Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

ARTIKEL TENTANG BEKERJA IKLAS

Posted by lembursingkur pada Desember 14, 2017

BEKERJA DENGAN IKLAS

 

(Gondola, Venesia)

Bekerja!!! Bekerja!!! Bekerjaaaa!!!!

Itu mah slogan kabinet Bapak Jokowi.

Slogan itu baik untuk memberi semangat orang agar giat bekerja. Namun, ada orang yang lantas mengkritisi, katanya bekerja melulu kapan berpikirnya. Bekerja juga perlu dipikirkan dengan baik, dikonsep dengan baik, tidak asal bekerja. Itu mungkin yang dimaksud bekerja dengan cerdas. Selain bekerja dengan cerdas, juga kita hendaknya bekerja dengan tangkas, dan tambah satu lagi agar rimanya kena yaitu bekerja dengan iklas. Sehingga slogan itu akan menjadi nampak sempurna dan bersajak sama menjadi : Bekerja dengan cerdas, tangkas, dan iklas!

Menjalani tangung jawab untuk hidup memang berat,ketika kita dituntut untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Pekerjaan pun kadang sangat tidak cocok dengan apa yang kita inginkan. Mungkin pekerjaan yang didapatkan tidak  sesuai dengan bidang kita mengingat untuk medapatkan sebuah pekerjaan sekrang ini sangatlah sulit. Apalagi bila tanpa di bekali pengalaman-pengalaman yang kita punya yang di butuhkan oleh perusahaan atau lembaga tempat kita bekerja, memang akan sangat sulit ketika menjalaninya.

Apa sih sebenarnya yang kita ingin kan dalam bekerja? Jawabanya bisa banyak, antara lain mencari sesuap nasi, kesejahteraan, prestise, kepuasan diri, pengakuan/ pembuktian diri, agar bertambah kaya, mencari segegnggam berlian, sampai pada  pelayanan. Apa pun alasan saya dan Saudara dalam bekerja, tetapi yang jelas kenyamanan dalam bekerja kunci utama untuk bergabung di dunia kerja.

Untuk menciptakan kenyamanan dalam bekerja tentunya banyak faktor yang mempengaruhinya, fasilitas kantor, letak tempat bekerja, pimpinan/boss, dan teman kerja. Namun, yang paling utama untuk menciptakan kenyamanan itu bekerja adalah diri kita sendiri. Selengkap apa pun fasilitas, jarak yang terjangkau, sebaik apa pun pemimpin, dan sesolid apa pun teman kerja, tetapi bila diri kita tidak mempunyai hati untuk bekerja, semuanya tak akan membuat kita nyaman. Akhirnya hal yang sebenarnya nyaman pun akan terasa tidak nyaman. Karena kenyamanan itu bersumber dari diri kita untuk menerima keadaan diri kita dan yang ada di luar kita.

Hati yang bagaimanakah yang bisa membuat bekerja itu nyaman? Salah satunya adalah hati yang iklas dalam bekerja. Ada sebuah wejangan para pini sepuh yang bunyinya seperti ini:

‘Sebetulnya rezeki itu ngintil orang yang rajin dan iklas bekerja.Yang iklas bekerja diintai oleh mata rezeki. Yang bekerja cimit-cimit slalu mengharap rezeki tiba. Rezeki tiba pada siapa malas dan rajin , kaya dan miskin, bodoh dan pintar seperti rezeki dan celaka, mubrah (kesia-siaan)  dan barokah, tetapi  rezeki barokah slalu pada yang rajin dan iklas bekerja.’

 Wejangan di atas kira-kira mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan itu memberikan rejeki kepada siapa pun – semua umatnya, tanpa pandang bulu. Namun, bagi orang yang bekerja dengan rajin dan tulus-iklas, berkat dan rejeki akan berlimpah.

Mari kita melihat kata iklas dari berbagai sumber yang pernah saya baca!

Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia ikhlas adalah: tulus hati, bersih hati.

Tulus : sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci), jujur, tidak pura-pura, tidak serong, tulus hati, tulus iklas.

syarat iklas:
1. Atas dasar rasa sayang terhadap diri sendiri dan sesama
2. Hanya diri sendiri yg tahu.
3. melepas dengan merasakan lega,plong dan nikmat.
4. melepas dengan segera,tidak menunda.
5.lupakan dan tidak mengungkit kembali
6.melepas tanpa harap imbalan iklas,tidak mengenal balas jasa,berharap dari   orang yg sudah kita beri.

 

Iklas bekerja,adalah kita benar-benar merasakan dan menikmati bekerja itu sebagai sarana optimalisasi kemampuan diri dalam rangka ibadah, menjadi berkat bagi orang lain dan keluarga. Kita bekerja, dengan mengeluarkan segala kemampuan kita, tanpa ada paksaan dari manapun. Kita bekerja dengan sepenuh hati,sesuai dengan profesi kita masing-masing.

Bekerja dengan penuh rasa iklas dan penuh tangung jawab serta mencintai pekerjaan kita yang kita jalani sekarang ini, maka bekerja akan menjadi lebih bersemangat. Tanpa kita mencintai pekerjaan kita, pekerjaan akan menjadi terasa berat dan menjadi beban. Kalau kita bekerja yang ada dalam pikiran kita hanya nunggu tanggal gajian, maka yang akan kita dapat mungkin hanya gaji tersebut, akan tetapi kalau yang kita cari adalah keiklasan maka kita memberikan makanan pada jiwa kita.

Saya jadi teringat kadang saya bersungut-sungut ketika melakukan pekerjaan saya dan menyalahkan ini itu di luar diri saya. Pekerjaan saya menjadi tambah berat dan orang lain kena dampaknya dari ulah negatif saya. Saya menjadi penebar aura negatif. Jadi ketika saya harus mblusuk-mblusuk mencari soal di bawah tangga untuk ulangan sususlan anak, saya tidak jadi ngomel karena ingat konsep iklas. Hanya dongkol saja. Lantas ingat lagi syarat iklas di atas bahwa kita harus rela melepas. Maka rasa dongkol pun saya lepaskan. Saya iklas mencari soal. Titik. Tidak usah menyalahkan pegawai TU yang mengomel dan cuci tangan, Kepala Sekolah, anak yang ikut susulan, atau sistem yang agak kacau.

Bekerja dengan iklas ternyata itu enak. Bekerja dengan iklas itu ternyata nyaman.Bekerja dengan iklas itu membuat hidup lebih indah. Nikmati pekerjaan, ada ataupun tiada pimpinan. Dinilai ataupun tidak dinilai pekerjaan kita, tak jadi soal. Dihargai atau tidak hasil kerja kita. Itu tak penting. Yang penting adalah : iklas saja. Diberi apresiasi ataupun tidak. Iklas saja. Itu saja. Kok ya enak gitu !!!

Saya hanya bisa mengatakan: mari kita bekerja dengan iklas ada atasan atau tidak, kita tetap bekerja dengan baik. Kalau kita bekerja hanya karna atasan saja, kepribadian, kualitas diri,  dan keimanan kita yang dipertanyakan. Mengapa ditanyakan? Karna sebagai orang yang beriman yang kita harapkan bukan  pengawasan manusia, melainkan kesadaran bekerja untuk Tuhan jauh lebih utama karena  Allah maha melihat dan maha mengetahui jauh sampai ke hati.

(Ch. Enung Martina)

Iklan

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL PENDIDIKAN

Posted by lembursingkur pada Desember 12, 2017

ANAK TERSINGKIR DI SEKOLAH

Setiap mengajar di setiap kelas, guru sering menemukan anak-anak yang tersingkir dan diemohi teman-temannya. Banyak alasan mereka tidak diterima teman sekelasnya. Ini beberapa alasan mengapa seorang anak ditolak teman sekelasnya:

1. Dianggap tidak gaul (cupu)
Penting bagi seorang anak untuk bisa diterima dalam pergaulan umum teman sebayanya. Seorang anak yang bisa diterima oleh teman dalam kelasnya akan bertumbuh rasa perya dirinya. Bila rasa percaya dirinya tumbuh maka ia akan merasa mudah beraktivitas di dalam kelas. Membawa dampak pada mudahnya menerima pelajaran yang diberikan oleh guru karena dia merasa nyaman berada di kelas tersebut.

Adanya teman dalam kelas memudahkan anak untuk bertanya bila ada pelajaran yang tidak dipahaminya pada temannya. Pada saat pembagian kelompok, anak akan mudah mendapatkan teman kelompoknya untuk mengerjakan tugas yang diberikan gurunya.

Bila ada anak yang dianggap kurang bisa menyesuaikan diri dalam pergaulan secara umum berlaku, anak tersebut akan terkucil dengan sendirinya. Ada beberapa kesepakatan yang tidak tertulis yang diketahui oleh semua anak apa yang umum mereka bicarakan dalam pergaulan. Misalnya topik tentang permainan/games, tokoh idola, film terbaru,dll.

2. Dianggap aneh
Beberapa anak tidak diterima temannya karena dianggap aneh. Penampilan atau tindakannya dianggap berbeda, nyeleneh. Contoh kasus tindakan yang dianggap aneh adalah: cara berbicara, cara berpakaian, cara berperilaku. Kasus yang pernah saya temukan seorang anak perempuan di kelas 7 tidak diterima teman-teman sekelasnya karena dia kalau berbicara tidak mau kalah, kalau berbuat kesalahan tidak minta maaf, dalam bertindak dianggap kasar, berbicara manja, dan merasa diri paling keren. Nah, anak perempuan ini dijauhi oleh temannya karena temannya merasa terganggu.

3. Dianggap tukang melapor
Kasus lain saya pernah menemukan kasus di kelas 7 juga, anak yang suka mengadu tentang hal apa pun yang terjadi dalam kelas. Anak ini mengadukan berbagai hal pada gru atau wali kelasnya. Beberapa anak yang merasa namanya terbawa-bawa karena dilaporkan anak ini, mulai menjauhi anak ini. Lama-lama anak ini taka punya teman.

4. Suka berlaku kasar
Kasus lain yang saya temukan di kelas 7 juga, seorang anak diajuhi temannya karena suka berkata kasar dan bertindak kasar. Mendorong teman, menendang, dan menonjok. Lama-lama temannya malas bergaul dengan dia karena takut terkena dampak fisik pada saat anak ini emosional.

5. Dianggap sombong
Kasus lain, anak dijauhi karena ketika melihat gaya penampilan, cara bicara, dan saat bergaul dianggap sombong oleh temannya. Teman-temannya tidak suka karena bagi mereka berteman itu biasa saja tak perlu sombong. Teman-temannya merasa anak yang sombong perlu diberi pelajaran.

6. Anak yang dianggap tidak bisa dipercaya
Bagi anak remaja pada umumnya, teman itu segalanya. Pendapat teman yang paling didengar daripada pendapat orang tua di rumah. Mereka akan mempercayakan rahasia meraka pada temannya. Nah, bila ada kasus tertentu yang membuat kepercayaan pada teman hilang adalah pada saat teman yang dianggap bisa dipercaya ternyata kebalikannya. Biasanya, peristiwa ini akan merenggangkan hubungan kedua anak ini. Kalau hal itu sering dilakukan temannya, maka teman tersebut akan disingkirkan karena dianggap sudah melanggar kepercayaan.

7. Anak yang rendah diri
Banyak kasus terjadi anak tersingkir di kelas karena anaknya sendiri minder, rendah diri, kepercayaan dirinya sangat kurang. Anak ini merasa tidak layak bergaul dengan teman lain karena takut diejek. Anak ini merasa nyaman sendiri daripada berteman nanti malah sakit hati. Anak ini mempunyai praduga bahwa orang lain pasti tak menyukai dia. Kenyataannya dari kasusus yang pernah ditemukan, temannya tidak demikian. Bahkan ada beberapa temannya untuk membantu dia dengan mengajak bermain, berbicafa, atau melibatkan dalam kegiatan lain.

8. Anak yang memang sombong
Ada kasus lain anak tidak punya teman karena memang dia merasa tak layak berteman dengan teman-teman sekelasnya. Ini kebalikan dengan anak minder. Anak ini terlalu percaya diri dan menilai dirinya sangat tinggi. Ia beranggapan temannya tidak selevel dengan dia. Bukan karena teman-teman menjauhinya, melainkan dia yang menjauhakn diri dari temannya.

9. Anak sempurna
Ditemukan juga ada anak yang selalu ingin sempurna dalam pelajaran. Biasanya anak ini anak pintar dan memang selalu sempurna. Ia merasa teman-temannya itu tidak sesuai untuk dia. Bahkan, saat kerja kelompok pun ia tak mau membagi tugas pada teman-temannya karena pasti hasil pekerjaan temannya tidak memuaskan dia. Karena itu anak ini akan sangat menuntut tinggi pada teman-temannya. Lama-lama temannya lelah dan males karena pasti anak ini akan marah dan mengomel ketika teman-temannya bekerja tak sesuai kriteria dia.

Kesembilan tipe anak di atas ditemukan para pendidik saat mendidik anak-anak. Namun, sebagai pendidik tak henti-hentinya berupaya agar anak-anak tersingkir ini bisa diterima oleh tema-temannya. Karena pergaulan dengan teman-teman akan membawa pada pendidikan karakter mampu berbagi, mampu beradaptasi, mampu mengasaihi, mampu membantu, dan mdelayani sesamanya kelak ketika ia dewasa. Yang lebih pasti lagi bahwa ketika anak tersingkir merasa dicintai oleh orang-orang di sekitarnya, akan membawa pada pengalaman mencintai orang lain dan memperlakukan orang lain dengan penuh respect pada masa yang akan datang. Di situlah letak pendidikan karakter yang bisa kita tuai dari pergaulan bersama teman.

(Ch. Enung Martina)

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

BELAJAR BERBASIS MASALAH

Posted by lembursingkur pada Desember 5, 2017

 

Suatu negara mempunyai cita-cita dan tujuannya untuk membawa bangsanya hidup berbangsa dan berkarya menmbangun negrinya. Nah, Kurikulum 2013 merupakan suatu kurikulum yang dibentuk untuk mempersiapkan lahirnya generasi emas bangsa Indonesia dengan sistem   siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Aspek-aspek yang ingin dicapai dalam kurikulum 2013 adalah aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Kurikulum ini bagi para tenaga pendidik membuat ribet karena adanya administrasi yang tak kalah ribet dengan kakaknya yang eksis sebelumnya, yaitu Kurikulum 2006. Seperti pada umumnya yang baru-baru, biasanya penyesuaiannya lama untuk menjadi biasa. Nah, yang ini pun begitu. Para pendekar di dunia pendidikan formal pun (para guru) dibuat kalang kabut.

Pada dasarnya Kurikulum 2013 tak jauh berbeda dari kurikulum sebelumnya dalam penyampaiannya. Hanya lebih mengutamakan peserta didik sebagai subjek yang mempunyai peranan dalam pembelajaran. Bukan objek yang terus dijejali dengan materi pelajaran.

Pembelajaran adalah kegiatan guru murid untuk mencapai tujuan tertentu, makin jelas tujuan makin besar kemungkinan ditemukan model pembelajaran dan metode penyampaian yang paling serasi. Namun tidak ada pegangan yang pasti tentang cara mendapatkan model dan metode mengajar yang paling tepat. Tepat tidaknya suatu model dan metode baru terbukti dari hasil belajar siswa. Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar (Udin Winataputra, 1994,34). Jadi model pembelajarn bersifat preskriptif (menentukan/memberi petunjuk) yang relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif adalah model pembelajaran yang memiliki landasan teoritik yang humanistik, lentur, adaktif, berorientasi kekinian, memiliki sintak pembelajaran (pola urutan) yang sederhana, mudah dilakukan, dapat mencapai dan hasil belajar yang ingin dicapai.

Setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran dan diakhiri dengan tahap menutup pelajaran, didalamnya meliputi kegiatan merangkum pokok-pokok pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru.
Nah, salah satu model pembelajaran dalam Kurikulum 2013 adalah Belajar Berbasis Masalah. Lantas para guru berkomentar, “ Halah, masalah saja dicari-cari, wong hidup sudah penuh masalah!”. Justru karena itulah, maka anak-anak kita diajari untuk trampil belajar dari masalah yang mereka hadapi sendiri. masalah bukan untuk dilupakan atau dihindari, tetapi untuk dicari solusinya. Monggo, para Ibu dan Bapak Guru yang terhormat, selamat menerapkan cara pembelajaran ini. Pasti seru!

Langkah-langkah Operasional dalam Proses Pembelajaran
a. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem)
Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan peserta didik melakukan berbagai kegiatan brainstorming dan semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat

b. Pembelajaran Mandiri (Self Learning)
Peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan.

c. Tahap investigasi (investigation)
Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami.

d. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge)
Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya.

5. Penilaian (Assessment)

Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian.

2. Langkah-langkah Metode pembelajaran berbasis masalah
Dalam garis besarnya langkah-langkah metode pembelajaran masalah(problem solving) dapat disarikan sebagai berikut:
a. Adanya masalah yang dipandang penting;
b. Merumuskan masalah;
c. Analisa hipotesa;
d. Mengumpulkan data;
e. Analisa data;
f. Mengambil kesimpulan
g. Aplikasi (penerapan) dari kesimpulan yang diperoleh; dan
h. Menilai kembali seluruh proses pemecahan masalah (Depdikbud, 1997: 23).

Berikut adalah langkah-langkah PBM yang diadaptasi dari pendapat Arends (2012) dan Fogarty (1997).

Langkah-Langkah Rinci Pembelajaran Berbasis Masalah

Tahap Deskripsi
Tahap 1
Orientasi terhadap masalah Guru menyajikan masalah nyata kepada peserta didik.
Tahap 2
Organisasi belajar Guru memfasilitasi peserta didik untuk memahami masalah nyata yang telah disajikan, yaitu mengidentifikasi apa yang mereka ketahui, apa yang perlu mereka ketahui, dan apa yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Peserta didik berbagi peran/tugas untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Tahap 3
Penyelidikan individual maupun kelompok Guru membimbing peserta didik melakukan pengumpulan data/informasi (pengetahuan, konsep, teori) melalui berbagai macam cara untuk menemukan berbagai alternatif penyelesaian masalah.
Tahap 4
Pengembangan dan penyajian hasil penyelesaian masalah Guru membimbing peserta didik untuk menentukan penyelesaian masalah yang paling tepat dari berbagai alternatif pemecahan masalah yang peserta didik temukan. Peserta didik menyusun laporan hasil penyelesaian masalah, misalnya dalam bentuk gagasan, model, bagan, atau Power Point slides.
Tahap 5
Analisis dan evaluasi proses penyelesaian masalah Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses penyelesaian masala

(Disarikan dari berbagai sumber by Enung Martina)

Posted in Artikel, kurikulum | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL TENTANG KOMUNIKASI ASERTIF

Posted by lembursingkur pada November 27, 2017

Ada kewajiban menjadi guru piket untuk setiap guru di tempat saya mengajar. Pengecualian terjadi pada guru yang setiap harinya mengajar penuh. Tugas guru piket bervariasi, mulai dari menggantikan guru yang tidak hadir di dalam kelas, menunggu kelas ketika ada guru yang tidak masuk, menjaga ketertiban saat istirahat, menangani kasus anak yang sakit, menangani bila ada kasus yang terjadi pada hari itu, dan yang paling penting adalah menyambut siswa di pintu gerbang untuk melihat kelengkapan dan ketertiban siswa dari ujung kaki sampai ujung rambut. Saat berdiri menyambut, guru piket harus melakukan kode etik: salam, sapa, dan senyum.

Dengan demikian guru piket harus datang lebih pagi daripada biasanya. Sekolah menetapkan guru piket maksimal datang pukul 06.30 bertepatan dengan siswa masuk ke kelas. Bila melihat situasinya alangkah lebih baiknya seorang guru piket datang sebelum jam 06.30.

Sebetulnya saya mengalami berganti pasangan guru piket untuk setiap tahun pelajaran. Biasanya setiap harinya guru piket yang ditugaskan ada 3 orang. Saya berpasangan dengan beberapa teman guru piket dengan berbagai karakter dan kebiasaan. Saya pernah berpasangan dengan teman guru yang penuh tanggung jawab dan mudah diajak bekerja sama. Saya juga pernah berpasangan dengan guru yang agak santai , suka menghindari tugas menjaga kelas, dan lebih suka melakukan kegiatan untuk dirinya sendiri. Pernah juga saya berpasangan dengan guru yang sepanjang piket terus mengeluh tentang kelehannya menjadi guru piket, ketidaksukaannya tentang sistem piket, dan aneka keluhan lainnya. Ada juga guru piket yang sangat suka datang telat.

Nah, kali ini saya akan berbagi tentang kejadian pada saat saya suatu hari saya piket. Kejadian itu tepatnya hari Selasa, 11 September 2011. Salah satu guru yang menjadi pasangan piket kali ini adalah seorang ibu yang mempunyai hobi datang telat. Dia datang seperti kalau dia tidak menjadi guru piket, yaitu jam 06.45. Selama dua bulan saya berpasangan dengan dia , belum pernah ia datang jam 06.30 atau di bawah itu. Lama- kelamaan saya kesal dan mulut saya gatal untuk mengingatkan dia. Padahal saya tahu Ibu Guru ini bukan ibu yang punya anak yang harus menyiapkan aneka kebutuhan anak layaknya para ibu yang dikaruniai anak. Saya berpikir cara yang paling tepat untuk menyampaikannya. Akhirnya ketika dia selesai mengantri untuk presensi, saya mulai melancarkan aksi saya.
Saya berkata dengan penuh keramahan, “ Bu, saya yakin Selasa depan, Ibu akan datang lebih pagi lagi.”
Saya sungguh tak menduga ternyata jawabannya berbeda dengan yang saya harapkan. Dia mejwab, “Aku tidak apa-apa dipecat juga. Sanma laporkan saja!”
Saya ternganga dan terbata, “ ya, nggak begitu maksud saya, Bu. Saya tak akan melaporkan Ibu karena saya bukan tukang lapor.”

Dengan ketus dia berkata, “ Ibu nggak ngerti alasannya.”
“ Betul, Bu, saya nggak ngerti karena Ibu tidak bercerita. Saya menyampaikan hal ini langsung pada Ibu daripada saya gerundelan di belakang.”

Percakapan terhenti karena ada anak yang harus dilayani.
Saya merasa teguran tadi akan sampai dengan baik dan diterima dengan baik pula. Rupanya saya salah duga. Dari peristiwa ini saya belajar bahwa ketika kita memberi feedback pada seseorang harus memperhatikan berbagai faktor. Menurut Ibu Ratih Ibrahim dalam pelajaran Personal Growth feedback yang baik adalah: diberikan dengan jujur, serius, langsung, dan tulus.

Kemudian saya berpikir dan melihat feedback yang baru saya berikan kepada pasangan guru piket tadi apakah sudah sesuai dengan ciri-ciri di atas. Saya memberi feedback pada teman saya sebagai sesama guru piket dengan tulus dengan tujuan di baliknya untuk perbaikan dia agar tidak datang telat saat piket. Saya juga menyatakannya dengan jujur apa adanya tanpa mencari-cari permasalahan. Ketika saya menyampaikannya juga dengan langsung pada orangnya. Jadi letak kesalahan saya ada di mana, ya?

O, rupanya saya mengatakannya tidak dengan serius. Situasi saat saya menyampaikan feedback seolah saya sedang bercanda mungkin. Oleh karena itu, teman tadi tersinggung. Maksud hati sih saya menyampaikannya dengan cara lunak, tidak terlalu formal, dan lebih santai. Eh, ternyata cara saya dianggap meledek atau menghinanya sehingga feedback yang saya sampaikan tidak tepat sasaran malah akhirnya mental.

Rupanya, saya masih harus banyak belajar tentang cara menyampaikan feedback pada orang lain. Berkomunikasi itu ternyata tidak mudah. Komunikasi saya kurang asertif. Ada beberapa faktor yang sering meleset dari dugaan kita sehingga tujuan tidak sampai pada sasarannya.

Komunikasi asertif adalah kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif tanpa terlalu banyak terganggu dengan apa yang orang lain mungkin pikirkan atau katakan.

Orang asertif berani menyuarakan sesuatu yang menjadi pendapatnya dengan tetap menghargai orang lain. Komunikasi asertif juga akan menuntun seseorang untuk memutuskan antara mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ untuk situasi tertentu.

Sebaliknya, orang yang kurang asertif cenderung selalu berkata ‘ya’ meskipun sebenarnya dia tidak berada dalam mood untuk melakukan hal tersebut. Tidak bisa mengatakan apa yang idealnya ingin dikatakan dapat menyebabkan perilaku agresif pasif dan konflik internal serta masalah mental.

Manfaat Menjadi Asertif

1.Bebas dari konflik internal, sikap asertif akan membuat seseorang terhindar dari stres dan tekanan yang tidak perlu dari lingkungan.

2.Meningkatkan percaya diri. Orang yang asertif berarti tidak ragu dalam menyuarakan pendapatnya. Orang lain juga akan cenderung menghargai orang yang asertif karena berani menyuarakan pikiran dan memilih memberikan jawaban yang jujur. Apresiasi dan penghargaan dari orang lain pada akhirnya akan meningkatkan rasa percaya diri Anda yang telah bersikap asertif.

3.Membantu mengelola stress. Bersikap asertif membuat seseorang lebih mudah mengelola stres. Orang yang asertif tidak akan menyesali apa yang dilakukan karena telah menyuarakan apa yang menjadi pendapat dan keyakinannya

4. Hidup yang lebih bebas. Orang asertif selalu percaya dengan prinsipnya tanpa terlalu banyak terganggu dengan apa yang dikatakan orang lain. Orang asertif umumnya bahagia dan percaya diri karena mampu menentukan pilihan dan tujuan hidupnya sendiri. Orang lain tidak akan bisa memanfaatkan orang yang asertif karena perilaku asertif membuat seseorang tetap kukuh dengan prinsipnya. Sebaliknya, orang yang tidak bisa berkata ‘tidak’ cenderung dimanfaatkan orang lain karena ketidakmampuannya untuk menolak.

Dari cara saya di atas yang saya gunakan sebenarnya sudah cukup asertif. Saya merasa bebas ketika mengungkapkan hal tersebut pada rekan saya. Saya melakukan yang benar. Saya melakukan untuk kemajuan pribadi orang ini. Namun, ia tak menerimanya. Itu masalah dia. Bukan masalah saya. Saya independen untuk menyatakan pendapat dan harapan saya pada rekan saya. Saya tak perlu terlalu memikirkan bahwa saya menyinggung dia. Tersinggung itu hal yang biasa dalam berkomunikasi. Ketika dia tersinggung sebenarnya saya menyatakan yang benar. Ia merasa bahwa dia bertindak salah karena menyalahi peraturan sebagai guru piket yang harus dating awal.

Menjadi seorang guru, kita harus berani untuk menyatakan mana yang benar dan salah. Menjadi seorang guru harus berani mengatakan ya dan tidak pada saatnya diperlukan. Guru tidak boleh ragu dalam menyatakan kebenaran. Kalau guru ragu lantas dunia mau dibawa ke mana?
(Ch. Enung Martina)

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL BUDAYA JAWA

Posted by lembursingkur pada November 19, 2017

MENGENAL NILAI BUDAYA LUHUR
DALAM SERAT CENTHINI JILID PERTAMA

Serat Centhini atau juga disebut  Suluk Tambanglaras  atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, agar tak punah dan tetap lestari sepanjang waktu. Serat Centhini disampaikan dalam bentuk tembang.

Serat Centhini jilid pertama berisi tentang babad Giri yang mengisahkan Sunan Giri dimulai dari masa kejayaannya hingga dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya.  Kekalahan Giri berakhir dengan ditawannya Pangeran Giri dan diboyong ke Mataram. Sementara itu, ketiga putra-putri Giri terpencar saat meloloskon diri dari kedaan chaos saat penyerangan tersebut.

Cerita selanjutnya buku jilid pertama mengisahkan perjalanan putra pertama Giri yang bernama Pangeran Jayengresmi diikuti Santri Gathak dan Gathuk untuk mencari adik-adik Pangeran yaitu Jayengsari dan Niken  Rancangkapti. Kedua adiknya ini diikuti oleh abdi setianya Buras.

Jayengresmi mencari adiknya dimulai dari arah timur ke arah barat Pulau jawa, yaitu dimulai dari bekas kerajaan Majapahit hingga Jayengresmi mendirikan padepokan di Gunung Salak,  Bogor. Di padepokan ini ia didatangi oleh Seh Ibrahim atau Ki Ageng Karang yang ingin mengangkat Jayengresmi menjadi anaknya. Ada pun Ki Ageng Karang ini adalah seorang pertapa dari Gunung Karang, Banten yang sangat terkenal ilmu dan kesaktiannya.

Bila dilihat dari tempat yang dikunjungi, Jayengresmi dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang.

Dalam perjalanannya di berbagai tempat mencari kedua adiknya ini, Jayengresmi bertemu dengan orang-orang berilmu, bijaksana, dan manusia luhur. Selain itu ia juga bertemu dengan mahluk-mahluk halus. Jayengresmi banyak mendapat ilmu dan pengajaran dari orang-orang atau mahluk yang bertemu dengannya.

Dalam perjalanan ini, Jayengresmi mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal  hingga ke kisah Syekh Siti Jenar.

Perjalanan Jayengsari dan Niken  Rancangkapti dalam jilid pertama juga bertujuan mencari kakandanya yaitu Jayengresmi. Ketiga saudara ini salingmencari. Perjalanan mereka berdua dimulai dengan naik perahu ke Sunagi Emas dan turun di Wanakrama. Kemudian ke Desa Sidacerma, ke Tosari (ada di Pasuruan-Jawa Timur), Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa (Banjarnegara, Jawa tengah) di kaki Gunung Bisma Banyumas.

Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, shalat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan slametan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.

Bisa dikatakan bahwa kisah dalam Serat Chentini ini menyampaikan beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa, seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa.  Pokoknya buku ini seperti ensiklopedi Jawa yang dibalut dalam alur kisah para putra-putri Sunan Giri yang sedang berkelana. Bisa dikkatakan bahwa Serat Centhini merupakan sebuah ensiklopedi yang memuat berbagai informasi penting mengenai politik, ekonomi, sastra, budaya, religi yang telah berkembang di Jawa pada era Sebelum Masehi hingga pada ke 18 Masehi. Para krtiikus memuji kitab ini sebagai karya sastra istana Jawa yang megah, mewah, indah, dan bermutu tinggi.

Buku yang aslinya ditulis dalam bentuk tembang ini dianggap sebagai sastra klasik yang adhiluhung. Seperti kita ketahui bahwa dalam banyak kehidupan manusia, kita mengenal ajaran nyanyian atau tembang atau bahkan berbalas pantun, isi dari ungkapan-ungkapan di dalamnya mengajarkan perumpamaan untuk menuju kepada kehidupan yang lebih baik. Tidak sedikit ajaran-ajaran agama juga memiliki tembangnya sendiri, seperti dalam agama Kristiani, di dalam Kitab Suci ada bagian disebutkan sebagai mazmur, Kidung Agung, atau puji-pujian kepada Allah. Di dalamnya juga bisa kita tangkap beberapa kata yang menggambarkan hubungan harmonis antara makhluk hidup yang ada di bumi ini, dan hubungan mahluk dengan khaliknya sebagai penghormatan kepada Sang Penciptanya.

Bila dilihat dari sisi sosiologisnya, di awal buku, diceritakan asal usul silsilah keluarga dan orangtua dari Jayengresmi, yaitu kakek Jayengresmi yang adalah Syekh Walilanang, seorang muslim dari Jedah yang mencoba masuk ke Kerajaan Blambangan sebagai benteng terakhir dari peradaban Majapahit di Jawa. Dengan kekuatannya, Syekh Walilanang berhasil menyembuhkan penyakit puteri raja dan mempersuntingnya, dengan harapan raja dan seluruh kerajaan bisa mengikuti ajaran agama Islam. Menarik melihat latar belakang penyebaran agama Islam dan keruntuhan dari kerajaan Majapahit yang menyembah Dewa Siwa (Hindu). Dituliskan di berbagai bagian mengenai “aspek negatif” dari para penyembah Dewa Siwa dari laskar Majapahit dan bagaimana para penyebar agama Islam tersebut termasuk Syekh Walilanang dan anaknya Sunan Giri berusaha mengembalikan masyarakat “Jawa” untuk kembali ke jalan yang “benar” dengan menganut agama Islam. Perspektif Islam sangat kuat dalam buku itu. Hal ini terutama memang berdasarkan cerita mengenai penyebaran agama Islam dan bagaimana kaidah-kaidah agama Islam menjadi patokan dalam perumpamaan dan ajaran-ajaran yang coba dikawinkan dengan ilmu Jawa Kuno.

Buku ini memang menarik, terlebih karena buku ini merupakan karya klasik yang ditulis dua abad yang lalu. Pembaca diajak untuk masuk ke dalam budaya Jawa yang mempunyai filosofi luhur. Setiap tembang di dalamnya menyajikan  keindahan  mencerminkan keagungan karya sastra pada masanya.  Seperti karya-karya sastra yang lain yang meskipun diciptakan sekian abad yang lalu, bahkan sekian milenium yang lalu, kebijasanaan yang ada di dalmnya akan tetap relevan untuk kehidupan saat ini.

(Ch. Enung Martina)

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL KIDS ZAMAN NOW

Posted by lembursingkur pada November 4, 2017

Kegiatan Literasi Kids Zaman Now

Ketika generasi tua memandang anak anak zaman ini, ukuran yang digunakan adalah takaran tua. Penilaian mereka bahwa anak muda sekarang tak bisa diharapkan. Generasi tua yang tidak kekinian melihat bahwa generasi sekarang adalah generasi yang mengkhawatirkan. Generasi tua melihat betapa mereka perlu dikhawatirkan karena mereka hidup dalam zaman yang gila. Mereka hidup di antara para srigala narkoba yang dengan gencar mempromosikan jualan mereka. Mereka hidup diantara bentangan dunia maya yang mencemaskan. Mereka hidup di antara asap karbondioksida yang makin pekat tanpa kompromi. Racun sudah akrab dengan apa yang mereka makan dan minum. Mereka hidup di zaman yang tak pernah bisa diramalkan. Musim berganti, tetapi tak satu musim pun yang normal. Kebencian mengambang di udara yang mereka hirup. Keserakahan terpapar di hadapan mereka dari para generasi tua yang kontraproduktif. Keadilan jauh dari harapan dan angan-angan. Sementara negri yang diturunkan para founding father makin tak menetu dibawa arus politik yang tak berhati. Tak ketinggalan para predator sexual berkeliaran siap memangsa mereka. Ajaran benar dan sesat berbaur menjadi satu membuat rancu. Tentu saja dilengkapi dengan kemanusiaan yang perlahan padam.

Semua itu membaut para generasi tua sangat khawatir. Begitu banyak ahli membuat ini dan itu untuk membuat generasi muda tetap terjaga terlindungi. Ada berbagai lembaga pendidikan yang didirikan dan acara diselenggarakan agar bisa melatih dan mendidik mereka semakin handal untuk mengatasi gelora zaman.

Usaha tetap usaha ada beberapa hal yang terlewat dan tak terkendali karena energi perubahan begitu besar gelora dan pengaruhnya. Tak bisa dipungkiri bahwa ada anak muda yang terjerumus dan terjerembab ke dalam kekelaman yang tak bisa terselamatkan. Namun, begitu banyak generasi muda yang juga berhasil denagn gemilang mengarungi lautan zaman mereka. Zaman ini milik mereka. Mereka tahu persis bagaimana harus menyelaminya, menjalaninya, dan bermain dengan asyik di dalamnya. Sementara kaum tua sebenarnya pendatang di zaman mereka.

Jadi bila generasi tua ngotot dengan cara yang mereka anut untuk menerapkannya pada pemain muda di generasi mereka, itu belum tentu sesuai. Generasi tua yang masih gagap dengan teknologi justru menjadi pendatang yang asing di belantara milenial ini. Justru para kaum tua yang harus menyesuaikan dengan zaman ini.

Demikian pula dengan dunia pendidikan kena dampak energy perubahan ini. Salah satunya cara membaca. Bila generasi tua keukeuh dengan pendapatnya bahwa anak harus membaca buku yang dicetak yang selama ini menjadi refrensi generasi tua, saat ini harus dikaji ulang pendapatnya. Generasi muda sekarang sudah tidak zaman membaca buku yang dicetak seperti dulu kala. Kid zaman now akan memilih membaca ebook atau artikel dan berita di internet daripada membaca majalah atau koran.

Apakah cara mereka salah? Tentu saja tidak. Apakah cara membaca generasi tua salah? Juga tidak. Taka da yang salah. Masalahnya bukan salah dan benar, tetapi pada cocok dan tidak. Generasi tua bila memaksakan berliterasi kepada generasi muda dengan caranya seperti zaman baheula berliterasi, itu perlu dilihat.

Berliterasi adalah kegiatan untuk mendapatkan informasi dengan membaca berbagai literatur. Karena berliterasi itu dianggap penting untuk mencerdaskan bangsa, maka Indonesia mencanangkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). GLN menjadi penting untuk dilakukan di berbagai kalangan. Berliterasi untuk zaman sekarang ini harus kontekstual dengan kebutuhan zaman ini. Berliterasi dengan bijak patut diterapkan saat ini karena derasnya arus informasi di sekitar kita. Diperlukan kecerdasan berliterasi.

Kecerdasan berliterasi bukan hanya membaca buku saja. Aspek literasi itu bukan cuma baca-tulis, tapi juga cerdas berliterasi dalam bidang teknologi informasi, hukum, politik, ekonomi, budaya, termasuk di media sosial. Membaca bukan hanya buku, majalah, dan koran yang dicetak. Berliterasi yang cerdas membawa seorang anak muda pada kebebasan berpikir, berpendapat, bertindak, dan berbangsa dengan baik. Berliterasi yang cerdas mampu membawa anak pada pribadi yang mampu menghargai perbedaan, mampu berpikir global dan bertindak di lingkungan tempat dia hidup (lokal).

Maka kaum muda perlu diarahkan, didampingi, dan dibimbing untuk bisa berliterasi dengan cerdas. Sementara kaum tua juga mengimbangi dengan cara menyesuaikan diri dengan kaum mileniel. Kaum muda pemilik zaman ini. Kaum tua adalah pendatang. Yang harus menyesuaikan diri adalah kaum pendatang. Bukan kebalikannya pendatang menjadi penjajah dan memaksa pemilik zaman. (Ch. Enung Martin

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

PUISI HARI SUMPAH PEMUDA

Posted by lembursingkur pada Oktober 31, 2017

Kobaran Sumpah Pemuda

(0leh Regina Martha – SMP St. Ursula BSD)

Dalam keheningan
Terbayang kobaran semangat jiwa dan raga
Menyerukan semangat sumpah pemuda
Tubuh tegap, tangan mengepal, dan suara lantang meneriakannya
Hari ini, kisah sejarah terbentang dari sabang sampai merauke

Bersatu dan berjanji padamu negeri
Menjunjung tinggi bahasa pemersatu kita
Bertanah air satu tanah air tercinta Indonesia
Dan berbangsa yang satu di tanah pertiwi ini

Sumpahku bukan sembarang janji
Sumpahku bukan kata-kata hampa tanpa makna
Tapi, sumpah yang kuredihkan dalam kalbu
Takkan pernah merapuh sepanjang masa

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti

Bisakah kita?

Tak biarkan sumpah menerawang di atas awan
Namun pastikan sumpah menjadi kobaran semangat kita?
Singsingkan lengan baju membawa bangsa yang luhur ini?

Ingatlah terus
Darah tak lagi merah
Tulang tak lagi putih
Indonesia tak senyaman dahulu
Kini kian marak perkara oleh ego

Mari, kita kepal tangan ini
Mengarungi dengan kaki ini
Mengisi perubahan negeri
Dengan cita-cita suci, doa, dan usaha
Tuk jadi pemuda pendobrak semangat dalam dekapan janji sumpah pemuda

Posted in Lain-Lain, Puisi | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

CONTOH CARA MENGAJAR TEKS DESKRIPSI

Posted by lembursingkur pada Oktober 21, 2017

Teks deskripsi yaitu sebuahteks yang menjabarkan atau memaparkan sebuah objek tertentu melalui kata-kata yang dapat merangsang panca indera sehingga pembaca seolah-olah menyaksikan atau merasakan sendiri objek yang dideskripsi.kan oleh penulis.

Teks deskripsi memiliki tujuan, yakni memberi penjelasan yang utuh kepada pembacanya supaya mereka dapat memahami apa yang sedang dibicarakan dengan jelas, entah dalam hal bentuk fisik ataupun wujud yang abstrak seperti sikap, rasa dan lain sebagainya.

Teks deskripsi merupakan  hasil pengamatan atau observasi, oleh sebab itu informasi yang digunakan untuk menjabarkan suatu benda atau objek harus jelas, sesuai dengan data dan fakta yang ada pada objek tersebut.

Teks deskripsi mempunyai ciri-ciri yang dapat mempermudah kita dalam mengenal jenis dari sebuah teks deskripsi. Berikut di bawah ini adalah diantara ciri-ciri dari paragraf deskripsi, yaitu :

  1. Menjabarkan atau menggambarkan suatu objek seperti benda, tempat atau suasana tertentu.
  2. Melibatkan panca indera (penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman dan
    perabaan).
  3. Memaparkan ciri-ciri fisik dan sifat objek tertentu seperti ukuran, bentuk, warna dan kepribadian secara jelas dan terperinci.
  4. Banyak ditemukan kata-kata atau frasa yang bermakna kata sifat atau keadaan.

Teks deskripsi memliki 3 unsur sebagai struktur pembangunnya. Struktur-struktur tersebut antara lain sebagai berikut :

  • Identifikasi, pada bagian ini berisikan penentuan dari identitas seseorang, benda, atau objek lainnya.
  • Klasifikasi, merupakan unsur penyusun yang bersistem dalam suatu kelompok menurut kaidah atau standar yang sebelumnya sudah ditetapkan.
  • Bagian Deskripsi, berisikan gambaran atau pemaparan tentang suatu objek atau topik yang ada dalam paragraf tersebut.

Langkah Pengajaran

  1. Siswa diberi contoh teks deskripsi
  2. Siswa disuruh membacanya
  3. Siswa disuruh membuat 5-10 pertanyaan dari teks
  4. Siswa diminta membaca pertanyaannya dan siswa lain menjawabnya
  5. Siswa diminta mencari kata sukar
  6. Siswa diminta menjelaskan tentang sisi teks
  7. Siswa  diminta mengidentifikasi struktur teks
  8. Siswa diminta mempresentasikan pekerjaannya

Posted in Artikel, kurikulum | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

ARTIKEL MOTIVASI HIDUP

Posted by lembursingkur pada Oktober 20, 2017

MENCAPAI TUJUAN


Setiap orang mempunyai tujuan dalam hidupnya. Tujuan itu ada yang benar-benar disadari dan diperjuangkan. Namun, ada juga yang tak disadari karena seseorang mersa hidup itu mengalir begitu saja: mempunyai keluarga, mempunyai teman dan jaringan sosial, mempunyai pekerjaan, mempunyai pendidikan, mempunyai harta yang mungkin didapat sendiri atau warisan. Dengan demikian orang ini tak pernah berpikir apa itu tujuan hidupnya. Tak pernah terpikirkan, tak ingin memikirkannya, dan tak mempunyai kesempatan untuk memikirkan. Semuanya hidup terasa ada begitu saja, sudah wajar, sudah biasa.

Begitu kita melihat bahwa hidup itu tidak hanya sekedar ada dan berlalu begitu saja, melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda, tentunya baru menyadari bahwa hidup ada tujuannya. Untuk mencapai tujuan itu seseorang harus berjuang dan harus berlajar. Dalam proses belajar ini seyogyanya seseorang mempertahankan sikap dan akal budi seorang pemula. Artinya hendaknya kita selalu siap menerima pelajaran yang baru. Selalu dengan rendah hati menerima kritik dan saran. Siap menerima pelajaran baru. Selalu siap dan bersemangat untuk mendapatkan hal-hal baru. Setiap saat kita melihat dan merasakan hal-hal baru, meskipun dari pengamatan luar sepertinya yang dilakukan dan dipandang masih sama saja dengan hari yang lalu. Sanubari dan mata batin dilatih untuk menatap sesuatu dengan perasaan dan intuisi, segar, dan baru. Dengan cara demikian orang dapat menghindari kejenuhan dalam belajar, berlatih, atau bekerja.

Dalam mencapai tujuan itu orang juga bekerja. Dalam bekerja apa pun pekerjaannya dikehendaki rasa syukur menyambut momen-momen yang dijalani. Tak ada kebosanan, tak ada rutinitas, sebab yang dihadapi adalah aliran waktu dengan sekelilingnya yang terus berubah. Disiplin dalam berlatih adalah suatu keharusan yang baik. Dalam hidup, baiklah kalau kita bisa mengedepankan yang konkret dan menekankan pada berbuat kini dan di sini. Namun, tak berarti kita mengabaikan hal yang rohani.

Kembali kita pada belajar untuk meraih tujuan dalam hidup. Seseorang belajar agar mempunyai kecerdasan dan trampil pada bidang tertentu. Berbagai upaya untuk mencapai keahlian dalam bidang tertentu, bagaimanakah prosesnya? Mula-mula orang tidak menyadari akan ketidakmampuannya dan tidak kompeten dalam bidang tertentu. Kedua, dia mulai menyadari ketidakmampuannya dalam bidang tertentu. Ketiga orang mulai belajar dan berpraktik. Pada tahap ini kesadaran perlu disiagakan penuh. Keempat orang tersebut sudah trampil dalam bidang tertentu. Bawah sadar telah merekam kemampuan tersebut. Sesudah tahap empat senantiasa yang ditekankan adalah bukan sekedar ketrampilan dalam laku fisik, tetapi kekuatan antara tubuh, jiwa, dan roh. Proses belajar itu tidak sama pada setiap orang tentunya.

Menurut Robert Collier dalam The Amazing Secrets of Masters of the Far East (1985), orang yang berhasil mencapai tujuan hidupnya, bahkan menonjol atau unggul di dunia, rupanya tidak semuanya adalah orang-orang jenius. Bahkan sebagian di antaranya adalah orang-orang medicore (orang-orang biasa saja-kepalang tanggung, ya seperti kita ini, orang yang rata-rata). Kesuksesan mereka disebabkan perilaku, sikap, dan pandangan hidup. Kemampuan seseorang untuk memusatkan segenap daya, baik yang kelihatan atau yang tak kelihatan, merupakan bagian dari kunci sukses seseorang mencapai tujuan dalam hidupnya. Segala sesuatu ada di bawah kontrolnya dengan sesadar-sadarnya. Semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran. Hal ini sering pula disebut dengan istilah DHARANA.

Dengan dharana ini, orang yang sedang-sedang saja akan mempunyai daya yang luar biasa sehingga menjadi orang yang menonjol. Menjadi orang yang unggul. Untuk memancing keluarnya kekuatan tersembunyi yang diperlukan adalah dengan konsentrasi tanpa ketegangan, kemauan yang tak dipaksakan, kedisiplinan, dan kepasrahan total berdasarkan keyakinan yang kuat.

Ilusi dan Motivasi

Manusia tak pernah merasa puas dengan berkah yang diterimanya, sekalipun orang itu sudah berkelimpahan. Orang akan terus berilusi menjadai lebih dan lebih. Dia selalu beranggapan masih kurang. Kalau direntang terus tanpa henti, tanpa perhitungan, di luar batas kemampuan, dan dengan kecepatan tinggi, maka orang akan melingkar kembali ke titik awal. Ingat kembali akan dongeng tukang batu yang menjadi orang kaya, kemudian jadi pejabat, jadi raja, jadi matahari, jadi awan, jadi angin, jadi gunung batu, dan kembali menjadi pemecah batu. Apa yang dia raih tak pernah memuaskan dirinya sehingga orang itu kembali ke titik awal. Rupanya titik awal bagi tukang batu dalam dongeng ini bila disadari dengan penuh syukur itulah yang menjadi sempurna. Sepertinya hidup tak selalu dianggap berhasil dengan memuaskan keinginan untuk mencapai semua yang dikehendaki.

Dalam belajar untuk mencapai tujuan, betapa banyak pilihan dalam hidup ini. Karena itu, kita jangan terpaku pada pola-pola yang sama. Semangat atau kepercayaan diri adalah hal yang utama, tetapi belum lengkap tanpa daya juang dan keterbukaan hati untuk menerima apa yang terjadi dalam hidup. Ada orang yang mudah untuk mengepakkan sayapnya berjuang mengarungi angkasa kehidupan. Namun, ada juga orang yang mudah kehilangan kemauan kuat dan daya juangnya. Determinasi begitu lebih tepatnya, adalah kemauan kuat yang tidak mengenal kata menyerah, rupa-rupanya sangat diperlukan untuk mengarungi samudra kehidupan yang penuh tantangan ini. Agar determinasi itu tetap ada, rupanya diperlukan suatu dorongan yang terus mendorong tanpa henti. Motivasi memang diperlukan untuk itu.

Mengenal diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mengenali musuh dengan segala kekuatan dan kelemahannya, adalah salah satu strategi untuk meraih tujuan. Mengenal medan tempat kita berjuang, mengenali iklim di sekitar lingkungan kita, maka kemenangan akan datang perlahan kepada kita. Mengenal diri sendiri, bukan hanya semata mengetahui kelemahan dan kelebihan kita, tetapi juga mengetahui juga hal-hal yang tak nyata dan tak disadari selama ini. Musuh diartikan juga sebagai lawan atau partner dalam bidang kerja kita. Iklim yang dimaksud bukan hanya sekedar alam saja, tetapi juga menyangkut pada perubahan zaman dengan segala kemajuannya.
Sebelum bertindak perlu juga waspada. Pikirkan yang terburuk. Setiap peristiwa, setiap masalah, hendaknya dihadapi dengan sikap menghadapi sesuatu yang baru: serius, antusias, dan tidak menganggap remeh.

Strategi Meraih Tujuan
Selain motivasi, seseorang juga perlu memikirkan strategi, teknik, taktik, informasi, dan skenario keluar dari kejatuhan jika segala sesuatunya tak berjalan mulus dan lancar sesuai yang diharapkan. Strategi itu bisa saja kita meniru, mencontek, mengadopsi dari orang yang pernah mengalami masalah serupa. Namun, baik juga jika kita mempunyai kekhasan yang keluar dari diri kita. Yang asli, yang orisinil. Keaslian ini sangat baik karena menunjukkan jati diri seseorang. Pengalaman langsung, kewajaran, dan spontantanitas merupakan ciri-ciri utama yang menjiwai keaslian.

Bila kita mengalami kejatuhan dalam meraih tujuan, orang perlu kembali melihat semua yang sudah terjadi. Merunutnya dan memandangnya dengan lebih objektif. Dalam keheningan total, kesadaran murni akan membimbing orang ke arah kebenaran sejati yang tanpa amarah, tanpa rasa dengki, dan tanpa dendam.
Perlu pula diperhatikan dalam strategi untuk bertahan adalah jangan tergoyahkan oleh kritikan atau pujian. Sampai batas mana perlu sikap teguh hati, tidak ambil pusing, dan di mana batas untuk bersikap terbuka, mau menerima penilaian orang? Itu semua diperlukan kebeningan pikiran dan hati untuk memilahnya. Bolehlah menjadi satu acuan bagi kita bahwa sekali pun pengalaman pribadi dan pencerapan langsung mendapat tempat utama, tetapi masukan dari luar senantiasa boleh diterima untuk disaring. Pendapat dan pengalaman orang lain juga bisa menjadi bahan pelajaran untuk memperkaya diri kita dan menambah wawasan. Dengan talenta, kemampuan, , kepercayaan diri, daya juang, motivasi dari orang-orang kepercayaan, keterbukaan hati pada inspirasi dari orang lain, dan keyakinan akan rahmat Ilahi, kita semua berharap segala asa dan tujuan hidup kita bisa tercapai dengan baik.

(Ch. Enung Martina

 

Posted in Artikel, Lain-Lain, Tentang Guru | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL TENTANG HARI PANGAN

Posted by lembursingkur pada Oktober 10, 2017

Menghargai Pangan Sumber Kehidupan

(hand made ‘bob hariyadi’)

Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober merupakan bagian terintegrasi dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa Bangsa (Food and Agriculture Organization, FAO) yang didirikan tahun 1945. Karena itu FAO adalah forum netral yang beranggotakan baik negara berkembang maupun negara sedang berkembang, dimana semua anggota adalah setara ketika duduk bersama merundingkan persetujuan dan memperdebatkan kebijakan tentang pangan dan pertanian.

 

FAO berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Organisasi yang bermarkas di Roma, Italia, ini bertujuan untuk menaikkan tingkat nutrisi dan taraf hidup; meningkatkan produksi, proses, pemasaran dan penyaluran produk pangan dan pertanian; mempromosikan pembangunan di pedesaan; dan melenyapkan kelaparan.
Tujuan utama pendirian FAO dan peringatan Hari Pangan Sedunia adalah untuk mencapai kondisi Ketahanan Pangan diseluruh permukaan bumi, yang berarti ketersediaan/kecukupan dan keterjangkauan pangan (dengan nutrisi yang baik) oleh semua lapisan masyarakat. Untuk itu ada tiga hal penting yang harus diperhatikan baik oleh pemerintah maupun masyarakat suatu negara, yaitu; Ketersediaan, Distribusi dan Pola Konsumsi.

Krisis Pangan dan krisis energi tak dapat dipungkiri bahwa itu terjadi akibat perubahan iklim. Masalah lingkungan terutama isu yang terkait perubahan iklim semakin mendapatkan perhatian besar baik di tingkat global maupun nasional. Indonesia sebagai salah satu negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim mengalami kerugian besar karena semakin seringnya terjadi bencana yang merupakan dampak dari perubahan iklim seperti banjir, perubahan pola curah hujan, dan kekeringan.

Dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan. Beberapa kejadian seperti kerusakan (degradasi) dan penurunan kualitas sumber daya lahan dan air, penurunan produksi dan produktivitas tanaman pangan. Semua itu akan mengancam ketahanan pangan dan akan berimplikasi kepada peningkatan jumlah kemiskinan. Perubahan musim kemarau dan penghujan mepengaruhi pada produksi pertanian yang terus menurun. Dampak tersebut terus bertambah parah seiring dengan terus meningkatnya ketergantungan kita pada pemanfaatan sumber energi.
Pangan merupakan kebutuhan dasar yang permintaannya terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan kualitas hidup. Pada saat ini situasi pangan di Indonesia cukup kritis. Lemahnya kemampuan Indonesia dalam memproduksi aneka bahan pangan menyebabkan besarnya ketergantungan terhadap pangan impor. Lemahnya produksi pangan nasional salah satunya. Namun, gerakan untuk memperkuat produksi pangan nasional belum terdengar gaungnya.

Keanekaragaman pangan perlu ditingkatkan. Beras adalah makanan pokok di Indonesia, tetapi masih banyak pangan lain selain beras. Mengembangkan aneka ragam pangan termasuk non beras (umbi-umbian) dan tanaman palawija yang lain akan mendorong pemenuhan kebutuhan pangan dan bisa menjadi alternatif “selingan” beras dalam konsumsi pangan sehari-hari.

Kebiasaan menghormati dan hargai pangan merupakan kesadaran yang harus terus dipupuk dan dipelihara. Menjadi hal yang ironis ketika di sebagian negri ini surplus makanan, sementara di bagian lain minus pangan. Banyak orang di tempat surplus pangan terkesan kurang menghargai makanan dengan cara menghamburkannya atau bahkan membuangnya. Lembaga pendidikan formal (seperti sekolah) dapat menjadi tempat pendidikan pangan yang berkeadilan dan cinta kasih sehingga kebiasaan buruk tidak menghargai pangam seperti kebiasaan menyisahkan makanan (membuang-buang makanan) bisa dihilangkan.

Gereja katolik pun tak mau ketinggalan untuk menunjukkan perhatiannya pada masalah pangan. Setiap keuskupan memiliki agenda kegiatan berkaitan dengan HPS ini. Hari Pangan Sedunia (HPS) 2017 ini Keuskupan Agung Jakarta mengambil tema : ” MAKIN BERGIZI, HIDUP MAKIN BERKUALITAS ”. Tema ini mengharapkan umat Katolik memahami dan peduli akan pentingnya mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang dan memiliki solidaritas terhadap sesama yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan yang bergizi.

Karena itu sekolah-sekolah Katolik yang mendidik generasi penerus bangsa, tak luput dari sasaran agenda HPS ini. Setiap tahun sekolah menyelenggarakan kegiatan yang menunjukkan kepedulian akan masalaah pangan. Aneka kegiatan yang biasanya dilakuakn sekolah-sekolah adalah mewajibkan peserta didik untuk memakan makanan sehat seperti buah dan sayuran, meminta siswanya membawa bekal panganan tradisional, meminta siswanya membawa bekal nonnasi dan nonterigu. Ada banyak kegiatan yang dilakukan oleh berbagai sekolah untuk memperingati hari pangan. Selain itu mereka biasanya juga mengadakan aksi peduli dengan mengumpulkan sembako yang akan disumbangkan kepada orang yang memerlukannya.

Tema Hari Pangan Sedunia XXXVI 2017 di Indonesia adalah Keanekaragaman Hayati Manifestasi Untuk Mencapai Kedaulatan Pangan. Penyelenggara peringatan Hari Pangan Sedunia di Indonesia pada tahun ini jatuh pada Provinsi Kalimantan Barat. Dengan terpilihnya Kalbar sebagai tuan rumah untuk kali pertama penyelenggaraan HPS ke-37 HPS di Indonesia, diharapkan dapat dijadikan momentum dalam meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat serta para pemangku kepentingan terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup berkualitas, bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Kita semua berharap kita selalu diberkati dengan damai dan sejahtera yang salah satunya adalah dengan berlimpahnya pangan. Kelimpahan pangan di satu bagian negri ini akan menjadi berkat juga bagi bagian lain di negri ini yang masih kekurangan. Hal ini bisa terwujud jika setiap pribadi mulai tumbuh kesadaran untuk menghargai makanan dengan makan makanan yang sehat, makan seperlunya, tidak menyisakan makanan saat kita makan, mengambil jatah makan semampu perut menampung, dan mau berbagi dengan orang lain yang memerlukannya.
(Ch. Enung Martina)

 

Posted in Artikel, Lain-Lain | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »