Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

RINGKASAN NOVEL SASTRA 7

Posted by lembursingkur pada Oktober 18, 2009

NOVEL SASTRA 10

Merari Siregar meninggal di Kalianget, Madura pada tanggal 23 April 1941). Ia meninggalkan tiga orang anak, yaitu Florentinus Hasajangu MS yang lahir 19 Desember 1928, Suzanna Tiurna Siregar yang lahir 13 Desember 1930, dan Theodorus Mulia Siregar yang lahir 25 Juli 1932.
Semasa kecil, Merari Siregar berada di Sipirok. Roman yang diterbitkan pada tahun 1920 ini merupakan roman ash yang pertama diterbitkan oleh Balai Pustaka. Tampaknya, buku Azab dan Sengsara ini ditulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan Merari Siregar sejak masa kedil. Di bawah ini dikutip tulisan pengarang yang menunjukkan hal tersebut.

Saya mengarang ceritera ini, dengan maksud menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik dan sempurna di tengah­tengah bangsaku, lebih-lebih di antara orang berlaki-laki. 

( Ch. Enung Martina )

Si Jamin dan Si Johan

Pengarang        : Merari Siregar

Penerbit            : Balai Pustaka

Cetakan           : 23

Di tepi Jl. Mangga Besar yang dulunya bernama Prinselaan di Taman Safari terdapat sebuah rumah yang sedikit tua. Rumah itu tak terurus bagai tak berpenghuni. Di dalam nya tinggalah seorang wanita bernama Inem dan kedua orang anak bernama Jamin dan adiknya bernama Johan. Ayah mereka, Bertes pergi entah ke mana sedang berfoya-foya dengan minuman keras. Inem merupakan ibu tiri yang kejam dari Jamin dan Johan. Inem seringkali berfoya dengan minuman keras dan menghisap madat (candu). Selalu ia memaki anak-anaknya dan kerap kali memukuli. Jamin sang kakak setiap hari disuruhnya mencari uang dengan mengemis di kota .

Ayahnya, Bertes merupakan bekas tentara perjuangan yang pernah menikah dengan seorang wanita bernama Mina dan memiliki dua anak, Jamin dan Johan. Mina merupakan wanita yang bijaksana namun Bertes sangat berbanding terbalik dengan Mina, ia senang sekali pergi tak pulang sehingga Mina sakit pun Bertes tak tahu hingga pada akhirnya Mina menghembuskan napas terakhir, meninggalkan kedua anaknya. Tak lama setelah kejadian itu, Bertes menikahi seorang perempuan, itu adalah Inem. Kelakuan Bertes setelah menikah dengan Inem tidaklah berubah juga, tetap sebagai Bertes yang tidak pernah sadar karena Inem juga bukan permpuan baik-baik seperti sosok Mina.

Suatu hari saat Jamin disuruh mengemis oleh si Inem, ia bertemu seorang anak yang mengemis juga di depan sebuah rumah makan pada malam hari. Mereka berkenalan dan anak itu memberikan Jamin sepotong roti karena dari pagi Jamin belum juga makan sebutir nasi pun. Ia juga baru mendapat uang 25 sen padahal ia baru boleh pulang jika sudah membawa uang 50 sen hari itu. Malam itu, angin berhembus kencang dan hujan turun rintik-rintik. Tiba-tiba Jamin tak sadarkan diri tepat di depan sebuah toko obat. Keesokan paginya, pemilik toko yang bernama Kong Sui segera membawa Jamin masuk ke dalam rumahnya dan menyuruh istrinya, Nyonya Fi, membantu Jamin. Kong Sui adalah seorang kakek tua yang sangat baik hati. Ia menyuruh Jamin menceritakan hidupnya setelah ia sadarkan diri. Kemudian Jamin diberikan sepasang pakaian bersih oleh Kong Sui karena pakaian yang sekarang ia pakai sudah sangat kotor. Bersamaan dengan itu, Bertes ayahnya pulang ke rumah karena ia sedang dikejar polisi karena membunuh orang saat mabuk. Saat itu juga, ia langsung tobat dan memeluk anak bungsunya, si Johan di rumah, ia juga memarahi Inem karena tidak pernah mengurus kedua anaknya itu. Namun tak lama setelah itu, Bertes pun tertangkap polisi sehingga belum sempat bertemu Jamin, anak sulungnya.

Saat Jamin pulang, ibunya Inem mulai marah-marah karena ia pulang dengan pakaian yang bersih yang tak tahu dari mana asalnya, sehingga dengan segera Inem melepaskan pakaian itu namun saat Inem ingin membuka celananya, Jamin membantah karena di dalam kantungnya ada sebuah cincin yang seharusnya dikembalikan kepada Kong Sui. Namun usahanya sia-sia, cincin itu diambil oleh Inem.
Keesokan  harinya Jamin megemis lagi karena disuruh Inem. Di tengah perjalanan Jamin tiba-tiba merasa sedih karena tidak bisa mengembalikan cincin tersebut, namun tiba-tiba di ujung jalan, Johan adiknya berlari ke arah Jamin dengan membawa cincin milik Kong Sui yang ia ambil diam-diam saat ibunya pergi. Kemudian mereka berdua pergi ke tempat Kong Sui dan Nyonya Fi untuk segera menembalikan cincin itu agar Kong Sui tidak merasa kehilangan. Saat perjalanan ke rumah Kong Sui, Jamin tertabrak kereta karena berusaha menolong adiknya. Banyak orang yang langsung menolong Jamin namun Johan tidak dapat berbuat apa pun. Sambil menangis, Johan pergi mencari rumah Kong Sui dan saat malam hari akhirnya sampai juga Johan di rumah yang dimaksud. Nyonya Fi menyambut Johan yang dengan segera mengembalikan cincin milik Nyonya Fi itu. Kemudian Johan menceritakan apa yang telah terjadi pada Jamin. Mendengar semua cerita Johan, Nyonya Fi dengan segera pergi bersama Johan ke rumah sakit menemui Jamin untuk mengetahui keadaannya.
Sesampai di rumah sakit, kedaan Jamin sangat kritis, kepalanya pecah dan terdapat luka di sekujur tubuh. Saat itu, Jamin menyampaikan beberapa pesan untuk Johan agar adiknya itu tidak pulang ke rumah menemui Inem ibunya yang tidak pernah merawatnya dengan baik. Tak lama setelah itu, Jamin meninggal, Nyonya Fi dan Johan pun tidak dapat menahan tangisan mereka. Keesokan harinya Jamin dimakamkan di tempat makan Mangga Besar, tepat di sebelah makam sang ibu. Sejak saat itu Johan tidak lagi pulang ke rumah, melainkan tinggal bersama Kong Sui dan Nyonya Fi karena sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Jamin sudah berpesan agar adiknya tidak pulang ke rumah.
Setelah beberapa bulan, ayahnya, Bertes keluar dari tahanan dan ia sangat menyesal karena Jamin telah meninggal, padahal ia belum sempat meminta maaf. Setelah menyadari semuanya, Bertes menjemput Johan di rumah Kong Sui untuk tinggal bersama dia dan Johan pun disekolahkan. Sejak saat itu, hidup Johan pun menjadi lebih terawat dan lebih layak, ia tumbuh menjadi anak yang baik dan terurus. Namun, ibu tirinya, Inem dikabarkan meninggal karena tenggelam di sungai.

Opini tentang isi: Menurut saya, ceritanya bagus dan menarik. Ceritanya berbeda dengan cerita pada novel-novel yang biasa saya baca. Di novel Jamin dan Johan ini, menggambarkan tentang kehidupan yang mencerminkan serba kesederhanaan dan penderitaan. Namun, bahasa yang digunakan dalam ceritanya sedikit menyulitkan saya sehingga harus dibaca berulang-ulang. Selain itu, nama-nama tempat dalam cerita ini tidak saya ketahui dengan jelas. Menurut saya, kekurangan yang lain adalah ceritanya berakhir sedikit tragis karena peran utamanya meninggal, namun secara garis besar saya senang dengan cerita ini.

Nilai yang didapat:

-         Hidup yang berat harus dijalani dengan ikhlas, seperti Jamin  yang selalu ikhlas dengan hidupnya walaupun sedang sulit.

-         Kita tidak boleh egois memikirkan nasib sendiri, tapi harus memikirkan nasib orang di sekitar kita, terutama keluarga, seperti Jamin yang selalu menjaga adiknya.

-         Kita harus berbuat sesuatu sebelum akhirnya terjadi penyesalan di kemudian hari, seperti Bertes yang menyesal setelah anaknya meninggal.

(Felicia Tonadie-9B)

SI JAMIN DAN SI JOHAN

Jamin dan Johan adalah sepasang kakak beradik, yang ibunya sudah meninggal dunia. Sehingga mereka tinggal bersama ayah kandungnya, dan ibu tirinya. Mereka dipekerjakan oleh ibu tirinya, Inem untuk  meminta-minta, dan memberikan hasil dari minta-minta itu untuk kesenangan ibu tirinya, yang merupakan seorang pecandu. Sore itu Inem ibu tiri Jamin dan Johan menunggui kedatangan Jamin,bukan karena kuatir tetapi untuk meminta uang dari Jamin meminta-minta. Karena sebagian uang meminta-mintanya ia belikan nasi untuk ia dan adiknya Inem pun marah hingga menendang si Jamin. Sebenarnya Inem menyiksa Jamin dan Johan merupakan hal yang biasa karena memang wanita itu sangat jahat. Untung Jamin dan Johan adalah anak yang sabar dan penurut. Jamin dan Johan selalu mengingat perkataan almarhum ibunya untuk selalu di jalan Allah dan saling menjaga sampai kapan pun. Mereka tidak pernah dendam pada ibu tirinya.. Bertes, ayah Jamin dan Johan juga suka mabuk hingga kedua anak itu dipukulnya karena tak sadar. Bertes berasal dari Saparua, Ambon. Ia meninggalkan kota kelahirannya untuk menjadi serdadu karena ia pikir, ia akan mendapat gaji besar. Waktu itu kedua orang tuanya tidak merestui tapi ia tidak memperdulikan hingga ia menjadi serdadu di Aceh. Saat Bertes sakit karena peperangan yang terjadi di Aceh, ia baru sadar bahwa ia banyak salah pada orang tuanya maka dari itu, ia bercita-cita kembali ke kampung halaman dan mencari pendamping hidup. Ternyata orang tuanya telah meninggal. Ia begitu menyesal dan sangat merasa berdosa pada orang tuanya. Setelah itu ia bertemu dengan Mina dan hidup dengan Mina di Prinselaan, Taman Sari. Awalnya rumah tangga mereka baik-baik saja apalagi ketika ia mempunyai 2 orang anak yaitu Jamin dan Johan. Mina adalah seorang istri yang baik,sabar dan bertanggung jawab, jauh berbeda dengan Inem yang kejam. Tetapi setelah 5 tahun pernikahannya, Bertes mulai terpengaruh teman-temannya menjadi pemabuk dan suka bertindak keras. Mina mulai sakit-sakitan hingga akhirnya ia meninggal dunia. Bertes ternyata juga sering menyiksa Mina bila sedang mabuk. Setelah Mina meninggal, kemudian menikah dengan Inem yang tidak berperangkai baik. Sungguh malang nasib Jamin dan Johan, sudah piatu sengsara pula hidupnya.
Ketika Inem selesai mencandu emosinya tidak dapat dikontrol lagi. Pagi-pagi ia mengusir Jamin untuk meminta-minta uang sampai mendapat lima puluh sen baru ia dapat pulang dan diancamnya bila tidak pulang akan membuang adiknya ke sungai padahal Jamin tidak ingin berpisah dari Johan karena ia sangat sayang pada Johan dan sebaliknya. Sungguh kejam memang ibu tirinya. Jaminpun segera pergi untuk mencari uang tetapi sungguh sial hari itu karena sampai malam tak dapat dikumpulkannya uang lima puluh sen. Dari Pasar Baru, Pasar Ikan sampai Pasar Senin ia lalui namun tak tercukupi juga hingga malam yang sangat dingin karena hujan. Kondisi itu membuatnya lemas karena tak satupun makanan yang masuk kecuali sedikit roti dari temannya serta sedikit air ditambah baju yang kotor dan compang-camping membuat ia tak kuat lagi untuk berjalan. Tak kuasa lagi ia berjalan, sampai akhirnya ia tidur di seberang warung obat milik Kong Sui. Pagi harinya, Kong Sui yang melihat Jamin yang terkapar tak berdaya membawanya ke rumahnya untuk dia beri makan. Sampai disana Jamin diberi makan, minum, uang dan baju untuk gantinya kemudian ia menceritakan semua pada Kong Sui dan Fi. Kong Sui dan Fi sangat kasihan pada Jamin setelah ia mendengar cerita dari Jamin. Jamin pun sangat berterima kasih pada mereka atas bantuan mereka. Karena merasa badannya sudah terasa baikan ia pun meminta izin untuk pulang.
Di rumah Bertes pulang dari Café Pasar Senin dengan katakutan karena tadi ada pertengkaran disana hingga seseorang berlumur darah. Karena waktu itu ia sedang mabuk jadi ia lupa yang ia lakukan karena ia takut diangkap polisi ia sampai berpura-pura dan menyuruh istrina bila polisi datang untuk berbohong. Disaat itulah ia baru sadar bila hidupnya telah rusak. Ia lihat anaknya Johan kemudian ia memeluknya untuk minta maaf tetapi Jamin tidak ada. Sekarang Bertes ingin taubat dan ia telah tau keburukannya dan istrinya.

Beberapa saat kemudian dibawa Bertes oleh pihak polisi untuk diperiksa.
Setelah itu Jamin pulang karena ia telah dapat uang yang diinginkan ibu tirinya. Tetapi saat didepan rumah ia mendengar bahwa ayahnya ditangkap polisi. Uang itu pun segera diberikan pada ibu tirinya dan memberikan makanan kepada adiknya dari rumah Kong Sui. Namun baju yang diberikan Kong Sui dan FI diminta ibunya saat meraba celananya terasa ada cincin didalamnya untunglah Jamin dapat merayu ibu tirinya namun tak disangka. akhirnya ketahuan juga. Baju itu akan dijual Inem agar Jamin dapat meminta-minta lagi dan ia juga akan mendapat uang dari hasil menjual baju itu. Cincin itu adalah cincin Nonya Fi karena Nyonya Fi lupa mengambil cincin itu saat dipakaikan pada Jamin. Ia pun merasa bersalah dan berjanji akan mengembalikannya pada Kong Sui da Fi.
Suatu hari Jamin jalan-jalan di jalan Mangga Besar. Ia ingin sekali mengembalikan cincin itu. Tiba-tiba terdengar ada yang memanggilnya, yaitu Johan. Ternyata, Johan telah mendapatkan kembali cicin itu. Akan tetapi, ketika mereka akan sampai di rumah Kong Sui, Jamin tertabrak trem yang ada dibelakangnya karena ia berusaha menyelamatkan adiknya dan dirinya sendiri, tetapi takdir berkata lain, dirinya malah tidak selamat. Jamin dibawa orang-orang disekitar menuju rumah sakit Glodok. Johan tak mengerti apa yang terjadi kerena saat kakaknya tertabrak ia terpelanting ke samping jalan kemudian ia mengembalikan cincin itu dan menceritakan semua pada Kong Sui dan Fi. Mereka sangat sedih dan akhirnya Fi dan Johan pergi bersama ke rumah sakit. Jamin tak berdaya lagi seisi ruangan menangis karena iba melihat Jamin. Sekarang Johan bisa mengerti benar bagaimana arti persaudaraan yang sesungguhnya. Akhirnya, Jamin meninggal dunia dengan tenang. Ia dikuburkan di Mangga Dua. Johanpun sekarang tinggal bersama Kong Sui dan Fi yang menyayanginya dan dia pun sekarang bersekolah, layakanya anak-anak yang lain.

Amanat :

- Persaudaraan yang saling mengasihi adalah hal yang indah dan perlu dijaga. Hal inilah yang patut kita tiru.

- Jangan pernah memendam rasa dendam, sekejam apapun orang itu, karna, kelak akan ada yang membalasnya.

- Penyesalan selalu datang belakangan, sehingga pikirkankan dulu matang-matang apa yang akan kita lakukan, sebelum rasa penyesalan itu datang

Fransiska Ayu F.

9B/ 18

// <![CDATA[// // <![CDATA[// // <![CDATA[// // <![CDATA[// // <![CDATA[//

About these ads

7 Tanggapan to “RINGKASAN NOVEL SASTRA 7”

  1. roby berkata

    kurang banyak novelnya

  2. myeolchi berkata

    mau ngasih saran dong..^^… gimana kalo ngepost novel novel sastra jaman dulu juga… seangkatan kaya novel sastra “Siti Nurbaya Kisah Kasih Tak Sampai”….^^

  3. mey berkata

    kurang lengkap….
    harusnya lebih lengkap karena novel jamin johan susah banget di cari…

  4. jason angga berkata

    hebat yah pengorbanan seorang kakak tu dik nya

  5. helga berkata

    ini dia yang saya cari! terimakasih

  6. siti hardiyanti lubis berkata

    thank’s y akhir’a novel si jamin dan si joha dapat juga…..
    alhamdullilaaaahhhh…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: