Lembur Singkur

Kumpulan Karya Pendidikan dan Budaya

TANAH TORAJA

Posted by lembursingkur pada Mei 20, 2009

Kebudayaan Tana Toraja

Kabupaten Tana Toraja adalah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini adalah Makale. Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan.

Salah satu tarian dari Tana Toraja adalah Tarian Burake. Tarian ini berasal dari bagian Barat Tana Toraja yaitu Kecamatan Bonggakaradeng. Tarian ini merupakan tarian pemujaan kepada Puang Marua can Deata (Aluk Todolo). Ditarikan oleh gadis-gadis bangsawan dengan iringan musik yaitu suling lembang, musik gesek yaitu geso’-geso’, gendang tangan yang kecil yaitu Kamaru (Garapung) dan gendang besar yaitu Gandang Boro. Tarian ini diantar dengan sebuah lagu berjudul : Kamma’-kamma’ku To Lino (Lagu khusus pemujaan). Pakaian yang digunakan sangat spesifik yaitu Bayu Nene’ Barandilau, Basserarang, Dodo orang. Perhiasannya terdiri dari Sa’pi’ Ulu, Tida-tida, Ponto Kati, Sassang, Rara’ dan Orang-oran serta hiasan khas yaitu Kanuku Deata (kuku dewa-dewi). Untuk kaum lelaki menggunakan Seppa’ Todolo/Seppa’ Tallubuku, Bayu Pokko’ Muane, Sambu’, Talingka’ sapu’, La’bo Pinai, semuanya adalah bagian dari tradisional lelaki ditambah hiasan dari manik-manik.

Kerajinan Tana Toraja sangatlah banyak.Salah satunya adalah kerajinan tenunannya. Jenis kerajinan ini sangat terkenal di daerah Sa’dan, Rongkong Mamasa dan Simbuang (Toraja Barat), bahan dasar untuk tenunan ini adalah kain yang ditenun dari benang kapas yang dipintal secara tradisional. Bahan pewarna yang asli terbuat dari tanah berwarna dari kulit pelepah (pa’pak), biji serta dedaunan jenis tanaman tradisional tertentu. Warna yang banyak ditampilkan adalah warna merah, kuning, hitam, hijau dan biru di samping warna putih.

Adat istiadat Rambu Solo adalah uapacara adat pemakaman dari Tana Toraja. Uapacara adat ini diwariskan secara turun temurun ini, mewajibkan keluarga yang ditinggal membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi. Biasanya pada upacara tertinggi dilaksanakan dua kali dengan rentan waktu sekurang kurangnya setahun, upacara yang pertama disebut Aluk Pia biasanya dalam pelaksanaannya bertempat disekitar Tongkonan keluarga yang berduka, sedangkan Upacara kedua yakni upacara Rante biasanya dilaksanakan disebuah “lapangan Khusus” karena upacara yang menjadi puncak dari prosesi pemakaman ini biasanya ditemui berbagai ritual adat yang harus dijalani, seperti : Ma’tundan, Mebalun (membungkus jenazah), Ma’roto (membubuhkan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah), Ma’Popengkalo Alang (menurunkan jenazah kelumbung untuk disemayamkan), dan yang terkahir Ma’Palao (yakni mengusung jenazah ketempat peristirahatan yang terakhir).

Opini saya adalah, menurut saya Tana Toraja adalah daerah yang menarik. Karena memiliki kebudayaan yang menarik pula. Contohnya adalah salah satu tariannya. Terdapat banyak peralatan dan aturan untuk menarikan tarian ini. Selain itu juga uapacara adatnya, sangat menarik perhatian saya. Terkesan menyeramkan dan menarik untuk diketahui. Banyak istilah dari Tana Toraja ini yang sulit dimengerti dan tidak saya ketahui. Selain itu Tana Toraja juga mempunyai kerajinan yang bisa dijadikan ciri khas dan menghasilkan uang bagi penduduknya. Menurut sya, kita harus menjaga dan mengembangkan budaya indonesia yang kita miliki. Budaya merupakan salah satu kebanggaan kita sebagai masyarakat indonesia. Karena itu, kebudayaan yang ada di Tana Toraja ini juga harus dipertahankan dan dikembangkan.

Priska Yoviana Kristanto

8a/30

TAMBAHAN TANAH TORAJA

Judul Buku              : Pustaka Anak Nusantara “Cerita Maya dan Kampungnya”

Penulis                     : Thomas Soetikno

Ilustrator                 : Budi Riyanto Karung

Editor                        : Agus HK Soetomo

Penerbit                  : PT. Dian Rakyat

Tahun terbit           : Tahun 2001

No ISBN                   : 979-523-521-4

Ringkasan:

Tana Toraja terletak di dataran tinggi dan pegunungan. Pemandangan dari Makassar menuju Tana Toraja sangat indah, pegunungan berdiri kokoh dan sawahnya dengan tanaman padi yang subur. Tempat ini sudah memiliki saran umum yang memadai, seperti PLN, telepon, dan PAM. Fasilitas umum juga sudah tersedia di sini seperti SD, Gereja, Mushola, Puskesmas, dan kantor polisi. Karena pemandangannya yang indah, dan adat istiadatnya yang masih dipertahankan, daerah ini termasuk salah satu tempat kunjungan wisata yang cukup terkenal.

Di Tana Toraja ini, selain mempunyai pemandangan alam yang indah, juga mempunyai rumah adat yang disebut tongkonan. Atapnya tinggi melengkung, dindingnya disangga tiang-tiang kokoh membentuk rumah panggung. Terdapat upacara penghormatan bagi Nek Munga yang telah meninggal. Belaiu adalah tokoh adat yang sangat terkenal di Tana toraja ini. Waktu untuk melayat disebut Allo katongkonan dan jenasahnya diletakkan di peti mati yang disebut erong. Terdapat upacara Ma’simbuang yakni upacara menambatkan kerbau-kerbau dari keluarga dan sanak saudara. Bagi warga Tana Toraja, yang menyumbang kerbau yang terbaik adalah sebuah kebanggaan yang besar selain melakukan penghormatan terhadap jenazah. Nantinya kerbau-kerbau ini akan dikurbankan dan dagingnya dibagi-bagikan kepada warga yang datang dalam upacara tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan Ma’palao yaitu upacara arak-arakan keliling kampung. Dalam upacara tersebut juga diiringi dengan adu kerbau. Penonton yang menonton pun ramai dan mereka sangatlah terhibur. Bila salah satu kerbau itu kalah, dia pasti akan lari k penonton sehingga para penonton pun lari tunggang-langgang, namun penonton tetap menikmatinya. Dan setelah acara adu kerbau, dilanjutkan dengan pemotongan kerbau yang dagingnya dibagi-bagikan kepada warga.

Dan setelah itu, dilakukan upacara penguburan. Di sini semua warga ikut berperan, dari laki-laki perempuan serta tua maupun muda. Anak-anak perempuan yang masih kecil biasanya mendapat tugas untuk menari menyanjung para tamu yang datang.

Pada umumnya Suku Toraja memeluk agama Kristen Protestan. Warga di sana taat menjalankan ibadah dan pergi ke Gereja setap hari Minggu. Mereka masih memegang adat-istiadat nenek moyangnya yaitu Aluk Todolo yaitu kepercayaan tradisional yang mengatur kehidupan yang baik dan adat-istiadat. Secara umum upacara adat di Tana Toraja dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu Rambu Tuka dan Rambu Solo. Rambu solo adalah upacara yang bernaan dengan kematian atau untuk menghormati arwah leluhur mereka yang sudah meninggal. Mata pencaharian penduduk Tana Toraja ini sebagian besar adalah berkebun karena Tana Toraja ini memiliki tanah yang cukup luas dan tanahnya subur, sehingga banyak orang yang berkebun di sana.

Opini:

Isi dari buku ini menarik. Pengetahuan saya dapat bertambah setelah membaca buku ini. Saya jadi tahu bahwa di sebuah daerah yang terpencil seperti itu masih memiliki ragam budaya yang berbeda-beda dan sangatlah unik serta daerah tersebut masih memiliki lingkungan alam yang sangatlah indah dan tidah rusak. Saya berharap agar daerah-daerah yang seperti ini dapat diteruskan oleh para pemuda yang akan datang, sehingga ciri khas dari negara Indonesia akan teruslah ada dan tidak punah.

Devin 8A/10

About these ads

Satu Tanggapan to “TANAH TORAJA”

  1. Appreciation to my father who stated to me regarding this webpage, this website is truly amazing.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: