mahluk Allah yang tertinggi untuk pemelihara semesta, bukan untuk merusaknya.
Berangkat dari sinilah, paradigma learning ingin diusung sebagai pilar pendidikan untuk kepentingan manusia dengan perubahan zaman agar tetap survive dan maju berkembang untuk meyempurnakan diri sampai optimal. Pilar-pilar pendidikan yang penulis maksud dalam pembahasan ini adalah sendi-sendi pendidikan menurut Unesco harus ditopang setidaknya oleh empat hal, learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together (Geremeck, 1986).

Learning to know mengandung makna bahwa belajar tidak hanya berorientasi pada produk atau hasil belajar, akan tetapi juga harus berorientasi pada proses belajar. Dalam proses belajar, peserta didik bukan hanya menyadari apa yang harus di pelajari tetapi juga diharapkan menyadari bagaimana cara mempelajari apa yang seharusnya dipelajari. Kesadaran tersebut, memungkinkan proses belajar tidak terbatas di sekolah saja, akan tetapi memungkinkan peserta didik untuk belajar secara berkesinambungan. Inilah hakekat dari semboyan “belajar sepanjang hayat”. Apabila hal ini dimiliki peserta didik, maka masyarakat belajar (learning society) sebagai salah satu tuntutan global saat ini akan terbentuk. Oleh sebab itu belajar untuk mengetahui juga dapat bermakna belajar berpikir karena setiap individu akan terus belajar sehingga dalam dirinya akan tumbuh kemauan dan kemampuan untuk berpikir. Learning to know, dengan memadukan pengetahuan umum yang cukup luas dengan keseempatan untuk mempelajari secara mendalam pada sejumlkah kecil mata pelajaran. Pilar ini juga berarti learning to learn (belajar untuk belajar), sehingga memperoleh keuntungan dari kesempatan-kesempatan pendidikan yang disediakan sepanjang hayat.

Learnning to do mengandung makna bahwa belajar bukanlah sekedar mendengar dan melihat untuk mengakumulasi pengetahuan, akan tetapi belajar dengan dan untuk melakukan sesuatu aktivitas dengan tujuan akhir untuk menguasai kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Kompetensi akan dapat dimiliki oleh pesrta didik apabila diberikan kesempatan untuk belajar dengan melakukan apa yang harus dipelajarinya secara langsung. Dengan demikian learning to do juga berarti proses pembelajaran berorientasi pada pengalaman langsung (learning by experience).

Learning to do, untuk memperoleh bukan hanya suatu keterampilan kerja tetapi juga lebih luas sifatnya, kompetensi untuk berurusan dengan banyak situasi dan bekerja dalam tim. Ini juga belajar berbuat dalam konteks pengalaman kaum muda dalam berbagai kegiatan sosial dan pekerjaan yang mungkin bersifat informal, sebagai akibat konteks lokal atau nasional, atau bersifat formal melibatkan kursus-kursus, program bergantian antara belajar dan bekerja.
Pendidikan membekali manusia tidak sekedar untuk mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terampil berbuat/ mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Sasaran dari pilar kedua ini adalah kemampuan kerja generasi muda untuk mendukung dan memasuki ekonomi industry (Soedijarto, 2010). Dalam masyarakat industri tuntutan tidak lagi cukup dengan penguasaan keterampilan motorik yang kaku melainkan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan seperti “controlling, monitoring, designing, organizing”. Peserta didik diajarkan untuk melakukan sesuatu dalam situasi konkrit yang tidak hanya terbatas pada penguasaan ketrampilan yang mekanitis melainkan juga terampil dalam berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain, mengelola dan mengatasi suatu konflik. Melalui pilar kedua ini, dimungkinkan mampu mencetak generasi muda yang intelligent dalam bekerja dan mempunyai kemampuan untuk berinovasi.

Learning to be (belajar untuk menjadi) mengandung arti bahwa belajar adalah proses untuk membentuk manusia yang memiliki jati dirinya sendiri. Oleh karena itu, pendidik harus berusaha memfasilitasi peserta didik agar bealajar mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu yang berkepribadian utuh dan bertanggung jawab sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat. Dalam pengertian ini terkandung makna bahwa kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yakni makhluk hidup yang memiliki tanggung jawab serta menyadari akan segala kekurangan dan kelemahannya. Denagn pilar Learning to be, peserta didik dapat mengembangkan kepribadian lebih baik dan mampu bertindak mandiri, membuat pertimbangan dan rasa tanggung jawab pribadi yang semakin besar, ingatan, penalaran, rasa estetika, kemampuan fisik, dan keterampilan berkomunikasi. Konsep ini perlu dihayati oleh praktisi pendidikan untuk melatih siswa agar memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kepercayaan merupakan modal utama bagi siswa untuk hidup dalam masyarakat. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be). Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil. Dengan menjadi diri sendiri sesungguhnya merupakan proses pencapain aktualisasi diri.

Learning to live together adalah belajar untuk bekerjasama melalui proses bekerjasama. Hal ini sangat diperlukan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dalam masyarakat global. Manusia baik secara individual maupun secara kelompok tidak mungkin dapat hidup sendiri atau mengasingkan diri dari masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini termasuk juga pembentukan masyarakat demokratis yang memahami dan menyadari akan adanya perbedaan pandangan antar individu. Learning to live together, learning to live with others , dengan jalan mengembangkan pengertian akan orang lain dan apresiasi atas interdependensi—melaksanakan proyek-proyek bersama dan belajar mengelola konflik—dalam semangat menghormati nilai-nilai kemajemukan, saling memahami, dan menciptakan perdamaian.

Kemajuan dunia dalam bidang IPTEK dan ekonomi yang mengubah dunia menjadi desa global ternyata tidak menghapus konflik antar manusia yang selalu mewarnai sejarah umat manusia. Di zaman yang semakin kompleks ini, berbagai konflik makin merebak seperti konflik nasionalis, ras dan konflik antar agama. Apapun penyebabnya, semua konflik itu didasari oleh ketidakmampuan beberapa individu atau kelompok untuk menerima suatu perbedaan. Pendidikan dituntut untuk tidak hanya membekali generasi muda untuk menguasai IPTEK dan kemampuan bekerja serta memecahkan masalah, melainkan kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, dan pengertian. Dalam kaitan ini adalah tugas pendidikan untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran bahwa hakekat manusia adalah beragam tetapi dalam keragaman tersebut terdapat persamaan. Itulah sebabnya Learning to live together menjadi pilar belajar yang penting untuk menanamkan jiwa perdamaian.

Bagi para pendidik penyandang gelar ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’, penulis mengucapkan selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional. Kiranya pengabdian para pendidik mmembawa berkat bagi diri sendiri, keluarga, para peserta didik, bangsa dan negara, serta membawa energi positif untuk semesta ini.

( Disarikan dari berbagai sumber- Enung Martina)

Posted in Artikel, pendidikan | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

ARTIKEL TENTANG PENGARUH KATA-KATA

Posted by lembursingkur pada April 2, 2018

TIDAK HANYA SEKEDAR KATA-KATA


Hanya cerita….(kata-kata) yang menyelamatkan anak-anak kita dari kesalahan besar seperti pengemis buta yang berjalan ke arah duri-duri pagar kaktus. Cerita (kata-kata) adalah penjaga kita. Tanpanya, kita buta. ( Chinua Achebe: Anthills of The savanah )

Karunia manusia yang unik adalah kata-kata. Kata-kata dirangkai menjadi cerita. Kita sudah lama mengetahui bahwa cerita sejak lama sudah lama membimbing dan menghibur kita. Dengan keajaiban kata-kata yang terangkai lewat cerita, nenek moyang kita telah menurunkan kebijaksanaan yang memungkinkan kita bisa berkembang dan bertahan dalam situasi tersulit. Selama berabad-abad cerita telah digunakan untuk berbagi kebenaran. Bahkan, cerita merupakan pelajaran yang lebih penting daripada sejarah yang terkadang dibelokkkan sesuai dengan kebituhan politik pada masanya.

Cerita mempunyai kekuatan yang menyampaikan kebenaran. Dalam setiap cerita di situ nyata ada kehidupan. Kita menemukan sepotong diri kita dalam cerita. Di dalam cerita ada benang yang menyambungkan dengan kisah hidup kita. Benang itu juga menguatkan. Ya… itulah cerita!

Cerita terkumpul dari kata-kata. Bersemi dan hidup karena kata-kata. Kata-kata yang tepat memberi jiwa dan menghidupi. Perkataan mempunyai kekuatan yang hebat. Jangan meremehkan kata-kata!
Kata-kata bisa menguatkan bila digunakan untuk hal yang tepat. Namun, sekaligus kata-kata bisa membunuh. Sekali lagi: jangan meremehkan kata-kata!

Tyron Edward berkata: Perkataaan bisa lebih baik dan lebih buruk dibandingkan pikiran. Perkataan mengekspresikan pikiran dan menambahkan makna pada pikiran. Perkataan memberi pikiran kekauatan untuk berbuat baik dan buruk. Perkataan mengawali pikiran pada perjalanan tanpa akhir. Perkataan membawa pada instruksi dan kenyamanan, juga berkat, atau pada luka, duka, dan kehancuran.

Berkaitan dengan perkataan adalah: hal yang terbaik yang dapat kita lakukan untuk orang lain adalah menahan lidah kita. Ada kalanya kita tergoda untuk memberikan nasihat yang tidak diinginkan, kita sangat ingin pamer, kita merasa butuh untuk menunjukkan kesalahan orang lain, kita ingin protes karena perlakuan tak adil, atau kita hanya ingin menunjukkan eksistensi kita agar dipuji. Kebijakan yang terbaik untuk situasi seperti ini adalah kita tidak mengatakan apa pun. Tidak mengatakan apa-apa. Diam adalah emas.

Seorang jurnalis dari Inggris pada abad 19 bernama George Sala mengatakan: Kita harus berupaya tidak saja mengatakan sesuatu yang tepat di tempat yang tepat, tetapi lebih sulit membuat sesuatu sesuatu yang tidak tepat tidak dikatakan pada momen yang menggoda.

Dalam bukunya Masaru Emoto ” The Hidden Messages in Water” Masaru Emoto menceritakan penelitiannya tentang betapa besar PENGARUH Kata-Kata terhadap Air. ternyata AIR juga bereaksi terhadap KATA-KATA. Pada AIR yang dilabeli KATA-KATA POSITIF seperti kamu menyehatkan, kamu indah, dll, lalu air itu diamati KRISTAL MOLEKULNYA ternyata memiliki BENTUK KRISTAL YANG INDAH HARMONIS. Sedangkan pada air yang dikatakan kata-kata negatif, seperti ungkapan marah, ungkapan benci, dll, ternyata KRISTAL nya menampilkan BENTUK YANG “JELEK” SeKALI.

Ada juga orang mengadakan penelitian tentang betapa ampuhnhya pengaruh kata-kata. Penelitian ini dilakukan terhadap nasi. Langkahnya seperti berikut:
1. Tempatkan Nasi sisa yg sudah didiamkan semalaman kedalam 2 toples dgn jumlah yg sama, kemudian ditutup rapat.
2. Masing-masing toples di tempelin label yg berisi kata2 sbb:
3. Toples A : ” Kamu Pintar, Cerdas, Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Aku Sayang Padamu, Aku Senang Sekali Melihatmu, Aku Ingin Selalu di dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih.
4. Toples B : ” Kamu Bodoh, Goblok, Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Aku Benci Melihatmu, Aku Sebel Tidak mau dekat dekat kamu “
5. Botol 2 ini saya letakkan terpisah dan pada tempat yg sering dilihat, saya pesan pada istri, anak, dan pembantu untuk membaca label pada botol tersebut setiap kali melihat botol2 tersebut.

Dan inilah yang terjadi pada nasi tersebut setelah 1 minggu kemudian :
Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap. Sedangkan Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.

Kita sebagai orang tua, teman, dan sekaligus pendidik terkadang tanpa berpikir panjang mengeluarkan kata-kata buruk. Dengan melihat kenyataan di atas, masih tegakah kita mengeluarkan kata-kata kotor kepada anak, pasangan, keluarga, rekan-rekan kerja, teman-teman, anak didik, orang-orang di sekeliling kita, dan orang-orang yang kita sayangi?

Kita berharap untuk diri kita masing-masing bisa mengendalikan lidah kita. Saya akui itu memang sangat sulit. Saya mudah keterucutan kalau berbicara. Sesudah selesai berkata baru saya sadar bahwa sebetulnya perkataan itu tidak patut saya ucapkan. Ya… sudah keterucutan mau apa. Mau menyesal pun tak ada guna.
Kata-kata bijak Raja Salomo (Nabi Sulaeman) adalah: Seperti buah apel emas di pinggan perak, begitulah perkataan yang diucapkan pada situasi yang tepat.

Ho ho ho, ….. sungguh luar biasa! Kata-kata itu tidak sekedar meluncur dari mulut. Semoga kata-kata yang keluar dari mulut saya, mulut Anda, mulut kita semua mampu membangun hal yang positif dalam diri kita dan orang lain, khususnya anak-anak, juga anak didik kita.
(Enung Martina)

Posted in Artikel, pendidikan, Tentang Guru | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL TENTANG OTAK

Posted by lembursingkur pada Maret 25, 2018

GELOMBANG OTAK (BRAINWAVE)

Otak manusia terdiri dari berbagai macam bagian, seperti Cerebrum, Cerebellum, Sistem Limbic, Brain Stem dan bagian otak yang lainnya. Salah satu bagian dari otak manusia yang membantu manusia untuk menjalani aktivitasnya adalah sel otak (Neuron). Setiap neuron ini terdiri dari cabang atau dendrit yang bisa berjumlah milyaran.

Masing-masing neuron saling berkomunikasi dengan cara memancarkan gelombang listrik yang akan mengaktifkan atau menjalankan organ tubuh lainnya untuk membantu manusia menjalani aktivitasnya. Gelombang listrik yang dikeluarkan oleh neuron dalam otak inilah yang disebut “gelombang otak” atau brainwave.

Gelombang otak nilah yang mendorong manusia untuk bisa menjalani setiap aktivitasnya dengan baik. Apabila otak tidak lagi mengeluarkan gelombang otak, maka otak tersebut sudah tidak berfungsi, karena secara otomatis, manusia yang otaknya tidak bisa menghasilkan gelombang otak, tidak akan bisa beraktivitas dengan baik. Salah satu dampak negatif ketika otak tidak bisa menghasilkan gelombang otak adalah, gangguan psikologis berat, seperti stres, depresi, frustasi, tidak memiliki semangat untuk hidup dan lain-lain.

Struktur Otak
Secara ilmiah, tubuh kita terdiri dari berbagai sistem yang menakjubkan, seperti sistem pencernaan,pernapasan, ekskresi dll. Otak berfungsi sebagai pengendali semua kegitan yang kita lakukan setiap hari baik sadar ataupun tidak sadar.
Tubuh dikendalikan oleh otak dan membutuhkan suatu alat yang disebut dengan hormon. Hormon yang diproduksi oleh otak belahan kanan berbeda dengan hormon yang dihasilkan otak sebelah kiri.
Hormon tertentu dapat diproduksi atas rangsangan tertentu. Rangsangan tertentu diterima dari luar, dikirim oleh tubuh menuju otak, kemudian otak sebagai pengendali. Otak sadar bekerja hanya 20% dari kehidupan kita, sementara sisanya sebesar 80% merupakan hasil dari kinerja otak bawah sadar ( Albert Einstein ).

Sean Adam seorang penemu dari Belanda, menemukan apa yang dinamakan “ brainwave station”. Mesin tersebut memberi sumbangan besar dalam pengungkapan rahasia kerja otak manusia.
Gelombang otak dibagi menjadi emapat kategori yaitu : alfa, beta,teta dan delta. Lebih jelasnya perbedaan gelombang otak tersebut dapat di lihat tabel di bawah ini :

GAMMA (16 hz – 100 hz)

Gelombang Gamma cenderung merupakan yang terendah dalam amplitudo dan gelombang paling cepat. Gelombang gamma dalah gelombang otak (brainwave) yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktivitas mental yang sangat tinggi, misalnya sedang berada di arena pertandingan, perebutan kejuaraan, tampil dimuka umum, sangat panik, ketakutan. Kondisi Gamma adalah kondisi dalam kesadaran penuh. Berdasarkan penyelidikan Dr. Jeffrey D. Thompson (Center for Acoustic Research) di atas gelombang gamma sebenarnya masih ada lagi yaitu gelombang Hypergamma ( tepat 100 Hz ) dan gelombang Lambda (tepat 200 Hz), yang merupakan geolombang-gelombang supernatural atau berhubungan dengan kemampuan yang luar biasa. Namun kedua gelombang ini di luar pembahasan yang ada dalam situs ini.

BETA (di atas 12 hz atau dari 12 hz s/d 19 hz)

Merupakan Gelombang Otak (Brainwave) yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktivitas mental yang terjaga penuh. Anda berada dalam kondisi ini ketika Anda melakukan kegiatan Anda sehari-hari dan berinteraksi dengan orang lain di sekitar Anda. Frekwensi beta adalah keadaan pikiran Anda sekaran ini, ketika Anda duduk di depan komputer membaca artikel ini. Gelombang beta dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu high beta (lebih dari 19 Hz) yang merupakan transisi dengan getaran gamma , lalu getaran beta (15 hz -18 hz) yang juga merupakan transisi dengan getaran gamma, dan selanjutnya lowbeta (12 hz ~ 15 hz). Gelombang Beta di perlukan otak ketika Anda berpikir, rasional, pemecahan masalah, dan keadaan pikiran di mana Anda telah menghabiskan sebagian besar hidup Anda.

Sensori Motor Rhytm (12 hz – 16 hz)

SMR sebenarnya masih masuk kelompok getaran low beta, namun mendapatkan perhatian khusus dan juga baru dipelajari secara mendalam akhir-akhir ini oleh para ahli, karena penderita epilepsy, ADHD ( Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) dan Autism ternyata tidak menghasilkan gelombang jenis ini. Para penderita gangguan di atas tidak mampu berkonsentrasi atau fokus pada suatu hal yang dianggap penting. Sehingga pengobatan yang tepat adalah dengan cara agar otak mereka bisa menghasilkan getaran SMR tersebut. Dan hal ini bisa dilakukan dengan teknik terapi gelombang otak.

ALPHA ( 8 hz – 12 hz )

Adalah Gelombang Otak (Brainwave) yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami relaksaksi atau mulai istirahat dengan tanda-tanda mata mulai menutup atau mulai mengantuk. Anda menghasilkan gelombang Alpha setiap akan tidur, tepatnya masa peralihan antara sadar dan tidak sadar. Fenomena Alpha banyak dimanfaatkan oleh para pakar hypnosis untuk mulai memberikan sugesti kepada pasiennya. Orang yang memulai meditasi (meditasi ringan) juga menghasilkan gelombang alpha. Frekwensi alpha 8 -12 hz, merupakan frekwensi pengendali, penghubung pikiran sadar dan bawah sadar. Anda bisa mengingat mimpi Anda, karena Anda memiliki gelombang alpha. Kabur atau jelas sebuah mimpi yang bisa Anda ingat, tergantung kualitas dan kuantitas gelombang Alpha pada saat Anda bermimpi. Alpha adalah pikiran yang paling cocok untuk pemrograman bawah sadar.

Gelombang otak Alpha juga terjadi ketika kita mengalihkan perhatian kita ke dalam, jauh dari urusan dan masalah realitas fisik sehari-hari. Gelombang Alpha dapat muncul dengan mata terbuka dan fokus pada satu tempat, namun bagi kebanyakan dari kita gelombang Alpha terjadi lebih mudah dengan mata tertutup (ketika mata tertutup maka kita lebih mudah untuk menghindari gangguan dari luar).

THETA ( 4 hz – 8 hz )

Adalah Gelombang Otak (Brainwave) yang terjadi pada saat seseorang mengalami tidur ringan, atau sangat mengantuk. Tanda-tandanya napas mulai melambat dan dalam. Selain orang yang sedang diambang tidur, beberapa orang juga menghasilkan Gelombang Otak (Brainwave) ini saat trance, hypnosis, meditasi dalam, berdoa, menjalani ritual agama dengan khusyu. Orang yang mampu mengalirkan energi chi, prana atau tenaga dalam, juga menghasilkan Gelombang Otak (Brainwave) theta pada saat mereka latihan atau menyalurkan energinya kepada orang lain.

Dengan latihan, kita dapat memanfaatkan Gelombang Otak (Brainwave) Theta untuk tujuan yang lebih besar, yaitu memasuki kondisi meditasi yang sangat dalam, namun, biasanya begitu Anda telah mencapai theta, Anda menjadi mudah tertidur. Disinilah alasan bahwa gelombang Alpha adalah keadaan utama untuk pemrograman pikiran bawah sadar Anda. Jika Anda ingin bereksperimen dengan meditasi melalui Gelombang Otak (Brainwave) theta, duduklah tegak untuk tetap sadar dan mencegah dari tertidur.
Sedangkan gelombang otak Theta terjadi selama tidur, yang mana tidur itu disertai mimpi. Dengan gelombang ini, kita terhubung pada otak bawah sadar. Theta adalah pusat kreatif manusia, maka ketika kita sedang mimpi betapa kreatif mimpi kita dan penuh dengan kompleksitas emosional.

Menurut ilmu psikologi Barat, ada tiga keadaan kesadaran, yaitu tidur, mimpi dan terjaga. Kesadaran yang dipikirkan adalah kesadaran yang transendensikan, seperti pengalaman para praktisi meditasi saat merasakan keadaan keheningan mental yang mendalam. Kini berbagai macam praktik meditasi adalah eliminasi atau pengurangan proses berpikir.
Dari hasil pengukuran gelombang otak pada otak manusia yang dilakukan dengan menggunakan Tehnologi EEG, ternyata terbukti bahwa semua aktivitas yang dilakukan oleh manusia menghasilkan frekuensi gelombang otak yang berbeda-beda. Misalnya, ketika seseorang itu tidur, maka gelombang otak yang dihasilkan adalah Delta, sedangkan ketika seseorang itu sedang waspada, maka frekuensi gelombang otak yang dihasilkan adalah Beta.

Penelitian tersebut juga membuktikan, bahwa ketika otak manusia tidak bisa menghasilkan frekuensi gelombang otak, maka akan terjadi permasalahan, seperti hilangnya konsentrasi, mudah mengalami stress, depresi, atau frustasi, tidak bisa memiliki semangat hidup, mudah terkena radiasi maupun virus, mudah terserang penyakit, dan banyak yang lainnya.

(disarikan oleh Ch. Enung Martin, sumber: http://terapiotak.com/?apa-itu-gelombang-otak,28, http://www.neurotherapy.asia/gelombang_otak.htm, http://gelombangotak.com/teknologi_gelombang_otak.htm )

 

Posted in Artikel, Lain-Lain, pendidikan | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

REFLEKSI DALAM PROSES PENDIDIKAN

Posted by lembursingkur pada Maret 22, 2018

(Tulisan didasarkan pada pertemuan guru Ursula BSD dengan Romo Hendra Sutedja, SJ tahun 2002)

Kegiatan belajar mengajar di sebuah sekolah bisa merupakan suatu kegiatan industri pendidikan belaka atau bisa pula merupakan tanggapan nyata atas rahmat panggilan dan perutusan yang mendatangkan keselamatan dalam dunia pendidikan. Kalau belajar mengajar sebagai kegiatan yang kedua, maka seluruh kegiatan belajar mengajar ini menjadi wujud nyata hadir, tumbuh, dan berkembangnya hal yang baik. Untuk belajar mengajar yang pertama, dibutuhkan skil management seperti layaknya suatu industri. Dalam kegiatan belajar mengajar ini tidak ada tempat untuk Tuhan dan untuk iman.

Bila sebuah sekolah memilih yang kedua, maka selain skil-skil management, sekolah itu perlu (bahkan merupakan urutan pertama) mengelola batin, menggali, memupuk, mengembangkan nilai-nilai hidup. Untuk itu seluruh unsur dan relasi dunia pendidikan perlu menajamkan daya-daya jiwa dan trampil mewujudkannya dalam kata serta tindakan sebagai pribadi dalam kebersamaannya dengan orang lain.

Untuk hal semua itu perlu adanya kepekaan/kesadaran untuk melihat bahwa Tuhan ada bersama-sama di tengah-tengah hidup kita, Tuhan mengajar dan kita menanggapi-Nya.

Hal yang mendasar yang perlu diperhatikan dalam proses adalah bagaimana Tuhan mengajar kita menjadi peka dan tajam untuk mendengar, memahami sentuhan dan sapaan-Nya, serta mengungkapkan dalam kata dan perbuatan. Untuk mencapai hal itu, kita memerlukan alat yaitu ketrampilan menangkap pesan komunikasi Tuhan. Alat itu kita sebut REFLEKSI.

Refleksi arti harafiahnya adalah ‘menengok kembali’, biasanya dipakai untuk menunjuk pada sesuatu tindakan yang mengolah kembali apa yang menjadi pengalaman nyata seseorang, baik yang berkaitan dengan pemahaman maupun afeksinya. Yang membawahi itu semua adalah menemukan arus dasar yang menjadi sumber dari semua itu.

Di dalam dan melalui kita, Tuhan melaksanakan karya penyelamatan-Nya. Pengalaman merupakan lahan kita untuk dapat bertemu Tuhan yang sedang mengungkapkan-Nya pada kita. Kehendak Tuhan adalah arus dasar yang dapat menggerakkan kita. Sedangkan refleksi adalah menemukan Tuhan menemukan Tuhan dalam kompleksitas campuran macam-macam unsure dan pengalaman kita.

Refleksi menjadi hal mutlak karena refleksi merupakan suatu usaha untuk menemukan arus dasar. Karena itu refleksi hal perlu ditekuni untuk hidup batin kita. Selain itu refleksi juga membuat arus dasar kreatif muncul ke permukaan kesadaran untuk dipahami dan diinginkan. Refleksi yang dilakukan dengan baik dan teratur membantu orang untuk menemukan jati dirinya.

Proses kreatif mencapai kepenuhan arti hanya terjadi dalam iman. Karena hanya dalam rahmat Tuhan orang mampu menengok kembali sampai pada kedalaman sejati mata air kehidupan.

Tindakan Tuhan dalam jiwa seseorang sesuai dengan rencana-Nya sehingga manusia dibuat asyik untuk masuk dalam kegiatan mengamati, kemudian manusia dibantu untuk memahami arti gerak itu. Akhirnya manusia dibantu untuk berkeinginan menghayati apa yang ditemukannya.

Tahap selajutnya seseorang bisa memakai kemampuannya untuk mengamati, mengenali, dan memahami gerak batinnya sehingga ia mampu menghayati tawaran kasih Tuhan.

Yang perlu kita ingat dan lakukan dalam sebuiah refleksi yaitu percaya bahwa Tuhan ikut serta dalam semua pengalaman kita dengan daya juang yang membantu kita untuk tumbuh. Hal yang berikutnya yang perlu dilakukan adalah ambil jarak dari peristiwa. Akhirnya melanjutkan untuk mencoba merasakan gereak batin dalam peristiwa:
a. Yang membangun, menumbuhkan, dan menyatukan hal yang berasal dari Tuhan.
b. Yang merusak dan memecah belah berasal dari musuh
c. Gunakan acuan/refrensi yang mendukung dan objektif (contoh: Kitab Suci, ajaran agama, visi misi sebuah lembaga, dll)

Sesudah itu pelajari bagaimana Tuhan mengajar dan bagaimana musuh menipu. Kemudian tegaskan diri bagaimana kita mau menerima tawaran Tuhan. Akhirnya sebuah refleksi akan diakhiri dengan ucapan syukur dan mohon berkat hidayah-Nya. (Christina Enung Martina)

#

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

ARTIKEL TENTANG TALENTA

Posted by lembursingkur pada Maret 5, 2018

PERCAYA PADA TALENTA
(catatan setelah membaca buku Mendidik dengan Hati karya Paul Subiyanto)

Secara etimologis kata talenta berasal dari budaya Timur Tengah dua abad yang silam. Talenta merupakan satuan mata uang , satu talenta setara dengan 3000 dinar. Sedangkan satu dinar merupakan upah kerja seorang pekerja dalam satu hari. Jika dipadankan dengan keadaan sekarang, anggaplah di Indonesia upah rata-rata kerja sehari Rp 100.000. Satu talenta nilainya = 3000 dinar, jadi 3000 x rp 100.000 = Rp 300.000.000.

Kata talenta ini mulai mendapat makna baru ketika digunakan dalam perumpamaan yang diungkapkan Yesus (Nabi Isa A.S.) dalam Al Kitab Perjanjian Baru. Perumpamaan ini menyampaikan kepada kita bahwa setiap orang secara inhern (dari sononya) sudah dibekali ‘karunia’ yang tak ternilai harganya. Karunia itu diberikan secara gratis (minimal tiga ratus juta rupiah). Tugas setiap manusia adalah mengembangkan bagaimana agar harta ini tidak sia-sia dan pada saatnya nanti bisa dipersembahkan kepada Sang Maha Pemberi.

Dari contoh perumpamaan di atas, talenta semestinya dipahami sebagai seluruh potensi yang sudah tertanam pada setiap orang secara unik. Talenta semestinya dipahami sebagai sesuatu yang positif yang pada setiap orang sudah ada sebagai bawaan. Dalam istilah pendidikan sekarang disebutnya kecerdasan entah yang bersifat intelektual (IQ), emosional (EQ), maupun spiritual (SQ).

Saya percaya bahwa tidak ada orang yang tidak punya keahlian atau bakat dalam dirinya. Setiap orang sudah diperlengkapi dengan semua kemampuan atau bakat yang sekiranya akan dibutuhkan olehnya untuk meraih prestasi puncak dalam hidup seturut dengan rencana Tuhan untuk setiap kehidupan kita. Seringkali banyak orang berkata bahwa mereka tidak memiliki bakat atau keahlian. Seringkali pula ada orang-orang yang merasa dia tidak sebaik orang lain dalam suatu bidang tertentu. Secara pribadi, saya tidak percaya pada pernyataan yang pertama bahwa seseorang tidak memiliki bakat. Memang setiap dari kita diciptakan unik sesuai dengan rencana-Nya dalam hidup kita. Sang Pencipta telah melengkapi kita dengan semua talenta yang akan kita butuhkan untuk hidup. Kenyataannya memang ada orang yang lebih berbakat dalam bidang tertentu dibandingkan kita.

Kebenarannya adalah bahwa setiap orang dianugrahi oleh Tuhan dengan karunia secara unik. Keyakinan ini akan menuntun kita pada sikap saling menghargai kemampuan atau potensi yang dimiliki seseorang. Namun, yang menjadi masalah utama bukanlah apakah kita lebih berbakat dalam bidang tertentu dibandingkan orang lain atau kita kalah berbakat dibandingkan orang lain dalam bidang yang lain. Masalah yang paling utama yang perlu kita renungkan adalah : Sudahkah kita semua mengembangkan atau memaksimalkan semua talenta yang sudah Sang Pencipta beri ?

Sebagai orang tua dan juga pendidik, saya semakin tergerak dan sekaligus terus diingatkan untuk memotivasi generasi-generasi muda untuk terus mengembangkan diri. Saya sudah memulainya dengan memotivasi anak-anak saya di rumah, lalu juga para kawula muda yang menajdi anak didik saya baik di sekolah, bimbingan belajar, atau di gereja. Saya benar-benar ingin melihat mereka mencapai potensi terpenuh yang ada dalam diri mereka. Saya ingin melihat mereka jadi orang-orang hebat di lingkungannya.

Berawal dari kesadaran bahwa mengembangkan talenta adalah suatu tanggung jawab lain yang berikan Sang Pencipta pada kita, maka sebagai orang tua dan sekaligus pendidik, saya juga memotivasi orang tua lain untuk bersama-sama memberikan semangat kepada putri-putranya untuk juga semampu mungkin mengembangkan talentanya.

Namun, bagi orang tua atau para pendidik dan pembimbing hendaknya menghindari pemaksaan kehendak untuk menanamkan sebanyak mungkin kemampuan kepada anak-anak menurut ukuran orang dewasa. Talenta setiap orang berbeda-beda, tidak bisa diukur dengan cara yang seragam. Keyakinan ini juga memotivasi kita untuk terus berupaya mengembangkan diri dan juga mendukung anak-anak mengembangkan diri mereka sesuai dengan talenta yang dimilikinya.

Anak-anak adalah seperti yang Khalil Gibran katakan bagai anak panah yang siap dibidikkan dengan bebas, mereka adalah pribadi yang bebas. Kita, orang tua bertugas membawa mereka untuk menjadi pribadi yang dewasa dalam kebebasan mereka. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan talenta mereka seoptimal mungkin. Kita berusaha, selebihnya biarlah Sang Pencipta yang berkreasi memenuhi rancangan-Nya pada hidup anak-anak kita.
(Ch. Enung Martin)

 

Posted in Artikel, pendidikan | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Mimpi sebagai Obyek Psikoanalisis

Posted by lembursingkur pada Februari 19, 2018

Hampir sepertiga bahkan lebih dari kehidupan manusia pada umumnya dihabiskan untuk tidur. Jika usia rata-rata manusia 60 tahun, maka selama 20 tahun diisi dengan tidur. Waktu yang tidak sedikit bukan? Namun dengan tidur, tidak berarti manusia melewati masa sia-sia karena tidur menjaga metabolisme tubuh agar tetap stabil. Menurut hasil penelitian, setelah 72 jam tidak tidur, akan menyebabkan gangguan psikotik.

Dengan tidur pula, kita dapat mengakses dunia yang memperantarai dua alam (fenomena dan abstrak) melalui mimpi.

Sigmund Freud adalah seorang ahli psikologi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi. Psikoanalis adalah cara untuk mendapatkan secara terperinci pengalaman emosional yang dapat menjadi sumber atau sebab gangguan jiwa dan perilakunya.

Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki 3 tingkatan kesadaran:
• Sadar (conscious)
• Prasadar (preconscious)
• Tak-sadar (unconscious)
Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku.

Dalam karya pertama yang sangat monumental, Interpretation of Dream, Freud menjadikan mimpi sebagai obyek riset psikoanalisis untuk mengatasi gangguan-gangguan neurosis pada pasiennya. Dengan karyanya ini, Freud mulai diperhitungkan perannya dalam dunia psikologi. Tidak sedikit yang dipengaruhinya, diantaranya C.G. Jung, Alfred Adler yang kemudian bergabung dibawah naungan psikoanalisis Freud, meski tidak berlangsung lama. Bahkan, banyak ahli psikoterapi yang menekankan pentingnya analisa mimpi.

Menurut Freud, mimpi adalah penghubung antara kondisi bangun dan tidur. Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam keadaan terjaga. Freud seringkali mengidentifikasi mimpi sebagai hambatan aktivitas mental tak sadar dalam mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan individu, beriringan dengan tindakan psikis yang salah, selip bicara (keprucut), maupun lelucon.

Pada dasarnya hakikat mimpi bagi psikoanalisis hanyalah sebentuk pemenuhan keinginan terlarang semata. Dikatakan oleh Freud (dalam Calvin S.Hal & Gardner Lindzaey, 1998) bahwa dengan mimpi, seseorang secara tak sadar berusaha memenuhi hasrat dan menghilangkan ketegangan dengan menciptakan gambaran tentang tujuan yang diinginkan, karena di alam nyata sulit bagi kita untuk mrengungkapkan kekesalan, keresahan, kemarahan, dendam, dan yang sejenisnya kepada obyek-obyek yang menjadi sumber rasa marah, maka muncullah dalam keinginan itu dalam bentuk mimpi

Freud mengenalkan satu jenis mimpi yaitu mimpi kanak-kanak, pada tahun-tahun berikutnya akan ditemukan mimpi yang bertipe sama, bahkan pada orang dewasa, sehingga diharapkan dapat memberikan informasi yang valid serta dapat digeneralisasi pada tahapan berikutnya. Tekhnik tersebut lazim dilakukan oleh Freud, sebagaimana acuan tahapan-tahapan psikoseksual dalam teori kepribadiannya. Berbeda dengan Jung, rekan sekaligus muridnya, yang membagi mimpi menjadi dua; mimpi retrospektif dan mimpi introspektif.

Freud mengatakan bahwa simbolisme merupakan bagian paling mengagumkan dalam teorinya. Karena dalam beberapa kondisi, simbol memungkinkan kita menginterpretasikan mimpi tanpa harus mengajukan pertanyaan pada orang yang mengalami mimpi yang kadang-kadang malah tidak bisa memberitahukan apa-apa tentang simbol-simbol itu. Di sini Freud juga mencoba menyimpulkan beberapa hal mengenai simbolisme dalam mimpi.

Pertama; kita menentang pendapat bahwa orang yang bermimpi merasa tidak mengetahui bahwa simbol-simbol berhubungan dengan kehidupan dalam kondisi bangun.

Kedua; hubungan simbolik bukan sesuatu yang khas bagi orang yang bermimpi, tapi ruang lingkup simbolisme sangat luas. Simbolisme mimpi hanya bagian kecil saja. Ini berbeda dengan simbolisme pada mitos, dongeng dan sebagainya.

Ketiga; simbolisme yang muncul di bidang lain ternyata berhubungan dengan tema-tema seksual seperti dalam mimpi simbol-simbol yang sama juga melambangkan obyek dan hubungan seksual, misalnya: simbol phallic (alat kelamin) yang diinterpretasikan Jung sebagai unsur arketipe (spiritual).

Keempat: simbolisme adalah faktor kedua dan faktor independen dalam distorsi mimpi yang hidup berdampingan dengan penyensoran. Adapun manfaat yang dapat dipetik dari jenis mimpi ini adalah berupa; pengetahuan. Pemenang nobel, Loevi, memimpikan sebuah eksperimen selama 3 malam. Pada malam pertama, ia membuat catatan tapi tidak bisa menguraikannya kembali dan pada malam ketiga ia terbangun melakukan eksperimen dan memecahkan penemuannya.

Mimpi spiritual non simbolik, yaitu; mimpi-mimpi yang dapat dipercaya yang tidak ada simbolnya. Di sini imajinasi tidak campur tangan. “Hati” langsung merefleksikan kesan-kesan spiritual. Sebelum imajinasi dapat membaca makna simbolik apapun. Mimpi-mimpi jenis ini tidak memerlukan penafsiran, mereka adalah wahyu-wayu dari yang riil itu sendiri. Mimpi-mimpi berhubungan dalam tiap rinci dengan segala sesuatu yang dilihat (kemudian) di dalam dunia luar. Dalam mimpi golongan ini terdapat wahyu (revelation) dan ilham, inspirasi yang keluar langsung dari jiwa individual. Karakteristik serta manfaat dari mimpi jenis ini hanya dapat diperoleh oleh jiwa-jiwa yang telah menjalani penyucian hati hingga mencapai tarafnya para spiritualis. Mimpi ketiga inilah yang sama sekali tidak disinggung oleh Sigmund Freud dalam teorinya, bahkan tidak mampu dijamah oleh C.G.Jung dalam klasifikasi teori mimpinya.

Begitu beberapa kajian berdasarkan analisis psikologi. Mimpi – mimpi dalam tidur kita merupakan salah satu cara Tuhan menyelesaikan perkara kejiwaan yang belum terselesaikan dalam kehidupan nyata.

(Disarikan dari membaca beberapa sumber oleh Enung Martina)

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL SENI MEMILIH

Posted by lembursingkur pada Januari 21, 2018

Memilah dan Memilih

 

Hidup di dunia ini dihadapkan pada serangkaian pilihan, pilihan untuk terus maju, pilihan untuk bertahan, pilihan untuk mundur. Pilihan untuk menjadi orang baik atau jahat, pilihan untuk memilih atau tidak memilih, dan lain-lain. Memilih itu sulit, karena kadang kita tidak tahu apa dan siapa yang harus dipilih, dan apa konsekuensi dari memilih. Sudah meraba konsekuensi pun, logika dan keinginan sering berbenturan.

Tak jarang kita tergoda untuk membuat suatu pilihan hanya karena banyak orang yang memilih pilihan tersebut. Kita kerap cari aman, sehingga pada akhirnya mengabaikan intuisi hati sendiri saat mengambil keputusan. Ada banyak alasan mengapa berbeda pilihan dari banyak orang itu baik. Berbeda bukanlah kesalahan, itu artinya kita istimewa.

Bukan hidup namanya jika tidak dihadapkan pada resiko. Setiap pilihan itu pasti punya resikonya tersendiri. Tinggal bagaimana kita menghadapi segala resiko yang ada untuk menuju kebahagiaan dan tujuan yang kita inginkan. Keberanian untuk menghadapi segala resiko dalam hidup akan menuntunmu menuju pendewasaan diri.
Solusi atas masalah seringkali tidak tunggal. Orang cerdas dan tercerahkan adalah orang yang yang tidak menuhankan keinginan nafsunya, melainkan yang mendahulukan akal dan hati tulusnya. Kaidah ini berlaku tidak hanya dalam bidang semua bidang kehidupan termasuk bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan lainnya. Sejalan dengan kaidah ini adalah kaidah mewujudkan kemashlahatan / kemanfaatan yang lebih besar dan kaidah mendahulukan penolakan terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh kehendak untuk menggapai kemashlahatan.

Pertimbangan-pertimbangan logis menjadi ujung tombak dalam mengambil menjalankan pilihan. Kalkulasi akademik dengan penelitian mendalam juga sangat dibutuhkan. Memilih solusi permasalahan dalam kehidupan membutuhkan pandangan yang holistik, menyeluruh, komprehensif. Jangan terbiasa hanya berdasarkan satu pandangan, pasti akan kaku, rigid dan merugi pada akhirnya. Pertimbangan dari berbagai sudut akan membntu untuk menentukan pilihan yang terbaik.

Yang pernah saya baca bahwa saat kita memilih salah satu jalan dan melangkah melewatinya, cepat atau lambat kita akan menyadari apakah jalan yang kita lewati adalah pilihan yang tepat atau tidak. Bila ternyata jalan pilihan itu tidak tepat berarti jalan satunya yang tepat, kita bisa kembali ke awal dan masuk ke jalan lain itu.

Lantas kita berkata, “Kalau terjadi seperti itu waktuku terbuang sia-sia dong!”

Mungkin…Tapi itu lebih baik karena meskipun lambat kita akhirnya menemukan jalan yang tepat, dibanding kita terhenti pada langkah awal tanpa melangkah ke manapun. Dengan termangu pada langkah awal kita tak akan pernah tahu mana jalan yang tepat, dan kita tak akan pernah sampai ke tujuan.

Keberanian dan kesadaran untuk tetap pada suatu keputusan yang telah dibuat dengan nalar adalah bagian hakiki dari seni meilih. Suka cita rohani mempermudah pilihan-pilihan kita karena sifatnya yang melepas bebaskan. Berusaha mencoba menghilangkan kelengketan-kelengketan dengan taktik/strategi yang diketahui, dengan doa, mawas diri, dan pengendalian diri, membawa pada kemurnian pilihan.

Persepektif benar merupakan hal pokok untuk pemilihan yang benar. Sukacita mempunyai kekuatan untuk mengubah perspektif dengan mudah. Sukacita adalah iklim surgawi. Kelengketan seumur hidup menguap dalam suka cita. Apabila kita menempatkan diri pada perspektif keagungan Allah, iman, harapan, kedermawanan yang mendalam, kegembiraan dan ketenangan rohani, air mata, hiburan yang mendalam, serta cita rasa rohani lain.
St. Ignatius dari Loyola berkata: Akan berbahaya semangat yang berlebih-lebihan apabila masalahnya menyangkut pengambilan keputusan dalam masalah hidup.

Hakikat pilihan manusia dalam cinta dan iman: Allah yang berkarya dalam jiwa dan membimbingnya secara halus, penuh cinta, penuh kuasa, dan bebas terhadap pilihan masing-masing yang merupakan pilihan dasar manusia untuk meraih kebaikannya yang maksimal.

Bagi seorang dokter diagnosis adalah pilihan. Pilihan penyebab sebenarnya menentukan penyakit sebenarnya di antara ribuan kemungkinan. Telaah, pertanyaan, penyelidikan, dan perbandingan adalah sekian banyak hal untuk menentukan pilihan. Mempersiapkan sedemikian rupa untuk memilih, kemudian mengikuti firasat yang membimbing selama bertahun-tahun, kekayaan pengalaman untuk merumuskan masalah pokok dalam relung pikiran, ternyata mampu menentukan pilihan jitu yang membawa hidup. Firasat yang dibina dan diolah melalui telaah serta refleksi serta dibebaskan dengan spontan akan dapat menjadi pembimbing yang paling berharga untuk membuat pilihan benar. Untuk mendapatkan firasat seperti demikian tentunya perlu proses yang tidak sebentar.
Pilihan yang berkadar kebenaran tentunya tak lepas dari keakraban dengan ajaran yang benar, disertai doa, dan telaah yang baik. Kemampuan mengenali suara Tuhan dari suara lain didasarkan pada cinta: segala sesuatu yang bersumber dari Allah buahnya akan baik.

Pada saat seseorang memilih tentunya tak luput dari campur tangan berbagai pihak, sentilan dari sana-sini. Sentilan dari mana pun, itu berharga untuk diri sendiri dan dapat dimanfaatkan pada saatnya dengan sebaik mungkin. Nilai yang lebih dalam dari sebuah pilihan adalah terletak dalam asas yang digambarkan, sikap yang ditekankan, suasana yang tercipta dalam sebuah pilihan. Pandangan tak memihak, pandangan seimbang, persaudaraan, atau pertentangan merupakan iklim dan budaya kerohanian untuk dihayati dalam membuat sebuah pilihan.

Ada banyak jalan dan pilihan yang tersedia di depan mata. Bisa saja jalan yang kita ambil itu merupakan jalan yang berliku-liku dan tidak mulus sehingga butuh usaha ekstra untuk menyelesaikannya. Tapi dari jalan sulit yang kita ambil, kita akan lebih berpengalaman dan akan banyak pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan. Hidup ini tidak selamanya datar, terkadang aka nada jalan terjal yang perlu kamu lewati.

Seseorang yang religius adalah orang yang dalam status memilih. Seluruh hidup dibuat untuk memilih. Meski memilih itu sulit, tetap kita harus belajar memutuskan mana yang kita pilih. Karena, hidup memang harus berjalan. Hidup adalah pilihan.
(Ch. Enung Martina)

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

ARTIKEL GURU YANG IKLAS

Posted by lembursingkur pada Januari 20, 2018

MENJADI GURU YANG IKLAS

Iklas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tulus hati. Pendapat lain ikhlas ialah, menghendaki keridhaan Tuhan dalam suatu amal, membersihkannya dari segala niat individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Tuhan. Tidak ada niat lain yang mencampuri untuk melakukan suatu , seperti kecenderungan untuk tujuan yang sifatnya duniawi, atau untuk kepentingan untuk diri sendiri, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Melakukan tindakan bukan untuk tujuan mencari harta., untuk mendapat nama, agar dikatakan/dipuji sebagai orang baik, mencari perhatian, mencari kedudukan, ketenaran, atau agar mendapat tempat di hati orang banyak, mendapat sanjungan tertentu, karena kesombongan yang terselubung, atau karena alasan-alasan lain yang tidak terpuji. Iklas adalah tanpa pamrih.

Ikhlas adalah salah satu karakter utama guru hebat yang penuh inspirasi. Sifat tersebut harus menjadi karakter ketika menjadi seorang guru. Ikhlas merupakan kata yang mudah diucapkan namun sulit diterapkan dalam kehidupan sehari hari. Amal perbuatan manusia bisa terkatagori ikhlas manakala konsisten sejak pertama kali hingga selesai perbuatan tersebut dikerjakan. Padahal untuk menata niat saja betapa beratnya. Namun kita tidak boleh menyerah, seberat apapun jika ada kemauan dan ihtiar pasti ada jalan keluarnya. Lebih lebih seorang guru yang menjadi qudwah hasanah atau teladan baik bagi murid dan manusia lainya.

Keiklasan bagi seorang pendidik harus menjadi panglima dan ruh dalam pelayanan dan pekerjaannya. Kita maklumi betapa berat dan melelahkan tugas yang ada dipundak seorang guru. Murid dengan berbagai macam tipe, dari yang cepat menangkap pelajaran, sedang sedang saja sampai harus diulang berkali kali agar bisa memahami pelajaran tiap hari guru hadapi. Administrasi yang menumpuk yang melelahkan dan menyita waktu juga harus terselesaikan sesuai jadwal. Terkadang atasan dan pelaku pendidikan lainya kurang bisa menghargai pekerjaan/tugas juga menjadi ujian tersendiri akan keikhlasan guru. Pendek kata banyak tantangan dan tugas-tugas yang harus dipenuhi oleh seorang guru.

Karena yang dihadapi adalah subjek, peserta didik, yang mempunyai permasalahannya tersendiri tentunya menuntut keppiawaian seorang guru. Selain itu, guru juga menghadapi objek berupa benda mati yaitu administrasi yang harus dipenuhi. Guru mempunyai tanggung jawab sosial, administratif, dan personal.

Agar pekerjaan dan tanggung jawab yang berat tersebut terasa ringan, maka ikhlas menjadi solusi terbaik. Karena semua pekerjaan jika ikhlas mengerjakannya akan lain dampaknya terhadap mental dan fisik kita. Keiklasan yang ada pada seseorang menjadi kekuatan lain sehingga bisa menjadi motivasi tersendiri dalam bekerja melayani anak didik dan memenuhi kewajiban administratif.

Ikhlas adalah beramal/mengerjakan sesuatu karena Tuhan semata. Kita yakini jika Tuhan kita libatkan dalam pekerjaan, maka Tuhan tidak akan tinggal diam. Gusti mboten sare. Dia pasti membantu kita melalui orang-orang di sekitar kitakekuatan dan kepercayaan diri yang ada pada setiap pribadi guru sangat membantu untuk dipergunakan dalam menyelesaikan pekerjaan pelayanan.

Kebanyakan orang memilih profesi guru karena ada jaminan gaji dan tunjangan yang cukup dari pemerintah untuk menyambung kehidupanya. Gaji dan tunjangan tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan jujur menjadi sumber motivasi hingga beratnya pekerjaan guru tetap dikerjakannya. Namun, bila guru dalam mendidik hanya motivasi pada uang, maka motivasi itu sangat dangkal.

Kedalaman motivasi seorang guru dilihat dari caranya bekerja dengan ikhlas. Ikhlas begitu penting bagi seorang guru. Guru adalah pelita dalam kegelapan, begitu para penyair membuat kata-kata indah. Kita adalah fasilitator yang mendampingi anak dalam mencari ilmu.

Ilmu bagi manusia itu adalah cahaya yang membawa pada terang. Ini ada ungkapan indah tentang ilmu. lmu itu bagai nur, sinar. Dalam bahasa Arab ada ungkapan : Uthulub ilma minal mahdi ila lahdi” Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang kubur.

Karena ilmu itu cahaya, guru sebagai pembawa cahaya harus memberikannya dengan penuh keikhlasan. Keiklasan adalah perjanjian tidak tertulis antara guru dan murid. Keiklasan bagai kabel listrik yang menghubungkan guru dengan murid. Keikhlasan itu merupakan hubungan tanpa motivasi imbal jasa karena kita yakin Tuhan Sang Pencipta sebagai Maha Pemurah yang mempunyai kerahiman yang tak diragukan. Keiklasan adalah sebagai pakta suci. Keiklasan adalah energi yang menuntun mesin hidup seseorang, khususnya guru. Keikhlasan adalah aura yang seharusnya menyelimuti, dan ruh yang menguasai saat seorang guru berkarya dan melayani. Karena iklas adalah obat yang manjur, yang merawat hati dan memperkuat raga. (Ch. Enung Martina) 

 

Posted in Artikel, Lain-Lain, Tentang Guru | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL TENTANG BUDAYA NYEKAR

Posted by lembursingkur pada Januari 14, 2018

NILAI SPIRITUALITAS DARI TRADISI NYEKAR

Nyadran atau nyekar merupakan salah satu tradisi yang dilakukan orang menjelang hari raya keagamaan. Untuk kaum Muslim nyekar diadakan menjelang Ramadhan dan Lebaran. Untuk orang Kristiani sekitar menjelang atau saat dan setelah Natal. Untuk tradisi keturunan Tionghoa menjelang atau sesudah tahun baru Imlek.

Rupanya tradisi nyekar tidak hanya ada pada adat Jawa atau keturunan Tionghoa saja. Setiap suku di Indonesia sepertinya ada tradisi mendoakan arwah keluarga yang sudah meninggal dan nenek moyang atau leluhur. Jepang punya kebiasaan setahun 2 kali, pas pergantian musim dari panas ke gugur, dan dari dingin ke semi. Selain hari upacara tertentu peringatan 49 hari, 1 tahun, 3 tahun dan 13 tahun. Tapi Jepang juga punya altar di rumah, tempat menyapa leluhur setiap pagi, dan menyatukan kedua tangan mohon restu. Sama juga dalam tradisi Cina.

Tradisi merupakan suatu adat atau kebiasaan yang diwariskan oleh nenek moyang dan dilakukan secara turun temurun. Nyadran adalah salah satu bentuk tradisi yang ada di Pulau Jawa. Tradisi Nyadran merupakan peninggalan penganut peninggalan Hindu yang dipadukan sentuhan ajaran Islam didalamnya. Tradisi nyadran adalah salah satu bentuk Komunikasi Ritual di kalangan masyarakat Jawa, Karena dalam nyadran masyarakat melakukan ritual nyekar (ziarah makam) yang dipercaya mampu menghubungkan kepada Sang Pencipta dan para leluhur. Selain itu, dalam nyadran terdapat ritual sebagai perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Dalam kaitannya terhadap tradisi, komunikasi merupakan unsur budaya yang berfungsi untuk menjalin hubungan antar manusia dan yang digunakan secara turun temurun. Praktik-praktik komunikasi yang dilakukan manusia pada dasarnya ditujukan untuk menjalin interaksi. James W. Carey (1992) seorang ahli komunikasi menjelaskan bahwa proses komunikasi pada konteks ritual juga tidak sekedar mengirim dan menerima pesan, akan tetapi ditujukan untuk menjaga dan memelihara nilai dan norma yang telah dibentuk sejak lama. Dengan kata lain komunikasi dalam konsep ritual memandang komunikasi sebagai milik bersama yang digunakan untuk memelihara suatu nilai dan norma tertentu dalam masyarakat.

Tradisi nyadran di Jawa bagi masyarakat yang beragama Islam diadakan pada bulan Ruwah sebelum bulan puasa. Dalam tradisi ini terdapat nilai-nilai yang dapat diambil yaitu nilai gotong royong, persatuan dan kesatuan, pengendalian sosial, musyawarah dan nilai kearifan lokal.Seiring perkembangan jaman yang membawa perubahan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, masyarakat masih mampu untuk memegang teguh tradisi nyadran yang dimiliki dan menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi nyadran tersebut.

Beberapa pendapat menyatakan bahwa tradisi nyekar sebagai upaya untuk menghormati sekaligus belajar dari sejarah. Manusia tidak lepas dari sejarahnya yang dibentuk karena para leluhur sebagai pendahulu. Pada umumnya manusia tetap tidak bisa meninggalkan identitasnya sebagai bangsa tertentu. Sebagai orang Timur ya tetap tak bisa dipisahkan juga dari tradisi-tradisi yang menempel di situ.

Nyekar itu, fungsi pertamanya adalah bersyukur kepada Tuhan sebab Dia telah memberikan leluhur yang begitu baik sehingga mereka pun bisa melahirkan orang tua kita yang baik, dan orangtua melahirkan serta merawat kita. Yang kedua, Bahasa Latinnya, Memento Mori, artinya kurang lebih, ingatlah akan kematian. Dengan nyekar kita mengingat bahwa hidup kita di dunia ini tidak abadi. Ada kematian yang pasti datang.

Ketiga, nyekar sebagai perhomonan doa restu dari leluhur bagi kita. Beberapa pribadi percaya bahwa meski para leluhur kita itu sudah meninggal, akan tetapi mereka adalah tetap menjadi pihak yang senantiasa berdoa dan memohonkan yang terbaik bagi kita yang masih mengembara di muka bumi ini. Seperti layaknya dalam sebuah perlombaan lari, mereka, para leluhur itu adalah orang-orang yang telah menyelesaikan lintasan terlebih dahulu kemudian menanti di ujung garis finish sambil menyemangati kita yang masih berlari ini untuk terus memacu kekuatan yang terbaik hingga akhirnya bersatu di garis finish yang sama. Seperti dalam film Coco yang rilis November 2017 lalu.

Namun, banyak orang banyak menilai bahwa nyekar itu kadang dikait-kaitkan dengan klenik, dengan yang berbau mejik. Lantas itu bagaimana?

Beberapa tulisan menyatakan bahwa nyekar itu bukan kegiatan magis yang klenik. Tergantung tujuannya. Kita sama sekali tidak memberhalakan leluhur atau orang yang sudah meninggal. Kita orang timur, punya tradisi. Intinya kita ingin menghormati sejarah. Asalkan jangan berlebih-lebihan dengan meminta macam-macam sehingga malahan menjadikan makam sebagai tempat meminta-minta. Terlalu mengeramatkan makam inilah yang disebut klenik. Nyekar bukan untuk menyembah leluhur, tetapi untuk menghormati mereka.

Nyekar yang baik dengan esensi mendoakan dan sekaligus mengingatkan kita bahwa suatu saat kelak kita juga akan mati. Nyekar untuk mengenang kembali mereka yang telah dipanggil Tuhan, untuk menyatakan cinta kasih kita pada mereka, orang yang sudah tiada, untuk mengucap syukur atas keberadaan mereka dalam hidup kita,
untuk menyatakan penghargaan. dan meneladani hal-hal yang patut dicontoh selama hidup mereka. Nyekar tidak semata mengingatkan pada kematian, tetapi untuk lebih menghargai hidup yang diberikan Sang HIDUP dan membuat hidup kita semakin hidup dan berarti.  (disarikan dari berbagai sumber oleh Ch. Enung Martina)

Posted in Artikel, budaya, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »