Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

NORWEGIAN WOOD

Posted by lembursingkur pada Mei 18, 2015

Saya mengakui  memang agak ketinggalan zaman saya membaca buku ini. Orang-orang sudah heboh sejak  28 tahun lalu (1987), tetapi saya baru saja selesai membacanya pada  12 Mei 2015.

 

Judul aslinya dalam bahasa Jepang adalah Naruwei no Mori. Buku ini banyak mendapat pujian dan di Indonesia sendiri telah mencapai beberapa cetakan yang kelima. Buku karya Haruki Murakami, lahir di Kyoto, Jepang, 12 Januari 1949 merupakan penulis best-seller Jepang. Karyanya dalam tulisan fiksi dan non-fiksi telah menerima banyak klaim kritikus serta sejumlah penghargaan, baik di Jepang maupun di luar negeri. Karya fiksi Murakami, sering dikritik oleh Badang Literatur Jepang, sebagai karya yang surealistik dan nihilistik, yang ditandai dengan cara pembawaan Kafkaesque dengan tema kesendirian dan pengasingan. Haruki Murakami dipandang sebagai orang penting dalam literature modern. Haruki Murakami dipengaruhi dengan penulis barat.

I once had a girl
Or should I say she once had me
She showed me her room
Isn’t it good Norwegian wood?

She asked me to stay
And she told me to sit anywhere
So I looked around
And I noticed there wasn’t a chair

I sat on the rug biding my time
Drinking her wine
We talked until two and then she said
“It’s time for bed”

She told me she worked
In the morning and started to laugh
I told her I didn’t
And crawled off to sleep in the bath

And when I awoke I was alone
This bird had flown
So I lit a fire
Isn’t it good Norwegian wood?

Begitu kutipan lagu Norwegian Wood.  Ketika mendengar lagu karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut dalam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa-hingga ke masa ketika ia bertemu seorang gadis badung, Midori memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

Alur ceritapun mundur kemasa-masa ia masih bersekolah dan dekat dengan Kizuki dan pacar Kizuki, Naoko. Namun Kizuki tanpa sebab yang pasti memilih untuk bunuh diri dan itu sangat mengguncang Toru dan Naoko. Satu hal lagi, Naoko akhirnya juga pergi entah ke mana dan bersikap aneh. Toru akhirnya pergi ke Tokyo dan masuk kesalah satu universitas di sana. Ia tinggal di asrama.

Kehidupan Toru pun kembali berputar saat ia kembali bertemu dengan Naoko, Midori (seorang gadis badung, Reiko, Nagasawa, dan beberapa orang lainnya. Satu rahasianya adalah dia sangat mencintai Naoko, tapi ia tahu, sekalipun mereka pernah tidur bersama, Naoko sama sekali tidak mencintainya. Midori yang hadir dalam kehidupannya membuatnya merasa mencitai dua orang di dalam hatinya. Toru akhirnya tahu penyakit apa yang diderita Naoko yang misterius yang membuat Naoko harus menyingkir dari kehidupan normal dan pergi ke suatu tempat yang indah dan damai.

Guartan buku ini tak ayal lagi begitu seru, sarat dengan pemberontakan mahasiswa, seks bebas, minuman keras, dan lagu-lagu pop 1960-an. Novel ini juga sungguh-sungguh memukau dan menggambarkan gejolak masa remaja. — Independent on Sunday berhasil menggambarkan gelora cinta remaja. Kendati penuh dengan saat-saat memilukan dan kegelapan, banyak tokohnya yang tampak kesepian dan asyik dengan dunianya, novel ini sering kocak dan rinci dengan hal-hal yang serba ganjil. Tenang-tenang menghanyutkan dan akhirnya mengharukan.

Gaya Murakami menulis memang sangat mempeson  sehingga apa saja yang dia lukiskan kaya makna. Dalam Norwegian Wood, penulis mengambarkan tokoh Toru Watanabe adalah tipe orang berteman hanya dengan beberapa orang, senang membaca buku, dan menjalani hidup seperti orang kebanyakan. Toru watanabe belajar di kampus di mana nilai-nilai ideal diperjuangkan mahasiswa, menuntut adanya revolusi. Toru sama sekali tidak tertarik semua itu. Karena ada yang lebih penting untuk dia pertanyakan, yaitu persahabatan, cinta, dan kematian.

Karya ini termasuk karya yang realistik yang mudah untuk dibaca. Karya ini banyaknya bagian yang bercerita hubungan seks dengan rinci, lesbian, dan mastubasi yang mungkin  bagi beberapa pembaca  Indonesia agak jengah untuk membacanya. Novel ini tidak menampilkan tokoh antagonis, menyajikan misteri, dan misi yang diperjuangkan seperti banyak diceritakan di novel-novel lain. Bagi pembaca yang suka dengan akhir yang bahagia, jangan berharap membayangkan cerita yang  happy ending. Namun, kita belajar dari novel ini bahwa  setiap karakter utama yang mandiri menjadi manusia yang menghargai kebebasan dan kesendirian melebihi keakraban.

Ch. Enung Martina

Posted in Artikel, Ringkasan | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

ARTIKEL SASTRA JAWA KLASIK (SERAT CENTHINI)

Posted by lembursingkur pada Mei 11, 2015

CATATAN SESUDAH MEMBACA  SERAT CENTHINI JILID I

Akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan sebuah buku klasik Jawa. Sebetulnya buku tersebut ditulis dalam bahasa Jawa yang kuno dalam bentuk tembang. Tentu saja saya tidak membaca versi bahasa Jawa, tetapi saya membaca dalam versi bahasa Indonesia yang terdapat di perpustakaan SMA Santa ursula BSD. Saya membaca baru jilid peratma.  Di bawah ini catatan saya  sesudah membaca buku tersebut.

Serat Centhini atau juga disebut  Suluk Tambanglaras  atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, agar tak punah dan tetap lestari sepanjang waktu. Serat Centhini disampaikan dalam bentuk tembang.

Serat Centhini disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga/Jayengsari, dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti.

Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang.

Serat Centhini jilid pertama berisi tentang babad Giri yang mengisahkan Sunan Giri dimulai dari masa kejayaannya hingga dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya.  Kekalahan Giri berakhir dengan ditawannya Pangeran Giri dan diboyong ke Mataram. Sementara ketiga putra-putri Giri terpencar saat meloloskon diri dari kedaan chaos saat penyerangan tersebut.

Cerita selanjutnya buku jilid pertama mengisahkan perjalanan putra pertama Giri yang bernama Pangeran Jayengresmi diikuti Santri Gathak dan Gathuk untuk mencari adik-adik Pangeran yaitu Jayengsari dan Niken  Rancangkapti. Kedua adiknya ini diikuti oleh abdi setianya Buras.

Jayengresmi mencari adiknya dimulai dari arah timur ke arah barat Pulau jawa, yaitu dimulai dari bekas kerajaan Majapahit hingga Jayengresmi mendirikan padepokan di Gunung Salak,  Bogor. Di padepokan ini ia didatangi oleh Seh Ibrahim atau Ki Ageng Karang yang ingin mengangkat Jayengresmi menjadi anaknya. Ada pun Ki Ageng Karang ini adalah seorang pertapa dari Gunung Karang, Banten yang sangat terkenal ilmu dan kesaktiannya.

Bila dilihat dari tempat yang dikunjungi, Jayengresmi dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang.

Dalam perjalanannya di berbagai tempat mencari kedua adiknya ini, Jayengresmi bertemu dengan orang-orang berilmu, bijaksana, dan manusia luhur. Selain itu ia juga bertemu dengan mahluk-mahluk halus. Jayengresmi banyak mendapat ilmu dan pengajaran dari orang-orang atau mahluk yang bertemu dengannya.

Dalam perjalanan ini, Jayengresmi mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal  hingga ke kisah Syekh Siti Jenar.

Perjalanan Jayengsari dan Niken  Rancangkapti dalam jilid pertama juga bertujuan mencari kakandanya yaitu Jayengresmi. Ketiga saudara ini salingmencari. Perjalanan mereka berdua dimulai dengan naik perahu ke Sunagi Emas dan turun di Wanakrama. Kemudian ke Desa Sidacerma, ke Tosari (ada di Pasuruan-Jawa Timur), Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa (Banjarnegara, Jawa tengah) di kaki Gunung Bisma Banyumas.

Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, shalat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan slametan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.

Bisa dikatakan bahwa kisah dalam Serat Chentini ini menyampaikan beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa, seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa.  Pokoknya buku ini seperti ensiklopedi Jawa yang dibalut dalam alur kisah para putra-putri Sunan Giri yang sedang berkelana. Bisa dikkatakan bahwa Serat Centhini merupakan sebuah ensiklopedi yang memuat berbagai informasi penting mengenai politik, ekonomi, sastra, budaya, religi yang telah berkembang di Jawa pada era Sebelum Masehi hingga pada ke 18 Masehi. Para krtiikus memuji kitab ini sebagai karya sastra istana Jawa yang megah, mewah, indah, dan bermutu tinggi.

Buku yang aslinya ditulis dalam bentuk tembang ini dianggap sebagai sastra klasik yang adhiluhung. Seperti kita ketahui bahwa dalam banyak kehidupan manusia, kita mengenal ajaran nyanyian atau tembang atau bahkan berbalas pantun, dimana isi dari ungkapan-ungkapan di dalamnya mengajarkan perumpamaan untuk menuju kepada kehidupan yang lebih baik. Tidak sedikit ajaran-ajaran agama juga memiliki tembangnya sendiri, seperti dalam agama Kristiani, di dalam Kitab Suci ada bagian disebutkan sebagai mazmur, Kidung Agung, atau puji-pujian kepada Allah. Di dalamnya juga bisa kita tangkap beberapa kata yang menggambarkan hubungan harmonis antara makhluk hidup yang ada di bumi ini, dan hubungan mahluk dengan khaliknya sebagai penghormatan kepada Sang Penciptanya.

Meskipun saya membaca buku turunannya dalam  bahasa Indonesia, tetapi saya bisa membayangkan keindahan sasatrawinya. Bila saya mendengarkan versi asli yang didendangkan para penembang, atau bila saya membaca  tulisan berisi tembang-tembang tersebut saya yakin  rasa, greget, dan nuansanya (fill)-nya akan lain dengan kala saya membaca buku turunanya. Teman saya, Anna Wiwin Yarniatun, atau Ibu Wiwin, yang adalah pencinta sasatra dan seni  Jawa, mengatakan bahwa ketika Serat Chentini itu ditembangkan membuat mak-nyos di hati.

Bila dilihat dari sisi sosiologisnya, di awal buku, diceritakan asal usul silsilah keluarga dan orangtua dari Jayengresmi, yaitu kakek Jayengresmi yang adalah Syekh Walilanang, seorang muslim dari Jedah yang mencoba masuk ke Kerajaan Blambangan sebagai benteng terakhir dari peradaban Majapahit di Jawa. Dengan kekuatannya, Syekh Walilanang berhasil menyembuhkan penyakit puteri raja dan mempersuntingnya, dengan harapan raja dan seluruh kerajaan bisa mengikuti ajaran agama Islam. Menarik melihat latarbelakang penyebaran agama Islam dan keruntuhan dari kerajaan Majapahit yang menyembah Dewa Siwa (Budha). Dituliskan di berbagai bagian mengenai “aspek negatif” dari para penyembah Dewa Siwa dari laskar Majapahit dan bagaimana para penyebar agama Islam tersebut termasuk Syekh Walilanang dan anaknya Sunan Giri berusaha mengembalikan masyarakat “Jawa” untuk kembali ke jalan yang “benar” dengan menganut agama Islam. Perspektif Islam sangat kuat dalam buku itu. Hal ini terutama memang berdasarkan cerita mengenai penyebaran agama Islam dan bagaimana kaidah-kaidah agama Islam menjadi patokan dalam perumpamaan dan ajaran-ajaran yang coba dikawinkan dengan ilmu Jawa Kuno.

Buku ini memang menarik terlebih karena buku ini merupakan karya klasik yang ditulis 2 abad yang lalu. Seperti karya-karya sastra yang lain yang meskipun diciptakan sekian abad yang lalu, bahkan sekian milenium yang lalu, kebijasanaan yang ada di daalmnya akan tetap relevan untuk kehidupan saat ini.

(Christina enung Martina, 11 Mei 2015)

Posted in Artikel | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

CERPEN REMAJA

Posted by lembursingkur pada Mei 9, 2015

kami tampilkan cerpen remaja yang merupakan salah satu karya siswa SMP Santa Ursula BSD.

(Ch. Enung Martina)

SARAH

By Anggi

          Sarah. Nama yang terlalu feminin untuk seseorang seperti… Sarah. Nama yang terlalu cantik dan kemayu untuk seseorang dengan kepribadian dan penampilan seperti Sarah. Buat gue, nama itu harusnya menjadi milik seorang wanita dengan jalan ala putri Solo, pelan dan butuh waktu seabad cuma buat jalan dari gerbang sekolah sampai kelasnya sendiri. Penampilannya menarik dengan make up yang tidak terlalu norak, hanya butuh sedikit polesan untuk menyempurnakan penampilan wajahnya. Senyumnya attractive dan auranya hangat, bukan aura kematian kayak Sarah yang gue kenal. Matanya bisa memperlihatkan inner beauty dan kecerdasannya. Itu nama ‘Sarah’ yang cocok buat gue.

            “Woy, Farrel! Ngelamun aja lo! Entar kesambet si Manis dari Jembatan Ancol, lho!” Seorang memukul pundak gue dengan horse power. Gue merasakan badan gue didorong sedikit ke samping dan tempat duduk yang harusnya menjadi singgasana gue yang cukup luas buat  bersantai, sekarang terisi dengan makhluk lain.

            Seorang Hawa seharusnya berperilaku seperti Hawa pada umumnya. Bukan mendorong-dorong orang seperti ini, lalu duduk satu kursi dengan seorang Adam. Kemanakah sopan santunnya ? Mungkin itu pemikiran sesepuh-sesepuh gue dua ratus tahun yang lalu. Buat anak muda sekarang, cewek atau cowok, yang penting lo berteman dan legal aja kalau duduk satu bangku berdua, asal bukan pangku-pangkuan. Ideologi yang melahirkan pencabul-pencabul ulung diusia sekolah menengah atas.

            Gue pun sebenernya ga masalah karena dia melakukan ini bukan buat modus, like everyone say. Karena gue nggak merasakan sama sekali tanda-tanda dia suka sama gue. Malahan, kayaknya dia pengen gue jadi cewek juga dengan banyak bergaul dengan gue.

            “Sar, si Manis lagi makan rujak di pojokan Museum Fatahilah! Gausah takut si Farrel bakal kesambet! Hahaha…” Aldi berkelakar. Tawanya mampu mencapai ruang guru di lantai dua, gue yakin.

            “Lagian si Farrel diem-diem aja dari tadi. Ketawa kek, apa kek.” Hawa di sampingku ini membela diri.

            “Lo tau sendiri orang kayak Farrel cuma bisa senyum-senyum doang. Nggak bisa ketawa ngakak guling-guling kayak lo.”

            “Hahahaha iya waktu itu si Sarah ngakak sampe hyperventilating gitu. Trus guling-guling di tanah kerajaan anak-anak SD.” Trixie menambahkan.

            Ya, gue inget banget di hari kedua gue sebagai anak baru, gue harus melihat pemandangan menakutkan. Sarah, ketawa guling-guling di depan gedung SD. Dan ada banyak orang disitu termasuk temen-temennya, Trixie, Bernadeth, Aldi, dan Danny. Anehnya, mereka ikut ketawa-ketawa gajelas disitu. Gue langsung menyelamatkan pride gue dengan mencopot name tag gue dan gue sembunyikan di antara buku-buku Fisika dan Matematika kelas 11 IPA.            Gue berjalan ke arah lain, berharap nggak ada satupun dari mereka yang notice keberadaan gue.

            Sayang, angin tak mampu sembunyikan wajah penuh penyesalan dengan semburat merah di pipi dari mereka. Aldi melihat gue berjalan menjauh dan langsung memanggil tanpa tedeng aling-aling.

            “Farrel!” Langkah gue langsung terhenti begitu mendengar nama gue dipanggil oleh Aldi. Pelarian ini gagal sudah. Gue berbalik dan menyambut mereka dengan senyuman yang gue buat semanis dan sesopan mungkin. Tak lupa gue melambaikan tangan. Maksud hati mengusir, tapi orang menganggap itu bentuk sopan santun. Beberapa adik kelas terlihat senyum-senyum, beberapa langsung berbisik-bisik ala fangirl. Emang gue boyband ? Oh iya ngomong boyband, Sarah sama Dedeth hobi boyband. Maksud gue, suka sama boyband.

            “Farrel sini aja bareng kita. Lo belom mau pulang kan?” Aldi dan Danny merangkulkan tangannya di pundak gue. Gue cuma bisa tersenyum, nggak tahu mau merespon apa.

            “Iya.” Standard acting anak baru. Patuh sama anak lama.

            “Yaudah bareng kita aja. Nggak enak kalo sendirian. Ya nggak, Dan ?”

            “Yoi.” Dan mereka menarik anak baru itu ke basecamp mereka. Kantin SD.

            Makanan dan snack kantin di SD nggak seberat di SMP/SMA. Snacknya ya disesuaikan sama umur anak-anak SD itu. Biskuit lah, sus, permen.. Biskuit juga macem-macem kan. Ada yang bentuknya sandwich, ada yang banyak susunya, ada yang rasa these and those.

            “Rel, mau apa? Gue jajanin deh.” Danny, temen pertama gue di kelas menawarkan jajanan di kantin. Gue bersikap gentle, menolak tawaran Danny dengan alibi perut udah kenyang.

            “Eyyyy, mana mungkin. Orang kayak lo mesti banyak makan! Lo nyelesaiin hampir semua soalnya Bu Itta!” Ujar Dedeth atau dulu gue masih memanggilnya Bernadeth, sambil mengunyah biskuit susu. Tinggi meja kantin cuma setengah dari badan kita. Rasanya kayak duduk di meja buat para dwarfs yang kuntet.

            “Bener semua lagi.” Tambah Trixie.

            “Wah, Bu Itta bakal tambah pilih kasih nih. Entar lo dijadiin angsa emasnya dia.” Gue agak mencelos mendengarnya. Gue seorang anak baru dan temen-temen gue bukan anak yang terbilang genius (kecuali Sarah sama Trixie. Mereka pinter banget). Sementara mereka memanggil gue megamind sejak hari pertama gue belajar di sekolah itu. Waktu pelajaran pertama bareng Bu Itta. Bu Itta masih terbilang muda buat seorang guru Fisika SMA. Maka dari itu, dia masih suka pilih-pilih sama anak muridnya. Di hari pertama, dia langsung ‘mendewakan’ gue dan bangga banget sama gue karena gue bisa jawab semua pertanyaan yang dia lontarkan. Sejak saat itu, nickname gue nambah jadi ‘Anak Emas Bu Itta’.

            Bu Itta suka sama anak-anak genius. Mungkin dia menganggap anak genius bisa merubah dunia ke arah yang lebih baik. Padahal koruptor itu jenius. Gue pernah SMP dan belajar pajak. Ngitung yang nggak dikorup aja cukup sulit. Apalagi koruptor mesti ngitung yang di korupsi berapa banyak plus harus bohong sana-sini biar ngga ketahuan kalau jumlah uangnya meroket.

            Sarah langsung menangkap perasaan uneasy yang terpancar dari muka gue. Dia berdehem sambil kemudian menyeruput teh kotaknya.

            “Udahlah nggak usah ngomongin Bu Itta. Bikin stress tau nggak ?!”

            “Alah, lo juga jago Fisika. Bullshit lo ngomong kayak gitu.” Dedeth menoyor bahu Sarah. Sarah merasa nggak terima ditoyor Dedeth.

            “Jijik lo Deth, lo juga! Tapi, sepinter-pinternya gue tetep aja otak gue jenuh! Gue yakin Farrel juga jenuh dengerin Bu Itta ngomong dua jam pelajaran. Terus akhir-akhirnya muji-muji Pak Robert!” Sarah menggebrak meja, wajahnya ditekuk. Gue tersenyum melihat tingkah Sarah yang blak-blakan.

            “Iyadeh, Sarah jenuh, Sarah jenuh.” Aldi melahap potongan pisang terakhirnya sambil senyum-senyum.

            “Makanya ulangan terakhir gue dapet 72 hahahaha.” Sarah tertawa. Namun sebelum dia mempersilahkan tawa khasnya itu keluar, matanya melirik ke arah gue dan ia melemparkan senyuman playful-nya. Agak menjengkelkan, tapi di lain sisi, melegakan.

            “Udah gue bilang si Farrel kesambet ! Elo semua sih ngatain si Manis makan rujak padahal kan favoritnya gado-gado! Dasar lo! Tuh kan si Farrel jadi kayak gitu deh!” Apalagi nih menyangkutpautkan gue pada pembicaraan mereka?

            “Lo semua kalo ngomong pelan-pelan aja. Kuping gue hampir congekan tau nggak? Kalo ngomong toa banget.” Gue menempeleng kepala Danny dan Aldi tanpa alasan yang jelas.

            “Eh rel! Kok gitu? Sarah yang tadi ngomong di kuping lo persis! Kita lagi makan choki-choki, lo tempeleng!” Danny nggak terima, gue tempeleng. Gue menoleh dan melihat seringai di wajah Sarah.

            “Kan dari tadi lo berdua yang asik nge-date sebangku berdua.” Sahut Trixie dengan senyum khasnya.

            “Hahahaha Farrel, Farrel. I think you haven’t adapted to your surroundings.” Sang Hawa tertawa sambil merebut choki-choki Aldi dan melayang ke tempat duduknya, dua meja ke kanan dari meja gue.

            Jam pelajaran Lucas, si native gimbal dari Skotlandia yang umurya terpaut hanya tiga tahun dari kita, rasanya lama banget, padahal dia cuma ngajak kita main scattegories, mainan anak SD buat nambah vocabulary. Pak Bertrand juga nggak peduli sama anak-anak dan si gimbal lagi. Dia lagi asik bikin komik kayaknya. Jangan salah, guru bahasa Inggris gue merangkep guru seni rupa. Sayangnya, nggak beneran digaji double atas kompetensinya dalam seni rupa.

            “So, guys. Let’s move on to another game. What do you think?” Lucas bertanya. Gue males dengerin pelajaran dia dan memilih untuk asik mainan ballpoint. Buka tutupnya, rombak ballpoint-nya terus rakit lagi.

            “You, the one who want to be an engineer.” Gue masih asik mainan ballpoint.

            “Em, Sarah, can you nudge him or pinch him so he…”

            “Rel. Farrel.” Gue merasakan jari-jari panjang serta kuku-kuku panjang menusuk lengan gue dan suara seseorang membangunkan gue dari angan-angan tentang ballpoint. Pasti Mark disuruh ‘membangunkan’ gue lagi sama si Lucas.

            “Apaan sih, To ?” Gue udah biasa dengan perlakuan Mark langsung melotot ke arahnya sambil menyebutkan nama belakangnya, Haryanto. Tapi bukan Mark Haryanto yang gue temukan tapi Sarah, si cewek psycho.

            “Sarah? Sejak kapan?” Gue mengerutkan dahi, merasa aneh dengan kehadiran Sarah. Harusnya tempat duduk Sarah jauh di ujung mata, tapi kenapa tiba-tiba di samping gue ?

            “Lo ngapain Sar?”

            “Lo kenapa demen ngelamun sih? Sekarang lo ngajak ballpoint ngelamun. Besok lo ngajak siapa lagi? Oh, gelas Erlenmeyer karena besok ada percobaan Kimia?”

            “Lo ngomong apa sih Sar?”

            “Rel, bangun dong! Lo nggak ikutin pelajaran daritadi! Lucas udah miscall lo berapa kali!” Gue menoleh ke depan, disambut oleh raut bingung si Lucas yang nggak ngerti obrolan gue sama Sarah.

            “Apakah ada masalah, Sarah?” Tanya nya dengan logat Skotlandia. Cuma itu kayaknya kalimat yang bisa dia ucapkan.

            “No, sir! No!” Sarah menunjukan gigi gingsul nya kepada sang native.

            “Okay. So, Fa… Ferrel.” Lucas berusaha melihat name tag gue. Gue nggak bereaksi apapun. Hanya menatap ballpoint yang setengah selesai.

            “Hey, why are you ignoring me?” ujar si native Skotlandia agak kesal.

            “Because you called Ferrel, not me.” Gue menaikkan bahu. Nggak ada satu pun yang mengerti ‘candaan’ gue, kecuali-

            “Bahahaha! Farrel, Farrel!” Cewek yang tadi mengganggu acara gue siang-siang sekarang ketawa ngakak di kelas. Beberapa anak terinfeksi tawa Sarah padahal mereka nggak mengerti apa yang Sarah tertawakan. Belum tentu mereka mengerti. Lucas tambah bingung dengan tawa yang menggelegar itu. Pak Bertrand yang tadi nggak peduli dengan kelas, mengangkat kepalanya untuk melihat si cewek.

            “Sarah, what’s wrong with you?”

            “No, sir. Sorry. But… You really don’t understand his very lame joke???” Dia baru saja mengejek ‘candaan’ gue.

            “No. I don’t really understand.”

            “His name pronounced as Fa-rrel, not Fe-rrel. Just pronounced it in Indonesian. That’s why he said you are calling Ferrel, not him.” Nggak salah gue berteman sama Sarah yang bisa mengerti candaan gue yang unik. Mungkin gue punya nickname baru buat Sarah. The translator.

            “Aaah… Hahaha finally! Thanks Sarah. Well, Farrel, I am sorry.” Lucas mengangkat tangannya kepada Sarah sebagai ucapan terima kasih sekaligus permintaan maaf untuk gue.

            “No problem.” Gue menunjukkan senyum manis gue lagi. Gue yakin, Aldi dan Danny lagi acting muntah di kursinya.

            “Okay then. Farrel, can you choose the next game for us ? Seems like you have a good entertaining soul.” Sial. Gue nggak pernah suka main game buat belajar bahasa Inggris kecuali gue anak lima tahun. Terakhir gue main games buat belajar bahasa Inggris adalah waktu umur gue delapan tahun alias masih kelas dua SD.

            “I…”

KRING !!!

            ‘Thanks God. You saved my life.” Gue membuat tanda salib.

            “Okay guys, see you next week! Thank you! And Farrel…” Gue merasa nama gue dipanggil oleh si native muda.

            “You have to treat her, a lot of snacks because she translated your lame joke to me and to your classmates.” Dia melemparkan senyumannya sebelum digiring keluar oleh Pak Bertrand ke ruang guru. Sekarang, dia ikut-ikutan mengejek gue, secara tidak langsung. Tiba-tiba, seseorang merangkul pundak gue.

            “I like his idea about treating me snacks.” Gue menatap Sarah yang lebih pendek dari gue dengan malas-malasan. Dia hobi banget gelayutan deket gue.

            “Nggak bawa duit.”

            “Nggak bawa apaan ? Nih, dompet lo merah semua.” Dompet gue berhasil direbut Danny dan dia berhasil melihat isi di dalam dompet itu.

            Kalau budaya seperti ini sudah ada sejak kakek gue masih di SMA, gue yakin Danny udah dilaporin ke guru sama kakek gue. Dia pasti udah dipukulin pake rotan. Sayangnya, budaya ini muncul di era gue, dan anehnya, gue biasa-biasa aja. Lebih aneh lagi kalo gue bawa-bawa rotan dan teriak-teriak ke Danny sambil mengayunkan rotan di genggaman gue: “KAMU MAU MENGULANG ITU LAGI?!?! JAWAB?!?!” Gue bahkan membiarkan dia memperlihatkan isi dompet ke Aldi.

            Kakek, sebenarnya aku ini cucu-mu atau bukan ??? Tanya gue pada jarum jam yang berputar.

            Waktu berlalu begitu cepat. Jam pelajaran terakhir telah usai dan waktu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh murid telah tiba. Pulang. Begitu pula anak-anak 11-A 2. Bel pulang sekolah terdengar seperti bel dari surga, bagaikan suara malaikat-malaikat yang memanggil mereka untuk keluar dari ‘neraka’ yang mereka ciptakan sendiri.

            Kecuali satu penunggu ‘neraka’ yang menyamar jadi setan padahal adalah seorang malaikat bernama Farrel. Dia masih duduk di kursinya, menghitung rumus. Bahkan usai berdoa, dia kembali berkutat dengan rangkaian angka dan variabel serta simbol-simbol yang ‘menghiasi’ buku latihannya. Matanya melahap setiap rumus yang tercantum di buku cetak lalu memindahkannya ke buku latihan. Jika pada umumnya selesai mata melahap, rumus kembali keluar lewat telinga kanan, otak Farrel cepat menangkap rumus-rumus itu sebelum keluar lewat telinga kanan. Bibirnya komat-kamit mengulang rumus-rumus tersebut dan tangannya dengan cepat menuliskannya ke buku latihan. Otaknya berubah fungsi jadi kalkulator super yang menghitung ekstra cepat.

            Mata sang jenius terlalu tertarik pada soal yang diberikan Bu Julie sampai tidak menyadari kehadiran Sarah di dekatnya. Sarah bersandar di meja Kenny, arah sorong-kanan dari meja Farrel. Kepalanya menggeleng-geleng melihat kecepatan tangan sang jenius. Dalam hati, dia mengagumi wajah Farrel yang terlihat serius dengan buku dihadapannya.

            ‘Kok dia bisa bikin muka se freak itu ya?’ Ya, kagum karena bisa bikin muka ala orang idiot.

            Butuh waktu tiga menit buat si megamind untuk menyadari bahwa ada makhluk yang memperhatikannya dari samping. Ia mengangkat wajahnya dari bukunya dan menatap makhluk itu.

            “Lo ngapain?” Sarah memutar matanya dan wajahnya yang sudah malas-malasan nungguin Farrel yang nggak sadar dengan kehadirannya makin menjadi-jadi.

            “Lagi buang air besar. Ya, lagi ngliatin lo lah! Nungguin lo!” Tanda tanya di wajah Farrel membesar. Tapi, dengan tenang dia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sarah duduk menyamping di kursi tepat di depan meja Farrel, badannya menghadap Farrel.

            “Kok muka lo bisa gitu, Rel?” Kegiatan Farrel terhenti ketika ia mendengar pertanyaan aneh bin ajaib itu.

            “Muka gue kenapa?” Sang jenius melepas kacamatanya dan memasukkannya di tempatnya.

            “Freak.” Sarah mengedipkan matanya seperti tidak ada apapun yang terjadi.

            “Sorry?” Tanda tanya di wajah Farrel meledak sudah, dibom oleh pernyataan Sarah yang blak-blakan dan tidak liat kiri-kanan.

            “Iya, muka lo freak.” Sarah memutar-mutar ballpoint Farrel sambil melihat ke jendela. Butuh lima menit buat sang jenius untuk menyerap baik-baik pernyataan abstrak dan tiba-tiba dari Sarah. Pada akhirnya, Farrel hanya mendesah dalam keputusasaan dan melanjutkan beres-beresnya yang terpotong. Mereka berdua tenggelam dalam diam dan asik dengan pekerjaan masing-masing.

            “Lo kalem banget ya.” Kalimat aneh bin ajaib Sarah muncul lagi. Farrel selesai beres-beres dan sekarang menggantungkan tasnya di bahu kanan.

            “Lo mabok Sar. Gue beliin susu kotak di SD, yuk.” Farrel berjalan mendahuluinya. Senyum puas mengembang di wajah Sarah.

            “Took you long enough, friend.” Dan si cewek funky membuntuti Farrel sampai ke kantin SD.

            “Dan, si Sarah mana ya?” Bernadeth menjulurkan kepalanya.

            “Paling ke perpus.” Danny menggoreskan garis-garis acak yang membentuk pemandangan sekolah. Dua pensil diselipkan di telinga kiri dan kanannya. Bernadeth menyeruput jus mangga sambil menopang kepalanya dengan tangan kanan.

            “Deth, mendingan pohonnya warna hijau atau orange?” Orang yang ditanya malah keselek dan batuk-batuk.

            “Kok tiba-tiba nanya itu sih?”

            “Emang nggak boleh?” Danny mengangkat wajahnya untuk menatap Bernadeth.

            “Pertanyaan lo nggak mutu, Dan.” Bernadeth membanting pelan gelas plastik jusnya. Dia memang sudah lelah berhadapan dengan orang seperti Danny. Tapi pertemanan yang terjalin sejak SD membuat Bernadeth merasa biasa dengan tingkah Danny. Bernadeth selalu bertanya-tanya bagaimana dia bisa berakhir dengan mereka-mereka yang extraordinary ini. Nggak ada satupun dari temen-temennya yang nggak unik. Sarah murah senyum, gila dan easy going, tapi punya konflik dan sebenarnya tertutup serta anti sosial. Trixie anak yang emosional, gampang marah,  juga gampang nangis dan tertawa, tapi perhatian dan suka jahit.

            Farrel, The Thinker berjalan dengan otak jenius, tapi kadang ceplosannya bikin ketawa lebar-lebar. Orangnya juga bisa jadi misterius. Jangan-jangan entar dia bawa pistol dan ngebunuh Fiona kalau cewek itu sok pemimpin pas lagi kerja kelompok.

            Aldi orangnya gila Iron Man, bahkan namanya ditambahin Stark di belakangnya. Ignatius Rheynaldi Juwanto Stark. Absurd banget. Kalau ngamuk juga mengerikan, tipe-tipe Sarah. Tapi anaknya baik dan respect sama semua orang. Dia nggak akan membenci orang tanpa alasan. Katanya kayak cewek yang suka backstab.  Kalau nggak punya kesalahan ngapaian dibenci? Dia juga orang yang loyal. Sekalipun klan-nya kalah dalam peperangan dan ia ditangkap dan dipaksa membeberkan susunan pertahanan klan-nya, sampai mati pun dia nggak akan membuka mulutnya.

            Lain dengan Danny yang pintar akuntansi. Dari luar dia terlihat cool, dan tipe orang yang terpercaya, tapi jika ada balasan yang sesuai, hmmm… Bisa diatur sesuai dengan perhitungan akuntansinya yang njelimet itu. Tapi di lain sisi, Danny orang yang cheerful dan mudah dibaca. Ekspresinya akan berubah-ubah sesuai dengan perasaannya. Makanya, orang tau kapan harus stay away dari dia dan kapan harus, eh bisa seenaknya.

            “Deth? Dedeth? Dedeth sayang?” Bernadeth ikutan nglamun kayak Farrel, terbangun karena suara Danny yang kayak banci Taman Lawang keselek mic. Bernadeth memasang muka jijik karena Danny menyebut kata ‘sayang’ untuk memanggilnya.

            “Apa sih lo Dan? Sayang, sayang…” Danny hanya terkekeh  mendengar protes Bernadeth. Temannya ini sensitif banget.

            “Abis gue panggil Dedeth, Dedeth! Lo nggak jawab. Yaudah gue panggil sayang, biar kayak Sleeping Beauty. Bedanya Sleeping Beauty dicium, lo diteriakin.” Jemari Danny kembali berdansa di atas kertas.

            “Ih jijik lo Dan.”

            “Kok jijik? Lo gue katain kayak Sleeping Beauty nggak mau, kayak mbok jamu depan komplek juga nggak mau. Gue panggil ‘sayang’ pun gamau. Dasar lo cewek aneh.” Bernadeth mendecakkan lidahnya kemudian meneguk jus mangganya lagi. Danny memperhatikan Bernadeth yang meminum jusnya dengan kecepatan 100km/jam dengan senyum terkulum.

            “Ahhh…”

            “Heh, cewek kok gitu?”

            “Emang kenapa?”

            “Bikin suara kayak gitu. Nggak sopan tau.” Bernadeth mencibir.

            “Lo ngalahin nyokap gue… Ck..” Danny hanya menanggapi dengan senyuman kebapakan sambil melanjutkan kegiatannya.

            Kantin sejenak sepi tanpa sungut dan perdebatan dua insan muda yang sedang menikmati angin sore. Minuman yang tadinya masih setengah gelas, perlahan habis. Goresan-goresan yang tadinya acak dan hitam-putih, sekarang telah berbentuk dan berwarna. Jam terus berputar, namun mata sang dewi telah terikat dengan mahakarya ciptaan sang dewa di hadapannya. Dalam hati, ia mengagumi keahliannya dalam memainkan batangan kayu warna warni di atas kertas. Keheningan berlangsung lama ditemani daun-daun pohon yang bergemerisik.

            “Dan…”

            “ARGH SARAH ! LO CEWEK PSYCHO!”

            “CEPET BELIIN GUE SUSU KOTAK! YANG COKLAT! JANGAN SALAH LAGI!”

            “TAPI JANGAN GINI DONG, LO BERAT SAR !”

            “HEHEHE~ LUMAYAN DIGENDONG ANAK KUCING TAPI DALEMNYA HARIMAU. KAYAK LO HAHAHAHA.”

            “Aduh…. SAR!”

            “EH BERAT GUE CUMA 60 KG OKE??? MAU DITARO DI MANA NAMA BAIK OTOT LO YANG KEKAR INI KALO LO NGANGKAT GUE AJA GABISA?!” Sarah memukul lengan Farrel.

            “Nih ya Sar. Sekarang gimana gue beli susu kalo tangan gue dua-duanya dipake buat nggendong elu??? Turun dulu dong!” Sarah hanya terkekeh dan perlahan turun dari punggung Farrel. Yang menggendong langsung memijat tangannya berulang-ulang. Beban yang dia angkat bukan hanya beban benda saja tapi beban mental akibat suara Sarah.

            “Bagus, bagus…. Lumayan. Buat olahraga, bang.” Sarah menepuk punggung Farrel beberapa kali. Kemudian, dia hendak berjalan ke arah kantin ketika melihat dua sahabatnya duduk termangu melihat dia dan Farrel bertengkar hanya karena masalah sepele.

            “Oh…” Farrel juga melihat dua sahabatnya itu dan memberi senyum garing nan renyah.

            “Hai.”

#kumpulancerpen@SanurBSD#

Posted in Cerpen, Karya Siswa | Leave a Comment »

PUISI TENTANG SOSIAL

Posted by lembursingkur pada Mei 1, 2015

Suara Teriakan Perut
karya: Nathania Orlana Halim

Gemuruh suara perutmu
Kau tahan dengan tabah
Pedihnya dinding lambungmu
Kau tahan dengan lemah

Entah sampai kapan engkau bertahan
Entah sampai kapan engkau menunggu
Menunggu datangnya sesuap nasi
Untuk menghilangkan gemuruh diperutmu

Perutmu yang berteriak begitu keras
Menahan sakitnya kelaparan
Keringatmu mengalir deras
Menahan lemahnya tubuh rampingmu

Dagingmu yabg kian menipis
Tulangmu yang kian terlihat jelas
Bahkan kelaparan yang sangat pedih
Kau tahan dengan tabah

Wahai suara gemuruh perut
Sampai kapankah engkau akan berlangsung
Wahai suara teriakan perut
Sampai kapankah engkau akan bertahan

Tidakkah ada sesuap nasi yang kau dapati
Tidakkah ada seseorang yang peduli
Karna bila suara gemuruh perut berlangsung
Hari esok takkan seindah biasanya

Posted in Karya Siswa, Puisi | Leave a Comment »

PETA PIKIRAN

Posted by lembursingkur pada April 11, 2015

Mind Map (Peta Pikiran) dapat diartikan sebagai suatu cara untuk mengorganisasikan dan menyajikan konsep, ide, tugas  atau informasi lainnya dalam bentuk diagram radial-hierarkis non-linier. Mind Map pada umumnya menyajikan informasi yang terhubung dengan topik sentral, dalam bentuk kata kunci, gambar (simbol), dan warna sehingga suatu informasi dapat dipelajari dan diingat secara cepat dan efisien.

Mind Map digagas dan dikembangkan oleh Tony Buzan, seorang psikolog Inggris, yang meyakini bahwa penggunaan Mind Map tidak hanya mampu melejitkan proses memori tetapi juga dapat meningkatkan kreativitas dan keterampilan menganalisis, dengan mengoptimalkan fungsi belahan otak. Mind Map dapat mengubah informasi menjadi pengetahuan, wawasan dan tindakan. Informasi yang disajikan fokus pada bagian-bagian penting, dan dapat mendorong  orang untuk mengeksplorasi dan mengelaborasinya lebih jauh.

Mengikuti ikhtisar pola kerja MindMaple, Mind Map terdiri dari 3 (tiga) komponen utama, yaitu:

  1. Topik Sentral, pokok atau fokus pikiran/isu uyang hendak dikembangkan, dan diletakkan  sebagai  “pohon”.
  2. Topik Utama, level pikiran lapis kedua sebagai bagian dari Topik Sentral dan diletakkan sebagai “cabang”  yang melingkari “pohon”.
  3. Sub Topik,level pikiran lapis ketiga sebagai bagian dari cabang
  1. Bagaimana Membuat Mind Map (Peta Pikiran)?

Mind Map dapat dibuat secara manual atau dengan menggunakan bantuan software. Walaupun tidak ada ketentuan yang baku, tetapi ada beberapa hal yang bisa dijadikan pedoman dalam menyusun Mind Map, (khususnya untuk Mind Map yang dibuat secara manual):

  1. Mulai dari tengah untuk menentukan Topik Sentral (menentukan “pohon”), dibuat dalam kertas kosong bentuklandscape, disertai gambar berwarna.
  2. Tentukan Topik Utama (menentukan “cabang”) sebagai bagian penting dari Topik Sentral.
  3. Tentukan Sub Topik sebagai  “ranting” yang diambil dari Topik Utama
  4. Secara kreatif gunakan gambar, simbol, kode, dan dimensi seluruh peta pikiran Anda.
  5. Sedapat mungkin gunakan kata kunci tunggal  (maksimal 2 kata),  dengan huruf kapital atau huruf kecil.
  6. Gunakan garis lengkung untuk menghubungkan antara Topik Sentral dengan Topik Utama dan Sub Topik. Untuk stimulasi visual, gunakan warna dan ketebalan yang berbeda untuk masing-masing alur hubungan.
  7. Kembangkan Mind Map sesuai gaya Anda sendiri.
  8. Untuk memahami suatu teks, Anda terlebih dahulu harus membaca teks tersebut untuk memperoleh gambaran mental (mental image) yang menyeluruh dan bermakna.

Membuat Mind Map dengan bantuan software tentu akan lebih mengasyikkan Untuk mencari software yang dibutuhkan, Anda bisa menelusuri sendiri di internet melalui bantuan Google dan Anda akan menjumpai berbagai produk software Mind Map. Salah satu software yang bisa digunakan adalah software Mind Map yang dikembangkan oleh MindMaple (bisa diunduh secara gratis  disini)

  1. Apa Manfaat Mind Map (Peta Pikiran) dalam Pembelajaran?

Mind Map dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, baik yang bersifat personal maupun kolaboratif. Khusus, dalam konteks pembelajaran, Mind Map dapat digunakan untuk membantu siswa dalam memahami, mengorganisasikan dan memvisualisasikan materi dan aktivitas belajarmya secara kreatif dan atraktif.

  • Siswa dapat mempetakan apa yang didiskusikan bersama teman-temannya,
  • Siswa dapat mempetakan tentang proses dan hasil observasi yang dilakukannya.
  • Siswa dapat mempetakan tentang apa yang dibacanya
  • Siswa dapat mempetakan tentang apa yang didengarnya.
  • Siswa dapat mempetakan tentang apa yang harus dipresentasikannya di kelas, dan
  • Siswa dapat mempetakan aneka aktivitas belajar lainnya, baik yang berkenaan dengan perencanaan, pelaksaanaan maupun hasil belajarnya.

Dengan Mind Map, siswa diajak untuk mengkonstruksi pengetahuan secara kreatif, sesuai dengan apa yang dipahaminya masing-masing, bukan menjiplak pengetahuan secara membabi-buta.

Penggunaan Mind Map tampaknya cukup efektif membantu mahasiswa ketika sedang mengikuti Ujian Skripsi. Skripsi yang sedemikian tebal dapat direduksi dalam satu atau dua halaman saja. Bahkan, di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Mind Map telah menjadi keterampilan yang wajib dikuasai para mahasiswa.

Bagi guru, Mind Map dapat digunakan untuk kepentingan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. Dalam perencanaan pembelajaran, Mind Map bisa dimanfaatkan untuk kepentingan menyusun desain pembelajaran, baik yang berkaitan dengan pengembangan bahan ajar maupun pengembangan metode dan penilaian pembelajaran.

Dalam praktik pembelajaran di kelas, guru dapat dapat memanfaatkan Mind Map sebagai media pembelajaran atau mengintegrasikannya dengan metode pembelajaran yang digunakan.

Sedangkan dalam penilaian, guru dapat memanfaatkan setiap karya Mind Map siswa sebagai bahan penilaian produk dan bagian dari portofolio siswa, untuk melihat sejauhmana seorang siswa dapat memahami materi pelajaran yang diajarkan sekaligus mengenal kontruksi berfikir para siswanya.

Sementara, bagi guru BK/Konselor, Mind Map bisa menjadi salah satu materi layanan yang diberikan kepada siswa, khususnya berkaitan dengan layanan konten, dalam upaya membantu siswa memiliki keterampilan dan kebiasaan belajar yang efektif.

Tampaknya tidak ada keraguan lagi bagi kita untuk membelajarkan siswa menguasai keterampilan Mind Map ini sejak dini agar proses belajar dan pembelajaran dapat lebih efektif dan optimal.

(Sumber: https://akhmadsudrajat.wordpress.com)

Contoh mindmap:

karya Valencia Renata (SMP St. Ursula BSD)

 petapikiran

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

2014 in review

Posted by lembursingkur pada Januari 5, 2015

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Museum Louvre dikunjungi 8,5 juta orang setiap tahun. Blog ini telah dilihat sekitar 88.000 kali di 2014. Jika itu adalah pameran di Museum Louvre, dibutuhkan sekitar 4 hari bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

PUISI ALAM

Posted by lembursingkur pada Desember 1, 2014

 Pohon 

(oleh :NERISSA)

Tempat kami merenung.
Daunmu yang rindang,
membuat kami tenang.
Menghasilkan oksigen untuk semua orang.
Tetapi…
Manusia menebangmu tanpa rasa peduli.
Tak menanam tumbuhan kembali.
Mereka hanya mementingkan diri sendiri.
Jika…
Mereka tidak sadar akan perbuatannya,
Keindahan tinggallah kenangan.
Aku hanya dapat berharap…
ada yang tersadarkan,
untuk menjaganya.

Posted in Puisi | Dengan kaitkata: , , | 1 Comment »

Dongeng Fabel

Posted by lembursingkur pada November 4, 2014

Beruang !!!

oleh Gregorius Reinhard

“Benny, ayo cepat mandi !” seru mama Benny.

“Iya, Ma, Benny mandi bentar lagi.” jawab Benny.

Benny adalah seekor anak kura – kura yang memang malas mandi, ia senang bermain dengan Jesse, seekor anak anjing sampai lupa untuk mandi. Mereka sudah berteman dan bermain sejak masih sangat kecil. Beruntung, lingkungan tempat tinggal mereka dekat, dan orangtua mereka juga sudah lama kenal, sehingga mereka menjadi akrab.

Suatu hari, Jesse mempunyai ide untuk menjelajahi Hutan Terlarang, dimana air terjun dan sebuah kolam yang airnya masih jernih, bersih, dan segar. Tadinya Benny ragu karena ‘katanya’, konon di Hutan Terlarang, seekor kelinci pernah bermain di hutan tersebut dan tidak pernah kembali, serta ‘katanya’ banyak binatang buas di sana. Tetapi, setelah dipikir – pikir, Benny memutuskan untuk pergi ikut Jesse.

Keesokan harinya di pagi hari, Jesse dan Benny berangkat tanpa ijin dari orangtua mereka. Mereka bilang, mereka hanya main sebentar. Padahal mereka berangkat ke Hutan Terlarang. Petualangan pun dimulai.

Mereka berjalan kaki. Berjalan kaki jauh melewati padang gurun, lautan, kebun apel, serta melewati padang semak berduri. Mereka mengatasi rintangan bersama – sama. Tanpa terasa, matahari telah berada di atas kepala mereka. Teriknya sangatlah menyengat.

Namun tidak berapa jauh dari tempat mereka berdiri, air terjun terlihat. Dengan bunyi yang indah dan pemandangan yang anggun, air terjun tentunya sangat menggoda mereka untuk segera memasukikolam dimana air terjun mengalirkan airnya. Rupanya mereka telah sampai di Hutan Terlarang. Dan, wah ternyata airnya benar – benar jernih dan bersih. Bebatuannya juga indah, serta banyak ikan – ikan kecil menghiasi kolam.

“Woohoo !” teriak Jesse sambil melompat ke dalam kolam.

“Brrr !” lanjutnya kedinginan.

Benny pun menyusul. Mereka bermain air dan tentunya menikmati pengalaman tersebut sampai tiba – tiba…

“Grrr !” suara yang tidak diketahui asalnya muncul. Benny dan Jesse segera menghentikan kegiatan. Mereka mencoba menangkap dan mendengar suara tersebut. Namun tiba – tiba…

“Meow!”. Mereka berdua tertawa terbahak – bahak.

“Grrr!” suara tidak dikenali pun muncul lagi. Jesse dan Benny segera bersembunyi karena mereka merasa suara itu semakin dekat.

“Beruang ! Aaah !” teriak Jesse keras.

“Tutup mulutmu Jesse.” bisik Benny pelan sambil menutup mulut Jesse. Namun telat, beruang mendengar teriakan Jesse dan mendekati mereka berdua. Tanpa piker panjang, Jesse yang adalah seekor anjing langsung berlari kencang meninggalkan Benny si kura – kura. Benny tidak bisa berlari kencang seperti Jesse karena ia adalah seekor kura – kura.

Benny panic, tetapi di sisi lain ia harus tetap tenang. Huh, beruntung, Benny langsung mengambil tindakan dengan berpura – pura mati. Beruang yang bingung hanya bisa mengendus – endus cangkang Benny. Sebenarnya Benny geli ketika diendus, namun ia harus tetap diam.

Beruang pun pergi meninggalkan Benny. Setelah beruang pergi jauh, Benny meninggalkan Hutan Terlarang.

“huhh… untung saja mama pernah mengajarkanku cara mengatasi beruang.” Sahut Benny lega.

Benny pulang meninggalkan Hutan Terlarang tanpa Jesse yang tidak tahu sudah pergi kemana. Sesampainya di rumah, Benny menceritakan kejadian tersebut kepada orangtuanya. Orangtuanya bersyukur Benny selamat. Tetapi kemanakah Jesse ? Orangtua Jesse cemas memikirkan nasib anaknya, tetapi Benny menenangkan mereka.

Setelah kejadian itu, Benny kesepian tanpa Jesse. Benny terus berandai – andai kemanakah Jesse pergi. Kemanakah anjing muda itu pergi ?

Belasan tahun berlalu, seekor kura – kura yang sudah dewasa dan berkeluarga bertemu dengan seekor anjing dewasa di dekat sebuah kolam kecil. Ya, mereka adalah Benny dan Jesse.

Pesan Moral : Jangan egois, janganlah meninggalkan teman, tolonglah teman sehingga persahabatan dan relasi terus terjaga.

Posted in Karya Siswa | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

FABEL

Posted by lembursingkur pada Oktober 20, 2014

Di bawah ini kami sajikan karya siswa SMP Santa Ursula BSD. Ini merupakan dongeng fabel yang dibuat oleh beberapa peserta didik. 

Yodi yang Keras Kepala

oleh  Natalia Tonadi / VIII B

Pada zaman dahulu kala di suatu padang rumput yang luas, hiduplah segerombolan sapi. Di antara mereka terdapat seekor anak sapi yang keras kepala, suka memerintah, licik, serakah, dan sering menjahili teman-temannya. Anak sapi itu bernama Yodi. Ia suka menjahili teman-temannya dengan mengata-ngatai mereka. Hampir semua anak-anak sapi membeci Yodi. Ketika para anak sapi lain sedang bermain atau berlari-larian, Yodi hanya duduk di bawah pohon sambil memakani rumput yang ada di sekelilingnya karena sifatnya yang sangat malas.

Suatu pagi,Yodi mengajak Simi, seekor anak sapi yang tidak pernah terkena jebakan Yodi untuk pergi menyusuri sebuah hutan dekat dengan tempat tinggal mereka. Yodi bermaksud untuk menjahili Simi saat mereka berada di tengah hutan. Tidak terpikir sama sekali oleh Simi bahwa dirinya akan dijahili. Dari awal perjalanan, Yodi sudah memerintahkan Simi untuk membawa barang bawaannya yang berisi kebutuhan pribadinya. Ia juga memerintahkan Simi untuk berjalan di depannya karena ketakutan akan binatang buas dapat menerkam mereka. Simi yang sama sekali tidak mengetahui pikiran jahat yang ada di kepala Yodi dengan senang menjalani keinginan dan perintah Yodi.

Ketika matahari bersinar terik di atas kepala Yodi dan Simi, Yodi mengusulkan untuk beristirahat dan makan siang. Mereka berdua mulai makan dengan lahap untuk mengisi ulang energi mereka yang telah terkuras. Yodi yang tidak berpikir panjang langsung menghabiskan semua makanannya sedangkan Simi menyisakan sedikit dari makanannya untuk nanti jika ia merasa lapar dan agar ia tidak merasa terlalu kekenyangan. Setelah selesai mengisi perut, mereka pun memulai kembali perjalanan mereka.

Di tengah perjalanan, Yodi mulai merasa lapar lagi karena kebiasaannya yang suka makan. Ia mengetahui Simi masih memiliki sisa bekal dan ingin memintanya. “Sim, bolehkah aku meminta sisa makananmu dari siang tadi? Aku merasa lapar lagi nih,” tanya Yodi. “Oh, baiklah. Ini, ambil saja sisa makananku,” jawab Simi yang baik hati. Yodi pun langsung mengambil makanan Simi tanpa berterimakasih dan melahapnya dengan cepat. Tetapi sayangnya, rumput Simi yang dimakan oleh Yodi ternyata sudah tidak segar lagi karena terlalu lama dibiarkan di tas Simi. Yodi pun merasa kesakitan di perutnya. Mau tidak mau, Yodi harus melanjutkan perjalanan. Dengan menahan rasa sakit di perutnya, Yodi merintih kesakitan pada setiap langkah yang diambilnya.

Saat sedang berjalan, Simi menemukan sebuah sungai yang bening. Mereka harus menyeberangi sungai itu sebagai jalan pintas untuk kembali ke rumah mereka. Simi tidak berani untuk melewati sungai itu karena takut akan ada buaya. Tetapi, mengetahui sifat Yodi yang malas dan jahil, Yodi memilih untuk menyeberangi sungai tersebut agar dapat cepat pulang sekaligus melakukan rencana usilnya kepada Simi. Ia mengetahui bahwa ada banyak buaya di sungai tersebut. Jika tidak berhati-hati, kaki mereka bisa tergigit. Simi sudah melarang dan meperingatkan Yodi agar tidak nekat menyeberangi sungai itu. Yodi menghiraukan kata-kata Simi dan pergi menyeberangi sungai dengan harapan Simi akan mengikuti dirinya.

Tidak mau mengambil resiko, Simi berputar balik dan mencari jalan lain untuk bisa pulang tanpa melewati sungai yang penuh dengan sungai itu. Simi sadar bahwa ia akan dijahili Yodi ketika Yodi mengajak dirinya untuk menyeberangi sungai bersama. Harapan Yodi untuk menjahili Simi pun tak akan bisa tersampaikan.

Di tengah sungai, Yodi mulai merasa takut akan adanya buaya. Ketakutannya menjadi nyata. Terdapat buaya yang sedang menuju ke arah Yodi sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Yodi pun mulai berlarian di dalam air. Tetapi, ia kalah cepat dengan buaya tersebut sehingga kakinya tergigit oleh buaya. Ia merintih kesakitan saat melihat kakinya yang berdarah. Yodi pun berjalan pulang dengan kakinya yang pincang. Betapa menyesal dirinya karena tidak mendengarkan kata-kata Simi.

Di dalam cerita tersebut, kita dapat belajar bahwa penyesalan selalu datang terakhir. Kita tidak boleh menjahili teman-teman kita karena pasti kita akan mendapatkan balasannya.

Posted in Karya Siswa | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

CONTOH RPP KURIKULUM 2013

Posted by lembursingkur pada Agustus 17, 2014

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SatuanPendidikan            : SMP

Kelas/Semester                 : VII/1

Mata Pelajaran                  : Bahasa Indonesia

Topik                                      : Teks Hasil Observasi

Jumlah Pertemuan           : 3 x Pertemuan

Alokasi Waktu :6 x 45 Menit

 

Kompetensi Inti

  1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
  2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
  3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

Kompetensi Dasar

  • Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa sebagai sarana memahami informasi lisan dan tulis.
  • Memiliki perilaku jujur, tanggung jawab, dan santun dalam menanggapi secara pribadi hal-hal atau kejadian berdasarkan hasil observasi
  • Memahami teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik melalui lisan maupun tulisan

Indikator Pencapaian Kompetensi

  1. Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana memahami informasi lisan dan tulis.
  2. Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana menyajikan informasi lisan dan tulis
  3. Memiliki perilaku jujur, tanggung jawab, dan santun dalam menanggapi secara pribadi hal-hal atau kejadian berdasarkan hasil observasi
  4. Mengetahui isi teks hasil observasi
  5. Mengetahui struktur teks hasil observasi
  6. Mengetahui ciri bahasa teks hasil observasi

Tujuan Pembelajaran

  • Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa dapat menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa sebagai sarana memahami informasi lisan dan tulis
  • Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana menyajikan informasi lisan dan tulis
  • Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa dapat menunjukkan sikap jujur, tanggung jawab, dan santun dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam menyusun/memproduksi hasil observasi baik lisan maupun tulisan
  • Setelah membaca teks hasil observasi dan mendiskusikannya siswa dapat mengetahui isi teks hasil laporan observasi baik secara lisan maupun tulisan.
  • Setelah membaca teks hasil observasi dan mendiskusikannya siswa dapat mengetahui struktur teks hasil laporan observasi baik secara lisan maupun tulisan
  • Setelah membaca teks hasil observasi dan mendiskusikannya siswa dapat mengetahui cirri bahasa teks hasil laporan observasi baik secara lisan maupun tulisan

Materi Pembelajaran

  • Teks hasil observasi
  • Struktur teks hasil observasi
  • Ciri bahasa teks hasil observasi

 

Metode Pembelajaran

Metode Inkuiri, diskusi,  tanya jawab, penugasan,  dan presentasi.

Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama

  1. Kegiatan Pendahuluan
    • Siswa menrespon salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya
    • Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
    • Siswa menerima informasi kompetensi, meteri, tujuan, manfaat, dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan
    • Untuk menarik minat, siswa mendengarkan pembacaan puisi bertema lingkungan hidup yang berjudul “Tanah Kelahiran” karya Ramadhan K.H.
    • Siswa diberi pemahaman tentang teks laporan hasil observasi yang dikaitkan dengan fenomena yang terjadi di sekitar siswa. Guru menggugah kesadaran siswa agar  mencintai lingkungan hidup
  2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

  • Siswa mengamati sebuah gambar tentang lingkungan hidup.
  • Siswa menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan apa yang dilihat dalam gambar dan pengetahuan siswa tentang lingkungan alam Indonesia atau lingkungan yang ada di sekitar siswa.

Elaborasi

  • Siswa mengambil undian yang berisi istilah kebahasaan. Lalu, masing-masing siswa menyebutkan kata yang sama, bersatu membentuk kelompok kecil.
  • Siswa mendapatkan fotokopi teks hasil observasi.
  • Dengan sikap tanggung jawab, peduli, responsif, dan santun siswa secara berkelompok membaca dan menjawab pertanyaan tentang isi teks hasil observasi.
  • Salah satu kelompok melaporkan hasil diskusinya.
  • Kelompok lain merespon atau menanggapi dengan responsif dan santun.
  • Siswa mengisi latihan berupa mencocokan kalimat dan kata yang isinya berkaitan dengan teks.
  • Siswa bersama guru membahas hasil latihan.

Konfirmasi

  • Bersama guru, siswa mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dialami saat memahami isi teks hasil observasi
  • Siswa mendengarkan umpan balik dan penguatan dari guru atas pernyataan mereka tentang hambatan dalam memahami isi teks hasil observasi
  • Siswa terbaik mendapatkan penghargaan dari guru.
  1. Kegiatan Penutup
  • Siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran
  • Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan
  • Siswa menyimak informasi mengenai rencana tindak lanjut pembelajaran

Pertemuan Kedua

  1. Kegiatan Pendahuluan

Siswa menrespon  salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya

  • Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
  • Siswa menerima informasi kompetensi, meteri, tujuan, manfaat, dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan

Kegiatan Inti

Eksplorasi

  • Kedalaman pengetahuan dan kemampuan siswa tentang struktur teks hasil observasi dipancing oleh guru dengan memperlihatkan contoh atau model teks hasil observasi.
  • Siswa bertanya jawab tentang hal-hal yang berhubungan dengan struktur teks hasil observasi.

Elaborasi

  • Siswa duduk kembali bersatu dengan kelompoknya masing-masing dengan posisi tempat duduk yang diatur ulang.
  • Dengan sikap tanggung jawab, peduli, responsif, dan santun siswa secara berkelompok membaca dan berdiskusi menentukan struktur teks hasil observasi.
  • Wakil dari masing-masing kelompok secara bergiliran melaporkan hasil diskusinya.
  • Kelompok lain merespon atau menanggapi dengan responsif dan santun.

Konfirmasi

  • Bersama guru, siswa mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dialami saat memahami struktur teks hasil observasi
  • Siswa mendengarkan umpan balik dan penguatan dari guru atas pernyataan mereka tentang hambatan dalam memahami struktur teks hasil observasi.

Kegiatan Penutup

  • Siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran
  • Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan
  • Siswa menyimak informasi mengenai rencana tindak lanjut pembelajaran

Pertemuan Ketiga

Kegiatan Pendahuluan

  • Siswa menrespon salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya
  • Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
  • Siswa menerima informasi kompetensi, meteri, tujuan, manfaat, dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Kegiatan Inti

Eksplorasi

  • Kedalaman pengetahuan dan kemampuan siswa tentang ciri-ciri bahasa teks hasil observasi dipancing oleh guru dengan memperlihatkan contoh atau model teks hasil observasi.
  • Siswa bertanya jawab tentang hal-hal yang berhubungan dengan ciri-ciri bahasa teks hasil observasi.

Elaborasi

  • Siswa duduk kembali bersatu dengan kelompoknya masing-masing dengan posisi tempat duduk yang diatur ulang
  • Dengan sikap tanggung jawab, peduli, responsif, dan santun siswa secara berkelompok membaca dan berdiskusi menentukan ciri-ciri bahasa teks hasil observasi.
  • Wakil dari masing-masing kelompok secara bergiliran melaporkan hasil diskusinya.

Konfirmasi

  • Bersama guru, siswa mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dialami saat memahami ciri-ciri bahasa teks hasil observasi
  • Siswa mendengarkan umpan balik dan penguatan dari guru atas pernyataan mereka tentang hambatan dalam memahami ciri-ciri bahasa teks hasil observasi

Kegiatan Penutup

  • Siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran
  • Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan
  • Siswa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru
  • Siswa menyimak informasi mengenai rencana tindak lanjut pembelajaran

Penilaian Proses dan Hasil Belajar

Penilaian Proses

No Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Waktu Penilaian Instrumen Penilaian Keterangan
1. Religius Pengamatan Proses  Lembar Pengamatan Hasil penilaian nomor 1 dan 2 untuk masukan pembinaan dan informasi bagi Guru Agama dan Guru PKn
2. Tanggung jawab
3. Peduli
4. Responsif
5. Santun

.

Penilaian Hasil

IndikatorPencapaian Kompetensi Teknik Penilaian Bentuk Penilaian Instrumen
Mengetahui isi teks hasil observasi Tes tertulis Tes uraian
  1. Bacalah dengan saksama teks laporan hasil observasi berikut! Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
Mengetahui struktur teks laporan hasil observasi observasi Tes tertulis  Tes uraian 

 

  1. Identifikasikanlah dan jelaskan struktur teks laporan hasil observasi!
Mengetahui cirri-ciri bahasa teks laporan hasil observasi Tes tertulis  Tes uraian 

 

  1. Identifikasikanlah dan jelaskan cirri-ciri bahasa teks laporan hasil observasi!!

 

 

 

 

 

 

PedomanPenskoran :

Soal no. 1

Aspek Skor
Siswa menjawab pertanyaan
  • Jawaban betul
1

 

Soal no. 2

Aspek Skor
Siswa mengidentifikasi struktur teks observasi
  • Jawaban sempurna
5
  • Jawaban kurang sempurna
3
  • Jawaban tidak sempurna
1
SKOR MAKSIMAL 5

 

Soal no. 3

Aspek Skor
Siswa mengidentifikasi ciri-ciri  bahasa teks laporan hasil observasi
  • Jawaban sempurna
5
  • Jawaban kurang sempurna
3
  • Jawaban tidak sempurna
1
SKOR MAKSIMAL 5

 

Sumber Belajar

Ismail Marahimin. 2008. Penulisan Populer. Jakarta: Pustaka Jaya

Parera, J.P. 2003. Menulis Tertib dan Sistematis. Jakarta : Erlangga

Keraf, Gorys.  2004.  Argumentasi dan Deskripsi. Ende Flores: Nusa Indah

Jakarta,  Juli  2013

Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

 

Endang Kurniawan, M. Pd.

 

Lampiran

Lembar Pengamatan

LEMBAR PENGAMATAN  SIKAP

Mata Pelajaran  :……………………………………………………………………………………..

Kelas/Semester:……………………………………………………………………………………….

Tahun Ajaran     :……………………………………………………………………………………….

Waktu Pengamatan: ………………………………………………………………………………..

Sikap  yang diintegrasikan dan dikembangkan adalah perilaku religius, jujur, tanggung jawab, dan santun.

Indikator perkembangan sikap perilaku religius, jujur, tanggung jawab, dan santun.

  1. BT (belum tampak) jika sama sekali tidak menunjukkan usaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas
  2. MT (mulai tampak) jika menunjukkan sudah ada usaha sungguh-sungguh  dalam menyelesaikan tugas tetapi masih sedikit dan belum ajeg/konsisten
  3. MB (mulai berkembang) jika menunjukkan ada usaha sungguh-sungguh  dalam menyelesaikan tugas yang  cukup sering dan mulai ajeg/konsisten
  4. MK (membudaya) jika menunjukkan adanya usaha sungguh-sungguh  dalam menyelesaikan tugas secara terus-menerus dan ajeg/konsisten.

Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.

No. Nama Siswa Religius Jujur Tanggung jawab Santun
BT MT MB MK BT MT MB MK BT MT MB MK BT MT MB MK
1.
2.
3.
4.
5.
..

 

 

 

 

 

 

Posted in Lain-Lain | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.